Cinta Mati Kayla

Cinta Mati Kayla
Orang Tua Kevin


__ADS_3

Setelah lima jam berlalu, akhirnya Kevin dan Kayla tiba di bandara kota M. Mereka langsung naik taksi menuju ke apartemen Kevin.


"Sayang tidur di kamarku saja ya dan sementara aku tidur di sofa. Kita harus saling menjaga hingga waktunya tiba." ucap Kevin lalu mencium kening Kayla.


"Iya, Sayang." Kata Kayla lalu merapikan kamar Kevin dan menyusun barang bawaanya.


Tiba-tiba ponsel Kevin berbunyi, Kevin menjawab teleponnya.


"Apa... Mama dan papa sudah ada di rumah Kevin? Bukannya minggu depan datangnya?" Tanya Kevin, kaget. Kayla mendengar suara Kevin yang sedikit teriak dan dia berusah mendengar percakapan Kevin.


"Besok kami akan ke apartemenmu. Kamu jangan kemana-mana ya." kata Wina.


"Besok aku selesaikan urusan kantorku dulu baru aku jemput mama dan papa." kata Kevin, berusaha tenang.


"Baiklah. Kami tunggu." kata Wina lalu mengakhiri teleponnya.


"Besok orang tua Kevin akan datang, apakah Kevin tetap mempertahankan aku karena orang tuanya nggak menginginkan menantu seperti aku dari keluarga yang sangat sederhana." kata Kayla, sedih di dalam hatinya.


"Aku harus tetap tulus dan terus berjuang, aku nggak boleh putus asa, aku akan terus berdoa. Mama bilang mama yakin kalau aku pasti diterima di keluarga Kevin." kata Kayla bersemangat dengan dirinya sendiri.


Kevin masuk ke dalam kamarnya dan Kayla berpura-pura sedang merapikan seprai tempat tidur Kevin tetapi Kevin tahu kalau Kayla hanya berpura-pura.


"Sayang, maafkan aku tadi ya, pasti kamu sempat kaget mendengar suaraku. Orang tuaku besok datang ke sini. Aku akan memperkenalkan kamu pada mereka dan apapun keputusannya aku pasti tetap memilih kamu karena aku benar-benar mencintaimu tulus dari hatiku. Aku nggak mau kehilangan dirimu, Kayla." ucap Kevin lalu xxxxxxx lembut bibir Kayla dan memeluknya.


"Iya, Sayang. Aku percaya. Aku juga sangat mencintaimu dari awal kita berkenalan. Aku juga nggak mau kehilangan kamu, Kevin." ucap Kayla.


"Ya, sudah. Yuk, kita cari makan, aku sudah lapar nih." kata Kevin sambil menyentuh perutnya.


"Sebentar ya, aku telepon Leo dulu." kata Kevin lalu menelepon Leo.


"Halo, Leo. Kamu sudah maksi belum? Kalau belum, kita maksi di kafe X ya. Kita bertemu di sana." kata Kevin lalu mengakhiri teleponnya.


Kevin dan Kayla pergi menuju kafe X. Ternyata Leo dan Zita terlebih dahulu tiba di sana dan sudah memesan makanan serta minumannya.


"Hai, Kayla. Hai Kevin." sapa Zita.


"Hai juga..." balas Kevin dan Kayla bersamaan


"Akhirnya, kamu membawa Kayla juga. Apakah kamu sudah siap bertemu orang tuamu?" tanya Leo.


"Iya, aku siap dan apapun keputusannya aku tetap memilih Kayla. Aku akan berjuang untuk cintaku." kata Kevin sambil menggenggam tangan Kayla.


"Baguslah. Kamu harus seperti itu dan aku sangat mendukung apapun keputusanmu karena aku yakin itu adalah yang terbaik untukmu." kata Leo lalu tersenyum.


"Pesanan sudah datang. Mari kita makan!" ajak Zita lalu tersenyum.


Selesai makan mereka pulang. Kevin dan Kayla mampir ke mall untuk membeli kebutuhan mereka. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam lima sore.


"Sayang, yuk kita cari makan sekalian untuk makan malam." kata Kevin.


"Sayang, kita jangan makan di sini ya. Bagaimana kalau kita cari di luar?" saran Kayla.


"Baiklah. Ada satu tempat yang makanannya enak dan terkadang aku ke sana." kata Kevin lalu mengajak Kayla.


Mereka tiba di tempat yang dimaksud. Memesan makanan dan minuman lalu menyantapnya. Setelah selesai mereka pulang ke apartemen.


"Sayang atau aku yang duluan mandi atau langsung saja kita berdua?" kata Kevin bercanda lalu tertawa.


"Nggaklah. Sayang saja yang duluan mandi. Aku menunggu di sini." kata Kayla lalu tersenyum.


"Iya. Aku cuma bercanda kok." kata Kevin sambil mencubit hidung mancung Kayla.


Selesai Kevin mandi, Kayla pergi mandi. Kayla selesai mandi lalu Kayla mengisi baterai ponselnya yang hampir habis lalu menghampiri Kevin.


"Sayang, aku tidur ya." ucap Kayla.


"Iya, Sayang. Selamat tidur ya dan jangan lupa mimpikan aku." ucap Kevin lalu mencium kening Kayla.


Kayla tersenyum lalu masuk ke kamar dan tidur.


*****


Kayla bangun pagi sekali, dia sudah selesai membersihkan apartemen Kevin dan semuanya sudah rapi dan bersih. Kevin terbangun saat alarm jamnya berbunyi.


"Pagi Sayang." sapa Kevin sambil mengucek matanya.


"Wow... Bersih dan rapi sekali. Sayang pasti sudah capek." kata Kevin sambil berjalan menghampiri Kayla.


"Sayang mau sarapan apa biar aku masakin." kata Kevin sambil memeluk Kayla dari belakang.


"Nggak ada karena nggak ada apa-apa di kulkas untuk dimasak." kata Kayla sambil berbalik sehingga Kayla bisa menatap lekat wajah Kevin dan menyebabkan jantung Kayla berdebar kencang. Kevin juga merasakan hal yang sama, dia langsung melepaskan pelukannya.


"Aku mandi dulu ya, Sayang." kata Kevin lalu tersenyum.


Kayla sedang menonton televisi, Kevin perlahan menghampiri Kayla lalu mencium pipi Kayla.

__ADS_1


"Sudah selesai mandinya? Sayang sarapan apa dong?" tanya Kayla.


"Aku sarapan di kantor saja. Maaf ya, aku nggak bisa menemani sarapan di luar." kata Kevin.


"Nggak apa-apa kok. Nanti aku cari sarapan sendiri. Oh iya Sayang, aku sekalian belanja bahan makanan biar aku masak untuk orang tua kamu." kata Kayla.


"Benar nih nggak apa-apa?" tanya Kevin.


"Iya, nggak apa-apa kok." kata Kayla sambil tersenyum.


"Ya sudah, nih uang untuk Sayang belanja ya." Kevin memberikan sejumlah uang pada Kayla.


"Terima kasih, aku masih ada uang kok." kata Kayla.


"Kok begitu sih. Aku sedih kalau kamu tolak." kata Kevin dengan wajah memelas.


"Baiklah. Terima kasih, Sayang." kata Kayla lalu tersenyum.


"Begitu dong. Dengar ya Sayang, mulai hari ini uangku adalah uangmu. Jangan pernah menolak lagi ya." ucap Kevin sambil menggenggam kedua tangan Kayla.


"Iya, Sayang. " ucap Kayla sambil menganggukkan kepalanya lalu tersenyum.


"Aku pergi ke kantor dulu ya. Kamu hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa telepon aku ya." kata Kevin lalu mencium kening Kayla.


Kayla tersenyum. Kevin pergi meninggalkan Kayla.


Kayla pergi keluar mencari sarapan karena perutnya terasa lapar. Selesai sarapan Kayla pergi ke pasar yang dekat dari apartemen untuk membeli bahan makanan. Kayla sudah membeli semua bahan yang dibutuhkan lalu Kayla berjalan menuju ke apartemen namun Kayla menghentikan langkahnya ketika dia melihat orang berkerumun. Kayla menghampiri kerumunan itu dan Kayla melihat seorang ibu terbaring lemah bersimbah darah di pangkuan seorang lelaki yang sepertinya itu adalah suaminya. Tanpa pikir panjang, Kayla menghentikan angkutan umum yang lewat. Ibu itu melihat apa yang dilakukan Kayla dan matanya tidak begitu jelas melihat wajah Kayla. Lalu ibu itu pingsan.


"Berhenti, Pak. Tolong bantu saya membawa ibu ini ke rumah sakit terdekat." kata Kayla, panik dan tidak menghiraukan barang belanjaannya.


"Baik, Mbak." kata supir angkot sambil membantu mengangkat ibu itu.


Akhirnya mereka tiba di rumah sakit dan Kayla membayar ongkosnya dengan sisa uang yang diberikan Kevin.


"Dokter, cepat tolong ibu ini dan lakukan yang terbaik agar ibu ini selamat." kata Kayla masih panik.


"Iya, Mbak. Mbak tunggu di sini." kata dokter sambil membawa ibu itu masuk ke dalam ruang periksa.


Kayla melihat suami ibu itu masih lemas dan terlihat jelas rasa khawatir di wajahnya. Kayla menghampiri suami ibu itu.


"Pak, yang sabar ya. Kita berdoa saja semoga ibu nggak kenapa-kenapa." kata Kayla berusaha menenangkan suami ibu itu.


Dokter keluar dari ruang periksa.


"Siapa di sini yang keluarga pasien?" tanya dokter.


"Istri Bapak banyak mengeluarkan darah dan harus segera melakukan transfusi darah golongan O kalau terlambat nyawa istri Bapak tidak akan tertolong. Golongan darah Bapak apa?" kata dokter.


"Golongan darah saya A, Dokter." kata suami ibu itu.


"Saya saja Dokter karena golongan darah saya O." kata Kayla.


"Baiklah. Mari ikut saya agar Mbak diperiksa dulu cocok atau tidaknya melakukan transfusi darah." kata dokter lalu pergi ke arah laboratorium dan Kayla mengikuti dokter.


*****


Beberapa menit kemudian dokter datang menghampiri Kayla.


" Mbak, dari hasil pemeriksaan darah Mbak sangat cocok untuk melakukan transfusi darah pada ibu tersebut. Apakah Mbak benar-benar mau melakukannya?" tanya dokter.


"Iya, Dokter. Saya mau melakukannya agar ibu itu selamat." kata Kayla.


Transfusi darah pun dilakukan pada ibu itu. Setelah beberapa jam berlalu transfusi darah selesai dilakukan dengan menghabiskan tiga kantong darah. Kayla terbaring lemah dan ibu itu dipindahkan ke kamar perawatan.


Dokter menghampiri Kayla. "Mbak harus istirahat dulu ya." kata dokter.


"Ya Dokter. Dokter, tolong identitas saya dirahasiakan terhadap pasien dan keluarganya." kata Kayla.


"Baik, Mbak. Kami akan merahasiakan identitas Mbak terhadap pasien dan keluarganya." kata dokter.


"Terima kasih, Dokter."


"Sama-sama." kata dokter lalu meninggalkan Kayla dan menuju ke ruangan ibu tadi.


Selesai memeriksa keadaan ibu itu, suami ibu itu menghampiri dokter.


"Bagaimana kondisi istri saya, Dokter." tanya suami ibu itu.


"Istri Bapak sudah terselamatkan berkat wanita itu. Dia mendonorkan darahnya sebanyak tiga kantong darah." jawab dokter.


"Tolong berikan perawatan yang terbaik padanya ya, Dok. Saya yang akan membayar biaya perawatannya."


"Baik, Pak. Saya akan letakan dia di kamar C."


"Terima kasih, Dokter."

__ADS_1


"Sama-sama, Pak. Saya permisi dulu." Kata dokter lalu meninggalkan kamar A.


Suami ibu itu menemani istrinya di kamar dan dia menelepon seseorang yang ternyata adalah Kevin.


"Kevin, mama mu kecelakaan dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit M kamar A. Segera kemari."


"Ya, Pa. Aku segera kesana." Kevin, panik. Kevin langsung pergi ke rumah sakit tempat mamanya dirawat.


*****


Kevin tiba di rumah sakit dan langsung menuju kamar A.


"Pa, mengapa bisa begini? aku sudah bilang dengan mama kalau nanti aku jemput." kata Kevin, cemas.


"Mama kamu tidak sabaran untuk menunggu. Dia ingin cepat-cepat bertemu dengan kamu karena dia ingin cepat-cepat menjodohkan kamu dengan anak sahabatnya." kata Adrian.


"Oh iya, tadi ada seorang gadis yang menolong kami dan membawa ibumu ke rumah sakit ini sampai melupakan barang belanjaannya. Dia juga mendonorkan darahnya sebanyak tiga kantong darah karena dokter bilang kalau terlambat mama mu bisa meninggal." Adrian menceritakan semua yang dilakukan Kayla.


"Sekarang dia ada di mana?" tanya Kevin.


"Dia berada di kamar C." kata Adrian.


Kevin hendak pergi menemui wanita itu tapi Wina terlanjur sadar dan melihat Kevin.


"Kevin..." panggil Wina.


Kevin menghampiri Wina dan memegang tangan Wina.


"Maafkan mama ya, tidak menunggu sampai Kevin datang menjemput." kata Wina dengan wajah menyesal.


"Iya, Ma. Nggak apa-apa kok. Aku yang minta maaf karena nggak langsung jemput mama." kata Kevin.


"Mama tadi melihat seorang gadis menolong mama di jalan tapi mama tidak begitu jelas melihatnya karena terlanjur pingsan." kata Wina


"Gadis itu juga yang sudah menolongmu dengan mendonorkan darahnya sebanyak tiga kantong darah agar nyawamu terselamatkan." kata Adrian.


"Ma, Pa... Aku menemui gadis itu dulu ya untuk mengucapkan terima kasih." kata Kevin lalu pergi menuju kamar C.


Kevin membuka pintu kamar C tapi tidak menemukannya. Kevin pergi ke ruang perawat jaga.


"Suster, pasien yang di kamar C di mana ya?" tanya Kevin.


"Dia sudah pulang sejam yang lalu, Pak." jawab suster.


"Boleh saya tahu identitasnya Suster?“


"Maaf Pak, kami tidak bisa memberitahu pada Bapak karena Dia minta identitasnya dirahasiakan?"


"Baik, suster. Terima kasih."


Menjelang makan siang Kevin pulang ke apartemennya. Dia membuka pintu dan mencari Kayla. Kevin tidak menemukan Kayla di dapur lalu Kevin mencari ke kamarnya.


"Sayang, mengapa kamu lemas begini? Apakah kamu sakit?" tanya Kevin, cemas.


"Maafkan aku ya, aku nggak bisa masak untuk orang tua Sayang." kata Kayla, pelan.


"Kamu harus aku bawa ke rumah sakit." kata Kevin sambil menggendong Kayla keluar dan membawanya ke rumah sakit yang sama.


"Dokter, tolong istri saya." kata Kevin, panik dan cemas sambil membawa Kayla ke ruang UGD.


"Baik, Pak." kata dokter sambil memeriksa Kayla.


"Bagaimana istri saya, Dokter." kata Kevin masih cemas.


"Istri Bapak hanya kelelahan. Saya sarankan agar istri Bapak dirawat beberapa hari agar kondisinya pulih." kata dokter.


"Baik, Dokter. Lakukan yang terbaik untuk istri saya." kata Kevin.


Lalu dokter menyuruh suster memasang infusnya.


"Lah inikan pasien yang ada di kamar C, yang baru selesai mendonorkan darahnya." kata suster ke temannya.


"Apa, suster...? tanya Kevin, kaget.


"Maaf, Pak. Ini pasien yang tadi mendonorkan darahnya untuk seorang ibu yang habis kecelakaan." kata suster.


"Benarkah?" tanya Kevin masih kaget.


"Iya, Pak. Dia tadi ada di kamar C tapi minta pulang." kata suster.


"Terima kasih, suster. Dipindahkan saja dia kembali ke kamar C." kata Kevin.


"Baik, Pak. Bapak silakan ke bagian pendaftaran pasien." kata suster.


Suster kembali memindahkan Kayla ke kamar C. Kevin langsung mengurus rawat inap Kayla. Setelah selesai Kevin langsung ke kamar C. Kevin melihat Kayla terbaring lemah.

__ADS_1


"Begitu besar pengorbanan mu untukku. Aku begitu bahagia dan bangga memilikimu dan aku nggak akan pernah menyia-nyiakan dirimu. Terima kasih untuk cinta ini." ucap Kevin sambil meneteskan air matanya.


*****


__ADS_2