Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
Sakit Tak berdarah


__ADS_3

Amerika, tanggal berapa sekarang? Berapa hari lagi? Itu terus yang dilontarkan Jema sebagai pertanyaan pada Manager juga seluruh timnya.


Wanita ini sudah tidak sabar untuk lekas kembali ke tanah air. Di mana segudang pekerjaan sudah menanti, ia tak menyangka bahwa kepulangannya begitu dinanti banyak orang. Dan yang membuatnya sangat berbahagia adalah ia akan bertemu dengan Bassta.


Memang Bassta sempat ke Amerika menjenguknya, tiga kali pria itu datang untuk mengecek keadaannya. Jika diiyakan, mungkin Bassta juga akan bersedia untuk datang menjemputnya tetapi Jema tidak mau membuat kekasihnya itu repot. Terlebih ia tahu bahwa posisi direktur yang diemban Bassta melingkupi banyak sekali tanggung jawab perihal perusahaan.


“Jem, serius kamu sama Bassta akan menikah?” tanya Sally, manager Jema.


Jema mendongak, tersenyum.


“Itu pasti, aku dan Bassta sudah mengidam-idamkan hal ini setelah sekian lama. Kami sudah menjalin hubungan selama dua tahun, keluarga sudah saling mengenal, tidak ada kesulitan yang akan aku hadapi apalagi tentang restu. Orang tua Bassta betul-betul menginginkan seorang Jema Sisilia sebagai menantunya,” tutur Jema sambil senyum-senyum, sesekali menyisir rambut sebahunya yang berwarna merah itu dengan jemari.


Sally ikut tersenyum, meskipun sejujurnya ia tidak yakin.


“Kamu sama Bassta memang cocok, Jem,” seru partner kerjanya Jema yang sedang duduk di sofa.


“Thanks,” balas Jema dengan wajah yang begitu semringah.


Jema sudah mengatur jadwal liburan untuknya dan Bassta nanti. Ke Bali adalah tujuan utamanya, dan Gelato  sangat ingin Jema dinikmati di Kuta Bali bersama sang kekasih.


***


Tanah air; Di kediaman orang tua Larisa. Fitria sedang mengobrol dengan Ganta, keduanya membicarakan tentang Larisa. Fitria juga memberikan alamat rumah Bassta yang sudah dia dapatkan, Fitria meminta Ganta untuk duluan ke sana, melihat dan memastikan keadaan Larisa. Tetapi Ganta tidak mau, ia tidak bisa berangkat sebelum Sadi memberikannya izin.


“Biar Ibu tangani ayahmu,” kata Fitria penuh keyakinan.


Ganta menggeleng serius. “Itu berisiko. Ibu tahu Ayah kalau sudah marah kayak gimana. Kita bisa menemui Larisa nanti, setelah benar-benar Ayah bisa menerima kejadian ini.”


“Kapan itu? Kapan ayahmu memberikan izin, adikmu membutuhkan keluarganya. Jika salah satu dari kita datang, pasti dia masih merasa bahwa kita masih ada untuknya.” Fitria mendesak dan Ganta menunduk dalam diam.


“Dia akan menjadi seorang Ibu di usianya yang masih muda. Belum memiliki pengalaman, seharusnya ibu menjadi tempatnya bertanya dan berlindung sekarang tapi lihat, yang ada kita jauh.” Fitria menangis dengan lirihnya.


Ganta menarik napas panjang.


Fitria bangkit, berdiri di ambang pintu.


“Ini berbeda, Bu. Kehamilan Larisa adalah kesalahan,” tegas Ganta yang lelah dengan permintaan ibunya itu, yang selalu ingin melihat dan menemui Larisa.


Mendengar ucapan tidak pantas Ganta. Fitria langsung menoleh dengan tatapan yang begitu menusuk.


“Kehamilannya nggak salah, juga dengan bayinya. Yang salah adalah Larisa dan Bassta. Kamu nggak bisa berbicara sembarangan begitu, Ganta.” Ia menegur dengan keras.


Ganta menyusul bangun, berdiri di hadapan Fitria.


“Ibu kira aku udah nggak sayang sama Larisa? Aku masih sayang banget sama dia, tapi biar kita menjauh dulu supaya Larisa bisa berpikir bahwa apa yang dia lakukan itu menanggung banyak risiko dan yang paling beratnya adalah ia dijauhi keluarganya sendiri.”


Fitria menatap dengan mata yang basah. Tidak mau memperpanjang perdebatan, Ganta pun berlalu pergi meninggalkan ibunya yang terus menangis itu.

__ADS_1


Bukan Fitria tidak kecewa juga marah pada apa yang dilakukan Larisa, tapi untuk mendiamkan anaknya lebih lama, rasa sayangnya adalah siksaan baginya sendiri saat ini.


Fitria berharap dan berdoa, situasi bisa kembali utuh, seperti dulu keluarganya berkumpul bersama. Penuh canda tawa, ia merindukan suasana hangat di rumahnya yang kini berganti sunyi sepi dan begitu mencekam ketika ada yang mengungkit perihal Larisa di hadapan Sadi.


***


Hari ini, Fiona sudah bersiap untuk pergi, ada acara arisan dan Sultan yang sedang membaca koran pun langsung menatap kedatangan Fiona ke arahnya.


“Aku pergi dulu, ya, Mas.” Fiona pamit.


“Ke mana? Jangan bilang kamu mau pergi ke rumah Bassta, menemui Larisa lagi. Tempo hari karena ulahmu itu aku habis-habisan kena omel mama, jangan aneh-aneh, deh!”


Sultan menegur dengan raut wajah tak ramah.


Fiona terbelalak mendengarnya, Vivian mengadu? Padahal ia sudah memperingatkan bocah itu agar tidak memberitahu Novia. Tapi ternyata, ia memiliki adik ipar yang begitu sulit diberikan kepercayaan.


Sekarang, Fiona membalas, “Aku mau pergi untuk menghadiri acara arisan. Kayak biasanya, kamu juga tahu. Nggak usah khawatir, lain kali aku nggak bakalan ajak Vivian kalau mau ketemu sama Larisa.” Fiona tersenyum riang.


Sultan menggeleng dengan keras.


“Bukan itu maksud aku, Fionaaaaaa!” Sultan merasa gemas sendiri.


“Ya, apa?” Fiona menaikkan dagunya.


“Kamu jangan menemui Larisa lagi. Jangan macam-macam, dia memang istrinya Bassta tapi mama menolak dengan keras mengakuinya sebagai menantu. Ayolah, Fiona, jangan ribut terus sama mama.” Sultan membujuk dengan perasaan frustrasi. Karena Fiona akan melakukan apa pun yang dia sukai.


Sultan langsung memijat kepala mendengarnya.


“Aku harus pergi cepet-cepet. Dah,” kata Fiona kemudian berlalu dan Sultan menatap kepergian istrinya itu.


***


Sementara di tempat Bassta, ia sedang melamun di kamarnya. Sebentar lagi Jema kembali tetapi Bassta merasa belum siap untuk berhadapan dengan wanita yang ia rindukan itu. Bassta sangat takut hubungannya dengan Larisa diketahui oleh Jema, jika itu kejadian, bagaimana dengan keinginannya yang sangat ingin merajut cinta dalam rumah tangga bersama Jema?


Sekuat apa pun dia menutupi, lambat lain rahasia ini pasti akan diketahui oleh Jema dan sebelum itu terjadi. Bassta harus memastikan bahwa Jema tidak akan meninggalkannya.


Bassta hanya memikirkan perasaan Jema, tidak memikirkan Larisa. Ia berpikir bahwa Larisa tidak akan sakit hati, tidak akan merasa rendah diri, di saat Larisa tahu bahwa dia memiliki kekasih di luaran sana.


Larisa hanya sepupunya, mereka sepupuan dan pernikahan yang terjalin ini hanya buah dari kesalahpahaman.


“Setelah bayi itu lahir. Aku minta maaf karena aku nggak bisa lagi bantuin kamu, Larisa. Setelah bayi itu lahir, gimana pun nanti, semoga kehidupan kalian bisa lebih baik.”


Bassta bergumam, dia benar-benar merasa terbebani dengan kondisinya sekarang.


Tiba-tiba pintu kamarnya berayun, suara langkah kaki terdengar disusul suara Larisa memanggilnya. Bassta yang sedang tidak ingin diganggu pun menoleh, ia dapati istrinya itu tengah membawa nampan. Makanan ringan juga minuman dingin untuknya.


“Bass, maaf aku masuk langsung, soalnya pintunya kebuka sedikit tadi.” Larisa menatap dan Bassta hanya diam membisu.

__ADS_1


Larisa menjadi gugup melihat tatapan kaku pria itu. Kemudian dia melangkah dan memperlihatkan apa yang dia bawa. Kue sus buatannya dan es sirop rasa melon.


“Aku nggak lapar, Larisa. Kalaupun aku mau sesuatu, aku bisa turun dan mencari sendiri. Ada Bi Asih juga, kamu ngapain sih repot-repot?” tegur Bassta dan Larisa tersenyum kecil.


“Kamu coba aja dulu, semoga kuenya bisa bikin suasana hati kamu membaik. Aku bisa melihat kalau kamu sekarang lagi bingung, iya, kan?” tutur Larisa begitu ceria.


Bassta diam, menaikkan satu alisnya.


“Sok tahu,” ucap Bassta.


“Makan aja dulu,” kata Larisa dengan pelan.


Bassta mendelik dan ia tidak tertarik sedikitpun.


"Jangan bertingkah seenaknya, ya, mentang-mentang akhir-akhir ini aku bersikap baik sama kamu." Bassta memperingatkan dan Larisa mendesah kasar menanggapinya.


"Keluar sana! Aku sibuk." Usir pria itu.


"Makan kuenya dulu. Aku buat kue itu spesial buat kamu karena nggak biasanya di hari minggu kamu ada di rumah. Jarang-jarang, kan?" kata Larisa antusias, ia ingin tahu bagaimana penilaian Bassta tentang kue buatannya.


Bassta menggeleng, menunjukkan raut tak bersahabat karena merasa Larisa memaksanya. Tanpa berkata, Bassta mengarahkan telunjuknya ke pintu, meminta Larisa agar lekas pergi dari kamarnya.


"Iya, deh, iya.... aku pergi." Larisa mengalah, tidak mau ada masalah.


Bassta membisu, menatap langkah wanita itu. Saat Larisa menarik gagang pintu, ia berseru memanggil.


"Larisa."


Larisa tersenyum, yakin bahwa Bassta berubah pikiran. Lekas dia berbalik, keduanya saling memandang dengan sorot mata berbeda.


"Nanti kalau Jema pulang ke Indonesia. Tolong banget, ya, jangan sampai kalian ketemu." Bassta meminta dengan wajah tersaput kegalauan.


Senyuman Larisa langsung meredup mendengarnya. Ia salah menduga.


"Hmmm?" Larisa mengerjapkan matanya.


"Iya, jangan sampai kamu sama Jema ketemu. Aku nggak mau ada masalah, sebelum ada, sebaiknya kita mengantisipasi terlebih dahulu."


Larisa termenung, apa dia hanya sumber masalah bagi Bassta sampai perlu diperingatkan begitu? Larisa merasa ada yang sakit—menyelekit di dadanya.


"Bass, boleh aku bertanya?" balas Larisa dengan seulas senyuman tipis. Bassta mengangguk mengiyakan. "Sesayang itu kamu sama Jema?" tanyanya dan Bassta langsung meluruskan punggungnya, cukup kaget dia mendengar pertanyaan Larisa.


"Aku sayang banget sama dia, Ris." Bassta mengiyakan dengan sungguh-sungguh dan Larisa merasakan matanya mendadak perih.


Larisa menunduk, mengangkat wajahnya sedetik kemudian dengan senyuman mungil dipaksakan. Larisa mengangguk, tak banyak bicara lagi, dia akhirnya pergi meninggalkan kamar pria yang mustahil ia singgahi isi hatinya.


Larisa merasa tersadarkan bahwa dia hanya wanita kotor dan tidak pantas sedikitpun mengharapkan Bassta memikirkan kebaikan rumah tangga mereka untuk waktu yang panjang.

__ADS_1


Sakit tapi tak berdarah, itu yang sedang Larisa rasakan sekarang.


__ADS_2