Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
PENGUNTIT


__ADS_3

“Mama udah nyuruh orang buat memata-matai Bassta. Kamu tenang aja,” ucap Monica begitu geramnya karena Jema diabaikan.


Jema hanya diam, menatap penuh emosi, kedua tangannya terlipat di depan dada.


Sally mengernyitkan dahi mendengar apa yang dikatakan oleh Monica. Memangnya ada apa dengan Bassta sampai perlu di perlakukan seperti itu? Batin Sally bergemuruh penasaran.


“Apa Mama udah sempet ketemu sama Tante Novia?” tanya Jema tiba-tiba.


“Belum dan Mama merasa Novia menghindari Mama. Kamu sempat nyaris berpapasan di Mal, Mama yakin dia melihat Mama tapi anehnya dia malah melengos pergi begitu aja.”


Monica bercerita tanpa ada yang ditutup-tutupi, dan Jema mendesis mendengarnya.


“Aku yakin ada yang terjadi selama kemarin aku pergi ke Amerika,” ucap Jema sambil memandang Monica.


Monica mengusap bahu anaknya itu, menyalurkan sentuhan penuh kasih dan sayang supaya anaknya bisa tenang dan tidak gegabah.


“Kamu jangan melakukan apa-apa tanpa mendiamkannya lebih dulu sama Mama, ya, Jem.” Monica tampak khawatir dan dia juga melirik Sally sekilas.


“Tenang aja, Ma. Aku nggak bakalan bikin masalah lagi, kok,” ucap Jema tersenyum.


Monica membalas senyumannya meskipun melihat anaknya tersenyum seperti itu malah menambah rasa khawatirnya.


****


Bukan restoran mewah atau tempat makan yang mahal yang menjadi pilihan Larisa. Ia meminta Bassta untuk membawanya ke angkringan tak jauh dari kediaman mereka. Larisa masih merasakan denyut pusing dan tidak mau terlalu jauh meninggalkan rumah.


“Sebenarnya tadi siang kamu kenapa?” tanya Bassta yang sedang menikmati nasi pulen hangat dengan ayam goreng dan berbagai sate yang tersedia di tempat makan sederhana tersebut.


Larisa mengangkat wajahnya, tatapannya keduanya bertemu.


“Seperti apa yang dikatakan dokter, Bass. Aku cuman kelelahan, stres memikirkan banyak hal yang terjadi.” Seusai berbicara, Larisa menundukkan wajahnya.


Bassta terkekeh pelan.


“Kita saling mengenal sejak kecil, jadi jangan berusaha untuk berbohong. Kamu kelihatan ketakutan, main peluk segala. Ayo jujur, kamu habis ngapain atau habis ngelihat apa yang bikin kamu mendadak syok?” selidik Bassta dan Larisa memandangnya.


Pria di hadapannya ini memang sulit sekali dikelabui.


“Ayo cerita, kamu kenapa?” Bassta bertanya sambil masih asyik menikmati makanannya.


Larisa menggeleng, ia menyelia sekitar. “Di sini ramai. Aku nggak bisa cerita di sini.”


Bassta menyengir kuda dan menyentil kening Larisa dengan jemari tangan kirinya.


“Sakit!” ketus Larisa mengaduh.


Bassta mendelik sebal.


“Ayo ngomong, kenapa? Mereka di sekeliling cuman orang asing yang juga sibuk sama makanan mereka. Nggak usah kepedean kalau mereka bakal menguping!” tegas Bassta.


Larisa diam dengan wajah ditekuk.


“Kamu habis ngelihat hantu?” tanya Bassta dan Larisa menatapnya.


“Dia lebih menakutkan dari hantu,” kata Larisa pelan.


Bassta masih santai menanggapi sambil menikmatu makan malamnya.


“Dia siapa?” tanyanya enteng.


Larisa menarik napas cukup dalam kemudian menjawab.


“Ayah dari bayiku. Aku melihatnya tadi,” ucap Larisa dengan lugas dan Bassta menganga mendengarnya. Ayam yang sedang dia gigit tak lama jatuh ke atas piringnya.

__ADS_1


Hening di antara mereka berdua, saling menatap tanpa kata.


Tak lama suara beberapa manusia yang baru sampai ke angkringan tersebut membuat Bassta dan Larisa tersadar dari lamunan mereka.


“Serius?” tanya Bassta dan Larisa hanya mengangguk. “Bangsat! Kenapa juga dia kembali ke Indonesia,” sambungnya begitu emosi.


Larisa menyapu sekeliling, takut ucapan kasar suaminya mengganggu yang lain. Lekas dia sentuh dengan lembut lengan suaminya itu.


“Bass,” katanya lirih dan Bassta menatap lekat, ia bahkan kehilangan selera makannya. “Aku yakin ini akan membuat kamu kehilangan selera untuk makan.”


“Kenapa kamu nggak ngomong dari tadi?” tanya Bassta dengan tatapan sendu.


Larisa menjauhkan tangannya.


“Aku bahkan sempat berniat untuk menyembunyikannya dari kamu, Bass.”


Bassta menggeram jengkel.


“Kalau ada apa-apa tuh ngomong. Kamu suka gegabah, nggak bisa menangani apa pun sendirian.” Bassta mengomel dan Larisa terdiam. “Kamu yakin itu dia?”


“Aku nggak salah lihat, Bass. Aku beneran yakin itu dia, dia balik lagi ke Indonesia setelah ninggalin aku begitu aja ke Paris.”


Mata Larisa mendadak berair karena mengingat bagaimana makian pria bajingan itu yang menyangkal bahwa anak yang dia kandung bukanlah darah dagingnya.


Melihat istrinya yang berubah menjadi gelisah dan juga sedih. Bassta langsung meraih jemari Larisa dan menggenggamnya erat-erat. Larisa tersentak, menatap pria di hadapannya dengan air mata berlelehan.


“Jangan berniat bohong lagi. Aku cuman takut sekarang dia kembali untuk mencari kamu,” kata Bassta serak.


“Bukannya itu bagus?” tanya Larisa dan Bassta kening Bassta terlipat. “Kalau beneran dia kembali untuk bertanggungjawab. Aku nggak bakalan lagi nyusahin kamu, Bass.” Larisa menyambung dengan bibir yang bergetar, sakit sendiri dengan apa yang dia katakan.


Bassta melepaskan genggaman, menurunkan tangannya ke atas kedua pahanya kemudian saling memandang lesu dengan Larisa.


“Kamu masih berharap sama laki-laki modelan begitu, Larisa?” tegas Bassta tak percaya dan Larisa diam saja.


Larisa menunduk, menyentuh perut. Terus menangis tanpa suara.


Bassta kemudian mencengkeram rambutnya frustrasi. Sekarang dia bangkit untuk membayar semua makanannya. Sudah tak selera untuk dilanjutkan dan Larisa hanya diam memandangi punggung suaminya itu.


****


“Bagaimana keadaannya sekarang?” kata Hanung dan Bassta menggeleng.


“Kondisinya memburuk?” Hanung panik.


“Dia baik,” kata Bassta tanpa memandang. Ia sibuk menatap layar gawainya.


“Syukurlah,” ujar Hanung sambil menyodorkan sebuah berkas dan Bassta menerimanya. “Kamu kelihatan lagi banyak pikiran, Bass.” Hanung menyambung dan Bassta cekikikan.


“Memangnya siapa yang menjamin kalau hidup aku ini nggak punya beban. Punya, mana banyak,” katanya tersenyum.


Hanung menggeleng kecil dan memilih berlalu untuk kembali ke ruangannya. Sahabatnya itu tampaknya sedang banyak masalah, bagaimana tidak? Tidak akan pernah ada dua ratu dalam kehidupan seorang pria sampai kapan pun. Dan jika benar-benar ada pria yang bisa adil, pasti salah satunya membatin.


Hanung merasa semakin galau memikirkan nasib wanita yang dia sayangi. Jika Bassta membuka sedikit celah untuk ia merebutnya, ia melakukannya.


***


Mengingat bagaimana kejadian kemarin, membuat Larisa dibayangi rasa takut dan juga gelisah. Ia bahkan tidak bisa beristirahat dengan tenang.


Menyelundup masuk ke kamar suaminya tidak mungkin. Larisa merasa sangat tersiksa dan sudah menanyakan kepada Asih juga kapan wanita itu akan kembali.


Larisa yang sedang melamun di dekat jendela kamarnya dikejutkan dengan suara ponselnya yang berdering di atas meja. Dia menoleh, berjalan dan meraih ponselnya.


Panggilan masuk dari Nayla.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum, Nay.” Suara Larisa terdengar begitu lemah oleh Nayla.


“Wa’alaikumus Salaam. Kamu baik-baik aja, kan, Larisa? Aku denger dari Nenden katanya kamu pingsan kemarin. Di mana, kenapa bisa?”


Nayla begitu terdengar khawatir.


Larisa menyimpul senyuman bahagia.


“Aku baik. Kemarin iya memang aku pingsan di dalam taksi, padahal udah niat banget mau ketemu sama Nenden.”


“Nenden tadinya ngajakin aku buat ke rumah kamu tapi suaminya nggak kasih izin, jadi nggak jadi. Aku tenang kalau kamu beneran baik-baik aja, kamu kecapean pasti sampai-sampai pingsan begitu.” Nayla mulai terdengar lebih tenang.


“Nenden lagi hamil besar. Kalau dia ngajak ke mana-mana, kamu tolak aja, dia perlu banyak istirahat buat kesiapan persalinannya nanti.”


“Iya, aku juga mikirnya begitu. Sekarang kamu di mana, Ris?”


“Aku di rumah. Bassta melarang aku buat pergi ke mana-mana setelah kejadian kemarin,” kata Larisa dengan nada suara yang berubah dan langsung disambut dengan gelak tawa oleh Nayla.


“Apaan, sih, Nay?” Ia tersenyum lebar.


“Bassta pasti takut dan khawatir. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk hubungan kalian,” kata Nayla begitu riang dan semu wajah Larisa langsung berubah.


“Hmmm, iya, makasih.”


“Ya sudah kamu istirahat, gih.”


“Emmm, iya, Nay. Keluarga aku gimana?”


“Semuanya baik. Ayah kamu lagi nggak ada, kata ibuku lagi pergi nengokin saudaranya.”


Larisa mangut-mangut.


“Sudah dulu, ya, Ris. Aku ada urusan tentang pekerjaan.”


“Iya, Nay.” Larisa tersenyum dan tak lama panggilan pun selesai.


Larisa mengembuskan napas kasar, dia menempelkan bagian atas ponselnya ke bawah dagu. Sedang berpikir keras tentang sosok pria yang dia lihat kemarin.


“Apa itu beneran kamu Jordy? Sementara waktu itu kamu jelas-jelas bilang kalau kamu nggak bakalan balik lagi ke Indonesia. Lalu apa sekarang? Berusaha menebus kesalahan kamu pun semuanya sudah terlambat,” gumam Larisa dalam hati.


****


Bassta terus melirik kaca spion, merasa heran dengan kendaraan berwarna hitam yang tak jauh dari kendaraannya seperti sedang mengikutinya. Dan Bassta juga teringat dengan kendaraan yang berhenti di sebelahnya ketika di lampu merah, kendaraan tersebut serupa dan dia bisa mengidentifikasinya dari stiker yang terpasang di bagian kaca sebelah kanan.


“Penguntit!” kecam Bassta jengkel dan mulai menancap gas.


Ia terus berkendara sembari berpikir keras siapa mereka dan siapa yang menyuruhnya?


Bassta hanya berpikiran pada sosok terdekatnya yang tak lain adalah Jema. Apakah Jema yang meminta seseorang untuk mengikutinya setelah dia yang selalu terlambat ketika bertemu? Bassta bisa menebak dengan mudah karena dia sangat hafal betul bagaimana Jema ketika sedang cemburu dan juga curiga.


“Kalau beneran itu kamu, Jem. Kamu keterlaluan,” tegas Bassta kemudian membanting setir ke sebuah belokan dan benar saja, kendaraan itu mengikutinya dan terus berusaha menjaga jarak agar dia tidak curiga.


Sekarang sudah pukul delapan malam, Bassta yang hendak pulang akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah orang tuanya sampai orang yang mengikutinya berhenti. Bassta yakin jika Jema sudah mulai curiga dan menerka ada wanita lain selain dirinya.


Setibanya di kediaman orang tuanya. Bassta membuat semua orang keheranan. Sudah lama ia tak kembali setelah memutuskan untuk menikah secara mendadak.


“Mas,” kata pelayan yang berpapasan dengan Bassta menyapa. Bassta hanya membalas dengan mengangguk kecil.


Novia di kamarnya yang mendengar kedatangan mendadak Bassta bergegas turun dan disusul oleh Arif.


Bassta duduk menunggu sembari membuka ponselnya. Dia mengirimkan pesan kepada Larisa untuk meminta Larisa diam di dalam kamar dan Bassta juga mengirimkan pesan kepada satpam di rumahnya agar berjaga-jaga jika tidak ada orang yang tak dikenal datang mencarinya.


“Bass,” panggil Novia dan Bassta menoleh.

__ADS_1


“Kamu datang sendiri?” tanya Arif yang celingak-celinguk tidak menemukan sosok menantunya.


__ADS_2