Cinta Pertama Sang Mafia Psycopath

Cinta Pertama Sang Mafia Psycopath
Draft


__ADS_3

("Hallo Kak." Panggil Putri).


("Hallo, hari ini sibuk?" Tanya Leo).


("Lumayan Kak, ada apa Kak?" Tanya Putri)


("Hari ini Kakak ada meeting di Hotel Pusing Kepalaku, sebenarnya Kakak malas karena sekretaris klien Kakak orangnya sangat centil." Jawab Leo menjelaskan).


("Kenapa malas Kak? Bukannya bikin semangat kerja kalau sekretaris kliennya centil?" Tanya Putri dengan suara menggoda).


("Kalau kamu yang centil Kakak tidak masalah tapi kalau gadis lain baru Kakak tidak suka dan bikin malas." Jawab Leo jujur).


("Ih ogah." Ucap Putri).


("Makanya kamu bisa kan Put, temani Kakak meeting?" Tanya Leo penuh harap).


("Jam berapa?" Tanya Putri).


("Sebentar lagi meeting nya." Jawab Leo).


("Maaf Kak, aku tidak bisa karena setengah jam lagi aku juga ada meeting dengan Perusahaan Lu Qian Kemana Aja di hotel Pusing Kepalaku." Jawab Putri).


("Kebenaran sekali kita meeting di hotel yang sama kalau begitu Kakak akan menjemputmu." Ucap Leo penuh semangat).


("Baik Kak, tapi Kak boleh tidak ..." Ucap Putri menggantungkan kalimatnya).


("Boleh apa Put?" Tanya Leo penasaran).

__ADS_1


("Aku paling malas dengan pemilik perusahaan Perusahaan Lu Qian Kemana Aja jadi aku minta tolong sama Kak Leo pura-pura menjadi kekasihku, Kak Leo mau tidak? Kalau Kak Leo tidak mau aku akan minta tolong orang untuk pura - pura mengaku sebagai pa ..." Ucapan Putri terpotong oleh Leo).


("Kakak tentu saja mau, beneran apalagi lebih mau lagi." Jawab Leo sambil tersenyum bahagia).


("Aku akan pertimbangkan.' Ucap Putri dengan wajah merah merona).


("Ok tungguin Kakak." Ucap Leo).


("Baik Kak, tapi sekretaris ku juga ikut ya." Ucap Putri).


("Ok." Jawab Leo singkat).


("Hati-hati." Ucap Putri).


("Terima kasih." Jawab Leo sambil tersenyum bahagia karena Putri perhatian).


Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak oleh Putri kemudian Putri mencium ponselnya lalu memeluk ponselnya sambil tersenyum bahagia.


Di tempat yang berbeda tepatnya di perusahaan milik Lemos yang di kelola oleh Leo. Setelah selesai menghubungi Putri, Leo mencium ponselnya kemudian memeluk ponselnya sambil tersenyum bahagia bersamaan pintu ruangannya terbuka.


Lemos membuka pintu ruangan putranya dan matanya langsung membulat sempurna melihat kelakuan putra sulungnya.


"Kamu kenapa Leo?" Tanya Lemos.


"Tidak ada apa Dad, ada apa Dad?" Tanya Leo.


Leo yang awalnya tersenyum bahagia langsung wajahnya berubah menjadi datar dan nadanya dingin berbeda dirinya berbicara dengan Putri.

__ADS_1


Sifat Leo mengikuti sifat Lemos karena Lemos di depan istrinya dirinya sangat manis dan sangat romantis tapi dengan orang lain suaranya dingin dan berwajah datar.


"Oh ya Dad, hari ini Leo mau meeting di hotel Pusing Kepalaku." Ucap Leo sambil merapikan dokumen.


"Bukannya kamu tidak mau datang?" Tanya Lemos dengan wajah bingung.


"Mau Dad." Jawab Leo sambil turun dari kursi kebesarannya.


"Daddy sudah suruh sekretaris mu untuk pergi." Jawab Lemos.


"Sudah berangkat Dad?" Tanya Leo sambil berjalan ke arah Lemos.


"Sepertinya belum, kenapa?" Tanya Lemos penasaran.


"Kalau begitu Leo berangkat sama sekretaris Leo." Jawab Leo sambil mengecup punggung tangan Lemos.


"Hati-hati di jalan." Ucap Lemos.


"Baik Dad." Jawab Leo kemudian berjalan ke arah pintu.


"Pasti karena ada Putri." Ucap Lemos asal tebak.


"Tebakan Daddy benar, kebetulan Putri juga ada meeting di hotel Pusing Kepalaku jadi Leo mau menjemput Putri." Jawab Leo sambil membuka pintu ruangannya.


Lemos hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat putra kesayangannya yang semakin bertumbuh dewasa.


"Semoga saja putraku bisa memperjuangkan untuk mendapatkan Putri." Ucap Lemos penuh harap karena dirinya setuju jika Leo menikah dengan Putri.

__ADS_1


__ADS_2