
Silvi dan dukunnya berhasil mendapatkan obat tidur.
"Akhirnya kita berhasil mendapatkannya. Ayo, kita kembali ke hotel." kata dukun itu. Lalu mereka kembali ke hotel.
Setibanya di hotel, dukun itu kembali melakukan ritualnya dan kali ini dia memberikan perintah kepada hantu-hantu peliharaannya untuk menghalangi siapapun yang mau masuk ke ruangan Kayla ketika mereka melakukan rencananya pas tengah malam nanti. Setelah selesai dengan ritualnya, dukun itu kembali menyusun rencananya dengan Silvi.
"Nanti aku makan malamnya di kantin rumah sakit saja biar sekalian kita mencampurkan obat tidur ini ke makanan yang dipesan Nita." kata dukun itu.
"Iya, Mbah. Kita pergi sebelum jam makan malam." kata Silvi.
Akhirnya mereka pergi ke kantin rumah sakit dan memesan makanan.
"Bu, saya pesan seporsi makanan dengan lauk yang itu dan sayur yang itu." kata dukun itu sambil menunjuk lauk dan sayur yang dia mau.
"Maaf Mbak, bisa pilih menu yang lain karena itu sudah ada yang memesannya dan mau dibungkus." kata ibu kantin.
"Oh... Baiklah, aku pesan yang ini saja." kata dukun itu, asal tunjuk.
"Oke, akan saya siapkan." kata ibu kantin.
"Ma, plastik untuk bungkus lauknya habis." kata anak bu kantin.
"Ya sudah, kamu beli dulu sana." kata ibu kantin.
"Ya, Ma tapi mama jangan lupa lihat sayurnya karena ntar lagi mateng." kata anak ibu kantin lalu pergi.
"Oh iya Bu, aku juga mau sayur yang sedang dimasak sepertinya enak." kata dukun itu sambil menghirup udara seolah-olah mencium aroma sayurnya.
"Baik, Mba. Maaf, saya tinggal dulu sebentar ya untuk mengambil sayurnya." kata ibu kantin sambil membawa piring yang sudah berisi pesanan dukun itu.
Setelah ibu kantin pergi, dukun itu langsung mencampurkan obat tidur ke dalam sayur dan lauk yang dia pilih tadi. Lalu mengaduknya hingga tercampur. Dukun itu langsung berpura-pura sedang menerima telepon saat dia melihat ibu kantin berjalan ke tempatnya semula agar ibu kantinnya tidak curiga.
"Mbak, ini pesanannya. Smua jadi dua puluh ribu." kata ibu kantin sambil memberikan semua pesanan dukun itu.
Dukun itu pergi mencari bangku yang dekat dari tempat ibu kantin. Anak ibu kantin pun tiba dan mulai membungkus lauk dan sayur yang dimaksud. Setelah selesai ibu kantin menyuruh anaknya mengantarkan makanannya ke ruangan Kayla, melihat hal itu dukun itu dan Silvi mengikuti anak ibu kantin diam-diam agar tidak ketahuan.
"Tok... Tok... Permisi. Saya mau mengantarkan pesanan bu Nita." kata anak ibu kantin sambil masuk dan meletakkan pesanan di atas meja.
"Terima kasih." kata Kevin.
"Sama-sama. Permisi." kata anak ibu kantin lalu pergi meninggalkan ruangan Kayla.
Dukun itu dan Silvi langsung mendekati pintu kamar dan mengintip.
"Masih ada Kevin di dalam. Semoga mereka makan semuanya agar rencana kita berjalan lancar." kata Silvi lalu tersenyum sinis.
Ketika mereka sedang mengintip, ibu kantin tiba di belakang mereka sambil membawa air mineral.
"Hmm... Maaf Mbak, saya mau masuk." kata ibu kantin.
Silvi dan dukunnya kaget dan langsung pergi meninggalkan ruangan Kayla.
__ADS_1
"Tok... Tok... Permisi, Pak." kata ibu kantin sambil membuka pintu lalu masuk.
"Maaf Pak, air mineralnya ketinggalan." kata ibu kantin sambil meletakkan air mineralnya di atas meja.
"Makanan itu sudah dicampur dengan sesuatu. Coba Sayang periksa." bisik Kayla ke Kevin.
"Maaf Bu, coba ibu periksa makanannya karena saya merasa makanan Ibu sudah dicampur dengan sesuatu dan saya tahu kalau bukan Ibu pelakunya." kata Kevin sambil berjalan menghampiri meja lalu membuka sebungkus makanannya.
"Tapi saya lihat biasa saja dan tidak ada yang aneh dengan makanannya." kata ibu kantin, bingung.
"Coba Ibu bawa sebungkus dan berikan pada kucing lalu Ibu lihat apa yang sudah terjadi atau saya coba bawa ke dokter Egi agar dia periksa di laboratorium." kata Kevin sambil mengambil ponselnya lalu menelepon Egi.
"Halo, Egi. Masih sibukkah?"
"Nggak, kebetulan baru selesai operasi. Ada apa dengan Kayla?" Egi cemas.
"Kayla baik-baik saja. Aku mau minta tolong ke ruangan Kayla sekarang, bisa? Atau aku saja yang ke ruanganmu?"
"Biar aku saja yang ke ruangan Kayla."
Beberapa menit kemudian Egi tiba di ruangan Kayla.
"Ada apa, Kevin?" tanya Egi, bingung.
"Nita pesan makanan untuk makan malam kita pada ibu kantin tapi Kayla bilang kalau makanan itu sudah tercampur dengan sesuatu. Bisakah kamu coba cek di laboratorium?" tanya Kevin.
"Bisa. Akan saya cek." kata Egi lalu mengambil sedikit makanannya.
"Maaf Pak, saya tidak ada mencampur makanan ini dengan sesuatu yang merugikan dan Bapak khan tahu kalau ibu Nita sudah lama jadi pelanggan saya." kata ibu kantin, bingung dan sedih.
"Saya ingat-ingat dulu ya, Pak." kata ibu kantin sambil berpikir.
"Oh iya, Pak. Saya baru ingat kalau tadi ada seorang cewek putih dan tubuhnya berisi atau seksi dan cantik. Saya juga sudah dua kali memergoki dia sedang mengintip ke dalam ruangan ini." kata ibu kantin sedikit tenang.
"Itukan Silvi." kata Kevin, kaget.
"Iya, nggak salah lagi itu pasti Silvi." kata Kevin, yakin.
"Ya sudah. Berapa semua biaya pesanan Nita, Bu." tanya Kevin sambil mengambil dompetnya.
"Tidak susah, Pak. Saya malah tidak enak karena kesalahannya ada pada saya." kata ibu kantin.
"Nggak apa-apa, Bu. Semua terjadi bukan karena keinginan Ibu." kata Kevin sambil memberikan uang dua ratus ribu pada ibu kantin.
"Kembaliannya nanti saya antar, Pak." kata ibu kantin lalu mengambil uang yang diberikan Kevin.
"Nggak usah, Bu. Ambil saja kembaliannya." kata Kevin lalu tersenyum.
"Baiklah, Pak. Terima kasih, Pak. Saya permisi dulu." kata ibu kantin lalu pergi.
"Kalau begitu aku juga pergi ke laboratorium untuk mengecek makanan ini." kata Egi.
__ADS_1
"Baiklah." kata Kevin.
Egi pergi ke laboratorium dan sampai di laboratorium Egi langsung mengecek makanan yang dia bawa tadi. Egi melihat hasilnya dan ternyata makanan tadi sudah dicampur dengan obat tidur. Egi mengambil ponselnya lalu menelepon Nita.
"Halo, Sayang. Sayang lagi di mana? Apakah meetingnya sudah selesai?"
"sudah selesai dan sebentar lagi aku ke sana. Ada apa, Sayang?" Nita bingung.
"Nanti saja kalau Sayang sudah di rumah sakit, aku ceritakan."
"Baiklah. Aku akan segera ke sana." kata Nita lalu mengakhiri teleponnya.
*****
Sementara di rumah Renna, Renna sedang sibuk memasak dan tiba-tiba tangan Renna teriris pisau saat dia sedang mengiris wortel.
"Aduh... Perasaanku kok jadi tidak enak seperti ini ya? Apa yang akan terjadi terhadap Kayla? Aku harus ke rumah sakit malam ini karena perasaanku sangat tidak enak." kata Renna di dalam hatinya.
Renna langsung mengerjakan semuanya dengan buru-buru karena dia ingin cepat sampai di rumah sakit. Setelah semua selesai Renna pergi ke rumah sakit dengan membawa makanan untuk makan malam.
Setibanya di rumah sakit, Renna langsung menuju ke ruangan Kayla. Renna langsung masuk dan meletakkan makanan yang dibawanya di samping sofa lalu menghampiri Kayla dan duduk di samping tubuh Kayla.
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" kata Renna sambil mengusap kepala Kayla.
"Aku baik-baik saja kok, Ma." jawab Kayla.
"Sejak di rumah perasaan Mama tidak enak, seperti akan terjadi sesuatu. Makanya Mama buru-buru kemari. Oh iya, Mama bawa makanan untuk makan malam." kata Renna sambil berjalan mengambil makanannya.
"Nak Kevin, silakan dimakan. Nak Kevin pasti belum makan." kata Renna sambil memberikan makanannya.
"Terima kasih, Bu." Kevin mengambil makanan dari tangan Renna lalu menyantapnya.
Renna kembali duduk di samping tubuh Kayla.
"Mengapa perasaan Mama tidak enak begini ya? Sayang, Mama takut akan terjadi sesuatu denganmu." ucap Renna sedih sambil mengusap lembut kepala Kayla.
"Mama jangan sedih ya. Mama do'ain Kayla ya biar Kayla bisa cepat pulih seperti sediakala." ucap Kayla lalu tersenyum.
Beberapa menit kemudian Nita masuk ke dalam ruangan Kayla.
"Bu... Kevin..." sapa Nita.
"Oh iya, Nak Nita. Silakan makan dulu karena ibu membawa makan malam." kata Renna sambil menunjuk ke arah makanan yang dia bawa tadi.
"Iya Bu, kebetulan aku lapar banget tapi mengapa Ibu membawa makanan padahal aku sudah pesan, memangnya ada apa dengan makanan ini?" kata, Nita bingung sambil memeriksa makanan yang ada di atas meja. Lalu Nita mengambil makanan yang dibawa Renna dan menyantapnya.
Egi masuk ke dalam ruangan Kayla dan membawa hasil laboratorium lalu menyampaikan hasilnya.
"Ternyata Kayla benar kalau makanan itu sudah dicampur dengan sesuatu, yaitu obat tidur. Untuk apa Silvi melakukannya?" tanya Egi, bingung.
"Tujuannya agar kita semua tertidur dan nggak ada yang menjaga Kayla karena nanti tengah malam tepat bulan purnama penuh." kata Kevin.
__ADS_1
"Nak Egi, makan dulu" kata Renna.
"Iya, Bu. Terima kasih." kata Egi sambil berjalan ke samping sofa dan mengambil makanan lalu menyantapnya.