CINTA SANG PEMUJA

CINTA SANG PEMUJA
BAB 21. SIAPA KAMU...?


__ADS_3

Apa yang diucapkan oleh Kalisha dan Rida, tentang Kei, mau tidak mau mengganggu fikiran Mikha. Jika awalnya, saat membahas pria itu dengan Leo, tidak ada perasaan beban sama sekali, bahkan terasa mengasyikkan, karena kepribadian Kei, yang hangat dan bijak, kini perasaan itu ternodai rasa was was. Bagaimana jika Kei, memang anak orang kaya..?


"Kakak ini aneh...! Kalau cewek biasanya seneng, bisa kenal dan dekat sama pria tajir, kakak malah sebaliknya, was was terus mau menjauh, kenapa sih kak..? Nggak semua pria tajir itu jahat lho, mereka juga ada yang baik kok, percaya deh ama aku..!"


Leo, melancarkan aksi protes ketika suatu malam, Mikha membahas tentang Kei dengan nya. Dan kakaknya ini, mengutarakan rasa was wasnya karena ucapan Rida dan Kalisha membuatnya terganggu.


"Aku nggak mau berurusan dengan orang kaya Leo. Orang kaya itu ribet, aku takut hidup kita yang udah tenang ini jadi terganggu karena status sosial kita beda dengan dia, terus...!"


"Kakak sendiri yang bilang sama aku, kita itu harus berteman dengan siapa aja, mau kaya kek, miskin kek, yang penting hatinya baik. Kei, itu baik lho, dia sopan, nggak kurang ajar sama kakak, dan dia bisa support hobi kita itu yang penting, susah lho kak, cari teman kayak gitu. Kebanyakan, deket ada maunya aja...!"


Leo,masih bersikukuh untuk menolak perasaan was was dari kakaknya. Menurut nya itu tidak beralasan. Karena pria bernama Kei, itu baik.


"Iya, aku tahu, tapi aku tetap takut Leo, belum tentu keluarga besar dia suka dia temanan sama kita,"


"Apa masalah nya...? Kita kan temenan sama anaknya, bukan keluarga nya, buat apa coba dipusingkan, emang kalo kakak nikah sama Kei, yang dinikahi itu keluarganya, tetap cuma Kei, kan...!"


Mikha melotot mendengar perumpamaan asal Leo. Selalu saja menjodohkan dia dengan Kei.


"Kamu itu ya, selalu aja gitu ngomong nya. Nggak enak, kalo didenger Kei, dan satu hal yang harus kamu ingat Leo, saat kita mencintai seseorang, kita juga harus mencintai keluarga nya, karena saat kita menikah dengan orang yang kita cintai, keluarga dia adalah keluarga kita juga..!"


Leo garuk garuk kepala, mendengar ucapan kakaknya. Sebenarnya, ia sependapat dengan kakaknya, akan tetapi, untuk menjauhi Kei, ia rasa itu bukan tindakan yang benar. Pria itu baik. Leo bisa merasakan aura pria itu baik baik saja. Tidak ada aura jahat sama sekali.


"Ya udahlah, kakak benar, tapi tetap aku nggak setuju, kalau kakak mau jaga jarak dengan Kei, apalagi cuma gara gara omongan dua cewek bar bar itu, kesel aku...!"


Leo bangkit dari duduknya, beranjak menuju dapur untuk mengambil air minum, rasanya berdebat dengan sang kakak, membuat tenggorokan nya kering. Ia butuh segelas air untuk membasahi tenggorokan nya. Sementara Mikha, ditinggal begitu saja oleh Leo, gadis itu hanya bisa terpekur ditempatnya.

__ADS_1


***


Mikha baru saja memasuki pekarangan rumah nya, saat pulang dari bekerja ketika melihat diteras ada Kei dan juga Leo. Mereka terlihat asyik dengan ponsel masing masing, dan yang membuat Mikha heran, ditangan Leo, ada juga ponsel. Jadi, mereka duduk dengan masing masing ponsel ditangan.


Melihat Mikha, Kei tersenyum.


"Kalian lagi pada ngapain..?"


Mikha memandangi wajah Kei dan Leo bergantian.


"Eh, kak sekarang ponsel ini buat aku lho, aku kredit sama Kei, jadi sekarang aku udah bisa main game serius nggak takut dikejar kejar waktu,"


Leo bercerita dengan wajah semringah. Mikha beralih menatap wajah Kei.


"Apa benar Kei, terus kamu pake apa...?"


"Kamu gampang bener beli ponsel baru, banyak duit amat, kayak harganya sama dengan permen aja..!"


Terpengaruh dengan rasa was wasnya belakangan ini, Mikha mengucapkan kalimat tersebut. Leo sadar situasi, ia pamit pada Kei untuk masuk kedalam. Membiarkan kakaknya berdua saja dengan Kei, diluar.


Sepeninggal Leo, Mikha duduk disamping Kei, meski tidak dengan jarak yang dekat. Namun bisa memudahkan mereka bicara dengan serius tanpa harus mengucapkan nya keras keras.


"Kei, sebenarnya, aku ngerasa nggak nyaman, karena Leo terlalu mendesak kamu soal ponsel, terus sekarang, kamu biarkan Leo kredit ponsel kamu, kamu taukan. Dia kerja jadi tukang cuci motor, penghasilan dia itu nggak banyak, aku khawatir, dia nggak bisa bayar cicilan itu...!"


Kei tersenyum, mendengar kata kata yang diucapkan oleh Mikha.

__ADS_1


"Aku paham kok, kekhawatiran kamu. Wajar, sebagai kakak, kamu berfikir begitu. Tapi, kamu nggak usah mengkhawatirkan itu, aku melakukan nya bukan tanpa pertimbangan, aku sudah mempertimbangkan nya, untuk masalah pekerjaan, Leo nanti aku rekomendasi kan ditempat kerja aku nanti, itu juga kalau kamu ngizinin, dibandingkan dia kerja di pencucian motor, energi dia terkuras, tapi dia justru nggak dapat hasil yang sesuai. Lebih baik ditempat kerja aku, jadi waiters, gimana...?"


Spontan mendengar ucapan Kei, Mikha berpaling dan menatap wajah Kei dengan tatapan serius. Jelas sekali, wajah gadis itu terlihat sangat kaget dengan ucapan yang baru saja diucapkan oleh Kei.


"Kerja ditempat kamu...? Dia itu baru 16 tahun, kurasa untuk bisa kerja disana ada ketentuan khususnya kan, terus kamu nggak ingat, dia nyaris aja digoda Rida dan Kalisha waktu itu, kalau dia kerja disitu, aku khawatir dia jadi terpengaruh hal hal yang buruk...!"


Kei menarik nafas panjang mendengar apa yang diucapkan oleh Mikha.


"Ada aku, aku bisa menjaga dia selama disana, dan aku rasa, Leo juga sudah pandai untuk menjaga diri, dia udah mulai dewasa, kamu harus memberikan dia kepercayaan, agar dia tumbuh jadi pria yang kuat...!"


Mikha terdiam, kata kata yang diucapkan oleh Kei itu memang benar. Leo sudah mulai dewasa, memang sudah seharusnya untuk bisa melalui kehidupan yang lebih keras lagi, agar adiknya itu bisa jauh lebih tangguh. Namun, tetap saja kekhawatiran itu ada. Karena bekerja di cafe memang rentan menghadapi godaan.


"Iya, kamu benar, sebenarnya aku berat untuk mengizinkan dia, tapi untuk melarang, kurasa itu juga bukan tindakan yang adil, karena kalau ada pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan nya sekarang, kenapa nggak di manfaat kan, yang penting dia siap mental itu aja...!"


"Aku yakin, adik kamu itu bisa jaga diri. Dia tipe orang yang tidak mudah untuk ditindas, biarkan dia dewasa dengan alami, agar dia tumbuh jadi pria yang bisa melindungi, orang yang dicintai nya..!"


"Makasih untuk itu, tapi Kei, aku boleh nanya satu hal nggak sama kamu. Kuharap, kamu jawab dengan jujur, sebenarnya kamu ini siapa..? Kamu bukan pengamen beneran kan..? Terus kenapa kamu nggak jujur dengan identitas kamu yang asli sama aku...?"


Wajah Kei berubah mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Mikha. Sebuah tanya yang tidak pernah ia perhitungkan sebelum nya. Kei bisa melihat, wajah Mikha menyimpan sesuatu yang membuat hatinya was was....


Note: Jujurlah dalam setiap situasi apapun, karena dengan bersikap jujur, kita melatih orang untuk bisa menerima kita apa adanya...


👉 Jangan lupa baca novel non-fiksi karya saya berjudul DOKTER ITU KAKAKKU & MAHKOTA DEWA di platform kuning NOV*LME ya update setiap hari juga.


👉 Dan jangan lupa untuk baca novel karya saya berjudul SANG PELAKOR yg ada dilapak ini juga,

__ADS_1


bersambung


__ADS_2