CINTA SANG PEMUJA

CINTA SANG PEMUJA
BAB 38. KEMARAHAN KALISHA.


__ADS_3

Mikha tidak bisa berkata apa apa lagi mendengar apa yang diucapkan oleh Kei. Hatinya terenyuh. Kei, paham dengan apa yang ia sembunyikan selama ini. Berusaha untuk bertahan dengan berada didalam zona nyamannya sendiri, agar apa yang pernah dialaminya dimasalalu tidak lagi berulang padanya sekarang dan dimasa depan. Namun sekarang, Kei, seolah menggoyahkan apa yang selama ini ditanamkannya dalam hati.


"Mikh, beri aku kesempatan dulu, agar aku bisa membuktikan, kalau ketakutan kamu itu, nggak beralasan. Mungkin, keluargaku berfikiran seperti itu, tapi nggak adil buatku, kamu menolakku karena takut menghadapi keluargaku!"


"Aku, nggak bisa Kei, tolong jangan paksa aku untuk mempertimbangkannya lagi, aku nggak bisa!"


Habis berkata begitu, Mikha melepaskan pelukan Kei dari tubuhnya secara paksa. Lalu, gadis itu beranjak melangkah meninggalkan Kei, yang hanya bisa menatapi kepergian gadis itu dengan tatapan mata penuh perasaan sedih.


Mikha, aku tahu, kau menolakku bukan karena kamu nggak mencintai ku, tapi karena Kalisha yang mengancammu, aku nggak akan berhenti sampai disini saja. Aku, akan membuktikan, bahwa aku benar benar mencintai kamu Mikha...


Kei, bicara seperti itu didalam hati, sembari ikut beranjak dari tempat itu.


Kei, tidak pulang menuju kostnya, pria itu ingin menemui Kalisha, karena ia yakin, gadis itu punya andil membuat Mikha tidak mau menerima cinta darinya.


"Aduh, kok nggak ngomong mau kerumahku sih tau gitu kan, aku bakal persiapkan diri dulu, yuk masuk!"


Kalisha, merasa surprise melihat Kei berdiri diambang pintu rumahnya. Wajah gadis berambut pirang itu semringah. Dipersilahkan nya Kei, untuk masuk kedalam rumahnya, namun Kei seketika menolak.


"Nggak perlu. Aku cuma sebentar aja disini, cuma mau ngomong, apa yang kamu katakan pada Mikha, hingga Mikha menolakku?"


Kalisha tertawa kecil, mendengar apa yang diucapkan oleh Kei.


"Ouh, jadi bener, dia nolak kamu?"


"Apa maksud kamu?"


"Kei, aku nggak ngomong apa apa untuk membuat dia menolak kamu. Aku cuma ngasi dia pilihan, menerima kamu, atau meraih impian dia, dan ternyata, dia memilih untuk meraih impian dia!"


"Jangan berbelit-belit, ngomong aja apa adanya!"


Kei, semakin tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Kalisha.

__ADS_1


"Jadi gini, kebetulan gue kenal editor yang kerja disebuah perusahaan penerbitan besar, editor itu ngeliat tulisan Mikha diplatform online. Dia minta aku untuk ngebawa Mikha supaya dia bisa ketemu Mikha. Tapi, aku juga memberikan dia pilihan kok. Menerima kamu, tapi, aku nggak akan membawa dia ketemu dengan editor itu, atau menemui editor itu asal dia menolak kamu, cuma itu kok, jadi aku nggak bisa kamu anggap mengancam dia dong? Aku ngasi dia pilihan dan dia sudah memilih, dari sana, kamu harusnya bisa berfikir, wanita seperti apa Mikha itu, dia, lebih mementingkan impiannya ketimbang perasaan seseorang yang mencintainya!"


"Cukup, Kalisha jangan mengada ada, kamu sengaja membawa bawa editor segala untuk membuat Mikha mantap menolakku. Kamu, nggak pernah benar benar ingin membantu dia kan? Yang ada, kamu itu iri sama dia!"


"Jangan sembarangan kamu Kei, kamu pikir aku becanda mau ngenalin Mikha sama editor? Kamu lihat aja nanti. Mikha memang memilih mengejar impiannya daripada mempertimbangkan perasaan kamu itu. Mikha itu ambisius. Kamu cuma ketipu muka alim dia!"


Kei, tidak mau merespon ucapan Kalisha lagi. Pria itu membalikkan tubuhnya, dan segera berlalu dari hadapan Kalisha. Ditinggal begitu saja oleh Kei. Kalisha sangat kesal. Gadis itu berteriak memanggil nama Kei, berulang kali, namun, Kei tidak perduli. Pemuda itu membawa langkahnya meninggalkan rumah Kalisha, tanpa menoleh lagi.


Mendapat perlakuan seperti itu dari Kei, Kalisha segera mengeluarkan ponselnya. Gadis itu segera menghubungi Prabu Wijaya, editor yang ingin bertemu dengan Mikha. Kalisha meminta mereka bertemu empat mata. Karena Kalisha punya perubahan dalam rencana nya.


***


"Kenapa lama sekali, Mas tahu nggak, aku udah nunggu lama disini!"


Kalisha, melontarkan aksi protes kepada pria yang baru saja datang menghampiri meja dimana Kalisha sudah duduk disalah satu kursinya.


"Maaf, tadi harus rapat dulu, banyak kerjaan dikantor jadi tidak bisa langsung kesini untuk ketemu sama kamu, mana author yang aku maksud?"


"Yang bilang mau bawa sekalian authornya itu siapa? Aku nggak ngomong gitu ya, aku bilang, aku cuma mau ketemu sama Mas Prabu!"


Pria berusia sekitar 30 tahunan itu menghela nafas panjang.


"Oke, jadi apa yang akan kita bahas sekarang?"


"Mikha itu punya banyak stok cerita yang ia buat berbagai genre, kalau Mas Prabu nggak keberatan dengan aturan mainnya, besok malam Minggu, aku bawa Mikha untuk bertemu dengan Mas, tapi syaratnya, Mas harus bisa mengikuti apa yang aku rencanakan!"


"Ini sulit, Kalisha. Karirku bisa jadi taruhannya, kenapa kamu harus merubah rencana sederhana jadi rumit seperti ini? Kenapa tidak memakai rencana awal yang tidak punya resiko sama sekali?"


"Kalau Mas Prabu keberatan, ya udah, aku juga nggak mau. Anggap aja, kita nggak pernah punya kesepakatan sama sekali!"


Kalisha mulai mengancam.

__ADS_1


"No, jangan! Aku tertarik dengan gaya penulisan dia, aku sekarang dikejar deadline, jadi aku mohon tolong bawa aku ketemu dengan dia, aku sudah menghubungi nya lewat chat diplatform tempat dimana ia menulis, tapi, dia tidak merespon, aku harus bertemu dengan dia. Tolong Kalisha, jangan batalkan kerja sama kita!"


Kalisha tersenyum penuh kemenangan, melihat betapa wajah Prabu Wijaya dihadapannya seperti anak kecil yang memohon untuk dibelikan sebuah mainan.


Jika sudah begitu, Kalisha puas sekali, karena ia bisa mempermainkan orang itu hingga ia habis.


"Baiklah. Asalkan Mas Prabu mengikuti apa yang aku rencanakan, aku jamin, nanti author incaran Mas Prabu itu aku bawa kehadapan Mas Prabu!"


"Baiklah. Aku akan mendengarkan mu, aku akan mengikutinya, asalkan kau berani menjamin, Mikha bisa datang untuk bicara denganku!"


"Begitu dong, baru seru. Ohya, Mas Prabu juga sedang jomblo kan? Kebetulan, dia itu juga suka dengan pria yang rada rada berani menggoda begitu, jadi kalau kalian sudah berada ditempat yang ditentukan, coba aja. Dia, pasti tidak akan membuat Mas Prabu kecewa!"


"Begitukah? Aku melihat setiap tulisannya, begitu lihai menyajikan adegan romantis. Aku pernah berkhayal, bisa menjadi tokoh dalam adegan itu bersamanya. Tadinya kupikir, aku tidak punya kesempatan, karena kurasa dia sudah punya pacar mungkin, tapi ternyata, aku masih punya harapan!"


"Yah, pergunakan kesempatan Mas Prabu sebaik mungkin. Kalau tidak, Mas Prabu sendiri, yang akan menyesal tidak menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin!"


Prabu Wijaya tersenyum penuh arti. Rasanya, ia semakin tidak sabar saja menunggu saat itu tiba. Saat dimana, ia bisa bertemu dengan Mikha. Penulis satu itu benar benar sudah membuat Prabu Wijaya tidak sabar untuk bisa berkenalan langsung, karena ada yang ingin ia buktikan dari apa yang ia kira selama ini tentang Mikha!


Note: Marah itu manusiawi, tapi akan jadi tidak manusiawi jika kemarahan itu tidak dikontrol, hingga merugikan orang lain bahkan diri sendiri.


πŸ‘‰Jangan lupa untuk like, vote, rate 5 komen mendukung jika suka ya πŸ’—


πŸ‘‰ Baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul SANG PELAKOR


πŸ‘‰ Dan 3 karya saya diaplikasi kuning NOV*LME berjudul:


- MAHKOTA DEWA: Fantasi


-FACE: roman fiksi


- DOKTER ITU KAKAKKU: NON-FIKSI

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2