Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
Senyuman Tegas


__ADS_3

Hanung berjalan kembali, sepatunya menginjak sebuah botol minuman dan menimbulkan suara yang membuat kaget Larisa.


Larisa tersentak, berdiri kemudian memutar tubuh. Tapi saat ia melihat Hanung, perasaannya mendadak lega, ia mengira yang mendekatinya adalah orang jahat.


“Mas Hanung.” Larisa terus menatap.


“Kamu sedang apa di sini? Malam-malam.” Hanung kembali mendekat, tepat sekarang keduanya berhadapan dan saling menatap.


“Anu—“ Larisa bingung, lekas mengalihkan pandangan.


Kening Hanung mengerut tatkala mengamati kedua mata Larisa. Dia condongkan tubuhnya sedikit dan membuat Larisa refleks mundur menjauh.


“Kamu sehabis menangis, Larisa?” tanya Hanung dan Larisa menggeleng, membantah. “Itu kentara dari sembab dan sorot mata kamu yang tampak sedih. Ada masalah? Kamu sama siapa di sini? Ini sudah pukul sembilan malam.” Hanung berbicara sambil memperlihatkan jam di pergelangan tangan kirinya.


“Mas Hanung sendiri ngapain di sini?” Larisa menghindari pertanyaan Hanung dengan balik melontar pertanyaan.


Hanung tersenyum tipis.


“Saya cuman kebetulan lewat. Kamu belum menjawab pertanyaan saya.”


Larisa membuang napas panjang, ia usai rambutnya ke belakang. Dia tidak bisa menghindari Hanung sekarang. Jelas pria itu tidak akan melepaskannya di malam yang selarut ini.


Larisa kembali menatap, sudah berhasil menemukan alasan yang sepertinya sesuai dengan pertanyaan Hanung.


“Lagi cari makan tapi kepingin jalan-jalan juga. Ini lagi istirahat, emmm Larisa duluan ya, Mas.” Setelah menjawab, ia melangkah melewati Hanung tapi Hanung menarik siku tangannya. Larisa langsung menoleh sinis, Hanung pun lekas melepaskannya..


“Maaf tapi sepertinya jawaban yang kamu buat nggak cukup untuk membuat saya percaya. Saya yakin kamu ada masalah, dan kamu berharap bisa pulang sendirian di jam segini? Mau naik apa memangnya?” tutur Hanung dan Larisa pun melirik ke jalan raya, ramai tapi untuk angkutan umum menuju kediamannya tinggal sangat sulit dia dapatkan.


“Ayo saya antar pulang,” ajak Hanung dan Larisa hanya menatap.


“Kamu takut, Larisa?” ucap Hanung kembali. “Saya ini teman sekaligus rekan kerjanya Bassta. Kita juga mengenal cukup lama, ayo, bisa jadi Bassta lagi nyariin kamu sekarang.”


Hanung mengarahkan tangannya ke mobil yang terparkir, ia melangkah duluan tetapi Larisa tetap membeku di tempatnya. Setelah lima langkah, Hanung yang merasa tidak ada pergerakan di belakang punggungnya pun langsung menoleh. Benar saja, Larisa tidak mengikuti langkahnya.


“Ayo,” seru Hanung dan Larisa menggigit bibir bawahnya ngilu.


Larisa ragu tapi ia tidak memiliki pilihan lain. Akhirnya, Larisa melangkah mendekat sampai ia dan Hanung sejajar. Keduanya berjalan bersama tanpa saling melontar tanya.


Hanung membuka pintu mobil, mempersilakan Larisa masuk dan wanita itu pun berterima kasih kemudian masuk.


Mobil melaju meninggalkan area tersebut, Larisa menunduk dalam diam dan Hanung menyetir sembari sesekali melirik Larisa di sebelahnya.


***  


Bassta dan Jema ditinggal berdua. Keduanya sedang saling memeluk di atas sofa, menyalurkan gelenyar rindu yang sudah tak dapat dibendung lagi.


“Kapan kamu mau ngajak aku ke rumah, Bass? Aku kangen sama Tante Novia,” ucap Jema dan Bassta mengendurkan pelukannya.


Permintaan Jema di situasinya yang sulit adalah hal yang tak mungkin dia wujudkan.


“Apa Tante Novia sering nanyain aku sama kamu?” tanya Jema sembari mendongakkan kepala.


Bassta mengangguk kecil.


“Mama juga pasti kangen sama kamu. Nanti kalau aku udah nggak sibuk, aku bakalan ngajak kamu ke rumah.”


Jema menggeleng lemah kemudian berujar, “Sebenarnya sendirian juga aku bisa, Bass.”

__ADS_1


“Eh jangaaan!” timpal Bassta dengan cepat, kepanikan terpatri di wajahnya kini.


“Looh, kenapa? Biasanya juga begitu, hubungan kita serius, kan, Bass?” kata Jema, ragu karena respons Bassta yang begitu berbeda sekarang. Jema terus memandang ke dalam mata pria itu, “Atau karena kita berjauhan, kamu mulai bosan? Siapa perempuan yang berani menggeser posisiku di hati kamu, Bass.”


Tangan Jema berayun, mengelus dada bidang kekasihnya itu.


Bassta langsung menangkap tangan Jema agar berhenti.


“Apa yang kamu bicarakan, Jema? Berpaling dari kamu adalah hal yang tidak bisa aku lakukan. Cuman kamu yang bisa memberikan aku kenyamanan juga kebahagiaan,” katanya bersungguh-sungguh.


Jema mendesah, melepaskan pelukannya juga menjauhkan diri.


“Aku merasa kamu mengatakan itu untuk menutupi sesuatu,” tegasnya dengan raut wajah kesal, tangannya ia lipat di depan dadanya.


Bassta langsung membujuk dengan memeluk. Mencium dan menyisir rambut kekasihnya yang jelita itu dengan penuh kelembutan.


“Berhenti curiga karena aku nggak nyaman kalau kamu begitu.”


Jema langsung menoleh, keduanya saling menatap dalam diam.


“Aku serius sama kamu, niat itu nggak pernah berubah sejak dulu.” Bassta berbicara lagi, agar Jema lebih yakin, ia genggam tangan Jema erat-erat dan Jema pun merasa apa yang Bassta ucapkan adalah sebuah kejujuran.


Sangat bodoh baginya jika dia mengajak Bassta bertengkar di saat mereka baru berjumpa kembali.


Jema pun tersenyum dan Bassta merapatkan keningnya.


Belum lama bibir Bassta mengulum bibir kekasihnya, di atas meja ponselnya terus menyala, merusak kefokusannya dalam bercumbu.


Jema membuka mata, Bassta menjauh dan meraih ponselnya.


Kening Bassta terlipat membaca pesan dari Asih juga melihat deretan panggilan yang tidak dia angkat sejak sore dari asisten rumah tangganya itu. Bassta terdiam, menempelkan bagian atas ponselnya ke bibirnya. Di mana Larisa? Kenapa wanita itu membuat gara-gara di saat ia dan Jema ingin menghabiskan waktu bersama.


“Aku salah karena bersikap baik sedikit sama kamu, kamu malah memanfaatkan itu. Jelas kamu sengaja pergi dari rumah untuk menggangguku, dasar biang masalah.”


Bassta berbicara sangat pelan, Jema yang menyadari kekesalan di wajah Bassta pun langsung bangkit dan mendekat. Bassta tersentak, lekas ia masukkan ponselnya ke saku celana.


“Ada masalah? Wajah kamu tegang banget,” kata Jema.


Bassta mengangguk.


“Sedikit,” kata pria itu dengan kata mengilat emosi.


“Jangan bilang kamu mau pergi. Tetap sama aku di sini, Bass.” Jema memohon dan Bassta langsung terlihat bingung.


“Besok kita jalan,” kata Bassta dan Jema tidak mau. “Aku harus pergi sekarang, ya?” Bassta merangkul pinggang Jema.


Jema terus cemberut dan Bassta habis-habisan membujuknya. Dalam hati Bassta, ia berikrar bahwa akan membuat perhitungan dengan Larisa.


Akhirnya setelah dijanjikan akan diajak belanja besok, Jema pun mau melepas kepergian Bassta.


Bassta akhirnya pergi meninggalkan Apartemen Jema. Namun, Jema hanya berpura-pura mengizinkan, ia tetap kesal dan jengkel sampai akhirnya mendorong meja di mana kue ulang tahunnya dari Bassta langsung jatuh ke atas lantai.


Ia meraung-raung saking kesalnya. Dan entah apa yang membuat Bassta sampai rela meninggalkannya, Jema akan mencari tahu tentang itu.


***


Di perjalanan, Bassta berhenti karena melupakan sesuatu, dia belum memberikan hadiah untuk Jema.

__ADS_1


“Sial!” umpatnya kesal. Ia merogoh saku jaketnya tetapi hadiah yang dia simpan di sana mendadak lenyap entah ke mana.


Bassta pun panik,.mencari di laci tetapi tidak ada, di dalam tasnya pun juga sama.


Kalut, Bassta menancap gas, berkendara dengan liar.


Sementara di kediamannya, Larisa dan Hanung sudah sampai. Mereka keluar bersamaan. Hanung diam, menatapi rumah tersebut dan Asih dari dalam rumah merasa lega karena melihat Larisa baik-baik saja, tapi mengapa dengan Hanung? Dari mana mereka pergi selarut ini?


“Terima kasih, Mas.” Larisa berbicara dengan pelan.


“Sama-sama. Bassta hari ini nggak datang ke kantor, dia juga sepertinya nggak ada di rumah.” Hanung berbicara seperti itu karena dia tidak melihat kendaraan milik Bassta.


Larisa pun melirik dan mendesah karena suaminya belum pulang juga. Selama itu menghabiskan waktu dengan kekasihnya sampai lupa untuk pulang?


Larisa menunduk, bibirnya bergetar, ia merasa sangat ingin menangis lagi tapi dia tahan.


“Larisa,” panggil Hanung dan Larisa mengangkat wajahnya.


“Sekali lagi terima kasih, ya, Mas. Aku masuk dulu.” Larisa pamit, Hanung sebenarnya ingin mengemukakan berbagai pertanyaan yang mengganjal tetapi dia juga tak mungkin bisa memaksa.


“Oh, iya.” Hanung tersenyum tipis.


Larisa melangkah tapi terhenti ketika suara mobil milik Bassta terdengar, ditambah dengan sorot lampu yang menyorot mereka berdua, membuat silau.


Hanung dan Larisa saling menatap sesaat.


Bassta kemudian menghentikan mobilnya, ia turun dan menatap Larisa dengan sorot mata yang tajam.


“Bass,” sapa Hanung dan Bassta beralih menatapnya.


Wajah Bassta semakin terlihat murka.


“Kamu di sini?” kata Bassta dengan begitu ketus, Larisa diam, memerhatikan kedua pria di hadapannya bergantian.


“Kami juga baru sampai,” kata Hanung. “Aku nggak sengaja ketemu sama Larisa tadi jadi aku antar pulang.” Hanung menjelaskan sebelum diminta, takut terjadi kesalahpahaman.


“Oh,” kata Bassta kemudian mengukir senyuman tegas dengan mata yang memicing ke arah Larisa.


Larisa menunduk, takut, apa kesalahannya sekarang sampai Bassta terlihat menyeramkan begitu?


“Aku pamit,” ucap Hanung, memutuskan untuk segera pergi setelah melihat ketidaksukaan Bassta dengan kehadirannya. Hanung sempat melirik Larisa dan Larisa hanya diam saja.


Bassta dan Larisa menunggu sampai Hanung benar-benar pergi. Setelah itu, Larisa mendorong pintu gerbang, tapi langkahnya terhenti saat Bassta menarik dan mencekal pergelangan tangannya. Bassta menariknya, keduanya hampir saling berbenturan.


“Bass, sakit.” Larisa mengaduh. Berusaha melepaskan diri tapi cekalan tangan Bassta malah semakin kuat.


“Habis dari mana kamu sama Hanung?” tegas Bassta bertanya, sorot matanya menatap curiga.


Larisa mendengus, entah Bassta tuli atau bagaimana. Jelas-jelas Hanung sudah menjelaskan dengan jujur sebelum pergi.


“Mas Hanung sudah bilang, kan, tadi? Kami ketemu di jalan, nggak sengaja.” Larisa kesal. “Auw! Sakit, Bass.”


Bassta tidak peduli dan terus mendekatkan wajahnya.


“Dasar biang masalah. Sengaja pergi mencari perhatian untuk mengganggu aku sama Jema. Aku jelas paham apa niat kamu, Larisa.” Dengan tegas dia menuding wanita yang sedang kesakitan di hadapannya itu.


Larisa menggeleng, berusaha membantah tapi Bassta sekarang menariknya untuk lekas masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2