Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
Hanung Emosi


__ADS_3

***


“Bass, kamu pulang jam berapa hari ini?” tanya Larisa yang berdiri di hadapan Bassta. Ia mengantarkan suaminya untuk berangkat bekerja. Keduanya berada di teras dan tak sadar bahwa Novia dari jauh memerhatikan dengan mata memicing.


“Aku pulang cepat. Mau ketemu papa juga dan papa minta aku buat bawa kamu,” kata Bassta.


Kening Larisa mengerut.


“Kenapa?” Ia khawatir.


“Tadi aku sempet nelepon papa buat bujukin mama pulang tapi papa mau ngobrol dulu sama kita berdua. Katanya, sih, sambil makan bareng. Kamu bisa, kan?” tuturnya dan takut Larisa menolak.


Di luar dugaannya, Larisa tersenyum lebar, mengangguk kuat-kuat.


“Aku mau, Bass. Aku juga bosen di rumah terus. Emm, kalau boleh bisa nganterin aku belanja? Baju di lemari udah nggak muat, sesak, perut aku kan makin besar.” Larisa memegang perutnya dan Bassta terpaku, terasa lagi tendangan halus yang dia rasakan semalam.


“Bass!” tegur Larisa karena Bassta malah melamun sambil menatap perutnya.


“Oke! Jam empat kamu siap-siap. Jangan sampai mama tahu kita mau pergi, tungguin aku di depan minimarket aja.”


Larisa mengangguk dan mata Bassta melirik ketika melihat sekelebat bayangan ibunya. Matanya mengerjap, bisa-bisanya ibunya sedang memperhatikan untuk memastikan.


“Ya udah aku berangkat.” Bassta mengulurkan tangan dan Larisa mengernyit. Keduanya bersitatap.


“Apa?” Larisa mendadak bingung.


“Cium,” bisik Bassta sambil cengar-cengir.


“Hah?” Larisa melongo, dia gigit bibir bawahnya kelu.


Bassta yang geregetan akhirnya melangkah maju. Larisa menahan napas.


Sebuah kecupan lembut mendarat di kening wanita itu, ia langsung diam membeku. Bassta kemudian menarik tangan Larisa, mengangkatnya. Seketika Larisa tersadar dari lamunannya kemudian menyalami tangan Bassta dengan kikuk.

__ADS_1


Apa ini jawaban dari semua doa dan harapannya?


Bassta tersenyum, Larisa membalas.


Novia yang melihat keduanya begitu tampak romantis pun menghentakkan kaki jengkel. Ia kira berada di rumah tersebut akan menemukan sesuatu yang bisa dia jadikan alat untuk memisahkan keduanya tetapi ternyata, malah keromantisan yang dia dapati.


Larisa menunduk, kedua pipinya tersaput warna merah muda, ia mendadak tersipu dan Bassta membuang napas lega melihat kepergian ibunya.


Larisa mengangkat wajah saat tangannya dilepas. Keduanya bersitatap.


“Maaf,” kata Bassta canggung. Larisa diam kebingungan. “Barusan ada Mama.”


Larisa terdiam, sorot netranya begitu memperlihatkan keputusasaan.


Bassta berlalu dan sempat berbalik, sementara Larisa diam dan hanya memberikan senyuman lemah. Akhirnya Bassta benar-benar pergi dan apa yang dia anggap spesial barusan adalah hal yang dilakukan Bassta karena terpaksa.


Perlahan dia memutar tubuh, semakin pesimis karena keinginannya untuk mempertahankan rumah tangga tak kunjung jua mendapatkan lampu hijau.


***


Sementara di koridor lantai 19, Bassta sedang melangkah sembari menempelkan ponsel di telinganya. Dia sedang berusaha menelepon Jema yang di tempat lain sedang sibuk dengan kegiatan shooting.


Dari arah berlawanan ada Hanung yang terus memperhatikan Bassta sampai membuat pria itu tidak nyaman.


Saat keduanya berpapasan dan hampir saling melewati, Hanung berseru;


“Bass!” Cukup jelas sampai membuat Bassta menghentikan langkah lalu berbalik badan, balik menatap Hanung, tatapannya masih saja jengkel kepada Hanung.


“Ada Cafe yang baru buka nggak jauh dari sini. Ada kopi yang enak di sana, mungkin kita bisa mengobrol sambil menikmati jam istirahat,” kata Hanung menawari dengan senyuman mengembang.


Bassta memasukkan ponsel ke saku celana kemudian melangkah mendekat.


“Sogokkan?” tuduhnya.

__ADS_1


Hanung terkekeh-kekeh renyah. Ia rangkul bahu sahabatnya itu kuat.


“Kita sahabatan udah lama. Jangan terus-terusan begini, ayo,” ajak Hanung memaksa dan akhirnya Bassta tak menolak tapi rautnya masih memperlihatkan kesinisan.


Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di tempat yang dimaksud Hanung. Ia yang memesankan kopi yang dia maksud tadi dengan beberapa makanan ringan juga.


Bassta mendesah, meletakkan ponsel ke atas meja begitu frustrasi.


Hanung mengernyit lalu menyesap kopinya pelan-pelan.


“Susah banget dia ditelepon. Giliran dia yang nelpon kalau telat aku angkat, pasti ngamuk,” celetuk Bassta berkeluh, tangannya terulur mengambil segelas kopi lalu kemudian mencobanya.


“Istri atau selingkuhan?” tanya Hanung dan Bassta langsung menatapnya tajam.


Hanung tertawa sekarang, meletakkan pula kopi di tangannya.


“Santai, Bass. Oke, pasti Jema, kan? Karena nggak mungkin Larisa kayak begitu, aku kenal dia kayak gimana.”


“Sok kenal!” cela Bassta dan Hanung hanya tersenyum.


Keduanya hening untuk beberapa saat sampai kemudian Hanung berbicara lagi.


“Sebenarnya apa yang terjadi dengan pernikahan kalian? Aku mungkin lancang bertanya tapi jujur aku nggak tega waktu ngelihat Larisa sendirian malam-malam dan habis nangis. Sementara kamu ngabisin waktu sama Jema, kalau Larisa tahu ada Jema di antara kalian, itu bukan cuman menyakiti dirinya tetapi juga mentalnya. Dia lagi hamil, Bass,” terangnya dengan mimik muka tak tega. Suaranya juga terdengar serak dan ragu saat menyebutkan nama Larisa.


Bassta yang sedang mengelus gelas kopi di lengan kanannya pun membalas, “Nggak usah khawatir karena Larisa tahu tentang hubungan aku sama Jema. Tapi Jema, dia nggak tahu kalau aku udah punya istri.”


Bassta berbicara begitu jelas dan ringan. Di bawah meja, Hanung mengepal tangan dan rahangnya mengetat. Dia tak bisa menyembunyikan emosinya ketika mendengar Larisa dikhianati bahkan wanita itu tetap bertahan meskipun tahu.


Bassta tersenyum sinis, menatap Hanung lekat. “Kamu marah, Nung?” tanyanya dan Hanung membuang muka.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2