
"Kayla, apa yang sudah terjadi? Mengapa Zita bisa seperti ini?" tanya Nita, kaget lalu menatap Kayla dengan tatapan menyelidiki.
Nita langsung ke ruang perawat jaga dan meminta perawat agar segera menolong Zita. Nita mengambil ponselnya lalu menelepon Egi.
"Sayang ada di mana? Tolong segera ke ruangan Kayla." kata Nita, panik
"Iya, Sayang." Egi berlari menuju ke ruangan Kayla.
Perawat dan dokter jaga langsung membawa Zita ke ruang perawatan dan dokter langsung memeriksa Zita. Egi tiba di ruangan Kayla.
"Apa yang telah terjadi dengan Kayla? Sebelum aku keluar tadi aku menitipkan tubuh Kayla ke perawat yang kebetulan lewat." kata Egi, heran dan bingung.
"Perawat itu adalah Zita dan saat ini dia dalam keadaan nggak sadarkan diri. Ketika aku datang hanya Kayla yang berada di sini, Zita sudah nggak sadarkan diri dan keningnya mengeluarkan darah." Nita menceritakan kejadiannya pada Egi sambil menatap Kayla.
"Bukan aku yang melakukannya, Nita. Kamu tahu aku Khan? Percayalah padaku." ucap Kayla pelan dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Iya, Kayla tapi cuma kamu yang aku lihat di sini." kata Nita masih ada keraguan meski dia tahu kalau Kayla tidak akan melakukannya.
"Sudah, jangan berdebat. Sekarang Zita berada di ruangan mana?" kata Egi.
"Zita sudah diperiksa dokter dan sekarang berada di ruangan perawatan biasa nomor 4." kata Nita.
Egi langsung menuju ke ruangan Zita dan Nita mengikutinya.
"Kevin, aku membutuhkan mu." ucap Kayla pelan sambil menangis sedih karena dia tahu kalau sahabatnya meragukan dirinya.
*****
Di hotel O Kevin menanyakan tentang Zita ke bagian informasi tetapi Zita tidak menginap di hotel itu. Tiba-tiba Kevin seperti merasakan kesedihan di hatinya.
"Mengapa hatiku mendadak sedih begini? Apa yang telah terjadi pada Kayla?" kata Kevin di dalam hatinya.
Kevin langsung berlari ke rumah sakit menuju ruangan Kayla. Kevin melihat roh Kayla sedang sendiri dan menangis di samping tubuhnya. Kevin langsung menghampirinya.
"Mengapa kamu menangis? Apa yang telah terjadi dengan mu?" Kevin memeluk roh Kayla dan tanpa sengaja tangannya menyentuh bahu Kayla. Kevin merasakan tangannya basah seperti habis terkena cairan.
"Ada darah..." Kevin sangat terkejut melihat tangannya ada darah lalu melihat ke arah bahu Kayla.
"Apa yang telah terjadi denganmu, Sayang? Maafkan aku yang sudah nggak menjagamu dengan baik." ucap Kevin, panik dan sedih.
Kevin langsung menelepon Nita.
"Nita, tolong ke ruangan Kayla sekarang karena Kayla terluka." kata Kevin dan langsung mengakiri teleponnya.
"Sayang yang kuat ya. Aku mencintaimu, Kayla dan aku nggak mau kehilangan dirimu. Bertahanlah, demi aku dan cinta kita." ucap Kevin lalu memeluk tubuh Kayla dan mencium keningnya.
__ADS_1
Roh Kayla hanya duduk diam di samping tubuhnya, dia masih menangis. Kayla masih sedih karena sahabatnya meragukan dirinya.
Egi dan Nita tiba di ruangan Kayla.
"Egi, cepat tolong Kayla. Bahunya terluka dan mengeluarkan darah. Kayla sudah terlihat lemas, mungkin karena darah yang keluar." kata Kevin, panik dan sedih.
Egi langsung memeriksa bahu Kayla. Lalu pergi ke ruangan dokter untuk mengambil obat dan peralatan untuk mengobati luka Kayla. Kemudian Egi kembali ke ruangan Kayla dan mengobati luka Kayla.
"Sudah aku periksa dan sudah aku beri obat pada lukanya. Kamu yang tenang ya, Kevin karena Kayla nggak apa-apa, lukanya nggak begitu parah." kata Egi sambil menepuk pelan pundak Kevin.
"Terima kasih, Egi." kata Kevin lalu tersenyum.
Nita melihat roh Kayla yang dari tadi hanya duduk diam dan menangis. Lalu Nita menghampiri roh Kayla.
"Mengapa kamu menangis? Sebenarnya apa yang telah terjadi?" kata Nita sambil menyentuh tangan Kayla.
"Bukan aku yang menyakiti Zita tapi Silvi. Aku sudah berusaha menolong Zita tapi aku nggak menyangka hal ini akan terjadi." kata Kayla sedih dan masih menangis.
"Maafkan aku, Kayla. Mungkin tadi karena aku panik dan aku cuma melihat kamu yang ada di dekat Zita. Aku percaya pada mu." kata Nita.
"Kevin, apakah Leo sudah diberitahu mengenai hal ini?" tanya Nita.
"Belum. Baiklah, aku akan menelepon Leo." kata Kevin sambil mengambil ponsel dari dalam saku celananya.
"Halo Leo, kamu ada di mana? Segera ke rumah sakit karena Zita ada di sini dan dia sedang terluka."
"Ya, Kevin. Aku segera ke sana." jawab Leo lalu berlari ke rumah sakit menuju ke ruangan Kayla.
"Mana Zita? Apa yang sudah terjadi padanya?" tanya Leo, panik.
"Ada di ruang perawatan biasa nomor 4. Zita sudah ditangani dokter." kata Egi.
Setelah Egi mengatakannya Leo langsung berlari menuju ruangan Zita. Egi mengikuti Leo. Leo dan Egi tiba di ruangan Zita dan langsung menghampiri Zita yang terbaring belum sadarkan diri.
"Bagaimana keadaan Zita, Dok." Kata Leo sambil memegang tangan Zita.
"Zita memerlukan 2 kantong golongan darah B karena darah yang keluar lumayan banyak." kata dokter Kenzo.
"Saya bersedia, Dok karena golongan darah saya B." kata Leo tanpa pikir panjang.
"Baiklah. Mari, ikut saya ke laboratorium." kata dokter Kenzo.
Leo dan dokter Kenzo pergi menuju laboratorium. Ternyata darah Leo cocok dan bisa melakukan transfusi darah. Transfusi darah pun dilakukan. Selesai transfusi darah Leo masih beristirahat. Tiba-tiba ponsel Leo berbunyi. Ternyata papa Zita menelepon Leo.
"Ya, Om. Saya sedang berada di rumah sakit A. Zita juga ada di sini, Om. Om dan Tante segera kemari karena Zita sedang dirawat di ruang perawatan biasa nomor 4." kata Leo lalu mengakhiri teleponnya.
__ADS_1
Leo bangun dan pergi ke ruangan Zita. Roh Kayla dan Nita juga menuju ke ruangan Zita. Roh Kayla menghampiri Leo.
"Leo, maafkan aku karena aku nggak bisa menyelamatkan Zita. Sungguh, bukan aku yang melakukannya tetapi Silvi dan dukunnya." Kata Kayla, sedih.
"Silvi? Apakah dia juga ada di kota J ini? Tapi mengapa dia melukai Zita?" tanya Leo, penasaran dan sedih.
"Iya, Leo. Silvi dan dukunnya ada di kota J ini. ucap Kayla.
"Iya, Kayla. Aku percaya padamu." kata Leo.
Orang tua Zita tiba di rumah sakit dan langsung menuju ke ruangan Zita.
"Leo, bagaimana keadaan Zita dan apa yang telah terjadi pada Zita?" kata mama Zita langsung memeluk Zita sambil menangis.
"Om... Tante... Maafkan saya nggak bisa menjaga Zita dengan baik." ucap Leo, sedih lalu menunduk.
"Ini bukan kesalahanmu, Leo. Kami tahu bagaimana sifat Zita yang begitu keras. Kami malah berterima kasih padamu." kata papa Zita.
Dokter Kenzo datang dan memeriksa keadaan Zita. Selesai periksa, dokter Kenzo melihat ke arah Leo lalu menghampirinya.
"Mengapa Pak Leo sudah bangun dari tempat tidur? Seharusnya Bapak beristirahat beberapa jam lagi biar cepat pulih." kata dokter Kenzo.
"Saya sudah merasa baikan, Dok. Bagaimana keadaan Zita, Dok?" tanya Leo, khawatir.
"Zita sudah tertolong berkat darah yang telah Bapak berikan. Tidak lama lagi pasien akan siuman." kata dokter Kenzo.
"Oh iya, Dok. Ini orang tua Zita." kata Leo sambil menunjuk ke arah orang tua Zita.
"Malam Dok. Terima kasih sudah cepat menolong anak saya. Sebenarnya apa yang telah terjadi, Dokter?" kata mama Zita, sedih.
"Maaf Dok, tadi saya dengar dokter bilang darah, siapa yang telah menyumbangkan darahnya untuk anak saya? Mengapa dilakukan transfusi darah ke anak saya?" tanya papa Zita, heran.
"Anak Ibu keningnya terluka karena terbentur dan mengeluarkan banyak darah. Tetapi dia akan baik-baik saja dan sebentar lagi juga akan siuman. Untung ada Pak Leo yang langsung mau mendonorkan darahnya dan kebetulan sangat cocok untuk anak Bapak." kata dokter Kenzo.
"Baik, Dokter. Terima kasih." Kata papa Zita, tersenyum.
Lalu dokter Kenzo pergi meninggalkan ruangan Zita.
Papa Zita menghampiri Leo. "Terima kasih, Leo sudah perhatian dengan Zita." kata papa Leo sambil menepuk pelan pundak Leo.
"Sama-sama, Om. Saya melakukannya dengan senang hati, Om karena sebenarnya saya mencintai Zita dan itu sejak kami kuliah bareng. Saya belum berani mengatakannya karena dia menganggap saya hanya sebagai sahabatnya." kata Leo dengan perasaan malu.
"Saya sudah tahu dari perhatianmu yang kamu berikan selama ini pada Zita. Om sangat mendukungmu. Kalau Zita sudah sadar, kamu harus mengungkapkan perasaanmu." kata papa Zita memberikan Leo semangat.
"Terima kasih banyak, Om." kata Leo lalu tersenyum.
__ADS_1
*****