CINTA SANG PEMUJA

CINTA SANG PEMUJA
BAB 8. SAMPAH..!


__ADS_3

Mikha sudah dari tadi berdiri didepan rumah Rida. Mengetuk pintu rumah itu berulang kali, hingga kemudian akhir nya pintu itu terbuka, dan muncul sosok Rida dengan penampilan santainya dihadapan Mikha.


Melihat Mikha, kening Rida berkerut, Mikha tidak pernah datang berkunjung kerumahnya, mereka hanya bertemu di tempat kerja saja, kenapa gadis ini bisa sampai kemari...? Begitu pikir, Rida.


Ia mempersilakan Mikha masuk. Mereka pun duduk berhadapan di ruang tamu tersebut.


"Ada apa Mik, tumben kesini...?"


Rida membuka suara, karena dari tadi Mikha hanya diam meski pun sudah duduk sesuai perintah nya.


"Anterin aku ketemu temen kamu dong, Kalisha..!"


Sahut Mikha to the point.


"Nggak bisa, dia jam segini mah sibuk dengan aktivitas nya, emang kenapa..?"


Mikha sebenarnya sangat emosi jika ingin membahas ini, namun ia berusaha untuk meredam emosi nya.


"Temen kamu itu, pencuri..!"


"Apa, gue pencuri...?"


Mikha dan Rida sama sama menoleh keasal suara. Diarah dalam, muncul sosok Kalisha. Mikha makin menatap wajah Rida tajam, seolah ingin meminta penjelasan, kenapa tadi gadis itu tidak ingin mempertemukan dia dengan temannya itu, padahal temannya itu ada dirumah nya.


"Ya, Kalisha emang nginep disini, sementara, tadi itu dia lagi sibuk nge-game , biasanya dia malas diganggu..!"


Rida mencoba menjelaskan. Seakan tahu arti tatapan Mikha. Mikha menghembus nafas kesal.


Sementara Kalisha menghempas bokong nya keatas sofa, tidak jauh dari tempat duduk Mikha.


"Kayaknya, lu cari gue bener, kenapa...?"


Tanyanya pada Mikha.


"Kenapa kamu mau lihat karya ku..?"

__ADS_1


Mikha bertanya dengan tatapan mata serius.


"Kan, udah gue bilang pengen tau cerita lu, masa nanya lagi...?"


"Bohong...! Kamu mencuri nya kan, kamu ambil karya aku, dan kamu kirim ke majalah,"


"Hei, kalo nuduh nggak ada bukti itu namanya vitnah lho...!"


Kalisha seperti nya tidak terpancing dengan emosi Mikha yang seperti nya sudah sampai keubun ubun.


"Karya lu yang mana Mikh, Kalisha ini pinter buat cerita lho, mana mungkin dia jiplak karya lu..!"


Kini, Rida yang bicara. Dan Mikha semakin kesal dibuatnya. Dua orang gadis ini mengingat kan Mikha, pada teman teman kecilnya. Yang selalu memvitnah, serta membullynya.


"Aku hapal dengan karyaku sendiri, dan aku tau detail apa yang aku tulis..!"


"Oh, itu. Aku cuma ngetes, karya lu itu layak muat kagak, emang gue ada ngirim karya lu kemajalah, kalo dimuat artinya lu berbakat dong..!"


"Niat kamu nggak semulia itu kan. Kamu nggak berniat ngetes, tapi emang mencurinya, nama kamu yang tercantum disana sebagai penulis, kalau emang kamu mau niat ngetes, namaku ada disana sebagai identitas kalau aku yang membuat nya...!"


"Berterima kasih...? Berterima kasih saat karya kita dicuri itu gimana maksud kamu...!"


Kalisha bangkit berdiri, ia menatap kearah Mikha dengan tatapan yang sangat menusuk.


"Mikh, lu ini sombong ya, baru membuat beberapa karya aja, lu khawatir banget orang mencuri, asal lu tau aja ya, karya karya lu itu nggak ada apa apanya dibandingkan karya buatan gue, karya lu itu mirip dengan sampah, percuma lu bercita cita jadi penulis, tulisan lu itu garing dan datar..!"


Mikha ikut bangkit dari tempat duduknya, lalu balas menatap wajah Kalisha tajam.


"Aku tahu. Karyaku itu mungkin nggak sebaik karya kamu. Tapi mereka bukan sampah, mereka aku tulis dengan kesungguhan hati, aku selalu sungguh sungguh saat menuliskan semuanya, jadi mereka bukan sampah. Yang sampah itu perbuatan kamu Kalisha. Kamu mencuri ide orang lain, lalu mengklaim ide itu milik kamu. Kurasa yang jadi sampah disini sudah jelas siapa...!!"


Wajah Kalisha merah mendengar ucapan Mikha. Ia melirik kearah Rida seolah mencari dukungan. Rida sadar situasi.


"Mikh, jaga ucapan lu, seperti yang dijelaskan Kalisha tadi, dia mau ngetes, dia nggak mungkin curi ide lu, dia punya banyak cerita, semua menarik, masa mau nyuri ide lu...!"


"Aku nggak percaya Rida, kalo emang Kalisha punya cerita, mana. Aku mau baca, aku juga mau tau kualitas tulisan dia, biar aku tahu letak salah ku dimana saat aku menulis cerita, karena selama ini, aku udah sering kirim tulisan, tapi aku nggak pernah lihat, tulisan aku ini dimuat, tapi kenapa saat Kalisha yang mengirimkan nya, cerita itu langsung dimuat, padahal cerita nya sama seperti yang aku buat...!"

__ADS_1


Kalisha tersenyum sinis mendengar ucapan Mikha.


"Itu artinya, tulisan lu kagak mencintai elo. Buktinya ditangan gue cerita lu bukan sampah, hanya ditangan lu aja, cerita itu jadi sampah, udahlah Mikh, nggak usah diperpanjang deh, gue bakal bagi royalti nya sama elo..!"


Sembari berkata demikian, Kalisha merogoh saku celana nya. Mengeluarkan dompetnya, lalu menarik beberapa lembar uang merah dari dalam dompet tersebut, lalu memberikan nya pada Mikha.


Mikha tidak bergeming. Memang, sekarang ia sangat butuh dengan yang namanya uang, namun tetap saja, menyadari karyanya dicuri, hati dan dada gadis itu terasa sesak.


Mikha tidak mau karyanya diakui orang lain, apapun alasannya. Ini bukan lagi masalah uang, tapi sebuah harga diri dan kecintaan nya pada sebuah karya.


"Ambil...!"


Kalisha memerintahkan Mikha untuk mengambil uang yang ia ulurkan. Namun Mikha menepisnya.


"Aku lebih suka kamu menghargai karya orang lain, Kalisha. Apapun alasannya, buatku tindakan kamu tetap tindakan seorang pencuri,"


"Gue bilang jangan geer, lu ngerasa karya lu ini layak untuk diplagiat..? Hanya karya yang wara wiri dimedia cetak, yang layak untuk diplagiat, paham...!"


Mikha mengepalkan kedua telapak tangan nya. Ingin sekali ia menyarangkan tinjunya ke wajah gadis itu. Namun, jika itu ia lakukan ia sama saja akan menambah masalah jika Kalisha membawa kasus itu kejalur hukum.


Akhirnya. Mikha pulang dengan langkah gontai. Rasanya sakit sekali. Sakit ketika ia sadar, karya yang ditulis nya dengan sepenuh hati, mejeng di salah satu halaman majalah, namun di akui oleh orang lain.


Rasanya, itu sangat membuat hati dan jiwanya tidak terima. Seburuk buruknya sebuah karya, buatnya tetap sebuah karya, ia tidak ingin ada orang lain, yang mengakui karya yang telah dibuat nya.


Kamu pencuri Kalisha, dan pencuri tidak layak menjadi seorang penulis...


Ucapan itu berulang kali diucapkan oleh Mikha didalam hati, hancur rasanya hatinya, tapi dibalik rasa hancur yang ia rasakan, terbersit satu pertanyaan dibenak Mikha, kenapa karyanya itu bisa masuk ke majalah...? Padahal ia pernah mengirim kan cerpen dengan judul dan cerita yang sama, namun gugur dan tidak dimuat sama sekali.


Cerita nya sama, tidak ada yang ditambahkan dan dikurangi. Tetap karyanya, tidak dipoles sedikitpun, oleh ide Kalisha, lantas dimana letak kesalahan nya....?


Note: Penulis sejati menulis dari dasar hati, dan selalu menciptakan tulisan yang orisinil, karena ia tahu, seorang plagiat tidak pantas disebut penulis, dan punya impian jadi seorang penulis..


👉 Jangan lupa like vote klik favo rate 5 jika suka ya 💖 baca juga novel nonfiksi karya saya berjudul SANG PELAKOR disini ya❤️


bersambung

__ADS_1


__ADS_2