
Keesokan paginya, Larisa membuka pintu dan berjalan keluar. Ia berdiri, menoleh ke arah pintu gerbang. Suaminya belum juga pulang, tak membalas pesan juga mengangkat telepon darinya apalagi memiliki inisiatif mengabarinya yang semalaman begitu gelisah dihantui rasa cemas. Padahal, Larisa jelas tahu bahwa suaminya menemui wanita lain tetapi hal lain juga ada di pikiran Larisa. Takut suaminya yang pergi tergesa-gesa semalam mengalami kejadian yang tidak diinginkan di perjalanan.
Seperti istri-istri lain pada umumnya, dia sangat menghargai dan mengkhawatirkan Bassta secara penuh sebagai seorang suami bukan sebagai kakak sepupu seperti dahulu. Status itu memang tidak akan lenyap antara dirinya dan Bassta, tetapi status mereka sekarang pun bukanlah hal yang wajar jika tak dianggap begitu saja.
“Butuh sesuatu, Mbak?” suara pak Satpam dari belakang membuat Larisa sontak berbalik.
Ia tersenyum, menggeleng kepala dengan lemah. Menatap ramah pria di hadapannya yang sedang membawa secangkir kopi hitam.
“Oh, ya sudah saya mau ngopi. Kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu panggil aja,” kata pak Satpam dan Larisa mengangguk mengiyakan.
Pria paruh baya itu berlalu dan Larisa juga kembali masuk ke dalam rumah setelah perutnya terasa perih, disusul dengan geliat halus bayinya.
“Seenggaknya kamu ngasih kabar kalau kamu baik-baik aja, Bass,” ucap Larisa sembari mengelus perutnya. Sekali lagi dia melongok ke luar, tetap saja Bassta tak kunjung datang pulang.
Larisa kini melangkah menuju dapur untuk membuat sesuatu.
****
Ibra terhenti ketika dia berpapasan dengan wanita yang selalu dijodoh-jodohkan para tetangga dengannya. Namanya Susan, tak seperti biasanya, wajah Susan yang semula selalu memerah ketika bertemu Ibra pujaan hatinya, kini begitu tertekuk tak bersemangat setelah tahu Ibra bekerja di mana dan dengan siapa.
“Susan,” ucap Ibra menyapa. Ada hal penting juga yang ingin dia bicarakan dengan Susan perihal Jema.
“Hmmm?” Susan mengangkat wajahnya.
“Kamu mau kerja? Ini masih pagi.” Ibra tersenyum lebar dan memerhatikan Susan yang sudah sangat rapi.
Susan mendesah mendengarnya.
“Bekerja di mana? Setelah keributan yang majikan kamu buat, aku sudah dipecat dari salon.” Susan begitu ketus, benar-benar tak seperti biasanya.
Susan adalah wanita yang waktu itu kena semprot oleh Jema di salon. Susan habis dimaki-maki dan dipermalukan dan Ibra yang saat itu memerhatikan dari luar tidak melakukan apa pun. Itulah yang membuat Susan kecewa. Jika Ibra tak menyukainya, apa Ibra tak bisa menolongnya atas dasar bertetangga?
“Kamu—di pecat?” Ibra sangat kaget mendengarnya. Dia tahu jelas bahwa Susan adalah tulang punggung di keluarganya.
“Iya, aku dipecat gara-gara ulah majikanmu itu. Hanya karena kesalahan kecil, dia benar-benar membuat hidup manusia miskin ini semakin sulit. Dia yang membayar bos di salon supaya sudi memecatku,” ucap Susan yang hampir menangis. Dia benar-benar bingung harus mencari kerja ke mana lagi, semua itu tidak mudah baginya.
__ADS_1
Ibra terdiam, bingung harus bagaimana.
Susan menunduk, air matanya jatuh.
Ibra sudah membuka mulut untuk kembali bersuara tetapi Susan memilih pergi mempercepat langkahnya.
Ibra menatap kepergian Susan dengan tatapan tak tega tapi Ibra juga tak bisa melakukan apa-apa.
***
Jema menggeliat, tangannya bergerak, meraba-raba ke sebelah kanannya yang semula di tempati Bassta.
Tak ada apa-apa dan sekarang Jema membuka matanya. Dia bingung mendapati Bassta tak ada.
Jema bangun, meremas rambutnya yang kusut kemudian berseru.
“Bass,” ucapnya dengan suara serak.
Hanya terdengar suara gemercik air di kamar kecil. Jema pun tersenyum lalu merebahkan tubuhnya kembali.
Di dalam sana, Bassta sedang membuka ponselnya yang sengaja dia matikan. Dia menghela napas mendapati rentetan pesan dari Larisa yang berisi pertanyaan tentang dirinya baik atau tidak. Larisa mengkhawatirkannya? Sementara dirinya tidak bisa menepati janji untuk kembali ke rumah setelah bertemu Jema. Dia mendadak lupa, alkohol yang dia cicip berhasil membuatnya lupa dengan urusannya yang lain. Hanya Jema di hadapannya yang dia urusi semalam, karena wanita itu terus merajuk atas keterlambatan yang dia lakukan.
Bassta menggenggam ponselnya, tak lama dia letakkan di atas meja, dia sempat membasuh wajahnya, menghilangkan jejak kantuk yang masih tercetak jelas.
Ketika Bassta keluar, Jema sudah duduk di sofa dan langsung berdiri, menghambur memeluknya.
“Aku kira kamu pergi,” kata Jema sambil mendongak.
“Hmmm, sekarang aku benar-benar harus pergi. Aku harus ke kantor.” Bassta tersenyum, menjatuhkan kecupan kecil di kening Jema, dia mendorong tubuh wanita itu mundur agar melepaskan pelukannya.
“Apa kamu nggak bisa menebus kesalahan kamu semalam hari ini? Aku beneran kepingin banget jalan-jalan sama kamu, Bass.” Jema merajuk lagi, melipat kedua tangannya di depan dada, memerhatikan Bassta yang sedang memakai jaketnya.
“Aku beneran harus ke kantor, Jem. Nanti papa marah. Seharusnya semalam aku juga pulang, tapi aku di sini nemenin kamu, itu belum cukup?” Bassta menatap dan Jema menggeleng.
“Belum, Bass. Aku beneran nggak bisa ngizinin kamu pergi.” Jema memeluk lagi, lebih kencang dan erat.
__ADS_1
“Jem, kamu juga sibuk. Nanti aku kena omel Sally kalau kamu begini, kita sama-sama sibuk, setelah menikah nanti pun kita nggak bisa setiap waktu menghabiskan waktu dengan Cuma-Cuma. Oke? Aku pulang dulu.” Bassta menangkup kedua pipi Jema dan Jema mendengus sebal. “Dewasalah, Jem. Terus-terusan bersikap seperti anak kecil, nggak baik.” Bassta tersenyum manis dan Jema pun luluh dibuatnya.
“Secepatnya kita harus ketemu lagi, ya, Bass.” Jema masih memeluk Bassta.
“Pastinya, Sayang.”
Jema begitu senang mendengarnya kemudian melepaskan pelukannya.
Bassta akhirnya pergi dan Jema kembali beristirahat, masih ada waktu sebelum ia dijemput Sally dan Ibra untuk menyelesaikan shooting dan bertemu klien penting hari ini.
****
Larisa mengembuskan napas berat, dia mulai menggigit roti bakar dengan selai kacangnya, ia masih setia menunggu suaminya. Belum bisa tenang sebelum mendapatkan kabar dan melihat Bassta baik-baik saja.
"Seasyik itu ngabisin waktu sama Jema sampai lupa kalau kamu bilang sama aku bakalan balik lagi? Semalaman aku nggak bisa tidur, Bass." Larisa meracau dalam hati.
Larisa mengunyah sarapannya lembut, dan tatapannya begitu kosong ketika dia membayangkan hal yang tidak-tidak terjadi antara Bassta dan Jema. Kalau memang iya semuanya terjadi, dia bisa apa?
Seusai sarapan, Larisa pergi ke lantai dua, membersihkan diri kemudian berbaring di atas kasurnya setelah melongok dari balkon ke teras tetapi mobil Bassta ternyata belum ada.
Bassta sedang dalam perjalanan, tetapi sayangnya dia terjebak kemacetan.
Tiga puluh menit berlalu, Bassta pulang dan tidak mendapati Larisa di lantai satu. Dia juga sempat bertanya pada satpam tentang semalam, takutnya ada sesuatu yang terjadi di rumahnya dan terkhususnya kepada wanita yang sedang mengandung itu.
Sekarang, Bassta berada di depan pintu kamar Larisa. Dia mengetuk pintu tetapi Larisa di dalam sana sudah terlelap kembali. Larisa merasa letih karena kurang tidur.
"Larisa? Ini aku," seru Bassta kemudian mengetuk pintu lagi.
Karena tidak ada sahutan, Bassta pun membuka pintu dan terdiam sejenak melihat Larisa meringkuk begitu nyenyaknya.
"Apa dia marah karena aku nggak pulang?" Bassta bergumam dalam hati. Terus menatap Larisa sampai akhirnya tak lama kemudian dia mendekat perlahan, menarik selimut, menyelimuti tubuh Larisa perlahan.
Keletihan di wajah Larisa begitu jelas terlihat. Bassta yakin wanita itu tidak tidur karena takut sendirian atau bisa jadi karena menunggunya.
Setelah tubuh Larisa terselimuti dengan sempurna, Bassta diam memerhatikannya. Selimut polos berwarna coklat itu menampakkan sesuatu yang menggeliat dan refleks membuat Bassta mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Bassta diam, terus mengamati gerakan di perut besar Larisa. Begitu aktifnya bayi tak berdosa di dalam sana yang membuat Bassta seketika terpaku melupakan segalanya.
Merasakan perutnya bergetar, Larisa hanya meringis dan Bassta pun duduk di tepi kasur sambil terus mengamati. Kini, entah apa yang mendorongnya, tangannya berayun lembut dan mendarat di perut Larisa. Getaran yang dibuat bayi Larisa sangat memanjakan telapak tangan Bassta. Bassta terus menempelkan tangannya, menatap perut istrinya dengan tatapan lembut sampai-sampai ia tak sadar bahwa Larisa sekarang membuka mata dan memergoki apa yang sedang dia lakukan.