
Sekilas kehidupan Mikha dan Leo kecil.
Duduk dibangku sekolah dasar, adalah neraka bagi Mikha. Pengalaman nya saat duduk disekolah berseragam merah putih itu tidak seperti pengalaman anak anak pada umumnya, ceria, penuh canda dan tidak ada beban.
Justru di sekolah dasar itulah, awal dari penyiksaan yang diterima Mikha dalam hidup nya.
Tidak ada teman sesama jenis, yang mau berteman dengan nya atau hanya sekedar duduk bersama dalam satu meja.
Setiap kali Mikha diberi tugas berkelompok, tidak ada satu orang pun yang mau menerima Mikha menjadi salah satu anggota. Mikha benar benar "sendiri" dalam keramaian. Namun, kecintaan nya pada segala hal yang berkaitan dengan menuntut ilmu membuat Mikha menepis semua perlakuan buruk teman teman nya tersebut.
Setiap hari, Mikha tetap bersemangat sekolah, meski pada akhirnya, disekolah pun ia tidak bisa belajar dengan baik, karena selalu menjadi bahan utama pembullyan teman teman nya.
Alasannya, hanya karena Mikha berasal dari keluarga broken home . Mikha dianggap menular kan mental kurang baik kepada anak anak yang lain, yang rata rata memiliki keluarga harmonis, dengan ayah dan ibu akan memeluk dan menyambut setiap kali pulang sekolah.
"Heh, kamu. Dilarang masuk perpustakaan ini ya, perpustakaan ini hanya untuk kita kita yang punya ayah ibu lengkap. Kamukan anak nggak jelas. Mana ibu kamu, mana ayah kamu. Kamu cuma punya adik yang cengeng yang taunya bikin rusuh kelas saja...!!"
Sembari mengucapkan kalimat tersebut, teman sekelas Mikha mendorong keras Mikha keluar menjauh dari pintu perpustakaan.
Tidak hanya satu orang. Ada tiga sampai 4 orang yang serempak melakukan tindakan itu pada Mikha. Tidak hanya mendorong, juga menendang. Bahkan mengotori baju seragam Mikha, dengan jajanan yang mereka makan. Hingga seragam satu satunya, yang dimiliki Mikha kotor tidak berbentuk.
Untuk menghindari teguran guru, karena seragam nya kotor, Mikha berniat ke toilet untuk sekedar membersihkan. Baru saja ia masuk kedalam toilet, tiba tiba bunyi pintu ditarik paksa terdengar dengan berisik nya. Mikha dikurung didalam toilet. Betapapun Mikha berteriak meminta tolong, agar mereka semua menghentikan itu. Tetap saja tidak ada yang peduli. Mikha ditinggalkan begitu saja didalam toilet yang mereka kunci dari luar.
Sampai jam pelajaran habis. Sampai sore hari menjelang. Hingga penjaga sekolah menemukan Mikha yang terus berusaha berteriak minta tolong, dan lalu mengeluarkan Mikha dari toilet. Sang penjaga sekolah melontarkan pertanyaan pada Mikha, siapa yang membuatnya menjadi seperti itu. Terkunci dari luar, hingga tidak bisa mengikuti pelajaran.
__ADS_1
Namun, Mikha membisu. Tidak berani mengucapkan apapun, apalagi menyebutkan nama, karena jika itu ia lakukan, besoknya kejadian yang lebih parah akan terjadi menimpa nya. Bisa jadi mereka merobek semua buku yang dimiliki Mikha, membuang bangku nya, bahkan membuat vitnah agar ia dihukum oleh guru.
Mereka terlalu banyak. Rata rata wanita. Sedang anak anak pria...? Memilih masa bodoh, tidak mau ambil pusing dengan masalah tersebut. Entah karena disogok, atau karena memang kalah debat dengan persekutuan wanita yang membully Mikha.
Tidak jarang pula, kebencian teman teman sekelas Mikha juga dilampiaskan kepada adik semata wayang Mikha yang masih duduk di bangku kelas 1 SD. Jika itu terjadi, biasanya Mikha bisa marah. Meskipun kemarahan nya tidak mengubah apapun, namun setidaknya Mikha bisa memberikan perlindungan semampunya pada sang adik. Hingga sang adik merasa mendapat perhatian dari sang kakak, ketika perhatian itu tidak lagi mereka dapatkan, ketika ayah dan ibu mereka sibuk dengan pertengkaran mereka sendiri sendiri, lalu pergi dari rumah entah kemana, tanpa menghiraukan dua anak mereka yang masih sangat butuh bimbingan mereka selaku orang tua.
Dirumah, Mikha menemukan Leo, sang adik yang menangis sesenggukan diteras rumah. Tidak bisa masuk kedalam rumah, karena kunci ada pada Mikha. Biasanya mereka akan pulang sekolah bersama. Sang adik yang biasanya pulang lebih dulu rela menunggu sang kakak, hingga Mikha selesai jam mata pelajaran terakhir. Dengan menghabiskan waktu, bermain di lapangan.
Namun hari ini, begitu lama Leo menanti, tapi Mikha tidak terlihat keluar dari pintu kelas, saat semua teman sekelas Mikha sudah berebutan keluar dari kelas tersebut.
Leo mencoba bertanya pada salah satu teman sekelas kakaknya. Mereka menjawab, bahwa Mikha sudah pulang lebih dulu tanpa menunggu sang adik, ini yang membuat Leo sangat ketakutan, pulang sendiri dengan jarak sekolah yang tidak bisa dikatakan dekat. Jika rata rata teman teman sekolah mereka pulang dengan naik sepeda, atau dijemput orang tua. Mikha dan Leo justru hanya berjalan kaki setiap harinya pulang pergi sekolah. Namun, itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap sekolah. Tapi Leo akan merasa ketakutan juga jika harus pulang sendiri seperti tadi. Ditambah setelah sampai rumah, sang kakak justru tidak ada. Hingga akhirnya, Leo hanya bisa menangis menunggu dan berharap sang kakak kembali, karena tidak tahu harus mencari sang kakak dimana.
Melihat sang kakak pulang. Leo segera menyonsong sang kakak dengan bibir maju satu senti.
"Kakak kemana aja..? Kenapa baju kakak sekotor itu...? Kakak habis main kerumah teman ya abis pulang sekolah, kok jahat nggak ajak ajak aku kak...!"
"Kakak nggak main kok, kakak dapat tugas tambahan dari guru terus karena tugasnya banyak jadi kotor semua kaya gini, maaf ya. Ayo masuk...!"
Wajah kesal Leo perlahan memudar mendengar penjelasan sang kakak. Senyum terukir di bibir nya yang masih basah kena airmata nya tadi.
"Lain kali kakak ngomong sama aku ya, biar aku nggak bingung cari kakak..!"
Mikha hanya mengiyakan. Padahal dia bingung bagaimana caranya ia besok sekolah karena seragam nya sekotor ini. Dicuci sekarang pun belum tentu akan kering.
__ADS_1
Mungkin, terpaksa besok pakai seragam basah daripada nggak sekolah...
Mikha membathin sembari membuka pintu rumah. Leo segera masuk melepas sepatunya, dan menaruhnya di rak sepatu setelah itu melangkah menuju dapur, mencari makanan, namun nihil, siapa yang menyediakan makanan dirumah...? Rumahnya kosong. Seandainya ada ibunya seperti dulu, pulang sekolah, semua sudah tersedia. Namun sekarang, itu hanya sebuah harapan yang semu bagi keduanya. Sudah 3 bulan berlalu, tidak ada tanda tanda orang tuanya kembali. Biasanya, setelah bertengkar, lalu pergi, seminggu kemudian mereka pasti kembali. Akur sebentar, tapi kemudian ricuh lagi. Seolah olah, hasil dari pertengkaran mereka, tidak dijadikan sebuah pelajaran agar kesalahan yang sama tidak terulang. Itu membuat Mikha dan Leo lelah.
"Kak, lapar...!"
Rengek Leo sambil memegangi perut nya.
"Ia, nanti kakak buatkan mie goreng ya, kamu mandi dulu ganti baju..!"
Leo semringah lagi. Bayangan sepiring mie goreng menggugah selera nya. sudah tidak sabar. Namun kemudian ia teringat sesuatu...
"Kak, besok bayar SPP guru udah nagih terus tuh, aku takut kena hukum lagi kak..!"
"Ia, nanti kakak kasih uangnya ya buat bayar SPP, yang penting kamu belajar yang rajin...!"
Senyum Leo terukir, segera ia berlari menuju kamar mandi. Sembari bernyanyi nyanyi kecil.
Bocah itu tidak menyadari, sang kakak menyandarkan tubuhnya didinding rumahnya, mencoba berfikir mencari cara, bagaimana caranya ia bisa mencari uang untuk diberikan nya kepada sang adik....?
Note: Jangan lemah. Meski faktanya kita lemah. Karena jika kita merasa lemah, maka seterusnya kita akan terus menjadi lemah.
👉Jangan lupa like, vote, komen mendukung, rate 5 jika suka ya ❤️
__ADS_1
👉Novel kedua saya disini, setelah SANG PELAKOR, semoga bisa menghibur.
bersambung