Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu
Pergumulan Batin


__ADS_3

***


Larisa mematung memerhatikan sebuah rumah bercat coklat putih. Banyak tanaman di pekarangannya, sejujurnya ia ingin lebih dekat menatap sekaligus masuk dan memeluk satu-persatu penghuni rumah itu.


Rumahnya, yang banyak sekali momen indah yang ia alami. Suka dan duka dia jalani. Larisa tak kuasa menahan rasa sedihnya, isakan pelan keluar dari bilah bibir tipisnya.


Larisa berharap bisa melihat sosok siapa saja, salah satu keluarganya. Entah itu ibu, ayah, Ganta atau nurani. Syukur-syukur jika ia bisa melihat mereka semua saat ini. Larisa nekat datang jauh-jauh setelah tersiksa dengan pergumulan batinnya. Terbayang terus-menerus kebersamaan Bassta dengan Jema dan untuk menghilangkan bayangan itu, Larisa ingin mencoba mengalihkan dengan bepergian jauh sekaligus ingin melihat keluarganya.


Namun, sudah satu jam ia berdiri di sudut sepi gang kecil yang dia pijak, tak satu pun keluarganya yang ia lihat.


Sekarang, Larisa malah kepergok oleh seseorang yang langsung menarik tangannya. Larisa yang sedang menangis itu pun sontak saja kaget, nyaris menjerit tetapi mulutnya dibekap dia—sahabatnya Nayla.


“Larisa, kamu ngapain?” tanya Nayla pelan, matanya menyelia sekitar, takut ada warga yang melihat dan akan menimbulkan pergosipan kembali. Padahal, mulut-mulut para penggosip itu sudah mulai mereda karena keluarga Larisa tidak pernah meladeninya. Diladeni pun malah akan menimbulkan pertikaian, toh juga, mereka semua bergunjing tentang sesuatu yang pasti. Keluarga Larisa sudah memasrahkan semuanya pada waktu.


“Nay,” kata Larisa serak.


Nayla tersentak karena Larisa langsung memeluknya, ia balas pelukan menggigil itu. Nayla benar-benar takut melihat kondisi Larisa sekarang ini. Maka dari itu, Nayla akhirnya lebih nekat dari Larisa membawa Larisa ke rumahnya. Mumpung tidak ada siapa-siapa karena Nayla melihat Larisa saat ingin sedang ingin menangis, mengadu, juga membutuhkan kehangatan sebuah pelukan.


Keduanya berjalan bersama dengan cepat, Larisa menutupi kepalanya dengan Hoodie jaketnya. Ia tidak mau ada tetangga yang melihatnya. Jika itu kejadian, ia tidak akan bisa memaafkan kesalahannya karena lagi-lagi keluarganya yang akan menanggung akibatnya.


Beban terberat dalam hidup salah satunya memang menghadapi manusia di sekeliling kita.


Sesampainya di rumah Nayla, Nayla mengajak Larisa ke kamarnya. Di sana, Larisa menumpahkan segala keluh kesahnya, walaupun sebenarnya ia juga takut jika tiba-tiba Seruni muncul memergoki keberadaannya.


***


Setelah Larisa menceritakan segalanya. Nayla hanya bisa diam dengan kepala ditundukkan. Ia bingung mendengar situasi sahabatnya yang terjebak dan tersiksa dengan pilihan yang dia ambil.


Larisa sudah berhenti menangis. Matanya sembab dan menyorot kosong meskipun ada Nayla tepat di hadapannya.


“Ris.” Tiba-tiba Nayla bersuara, dari raut wajahnya, ia seperti ingin menanyakan sesuatu yang sangat sensitif.


Larisa melayangkan tatapan pada sahabatnya itu.


“Aku mau nanya satu hal sama kamu dan tolong jawab jujur,” ujar Nayla dan Larisa hanya diam saja. “Sepertinya kamu bukan hanya terjebak situasi yang kamu ciptakan sendiri. Tetapi kamu juga terkungkung dalam sebuah rasa yang tidak kamu sadari.”


Larisa menunduk mendengar ucapan Nayla.


“Ris.” Nayla menarik dagu Larisa, wajah itu terangkat, mata mereka saling memandang. “Jujur, kamu mulai suka sama Bassta?” tanyanya lirih dan Larisa langsung menarik napas dengan berat.


“Aku—“ Larisa terhenti, tak yakin dengan jawaban yang akan dia lontarkan.


“Kamu nggak suka dan kecewa karena Bassta punya pacar padahal jelas, sebelum kalian berencana untuk menikah. Pernikahan kalian hanya cangkang untuk menutupi dan melindungi status dari bayi kamu.” Nayla sekarang menyentuh perut Larisa.

__ADS_1


Larisa menunduk, bibirnya mengulum, lalu dia menangis kembali dengan terisak-isak.


“Aku nggak paham.” Larisa berusaha menghindar, secepat kilat Nayla memegang dan menekan bahu Larisa agar tetap diam di tempat.


“Kamu suka sama Bassta meskipun Bassta nggak mungkin bisa membalas perasaan yang kamu punya?” tutur Nayla, dia ingin menyadarkan Larisa bahwa perasaan yang ia miliki sekarang malah akan menambah beban yang menyesakkan dadanya.


Larisa mencelos, menurunkan kedua kali dari tempat tidur, ia berdiri lalu melangkah mendekati jendela bertirai putih itu.


“Aku juga bingung kenapa bisa aku begini? Aku nggak paham kenapa sejak Bassta bersedia menolong dengan menikahi aku, aku malah mengharapkan hal yang lebih dari sekadar perlindungan darinya. Aku menuntut pembalasan sebuah rasa, bisa dibilang, aku ini memang sangat tidak tahu diri.” Larisa berujar dengan suara serak.


Nayla mengalihkan pandangan mendengarnya, kemudian sekejap mata ia kembali menatap punggung Larisa.


Rumah di seberang sana tampak ada pergerakan. Pintunya terbuka dan Larisa langsung menyeka air mata di pipinya. Larisa diam dan Nayla yang penasaran dengan apa yang dilihat Larisa pun mendekat, ternyata Larisa sedang memperhatikan rumahnya di seberang sana.


Ada yang keluar, seulas senyum pun menghiasi bibir wanita yang sedang mengalami dilema itu. Namun, saat ia melihat dengan jelas siapa yang keluar, ia langsung memundurkan kakinya menjauh.


Sadi, ayahnya yang keluar dan Nayla langsung menutup gorden yang terbuka sedikit itu.


“Ayah,” ucap Larisa dengan tercekat. “Ayaaah,” pekiknya lagi dan Nayla memegang bahunya.


“Sabar, Ris. Sekarang bukan waktunya, bersyukurlah karena kamu masih bisa melihat ayah kamu meskipun dari jauh.”


Larisa terus menangis dan ingin melihat ayahnya lagi. Namun, saat suara Seruni terdengar memanggil Nayla dari luar rumah. Larisa langsung panik apalagi Nayla.


“Gimana ini, Nay?” kata Larisa.


“Naylaaaaa, bantuin Ibu bawa belanjaan masuk ke dalam rumah. Kamu ada di dalam, kan? Keluar dulu, bantuin Ibu.” Seruni sudah berteriak-teriak lagi.


Sadi di depan rumahnya yang sedang memakai sepatu pun mendelik sebal mendengar suara Seruni yang menggelegar, sangat mengganggu.


“Nayla!” Suara Seruni semakin meninggi.


Di kamar, Nayla dan Larisa kebingungan.


“Lewat pintu belakang, aja, Ris. Maaf aku nggak bisa nganterin kamu pulang,” ucap Nayla sambil memegang tangan Larisa.


“Nggak apa-apa, Nay.”


“Kasih kabar kalau kamu udah sampe di rumah, ya,” pinta Nayla dan Larisa mengangguk kuat-kuat.


Sekarang, keduanya meninggalkan kamar. Nayla memang  mengunci pintu depan, Nayla hanya memperhatikan Larisa dari jauh, kemudian dia mendekati pintu depan untuk segera menemui ibunya yang terus memanggil.


“Lama banget kamu! Kayak ngumpetin sesuatu aja,” tegas Seruni saat Nayla membukakan pintu.

__ADS_1


“Tadi aku ketiduran, Bu.” Nayla beralasan.


“Punya anak perawan kerjaannya tidur melulu.” Seruni mengomel, Nayla cemberut menanggapinya. Kemudian saat melihat Sadi keluar melewati pagar rumahnya, Seruni bersuara lagi. “Tapi lebih baik tiduran daripada hamil duluan. Bikin malu, bikin rusuh sekampung.”


Seruni mendelik sebal dan Sadi yang mendengar pun langsung menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuh, sorot matanya begitu tajam mengarah kepada Seruni dan Nayla. Nayla hanya bisa menelan saliva, menarik tangan ibunya dan berharap ibunya tidak berbicara lagi.


“Eh, Pak Sadi.” Seruni malah menyapa sambil cengar-cengir, ia merasa tidak berdosa dengan apa yang sudah dia lontarkan.


“Kamu ngomong apa tadi, Seruni?” tegur Pak Sadi, ia pegang erat tali tas selempangnya.


“Ih, apaan, Pak?” sahut Seruni, berusaha tenang walaupun mukanya sudah merah, ia takut melihat  Sadi terus melotot dan mengeraskan rahang.


“Saya nggak tuli! Jelas kamu tadi menyindir saya! Mau anak saya hamil duluan, mau gimana, kek! Nggak ada urusannya sama kamu. Jadi seorang ibu punya mulut jangan busuk-busuk amat kenapa, sih? Hobi banget mencela dan menghina situasi hidup orang lain!” Bentak Sadi dan Seruni membulatkan matanya.


“Eh Bapak biasa, aja, dong. Saya—“ Kalimat Seruni terpotong, Sadi menyela.


“Saya apa? Kamu emang kebiasaan suka bersenang-senang di atas permasalahan orang lain. Jangan julit sama tetangga, ada apa-apa juga yang kamu minta bantuannya, kan, tetangga dulu sebelum orang jauh. Hidup rukun dan cuek sama masalah orang susah banget buat kamu, ya?” Sadi berkacak pinggang dan Seruni melangkah maju untuk melawan.


Nayla menahan ibunya, sekarang dia yang maju.


“Pak Sadi saya minta maaf.” Suara Nayla terbata-bata.


“Bilangin sama ibu kamu itu! Punya mulut di jaga. Istri saya boleh diem aja disindir setiap waktu sama ibu kamu, tapi saya jangan disamain. Kalau berani ayo ngomong langsung, saya jabanin!”


“Saya minta maaf, Pak.”


“Jangan marah-marah sama anak saya, dong, Pak!” Seruni tidak terima.


“Saya juga nggak terima anak saya terus kamu jadikan santapan pergosipan nggak ada ujungnya!” balas Sadi dan Nayla terus menarik Seruni.


“Bu, ayo masuk.”


“Enggak! Ibu nggak mau.”


“Buuuuu.” Nayla hampir menangis.


Sadi masih berdiri di depan pagar rumah mereka, Nayla terus berusaha menarik ibunya masuk. Sadi mengembuskan napas kasar saat Seruni terus berteriak memaki dan mencela keluarganya.


Kegaduhan itu pun mengundang jiwa-jiwa kepo para tetangga. Ada yang langsung keluar rumah untuk melihat, beberapanya mendekat untuk menenangkan Sadi dan lebih banyak dari mereka mengintip dari kaca jendela masing-masing.


Sadi yang merasa jengkel dan terlanjur malas pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi ke Laundry. Padahal, Fitria sudah menunggunya untuk dijemput.


 

__ADS_1


__ADS_2