Cinta Mati Kayla

Cinta Mati Kayla
Rencana Zita Dan Silvi


__ADS_3

Nita pergi ke arah kantin rumah sakit lalu dia memesan makanan dan minuman untuk Kevin dan Renna.


"Bu, saya pesan makanan dengan lauk yang itu, itu dan pakai sayur yang itu jangan lupa air mineralnya juga ya. Tolong antarkan pas jam makan siang ke ruangan ICU no.2. Berapa Bu?" kata Nita sambil menunjuk lauk dan sayur yang dia maksud lalu mengambil uang lima puluh ribu.


"Semua lima puluh ribu, Bu." kata bu kantin.


"Terima kasih, Bu." Nita memberikan uang yang dia pegang.


Nita pergi menuju ke ruangan Kayla dan menghampiri Kevin.


"Kevin, aku pergi ke kantor dulu ya. Aku sudah memesan makan siang kamu dan mama Kayla. Tolong jaga Kayla dan mamanya ya. Selesai operasi Egi akan datang kesini." kata Nita.


"Ya Nita, pasti aku menjaga Kayla dan mamanya. Terima kasih, Nita. Kamu hati-hati di jalan. kata Kevin.


"Ya, sama-sama." kata Nita lalu pergi meninggalkan ruangan Kayla.


Leo tiba di rumah Nita dan dia keluar dari mobil. Ketika Leo keluar dari mobil, Zita melihatnya saat Zita hendak keluar. Zita buru-buru masuk lalu berpesan ke pak satpam.


"Pak, kalau ada yang mencariku bilang saja nggak ada ya."


"Ini buat beli rokok Bapak." Zita memberikan uang lima puluh ribu ke satpam.


"Iya Mbak. Terima kasih, Mbak." kata satpam.


Zita langsung masuk ke dalam kamarnya. Zita mondar mandir di dalam kamarnya.


"Aku harus pindah hari ini juga agar Leo nggak melihatku. Tapi, mengapa Leo datang ke kota J? Apakah karena dia ada meeting dengan Nita? Apakah Kevin ikut dengannya? Aku harus pindah dan mengecek langsung kepastiannya ke rumah sakit." Zita bertanya-tanya sendiri.


Zita mengintip dan dia melihat Leo menghampiri pagar rumah tersebut. Leo menekan bel lalu satpam membuka gerbang dan melihat Leo.


"Maaf Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam.


"Iya, Pak. Saya mau tanya, apakah disini ada yang bernama Zita? Dia baru beberapa hari kost di sini." kata Leo.


"Maaf Pak, saya tidak tahu tapi setahu saya tidak ada yang bernama Zita disini. Atau coba Bapak tanya ke ibu kostnya langsung. Mari, saya antar." kata satpam.


Leo dan satpam masuk dan menuju ke ruangan bu kost. Satpam mengetuk pintu.


"Tok... Tok... Tok... Permisi Bu. Ada yang ingin bertemu dengan Ibu."

__ADS_1


"Suruh dia masuk!" kata Bu kost.


"Silakan masuk, Pak." kata satpam.


"Terima kasih, Pak."


"Permisi Bu." Leo masuk ke dalam ruangan Bu kost.


"Silakan duduk, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bu kost.


"Terima kasih, Bu. Saya ingin menanyakan apakah ada yang bernama Zita dari kota M kost di tempat Ibu?" tanya Leo.


"Setahu saya tidak ada yang bernama Zita kalau yang dari kota M tetapi adanya bernama Lia. Atau Bapak bisa datang lagi kemari sekitar jam lima sore karena mereka biasanya sudah pada pulang tapi kalau jam segini mereka masih pada di luar." kata bu kost.


"Baik Bu, saya akan kembali lagi. Terima kasih, Bu." Leo pergi meninggalkan kostan itu.


Zita masih mengintip dan melihat Leo keluar dari kostan tempat dia menginap. Zita segera membereskan semua barang-barangnya. Zita keluar kamar lalu menghampiri bu kost sambil membawa barang-barangnya. Kemudian Zita pamit dengan bu kost.


"Siang Bu." sapa Zita.


"Siang juga Lia. Silakan duduk. Lha kok bawa barang-barangnya, memangnya Lia mau kemana?" tanya bu kost, heran.


"Kenapa? Apakah pelayanan kami atau lingkungan kost ini kurang memuaskan? tanya Bu kost, masih heran.


"Sangat memuaskan tetapi saya harus kembali karena urusan saya di kota ini sudah selesai. Terima kasih ya, Bu karena saya sudah diperbolehkan kost disini."


"Tapi Lia masih beberapa hari kost disini?" tanya Bu kost.


"Nggak apa-apa, Bu. Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku. Saya pergi dulu ya, Bu." kata Zita lalu menjabat tangan bu kost.


"Ya, Lia. Hati-hati di jalan. Terima kasih Lia. Kalau datang lagi ke kota J, jangan lupa kost disini ya." kata bu kost lalu tersenyum.


"Ya, Bu. Terima kasih." Zita pergi meninggalkan bu kost.


Zita menghampiri satpam yang sedang duduk di post jaga.


"Pak Sukri, coba lihat keluar apakah ada orang di rumah depan?" tanya Zita.


"Baik Mbak." Satpam pergi keluar dan melihat di sekitar rumah yang ada di depan kost.

__ADS_1


"Mbak, nggak ada siapa-siapa."


"Ada mobil yang parkir di depan rumannya?" tanya Zita.


"Nggak ada juga, Mbak." jawab satpam.


Lalu Zita melihat keluar dan tidak ada siapa-siapa.


"Terima kasih, Pak. Saya pergi dulu." kata Zita.


"Iya Mbak, hati-hati di jalan." kata satpam.


*****


Zita menghentikan taksi yang lewat kemudian pergi menuju ke rumah sakit tempat Kayla di rawat.


"Pak, kita cari hotel dulu yang dekat dengan rumah sakitnya ya." kata Zita.


"Iya, Mbak." kata pak supir.


"Nah, itu Pak. Yang di seberang rumah sakit itu ada hotel, kita ke sana saja ya, Pak." kata Nita sambil menunjuk ke arah hotel yang dimaksud.


"Baik, Mbak. Pak supir belok langsung menuju ke hotel yang dimaksud.


Mereka tiba di hotel D yang berseberangan dengan rumah sakit. Zita membayar taksinya. Zita sengaja menginap di hotel yang bukan hotel bintang lima. Selain tidak akan ketahuan, letak hotelnya tepat di seberang rumah sakit sehingga Zita bisa melihat siapa saja yang datang ke rumah sakit. Zita memesan kamar dan dia langsung masuk ke dalam kamarnya.


" Lebih baik aku menyusun rencana lagi karena Leo ada disini dan Kevin juga pasti ada disini." Zita bicara sendiri.


Sementara Silvi dan roh Nenek renta itu sedang menyusun rencana untuk pencarian Kayla ke rumah sakit yang sudah di pilih.


"Besok kita coba cek ke rumah sakit A terlebih dahulu karena aku merasakan Kayla ada di sana. Beberapa hari lagi bulan purnama, kita harus berhasil memindahkan roh mu ke tubuh Kayla dan aku akan melenyapkan rohnya agar tidak bisa menyatu lagi dengan tubuhnya karena dengan cara begitu kamu bisa mendapatkan pemuda itu dan aku akan tetap di dalam tubuhmu." kata dukun itu.


"Baik Mbah. Tapi bagaimana dengan sainganku, Mbah? Dia berencana akan membunuh Kayla, jika Kayla meninggal rohku nggak akan bisa masuk ke tubuh Kayla" tanya Silvi.


"Dia yang pertama kita lenyapkan. Aku merasakan dia tidak jauh dari rumah sakit itu. Kamu tenang saja, dia itu masalah kecil.


"Baik, Mbah." Silvi tersenyum puas dengan rencana dukun itu.


*****

__ADS_1


__ADS_2