
Bassta melenggang di lorong dengan tatapan sendu. Beberapa karyawan yang berpapasan pun menyapa dan hanya dia tanggapi dengan sebuah anggukan kepala, dengan raut wajah yang begitu datar. Bassta begitu khawatir kepada Larisa, belum pernah dia sekhawatir ini karena ibunya ada di sana.
Dalam meratapi kemelut permasalahannya, mendadak langkahnya dihentikan oleh Sultan yang menghadang. Bassta menaikkan satu alis sementara Sultan tersenyum lebar.
“Aku dengar dari Papa kalau Mama nggak mau pulang dari rumah kamu,” tutur Sultan dan Bassta mendengus. Malas sekali dia harus berpapasan dengan kakaknya yang begitu kepoan dengan hidup orang lain.
“Aku juga mendapatkan keluhan dari Vivian yang waktu itu datang ke rumahmu bersama Fiona.” Sultan menyambung dan Bassta mengeratkan gigi-giginya, benar-benar Vivian ini, membuat masalahnya semakin menumpuk.
“Terus?” timpal Bassta dingin.
Sultan maju selangkah dan Bassta memicingkan mata.
“Ada sesuatu antara kamu dan Larisa. Ini bukan hanya sekedar rumah tangga biasa dan kalau itu terbukti. Habis kamu terkena hukuman lagi sama papa,” tegas Sultan dan Bassta mendorong dadanya dengan keras.
Bassta tak sadar bahwa reaksi yang ditunjukkannya membuat Sultan berpikir bahwa apa yang dia ungkapkan benar-benar menjadi sebuah ancaman baginya. Sultan menjadi penasaran, apa perlu juga dia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi? Semakin Bassta terlilit masalah, semakin lebar pula kesempatannya untuk membujuk sang papa agar mempercayakan perusahaan secara penuh terhadapnya.
Bassta menggerakkan tangan, ia acungkan jari telunjuknya penuh ancaman.
“Sekali lagi kamu bicara dan berusaha mencari tahu tentang kehidupanku. Aku akan benar-benar melupakan persaudaraan diantara kita. Aku juga tidak akan segan-segan mengadukanmu dengan bukti yang utuh atas kecurangan yang kamu lakukan di gudang, dan aku juga tidak akan segan-segan memberitahu mertuamu yang kaya-raya itu tentang pengkhianatan yang kamu lakukan kepada Fiona!”
“BASSTA!” teriak Sultan tak terima, matanya memerah dengan urat-urat di wajahnya pula yang menonjol saking emosinya.
Bassta menatap tajam, emosi sudah di ubun-ubun. Bisa saja selanjutnya keduanya akan saling memiting dan membanting.
“Apa kamu pernah berpikir bahwa tidur dengan banyak wanita bisa saja membuatmu terkena penyakit menjijikan? Fiona nggak sepolos itu, nggak bucin akut juga, kalau dia tahu suaminya nggak setia. Jelas kamu akan ditendang jauh-jauh! Dan Papa, nggak bakalan percaya lagi sama kamu, Sultan.”
Sultan mengerang dan Bassta menyeringai, mengejeknya.
Perlahan Bassta mundur dengan senyuman yang terus mengembang dengan sorot mata yang memperingatkan pula. Sultan diam di tempat. Dia mati kutu tak bisa melakukan apa-apa karena Bassta tahu semua aibnya.
“Sial!” umpat Sultan penuh emosi.
Ia kepalkan tangannya kuat sementara Bassta sudah jauh berlalu.
Setelah sampai di ruangan kerjanya, Bassta duduk, membuka laptop, menyempatkan diri juga memesan kopi dan camilan. Saat jari jemarinya mengetik keyboard, dia termangu melihat noda berwarna pink muda di punggung tangannya.
Bassta bingung, terus memperhatikan kemudian dia terdiam saat ingat sebelum pergi bekerja Larisa sempat mengecup punggung tangannya. Kecupan wanita itu meninggalkan jejak di sana yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya dari wanita mana pun. Kecupan dan tanda yang begitu terhormat karena itu adalah bukti bakti seorang istri.
Gelenyar rasa yang aneh menjalar, berusaha Bassta tepis dengan mengalihkan perhatian, ia membuka ponselnya dan banyak sekali rentetan pesan dan panggilan masuk dari Jema.
__ADS_1
Jema kembali mengajaknya bertemu. Minta ditemani ke salon dan Bassta termenung beberapa saat. Jema selalu menghabiskan waktu yang tak singkat jika sudah memasuki tempat favoritnya untuk mempercantik diri. Terakhir kali Bassta menemaninya dia buat kesal karena terus digoda oleh para lelaki gemulai di salon langganan kekasihnya itu. Kapok, tak mau lagi, Bassta akhirnya membalas pesan Jema dengan menolaknya. Bassta beralasan bahwa dia ada meeting dengan klien dari luar negeri.
****
Larisa berpelukan erat dengan Nayla kemudian dia juga memeluk Nenden. Akhirnya kedua sahabatnya datang, membuatnya bisa meninggalkan kamar setelah berusaha menghindari Novia dengan mengurung diri. Diam di kamarnya mungkin tidak terlalu membosankan tetapi diam di kamar Bassta yang tidak banyak ada barang miliknya, membuatnya jenuh.
“Macet, nggak?” ucap Larisa.
“Cuman sebentar, kok.” Nenden membalas.
“Kamu seriusan diizinin suami kamu keluar rumah? Kehamilan kamu udah sebesar ini.” Larisa memandang lekat perut Nenden.
“Kalau cuman nemuin kamu sama Nayla nggak masalah. Kalau keluyuran nggak jelas baru suami aku nggak bakalan ngizinin,” kata Nenden dan Larisa dengan Nayla tersenyum.
Larisa mempersilakan keduanya masuk. Kedua sahabatnya menganga saat melihat sosok wanita di atas tangga, ibunya Bassta. Nayla langsung menatap Larisa, Larisa menunduk sekilas kemudian mengajak keduanya pergi ke area kolam renang. Mungkin di sana ketiganya bisa bebas mengobrol tanpa perlu mengkhawatirkan kehadiran Novia yang tampak selalu waspada mengawasi.
“Kalau tahu ada ibu mertua kamu. Mending aku nggak jadi ke sini,” bisik Nayla dan Larisa manyun.
“Justru aku sengaja nggak ngasih tahu kamu karena aku pengin ditemenin,” balas Larisa berbisik juga.
“Mertua kamu galak, ya, Ris? Kelihatan dari urat mukanya,” kata Nenden menyela.
“Pelan-pelan kamu, Nden. Kalau Tante Novia denger, nanti kamu diusir. Mau?” kata Nayla menakuti.
Nenden meringis, menggeleng kepala kengerian membayangkan kemarahan ibunya Bassta yang dikenal arogan.
Nayla dan Nenden cukup bisa menilai bagaimana perangai wanita itu dari satu cerita dan cerita yang lainnya yang Larisa utarakan.
“Aku mau minta tolong sama bibi buat nyiapin sesuatu buat kalian. Tunggu, ya,” ucap Larisa pamit dan keduanya mengangguk.
Nenden dan Nayla duduk, menatapi air kolam renang yang begitu tenang. Keduanya mengobrol kembali, membicarakan lagi tentang keluarganya Bassta. Mereka berhenti ketika Larisa datang, takut Larisa tak suka keduanya terus menerus menyerukan perihal keluarga Bassta.
Asih menyuguhkan minuman dan makanan ringan. Ketiganya kompak berterima kasih kemudian Asih kembali masuk. Nenden dan Nayla juga datang membawa makanan. Larisa membukanya dengan antusias. Menikmati jajanan pasar yang begitu dia rindukan apalagi kua bugis, kue lapis dan kue bibika.
“Pengen pipis.” Mendadak Nenden kebelet.
“Ya udah, gih,” kata Larisa.
“Pelan-pelan, Nden.” Nayla mengingatkan kemudian Nenden mengangguk dan berlalu pergi.
__ADS_1
Larisa diam, mengunyah makanannya. Nayla memerhatikan kesedihan di wajah sahabatnya untuk ke sekian kali.
“Kamu kayak nggak nyaman ada ibunya Bassta,” celetuk Nayla.
Larisa mengangkat matanya kemudian mengangguk.
“Kamu tahu sendiri kalau keluarganya Bassta nggak ada yang menerima aku. Eh, ayahnya Bassta sama mbak Fiona baik, sih. Tapi untuk ibu mertua sama ipar, mereka nggak suka sama aku.”
Wajah Larisa merengut sedih.
Nayla mengusap bahu sahabatnya itu lembut.
“Sabar, aku yakin nanti mereka bakalan bisa terima kamu apa adanya.”
“Kalau enggak?” sahut Larisa cepat, begitu pesimis dengan kehidupannya ke depan.
Nayla mengembuskan napas panjang.
“Kita nggak tahu di depan bakalan kayak gimana. Jalani aja dulu,” kata Nayla, hanya itu yang bisa dia ucapkan walaupun tahu Larisa tidak akan mampu. Sahabatnya menginginkan rumah tangga yang sempurna, utuh, seperti rumah tangga orang lain.
“Ini, kan, hari Minggu emangnya Bassta tetep kerja?” kata Nayla mengalihkan pembicaraan.
“Katanya ada masalah. Dia, mas Sultan dan beberapa karyawan dengan jabatan penting di perusahaan wajib hadir. Nggak tahu masalah apa, nggak paham juga aku,” balas Larisa dan Nayla mangut-mangut.
Larisa diam lagi, bahkan berhenti menikmati makanannya.
Tak lama suara langkah kaki terdengar, kedua mata Nayla membulat seperti orang yang sedang melihat penampakan di belakang Larisa. Larisa mengernyit heran, apalagi sekarang Nayla menepuk-nepuk lututnya.
Perlahan, Larisa menengok ke belakang, lebih terkejut dia ketimbang Nayla sekarang karena sosok adiknya Nurani sudah berada di sebelah Nenden.
Nurani terus menatap Larisa, gadis itu ingin membeberkan apa yang dia lihat, dia tidak mau menyembunyikan pengkhianatan kakak iparnya, ia merasa tak tenang menggenggam hal memalukan itu sendirian. Dia datang sendiri, dengan niat yang bulat, berharap juga Bassta ada di rumah untuk mencerca pria itu jika mengelak atas keluhan dan aduan yang akan dia katakan di hadapan Larisa.
Nurani tidak tahu apa-apa, tak paham apa yang sedang di hadapi kakaknya. Lebih rumit dari pengkhianatan, dan lebih sulit lagi untuk dikendalikan jika semua orang tahu yang sebenarnya.
__ADS_1