
Egi menelepon dokter Hartono yang dari awal menangani Kayla.
"Selamat pagi, Dok. Saya ingin memberitahukan kalau pasien dokter yang bernama Kayla sudah sadar dari komanya." kata Egi di ujung ponselnya.
"Selamat pagi juga, Dok. Baiklah, saya segera ke sana." kata dokter Hartono.
"Terima kasih, Dok." Egi mengakhiri teleponnya.
"Sayang, tunggu..." kata Nita sambil setengah berlari menghampiri Egi.
"Sayang, tolong sampaikan ke bagian jenazah agar memandikan Silvi lalu kita bawa ke mesjid terdekat agar jenazah Silvi dishalatkan kemudian kita makamkan dengan layak." kata Nita.
"Baiklah, aku akan segera mengurus semuanya." kata Egi.
Nita pergi menuju ke ruangan Kayla. Nita masuk ke dalam dan menghampiri Kevin dan Kayla.
"Kevin, coba hubungi keluarga Silvi agar dia kita makamkan atau diantar ke rumah orang tuanya." kata Nita.
"Ya. Aku segera meminta staf untuk menghubungi keluarga Silvi." kata Kevin.
Kevin mengambil ponselnya lalu menelpon Anto, asistennya.
"Halo, Anto. Coba kamu cari tahu tentang keluarga Silvi karena selama ini dia tertutup tentang keluarganya."
"Baik, Pak." kata Anto. Kemudian Anto mencari data-data tentang Silvi tetapi tidak ada pemberitahuan tentang keluarganya kecuali alamat orang tuanya di kampung. Anto menelepon Kevin untuk memberitahukan hal itu.
"Halo, Pak. Saya tidak menemukan data-data tentang keluarga Silvi kecuali alamat orang tuanya di kampung."
"Baiklah. Terima kasih." kata Kevin lalu mengakhiri teleponnya.
Kayla berdiri agak sempoyongan lalu berjalan mendekati jenazah Silvi dan membuka kain penutup wajah Silvi.
"Yang aku lihat, Silvi hidup sebatang kara, kedua orang tuanya sudah meninggal sejak dia masih kuliah karena kecelakaan bus. Dia anak tunggal. Lebih baik dia langsung dimakamkan kalau sudah selesai dishalatkan." kata Kayla sedih. Kayla langsung terduduk karena masih sempoyongan dan lemah.
"Baiklah, kalau begitu selesai dishalatkan kita langsung memakamkan jenazah Silvi di pemakaman umum di daerah sini. Egi sudah mengurus semuanya." kata Nita.
Petugas rumah sakit bagian jenazah datang membawa jenazah Silvi dan dibawa ke tempat pemandian jenazah.
"Kalau begitu, aku pulang dulu untuk bersih-bersih. Kayla, kamu nggak mandi? sudah lebih sebulan loh kamu nggak mandi." kata Nita lalu tersenyum.
"Iya, aku pulang setelah semua administrasi diselesaikan dan aku tunggu dokter yang selama ini menangani ku termasuk Egi." kata Kayla.
"Baiklah, aku pulang dulu. Kevin, tolong jaga Kayla ya karena dia masih lemah." kata Nita.
"Oke, segera dilaksanakan." kata Kevin bercanda lalu tersenyum.
Nita dan Kayla tertawa lalu Nita meninggalkan mereka.
*****
Tidak lama kemudian Renna, dokter Hartono dan Egi tiba di ruangan Kayla.
"Selamat pagi, Mbak Kayla. Bagaimana keadaan dan perasaannya?" kata dokter Hartono lalu tersenyum.
"Pagi juga, Dokter. Saya merasa baik-baik saja tapi sedikit pegal seluruh tubuhku dan masih lemah." kata Kayla.
"Ooo... Itu efek dari terbaring lama karena koma, jadi tubuh berusaha menyesuaikan kembali seperti semula. Beberapa hari lagi Mbak Kayla akan pulih. Saya kasih resep untuk pemilihan tubuh berupa vitamin dan Mbak Kayla harus istirahat dulu untuk beberapa hari sampai Mbak merasakan segar kembali." kata dokter Hartono sambil menulis resep lalu memberikannya kepada Kayla.
"Baik, Dokter. Terima kasih." kata Kayla lalu tersenyum.
"Terima kasih, Dokter" kata Renna.
"Terima kasih, Dokter." kata Kevin.
"Sama-sama Bu, Mas. Kalau ada apa-apa bisa hubungi saya di rumah sakit ini atau langsung ke dokter Egi juga bisa. Kayla akan di pindahkan ke kamar perawatan biasa. Baiklah, saya permisi dulu." kata dokter Hartono lalu berjalan keluar.
"Terima kasih, Dok." kata Egi sambil mengantar dokter Hartono keluar dari ruangan Kayla.
Egi kembali masuk ke ruangan Kayla.
"Kevin, kamu sudah menghubungi keluarga Silvi?" tanya Egi.
"Aku sudah suruh asisten ku mencari data-data tentang Silvi tapi nggak ada keterangan tentang keluarganya di data Silvi dan Kayla juga bilang kalau dia sebenarnya tinggal sebatang kara." kata Kevin.
"Baiklah kalau begitu." kata Egi.
"Nak Egi, Tante ingin membayar biaya rumah sakitnya." kata Renna.
"Oh, nggak usah Tante karena ibu yang menabrak Kayla sedang menyelesaikan administrasinya. Tadi aku bertemu di bagian administrasi dan dia bilang akan datang ke sini." kata Egi.
"Terima kasih ya, Nak Egi selama ini ikut menjaga dan merawat Kayla." kata Renna.
"Sama-sama, Tante. Kayla khan sahabatku dan sudah aku anggap juga sebagai saudara." kata Egi lalu tersenyum.
"Aku mau pulang dulu untuk mandi. Oh iya, jenazah Silvi dishalatkan di mesjid dekat sini. Kita bertemu di sana saja ya. Kalau Kayla belum kuat, lebih baik istirahat saja." kata Egi.
"Baik Egi. Terima kasih, Egi." kata Kevin.
__ADS_1
Egi pergi meninggalkan mereka.
Kemudian perawat datang dengan membawa tempat tidur dan perlengkapan lainnya untuk Kayla.
"Permisi, Bu. Kami akan memindahkan Mbak Kayla ke ruang perawatan biasa." kata perawat lalu mencopot semua alat-alat yang di pasang di tubuh Kayla. Setelah selesai perawat kembali memasang infus yang berupa vitamin untuk tubuh Kayla. Lalu memindahkan Kayla ke kamar perawatan biasa yang ternyata bersebelahan dengan kamar Zita.
Renna dan Kevin membawa barang-barang Renna dan Kayla selama menginap di ruangan ICU ke kamar Kayla di bagian perawatan biasa.
Ketika Kevin melewati kamar Zita kebetulan Leo baru keluar dari kamar Zita.
"Kamu mau kemana?" tanya Leo, heran.
"Kayla sudah sadar dari koma dan sekarang pindah kamar, ternyata kamarnya bersebelahan dengan kamar Zita." jawab Kevin.
"Serius...? Kayla sudah sadar?" tanya Leo, kaget.
"Mengapa kaget gitu sih? Biasa saja kali..." kata Kevin sambil meninju pelan lengan Leo.
"Wow... Ini suatu mukjizat. Aku mau kenalan secara langsung dengan cewek yang mampu membuat sahabatku jatuh cinta lagi." goda Leo lalu tertawa.
"Ya sudah, ayo..." ajak Kevin.
"Sebentar, aku bilang Zita dulu. Mungkin dia mau ikut karena dia sudah mulai baikan dan sehari lagi juga bisa pulang." kata Leo.
"Baiklah. Aku duluan ya." kata Kevin lalu pergi ke kamar Kayla.
*****
Renna sudah selesai merapikan barang-barang milik Kayla yang masih diperlukan dan memisahkan yang tidak dibutuhkan.
"Sayang, Mama pulang dulu ya. Nak Kevin, tolong jagain Kayla ya." kata Renna sambil membawa barang-barang yang tidak diperlukan lagi.
"Iya, Ma. Hati-hati di jalan." kata Kayla.
"Iya, Bu. Biar saya bantu ya, Bu." kata Kevin sambil mengambil barang-barang yang di pegang Renna.
"Tidak usah, Nak. Biar ibu saja." kata Renna.
"Nggak apa-apa kok, Bu. Saya antar ke depan." kata Kevin. Kevin menanyakan alamat rumah Kayla.
"Maaf Bu, alamat rumah Ibu di jalan apa ya?" tanya Kevin.
"Jalan A no.xx..." jawab Renna.
"Oke, Bu." kata Kevin lalu memesan kendaraan online untuk Renna.
"Baiklah. Sayang, kami pergi dulu ya." kata Renna lalu mencium kening Kayla.
"Terima kasih ya, Nak Kevin." kata Renna lalu tersenyum.
"Sama-sama, Bu." Kevin tersenyum
"Hati-hati ya, Mas." Pesan Kevin ke supir onlinenya sambil membayar ongkosnya.
"Iya, Pak." kata supir onlinenya. Lalu mereka pergi ke rumah Renna.
Tiba-tiba ponsel Kevin berbunyi. Ternyata orang tua Kevin menelepon Kevin.
"Ya, Ma. Ada apa, Ma?" tanya Kevin di ujung ponselnya.
"Kami ingin menjenguk mu. Mama kangen. Kemungkinan minggu depan kami akan datang karena urusan papa selesai minggu depan. Kamu lagi di mana?" tanya Wina.
"Ya, Ma. Aku lagi di luar kantor dan masih ada urusan."
"Baiklah. Mama hanya ingin menyampaikan itu saja. Semoga semua urusan mu lancar dan hati-hati di jalan." kata Wina. lalu menutup teleponnya.
Kevin kembali berjalan ke kamar Kayla. Kevin berpapasan lagi dengan Leo dan Zita.
"Hai, Kevin." Leo panggil.
Kevin menghentikan langkahnya lalu melihat ke arah Leo dan Zita.
"Oh, hai..." kata Kevin lalu tersenyum dan menunggu mereka mendekat.
"Begitu bahagianya sampai sahabat sendiri di depan mata nggak dilihat lagi." goda Leo lalu tersenyum.
Kevin tersenyum.
"Kami ingin berkenalan dengan Kayla. Leo sudah menceritakan semua kepadaku." kata Zita lalu tersenyum.
Mereka tiba di kamar Kayla. Kayla sedang tertidur.
"Maaf ya, ternyata Kayla sedang tidur. Dia pasti kelelahan." kata Kevin, pelan.
"Nggak apa-apa kok. Aku bosan di kamar terus." kata Zita dengan wajah cemberut.
Tiba-tiba ponsel Leo berbunyi dan ternyata yang menelepon papa Zita.
__ADS_1
"Ya, Om. Zita baik-baik saja, Om. Mau bicara dengan Zita, Om?"
Leo memberikan ponselnya pada Zita.
"Ya, Pa. Zita sudah baikan kok. Dokter bilang besok Zita sudah bisa pulang. Ya, Pa. Bye." kata Zita lalu mengakhiri teleponnya.
"Papa bilang nanti malam mereka nggak bisa ke rumah sakit karena tadi pas sarapan papa bertemu dengan teman kuliahnya dulu waktu di LA. Papa diundang makan siang ke rumahnya." kata Zita ke Leo.
"Iya, Sayang. Khan masih ada aku yang jagain kamu." kata Leo lalu tersenyum.
Zita membalas dengan senyuman manis ke Leo.
Suster masuk membawa sebaskom kecil air hangat untuk mengelap tubuh Kayla dan membawa sarapan buat Kayla.
"Permisi Bu, Pak. Saya mau mengantarkan ini atas nama pasien Kayla." kata Suster.
"Iya, benar Suster." kata Kevin.
Suster meletakan sarapan di atas meja dan air hangat di atas tempat tidur Kayla. Maaf Pak, saya mau mengelap bu Kayla dulu." kata suster.
"Biar saya saja, Suster." kata Kevin.
"Baiklah, Pak. Terima kasih. Permisi." kata suster lalu pergi.
Kayla masih tidur dan Kevin membiarkannya.
"Bagaimana perasaan kamu setelah tahu Kayla sudah sadar?" tanya Leo.
"Yang pasti aku sangat bahagia. Aku merasa seperti mimpi bisa melihat dan menyentuh Kayla secara nyata." kata Kevin dengan wajah bahagia.
"Aku juga turut bahagia lihat kamu bahagia. Kamu khan tipe cowok susah jatuh cinta, apakah kamu mencintai Kayla atau karena kasihan?" tanya Leo, penasaran sekaligus menggoda Kevin.
"Aku melihat perjuangannya begitu besar untukku. Aku sempat menangis ketika melihat dia terluka karena hatiku terasa sakit melihatnya. Aku merasakan seperti takut kehilangan dia. Aku sekarang menyadari kalau aku sudah mencintai dia tulus dari hatiku." kata Kevin sambil menggenggam tangan Kayla.
"Cie... Cie... Cie... Yang lagi jatuh cinta." goda Leo lalu tertawa.
"Kamu juga. Aku ucapkan selamat sudah dapatin cewek yang selama ini kamu cintai." kata Kevin sambil tersenyum.
"Sudah sangat lama loh dia memendam perasaan itu ke kamu. Memang kalau cinta sejati pasti tetap bertahan dan bahagia akhirnya seperti Leo dengan Zita dan aku dengan Kayla." kata Kevin lalu tersenyum.
Leo tertawa mendengar perkataan Kevin dan Zita hanya tertunduk malu.
Kayla terbangun mendengar mereka tertawa.
"Sayang, ada siapa?" tanya Kayla lalu membuka matanya dan melihat ada Zita dan Leo. Kayla berusaha untuk duduk dan Kevin membantunya duduk.
"Hai, Kayla." sapa Zita dan Leo.
"Hai..." Kayla balas menyapa.
Zita menghampiri Kayla. "Kayla, aku ingin mengucapkan terima kasih banyak atas pertolongan kamu waktu itu. Kalau nggak ada kamu, aku pasti sudah nggak ada lagi di dunia ini. Aku juga minta maaf sudah mencelakai kamu bahkan berniat membunuhmu." kata Zita, sedih dan menyesal.
"Nggak apa-apa kok. Aku sudah memaafkan kamu. Santai saja." kata Kayla lalu tersenyum dan menepuk pelan tangan Zita.
"Terima kasih, Kayla." kata Zita lalu memeluk Kayla.
"Iya, sama-sama." kata Kayla sambil mengusap lembut punggung Zita.
"Oh iya, Leo. Nanti Silvi dimakamkan di TPU dekat sini, kamu ikut acara pemakamannya?" tanya Kevin.
"Silvi meninggal? Kapan?" tanya Leo, kaget.
"Subuh tadi, sekitar jam 3. Dia meninggal dan dukunnya lenyap." cerita Kevin.
"Aku nggak menyangka kalau Silvi suka bantuan dukun atau mistik. Semoga dia tenang di alam sana." kata Leo.
"Kita ikut, Sayang?" tanya Leo sambil melihat ke arah Zita.
"Iya, kita ikut. Kalau kalian ikut, kita pergi bareng ya." kata Zita.
"Iya..." kata Kayla.
"Ya sudah, kami pergi dulu karena aku ingin berbaring dan Kevin juga harus mengelap dirimu." kata Zita. Lalu Zita dan Leo keluar dari kamar Kayla.
Kevin menyuapi Kayla lalu mengelap wajah, tangan dan kaki Kayla.
Egi dan Nita datang ke kamar Kayla, Egi membawa kursi roda.
"Kalian ikut ke acara pemakaman Silvi? Sekarang Jenzah Silvi sudah ada di mesjid untuk dishalatkan." kata Nita sambil memberikan kursi roda yang dibawa Egi.
"Iya, kami ikut dan Leo serta Zita ikut juga." kata Kevin.
"Baiklah. Aku sudah siap. Mari kita samperin Leo dan Zita." kata Kayla.
"Kevin, tolong pegang infus Kayla." kata Egi.
"Ya, Egi." kata Kevin sambil memegang infus Kayla dan membantu Kayla duduk di kursi roda.
__ADS_1
Lalu mereka menghampiri Leo dan Zita. Kemudian mereka pergi ke mesjid lalu memakamkan jenazah Silvi. Setelah selesai mereka mengucapkan terima kasih pada warga dan pak Haji yang sudah berpartisipasi dalam acara pemakaman Silvi.
*****