Cinta Mati Kayla

Cinta Mati Kayla
Kedatangan Orang Tua Zita


__ADS_3

Leo mengambil ponselnya lalu menelepon Nita. "Halo Nita, aku sudah mengecek ke kostan itu dan nggak ada yang bernama Zita yang kost di sana tapi aku nggak salah lihat kok, benar-benar Zita yang ku lihat kemarin. Ibu kostnya bilang ada yang dari kota M tapi namanya Lia bukan Zita dan ibu kostnya menyuruh aku kembali jam lima sore nanti untuk mengecek karena biasanya yang kost di sana sudah pada pulang ke kostan. Jadi, aku menunggu di rumahmu saja ya." Leo menceritakan semua sambil berjalan menuju rumah Nita.


"Baiklah, kamu tunggu di rumah saja." kata Nita.


*****


Silvi cek out dari hotel tempat dia menginap. Dia menghentikan taksi di depan hotel dan masuk ke dalam taksi.


"Pak, ke rumah sakit A ya." kata roh Silvi sambil diikuti oleh dukun itu.


"Baik, Mbak." kata pak supir sambil mengendarai taksinya menuju rumah sakit A.


Diperjalanan menuju rumah sakit, Silvi melihat ada hotel tepat di seberang rumah sakit.


"Pak, kita berhenti di hotel P tepat di seberang rumah sakit A."


"Baik, Mbak." Pak supir belok dan langsung menuju ke arah hotel yang Silvi maksud.


Silvi keluar dari taksi dan membayarnya. Silvi berjalan menuju lobi hotel. Silvi memesan kamar lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Tepat sekali kita menginap di sini karena aku merasakan sainganmu berada di hotel yang sama dengan kita. Kita jadi sangat mudah menyingkirkannya. Aku juga merasakan kalau Kayla sangat dekat dengan kita." kata dukun itu.


"Baik, Mbah. Aku akan mengikuti semua yang Mbah katakan."


"Bagus. Sebentar lagi kita keluar untuk mengecek keadaan di rumah sakit A dan memastikan Kayla benar dirawat di sana atau tidak. Aku harus menyamar dulu agar Zita dan sahabat Kayla tidak mengenali aku." kata dukun itu sambil memakai selendang untuk menutupi kepala Silvi dan memakai kacamata hitam untuk menyamar.


Silvi dan dukun itu keluar dari kamarnya tetapi tiba-tiba mereka bersembunyi karena mereka melihat Zita baru keluar dari kamarnya. Ternyata kamar Zita bersebelahan dengan Silvi.


"Lihat! Bukannya itu sainganmu?" tanya dukun itu setengah berbisik sambil menunjuk ke arah Zita.


"Benar, Mbah. Itu Zita, sainganku. Kira-kira dia mau kemana ya, Mbah?" tanya Silvi.


"Sepertinya dia hendak ke rumah sakit. Lebih baik kita ikutin dia kemana karena aku merasa dia mengetahui keberadaan Kayla." kata dukun itu.


Zita tidak menyadari kalau Silvi mengikutinya. Dia terus saja berjalan menuju ke rumah sakit. Zita tiba di ruang ICU no.2 tempat Kayla dirawat. Zita mengintip ke dalam kamar dan dia melihat ada Kevin duduk di sebelah tubuh Kayla sambil memegang tangan Kayla. Terlihat jelas rasa cemburu yang begitu besar di wajah Zita.


"Apa sih kelebihan Kayla sehingga sedikitpun Kevin nggak tertarik padaku padahal dari segi fisik aku lebih cantik dan seksi dari Kayla." Tanya Zita dalam hati.


Renna keluar dari ruangan Kayla dan Zita tidak menyadarinya. Renna melihat Zita mengintip lalu menghampirinya.


"Permisi, Nak. Mau mencari siapa ya." Renna sambil menepuk pundak Zita.


"Oh, nggak Bu. Tadi aku pikir temanku dirawat di ruangan ini tapi ternyata nggak ada. Permisi Bu." Kata Zita kaget dan langsung pergi meninggalkan Renna.

__ADS_1


Renna pergi menuju ke arah musholah. Silvi dan dukun itu mendekat ke arah pintu ruangan Kayla lalu mengintip.


"Benar dugaanku kalau Kayla dirawat di rumah sakit ini dan penjagaan Kayla nggak begitu ketat. Semua target kita berada di dekat kita sehingga kita akan dengan mudah menjalankan rencana kita." kata dukun itu, pelan.


Ketika mereka mengintip, ibu kantin datang untuk mengantar pesanan Nita dan menyapa yang ada di tubuh Silvi.


"Permisi Mbak. Kalau mau besuk, silakan masuk saja Mbak." kata bu kantin. Lalu bu kantin mengetuk pintu ruangan Kayla.


"Tok... Tok... Tok... Permisi, saya mau mengantar pesanan." kata bu kantin.


"Sebentar ya." Kevin menghampiri pintu dan hendak membukanya, sebelum pintu di buka Silvi dan dukun itu buru-buru pergi.


"Ayo, kita kembali ke hotel." kata nenek renta itu sambil berjalan meninggalkan ruangan Kayla.


"Baik, Mbah." kata Silvi sambil berjalan mengikuti dukun itu kembali ke hotel.


*****


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Leo keluar rumah Nita menuju ke kost yang ada di depan rumah Nita. Leo menekan bel lalu pak satpam setengah berlari membuka pagar.


"Sore Pak. Apakah bu kostnya ada?" tanya Leo.


"Oh, iya Pak. Ibunya ada. Silakan masuk, Pak.' kata satpam.


"Terima kasih." Kata Leo. Leo masuk ke dalam ruangan bu kost.


"Silakan masuk, Pak." kata bu kost.


Leo masuk dan langsung duduk. "Bagaiman Bu, apakah ada yang bernama Zita?" tanya Leo.


"Maaf Pak, yang bernama Zita tidak ada." kata bu kost.


"Lalu yang bernama Lia yang berasal dari kota M apakah ada dan boleh saya bertemu?" tanya Leo, penasaran.


"Maaf Pak, yang bernama Lia sudah keluar dari kostan ini tadi siang setelah Bapak pulang dan dia hendak pulang ke kota M karena kerjaannya sudah selesai." kata bu kost.


"Kalau boleh tahu, ciri-cirinya orangnya bagaimana ya?" tanya Leo, masih penasaran.


"Orangnya cantik, putih, rambut lurus sebahu dan langsing." Bu kost menyebutkan ciri-cirinya Zita.


"Ciri-cirinya sama tapi namanya beda, mungkin kebetulan saja. Terima kasih, Bu. Saya permisi dulu." kata Leo lalu meninggalkan kostan tersebut.


"Itu pasti Zita. Aku yakin kalau itu pasti Zita tapi dia pindah kemana ya?" tanya Leo di dalam hatinya.

__ADS_1


Leo mengambil ponselnya lalu menelepon Nita. "Halo Nita. Ternyata Zita udah keluar dari kostan itu dan aku nggak tahu dia menginap dimana, kita harus lebih berhati-hati." kata Leo di ujung ponselnya.


"Baiklah. Aku masih di kantor dan sebentar lagi akan ke rumah sakit. Coba kamu telepon Kevin agar dia menjaga Kayla lebih berhati-hati lagi."


"Iya, aku akan menelepon Kevin." kata Leo kemudian mengakhiri percakapannya.


Leo ingin menelepon Kevin tetapi tiba-tiba ponsel Leo berbunyi dan yang menelepon papa Zita. Leo menjawab teleponnya.


"Halo Om. Apakah sudah ada di bandara? Oh, baik Om. Saya segera ke sana, sekitar 30 menit lagi saya tiba di bandara. Ok Om." Leo kembali menelepon Nita.


"Halo Nita, aku langsung ke bandara ya karena orang tua Zita sudah tiba di bandara. Aku pinjam mobilmu untuk menjemput mereka ya."


"Baiklah. Hati-hati di jalan."


"Terima kasih, Nita. Nanti aku langsung mengantar orang tua Zita ke hotel yang ada di seberang rumah sakit A ya biar mereka menginap di sana aja." kata Leo.


"Iya, Leo. Hati-hati di jalan." kata Nita.


Leo masuk ke dalam rumah Nita dan memanggil pak Udin.


"Pak Udin. Ayo, kita berangkat." kata Leo.


"Baik, Pak." kata pak Udin lalu menuju ke mobil dan Leo mengikuti pak Udin.


"Pak, kita langsung ke bandara ya." kata Leo.


"Baik, Pak." kata pak Udin sambil menganggukkan kepalanya.


*****


Akhirnya, mereka tiba di bandara dan Leo menunggu dan mengambil ponselnya lalu menelepon papa Zita.


"Halo Om. Saya udah ada di bandara, Om ada di mananya?" tanya Leo.


"Saya ada di depan pintu keluar." kata papa Zita sambil mencari Leo. Akhirnya, papa Zita melihat Leo dan menghampirinya.


"Leo..." kata papa Zita sambil menepuk pundak Leo dari belakang Leo.


Leo berbalik dan melihat orang tua Zita.


"Om... Tante..." sapa Leo sambil menjabat tangan kedua orang tua Zita.


"Mari Om, Tante. Langsung saya antar ke hotel ya biar Om dan Tante beristirahat dulu." kata Leo.

__ADS_1


Mereka menuju mobil dan pergi ke arah hotel yang ada di seberang rumah sakit A.


*****


__ADS_2