
***
Wajahnya basah setelah dia basuh dengan kedua telapak tangannya. Kemeja hitamnya tampak basah, juga dengan rambutnya yang sengaja dia basahi kemudian dia tarik ke belakang. Kini, ia menatap pemandangan tepat di hadapannya. Sebuah cermin besar di dalam toilet itu tidak memantulkan bayangannya melainkan bayangan Larisa yang sedang merana yang muncul.
“Kenapa? Kenapa bisa kamu mau-maunya bertahan walaupun tahu kamu akan sakit!” geramnya antara marah juga tak tega.
Setelah percakapannya dengan Bassta tadi. Hanung memilih tidak melanjutkan, setelah kopi mereka habis, Hanung bahkan lebih dulu pamit meninggalkan Bassta sendirian di sana.
Hanung merasa semuanya mimpi dan dia merasa perlu untuk menanyakan kebenarannya kepada Larisa.
***
Sesuai janji, Arif sedang dalam perjalanan sementara Bassta dan Larisa sedang berada di toko pakaian. Larisa sedang memilih piyama, favoritnya adalah piyama tangan serta celana panjang. Bassta memainkan ponselnya, sesekali melirik, takut Larisa keluyuran jauh darinya. Dia malas mencari-cari jika itu kejadian.
“Bass, ini bagus nggak?” seru Larisa, mengangkat tangannya yang memegang setelan piyama berwarna tosca.
“Hmmm,” balas Bassta asal, tanpa melirik sedikitpun, fokus pada ponselnya sampai Larisa menggigit bibir karena merasa malu dengan para pegawai toko tersebut yang refleks senyum-senyum sembari saling berbisik.
Suami yang terang-terangan tidak menganggap keberadaan istrinya yang tengah hamil, mungkin itu yang mereka pikirkan, mungkin pula mereka menertawakannya. Larisa langsung murung kemudian melangkah menjauh dari tempat suaminya berdiri. Ada atau tidak, rasanya sama saja, lebih baik sekalian saja sendirian!
Ada rasa kesal di benak Larisa, seharusnya dia tidak perlu meminta suaminya yang selalu cuek untuk menemaninya membeli baju.
Sekitar dua puluh menit terlewat, Bassta yang tidak sadar dengan kepergian Larisa pun memutar tubuh, matanya membelalak panik, dia terus menyapu sekeliling.
“Ris.” Mulutnya mengeluarkan bisikan, matanya menyorot bingung.
Kaki panjangnya sekarang melayang, ke sana-kemari sampai kemudian dia menanyakan kepada pegawai toko. Mereka dengan senang hati memberitahu pria tampan yang sudah beristri tetapi tetap memikat di mata mereka itu dengan penuh senyuman.
Bassta langsung bergegas keluar, mencari di mana wanita yang memakai dress hitam dengan rambut tergerai itu.
Berkeringat sudah Bassta sekarang, menelepon pun tak ada guna karena Larisa mengaktifkan mode senyap di ponselnya. Bassta semakin panik karena sekarang Arif menelepon.
Bassta perlahan mengusap peluh di keningnya, kemudian dia menekan layar ponselnya.
“Halo, Bass. Ini Papa udah di tempat yang kita sepakati, kamu sama Larisa di mana?”
Bassta meringis mendengarnya.
__ADS_1
“Itu, Pa—” kalimatnya menggantung.
“Kenapa? Suara kamu kayak panik begitu.”
Bassta diam, mengembuskan napas perlahan untuk menetralkan kepanikannya.
“Larisa nggak ada, tadi sama aku. Dia kepingin beli baju tapi pas aku cari, dia udah nggak ada.” Bassta memberitahu sembari terus mengedarkan pandangan.
“Kamu ngomong apa? Ini Larisa baru sampe,” kata Arif membalas dan raut wajah Bassta langsung berubah.
“Beneran dia ada di situ, Pa?” tanyanya meyakinkan, takut salah dengar.
“Iya,” jelas Arif menjawab.
“Ya udah kalau begitu. Aku nyusul sekarang,” katanya kesal kemudian mematikan panggilan.
Arif di tempatnya pun mengernyit mendengar nada bicara anaknya yang seperti itu sementara Larisa di seberangnya diam dengan kepala tertunduk.
Arif meletakkan ponselnya, siap berbicara.
“Baik, Pa. Papa gimana?”
“Baik juga. Kenapa kamu sama Bassta nggak sama-sama nemuin Papa di sini? Kalian bertengkar?”
Air muka mertuanya memperlihatkan kekhawatiran, Larisa merasa tak tega melihatnya.
“Enggak, Pa. Aku sama Bassta enggak ada apa-apa, aku cuman langsung ke sini habis dari toilet, nggak ngomong dulu sama Bassta. Aku lupa, Pa,” ucapnya beralasan. Berharap mertuanya itu percaya.
Arif hanya diam termangu mendengar jawaban Larisa kemudian Bassta muncul dengan menyempatkan diri mendelik sinis kepada Larisa. Larisa membalas dengan dengusan kemudian pria itu duduk di sebelahnya.
Melihat keduanya, Arif menggeleng kepala. Di depan matanya saja keduanya bisa begitu apalagi di belakang. Semakin yakin pula Arif kepada apa yang diadukan Vivian bahwa keduanya tidur terpisah.
“Kusut banget muka kamu, Bass,” celetuk Arif dan Bassta melirik Larisa, menatapnya lekat.
“Gimana nggak kusut. Nyariin dia, tahu-tahu udah kesini duluan. Apa nggak bisa ngomong dulu? Kenapa juga harus nemuin Papa sendiri-sendiri, bikin repot orang aja!” tegasnya kesal dan Larisa mengulum bibirnya rapat-rapat.
Membalas ucapan Bassta di depan ayah mertua malah akan membuatnya terkesan sebagai istri pembangkang juga menantu yang tidak tahu sopan santun.
__ADS_1
Sabar, itu yang berusaha Larisa lakukan.
“Husssh kamu! Sama istri jangan galak-galak. Dia lagi hamil juga, kan? Mood orang hamil itu lebih buruk dari perempuan yang datang bulan. Mungkin maunya si jabang bayi yang kepingin nemuin Papa tanpa kamu.” Arif tertawa keras setelah menyelipkan gurauan dalam ungkapannya.
Larisa juga tak kuasa menahan senyumnya sementara Bassta, dia diam dengan wajah begitu sinis.
“Terserah Papa, deh!” Bassta kesal dan meraih buku menu di tengah-tengah meja.
Arif terus tersenyum dan menggeleng kepala.
Setelah mereka memesan makanan, menunggu, sampai akhirnya makanan pun datang. Sebelum berbicara serius, Arif ingin membuat kenyang keduanya terlebih dahulu.
Mereka juga berbincang di sela-sela menikmati makanan. Saat melihat keduanya hampir menyelesaikan kesibukannya, Arif pun berujar sembari meraih minumannya.
“Gimana mana di rumah kalian? Nggak bikin masalah, kan?” kata Arif dan keduanya menatapnya.
“Nggak bakalan mungkin aku minta Papa buat bujukin mama supaya pulang kalau mama nggak bikin ulah. Mama tuh kayak ngawasin aku sama Larisa, Pa, cuman karena aduan Vivian yang nggak jelas!” balas Bassta jengkel, ia letakkan sendok dan garpu, malas untuk melanjutkan dan Arif mendengus melihatnya.
“Kalau seandainya aduan Vivian itu benar. Alasan apa yang membuat itu terjadi?” lugas Arif berbicara, Bassta langsung mendadak diam mendengarnya.
“Memangnya Vivian ngomong apa sama mama dan Papa?” kini Larisa yang menyahuti.
“Vivian bilang kalian pisah ranjang. Beneran? Masalahnya apa sampai bisa kayak begitu?”
Larisa menunduk dan Bassta menyenggol lengannya agar dia mencari alasan yang masuk. Jangankan alasan, Larisa saja merasa tidak tega terus-terusan membohongi keluarga suaminya.
“Bass,” tegur Arif dan Bassta berhenti menyenggol lengan Larisa.
Bassta diam juga sekarang sampai Arif kembali bersuara.
“Apa yang Bassta lakukan sampai kamu nggak mau tidur sekamar sama dia, Ris?” tanya Arif kepada menantunya yang langsung membulatkan mata, kaget mendengar pertanyaannya.
“Kok aku? Kenapa kesannya kayak ...aku ini suami nggak bener, Pa?” protes Bassta dan Arif mengangkat tangan, memintanya bungkam.
Bassta membuang napas kasar dan Arif kembali menatap Larisa dengan tatapan meneduhkan. Dia ingin mendengar apa yang dilakukan anaknya sampai-sampai tidur terpisah segala.
__ADS_1