Cinta Mati Kayla

Cinta Mati Kayla
Malam Kliwon


__ADS_3

Di kota M.


Leo mengambil ponselnya lalu mengirim pesan untuk Kevin.


"Maaf ya kalau kita ketemuannya nanti malam saja karena aku lagi ada tamu." tulis Leo dalam pesannya.


Kevin membaca pesan dari Leo lalu membalasnya. "Oke... Langsung ketemuan di kafe X ya jam 7."


"Oke. Maaf ya."


Kevin menelepon Anto dari telepon kantor yang ada di meja kerjanya.


"Anto, tolong segera kemari dan bawa laporan-laporan untuk hari ini dan dua hari ke depan serta jadwalku." kata Kevin di ujung teleponnya.


"Baik, Pak." kata Anto lalu menyiapkan semua yang Kevin minta.


Beberpa menit kemudian, Anto tiba dan mengetuk pintu ruangan Kevin.


"Permisi Pak."


"Silakan masuk."


Anto masuk dan langsung menghampiri Kevin lalu memberikan laporan serta menjelaskan jadwal Kevin hari ini dan dua hari ke depan.


"Berarti untuk hari ini dan dua hari ke depan jadwalku nggak padat dan nggak ada rapat penting ya." kata Kevin memastikannya.


"Iya, Pak." kata Anto sambil memeriksa kembali jadwal Kevin.


"Baiklah. Kalau ada rapat yang bisa aku nggak hadir, kamu yang menggantikanku."


"Baik, Pak." Kata Anto sambil meminta tanda tangan untuk laporan yang Kevin minta.


"Terima kasih. Kamu bisa kembali berkerja."


"Baik, Pak. Permisi." kata Anto lalu pergi dari ruangan Kevin.


Kevin mengusap wajahnya dengan kedua tangannya kemudian mendesah.


"Kayla, apakah kamu baik-baik saja di sana? Aku benar-benar sudah merindukanmu." Kevin kembali mendesah.


Kevin sengaja hari ini pulang dengan kendaraan online karena pikirannya sedang tidak tenang dengan apa yang tadi terjadi dan selalu terbayang dalam ingatannya. Ketika di persimpangan Kevin melihat Silvi sedang berhenti di toko bunga yang sekaligus menjual perlengkapan dupa, Silvi membeli bunga tabur yang biasa digunakan untuk ziarah dan kemenyan.


"Pak, tolong kendaraannya agak diperlambat." Kevin memperhatikan Silvi.


"Bukannya tadi dia bilang pusing dan aku menyuruhnya pulang? Mengapa bukan mobil kantor yang mengantarnya pulang? Mengapa dia membeli bunga? Apakah mamanya sudah meninggal atau dia mau ziarah tapi ke makam siapa? Trus, untuk apa kemenyannya?" Hati Kevin bertanya-tanya.


"Pak diujung berhenti ya tetapi aku masih menggunakan taksi Bapak dan aku akan membayar sesuai argo." kata Kevin.


"Baik, Pak." lalu pak supir itu berhenti di ujung jalan.

__ADS_1


Mereka sedang menanti Silvi. Akhirnya Silvi kembali mengendarai mobilnya. Kevin mengikutinya dan Kayla sedang bersama Kevin.


"Pak, ikutin mobil yang tadi tapi Bapak jaga jarak ya agar nggak ketahuan." pesan Kevin.


"Baik, Pak." Pak supir mengikuti mobil Silvi.


*****


flashback


Sebelum Silvi pergi dari kantor Silvi merental mobil di tempat rental mobil.


Ternyata Silvi pergi sampai keluar kota M, menuju ke daerah gunung K. Kevin tetap mengikuti Silvi. Akhirnya Silvi berhenti di sebuah rumah di pinggir sungai kecil dan dekat dengan hutan. Silvi masuk ke dalam rumah tersebut. Kevin meminta pak supir taksi tetap menunggu di dalam mobilnya.


"Bapak tunggu di sini dulu ya." kata Kevin


"Iya, Pak." jawab pak supir.


Lalu Kevin dan Kayla mengikuti Silvi perlahan agar tidak ketahuan dengan Silvi. Kevin mengintip ke dalam rumah sedangkan Kayla tidak mendekati rumah tersebut karena dia merasakan hawa negatif yang sangat kejam. Kevin terus mengintip dan berusaha mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Mbah..." sapa Silvi lalu mencium tangan dukun itu dan duduk bersila di hadapan dukun itu. Kemudian memberikan bunga dan kemenyan.


"Kamu kemari tidak sendirian karena aku merasakan ada hawa lain yang mengikutimu." kata dukun itu tetap memejamkan matanya sambil menaburkan bunga di dalam tempayan yang sudah berisikan air dan jeruk purut lalu menaburkan kemenyan di dupanya.


"Saya sendirian kok, Mbah." Silvi bingung karena dia melihat ketika dia pergi tidak ada yang mengikutinya.


Kayla merasakan akan terjadi sesuatu. Kayla berusaha membuat Kevin pergi dari tempat itu tetapi dia tidak mau menampakkan dirinya pada Kevin. Kayla menepuk pundak Kevin dari belakang, Kevin kaget dan melihat tidak ada orang di belakangnya. Bulu kuduk Kevin merinding dan mulai timbul rasa takut di dalam hatinya. Kevin langsung pergi dengan tergesa-gesa.


"Iya, Pak." kata pak supir, bingung.


Akhirnya mereka pergi meninggalkan tempat itu. Setelah beberapa menit mereka pergi, Silvi dan dukun itu keluar dari rumahnya dan melihat tidak ada siapa-siapa.


"Benar khan, Mbah kalau nggak ada siapa-siapa yang mengikutiku." kata Silvi.


"Ada yang mengikutimu tetapi mereka sudah pergi meninggalkan tempat ini." kata dukun itu.


"Aku merasakan ada hawa lain tadi di sini."


"Kamu harus lebih berhati-hati lagi kalau hendak kemari."


"Baik, Mbah. Maafkan saya." kata Silvi, pelan.


Kevin masih di perjalanan menuju kota M.


"Pak, kita kembali ke tempat semula, kota M." ucap Kevin.


"Baik, Pak." kata pak supir.


"Mengapa Silvi menemui seorang dukun? Apakah kejadian yang di kantor tadi ada kaitannya dengan hal ini? Siapa yang akan Silvi sakiti?" Masih banyak pertanyaan yang muncul di dalam pikirannya tentang Silvi.

__ADS_1


Silvi kembali duduk bersila di hadapan dukun itu. Dukun itu kembali menaburkan bunga dan kemenyan ke dupanya.


"Mbah, apa yang harus aku lakukan lagi agar Kevin bisa mencintaiku." kata Silvi.


"Kita harus melenyapkan orang yang menjadi penghalangmu, yaitu orang yang dicintai oleh pemuda itu." kata dukun itu.


"Tubuh wanita itu sedang dalam keadaan koma dan yang selalu menghalangimu adalah roh wanita itu bukan sainganmu."


"Mereka masih belum jauh dari sini dan aku akan mencoba melenyapkan roh wanita itu dan kamu harus berusaha bisa memberikan ini pada pemuda itu. Kita harus melakukannya malam ini karena ini malam kliwon. " kata dukun itu lalu memberikan cairan yang sama seperti yang pernah dia berikan pada Silvi.


"Baik, Mbah." kata Silvi


Aku sudah memerintahkan suruhan ku untuk menghentikan mobil mereka dan mereka sedang berhenti tidak jauh dari pinggir hutan ini." kata dukun itu.


Silvi langsung bergegas menyalakan mesin mobilnya dan mereka melaju menuju ke tempat mobil Kevin berhenti.


*****


Di perjalanan menuju kota M. Tiba-tiba mobil yang membawa Kevin berhenti padahal mesin mobilnya masih menyala. Kevin dan pak Supir mulai merasa ketakutan. Saat itu sudah hampir malam. Silvi menghentikan mobilnya tidak jauh dari mobil yang membawa Kevin.


Silvi dan dukun itu keluar dari mobil Silvi. Kevin melihat Silvi dan orang yang Silvi ajak bicara di dalam rumah tadi keluar dari mobil Silvi.


Silvi menghampiri Kevin, Kayla langsung berdiri di hadapan Kevin. Sedangkan pak supir masuk ke dalam mobilnya karena dia mulai merasa ketakutan. Silvi semakin mendekati Kevin.


"Kevin, aku sudah lama menyukaimu dan malam ini kamu harus menjadi milikku. Nggak boleh seorangpun yang memilikimu selain aku." kata Silvi sambil berjalan mendekati Kevin.


"Apa yang akan kamu lakukan terhadapku, Silvi. Aku nggak mencintaimu. Jangan paksa aku karena bagaimanapun aku tetap nggak mencintaimu." kata Kevin dengan mulai rasa takut.


"Asal kamu tahu, selama ini yang melindungimu adalah cewek yang selalu ada di dalam pikiranmu dan saat ini dia ada di dekatmu." kata Silvi, lantang.


Kevin jadi bingung dengan apa yang dikatakan Silvi.


"Mana mungkin selama ini Kayla berada di dekatku sedangkan aku menerima pesan darinya dan Nita nggak menceritakan apa-apa tentang Kayla kepadaku?" Kevin semakin bingung dan tetap merasakan takut.


"Saat ini, dia dalam keadaan koma dan Zita akan membunuh tubuhnya yang berada di sana." Silvi tersenyum sinis sambil terus menghampiri Kevin.


Kevin merasakan kesedihan yang begitu dalam dan dia merasakan tidak mau kehilangan Kayla. Tetapi Kevin merasa tak berdaya. Di sini dia harus menghadapi Silvi dan dukunnya, sedangkan dia tidak bisa melindungi Kayla yang dalam keadaan koma. Silvi semakin mendekat sedangkan dukun itu bersiap-siap untuk menyerang Kayla. Kevin melihat hal itu.


"Kamu jangan coba-coba menyakiti Kevin karena aku nggak akan membiarkannya." kata Kayla pada Silvi saat Silvi terus berjalan mendekati Kevin.


Kevin yang mendengar suara Kayla tersentak kaget karena dia sangat mengenal suara Kayla.


"Kayla, apakah itu kamu?" tanya Kevin bingung bercampur senang dan sedih.


"Iya, Sayang. Ini aku, Kayla. Aku ada di hadapanmu. Berdoalah kepada Tuhan karena Tuhan yang mampu menolong kita." kata Kayla.


"Iya, Sayang." ucap Kevin pelan namun Kayla masih bisa mendengarnya.


Kayla merasa bahagia karena selama mengenal Kevin baru kali ini dia memanggil dirinya dengan kata sayang. Kayla menjadi semakin yakin kekuatan cinta sejati dengan bantuan Tuhan pasti menang.

__ADS_1


*****


__ADS_2