CINTA SANG PEMUJA

CINTA SANG PEMUJA
BAB 3. JANGAN MIMPI..!


__ADS_3

"Giat amat lu kerja, sampai kagak mau rehat jam rehat, mau ngejar target jadi sultan...?"


Leo melirik sekilas mendengar ucapan sinis itu terlontar dari bibir teman satu kerjanya, di jasa pencucian motor ini. Jam istirahat makan siang, harusnya memang ia istirahat, namun kebetulan pelanggan terus berdatangan, jika teman temannya yang lain, tidak akan melayani pelanggan di jam istirahat, berbeda dengan Leo, ia selalu mengorbankan jam istirahat nya untuk tetap menerima pelanggan.


Bukan sok rajin, atau semacamnya. Leo hanya ingin bisa memiliki ponsel yang ia mau. Namun, untuk mengkredit ponsel, tentu saja Leo harus menyediakan uang yang lumayan banyak untuk kantong seukuran dirinya. Harga ponsel incaran Leo sangat mahal bagi Leo. Tapi, jika memiliki ponsel itu, Leo pasti leluasa untuk bermain game. Impian nya menjadi seorang gamers pasti akan terwujud jika ia punya ponsel yang ia inginkan.


"Siapa yang kagak mau jadi sultan.."


Sahut Leo, cuek. Temannya tertawa.


"Jangan ngimpi lu jadi sultan, mau nyuci motor berpuluh puluh motor pun, lu kagak akan bisa jadi sultan...!!"


Leo ingin sekali menyiram wajah temannya itu dengan seember air kotor, yang ada disebelah nya. Namun, jika itu ia lakukan, pekerjaan nya akan semakin terhambat. Tidak. Harus sabar. Ponsel incarannya lebih menggoda iman dibandingkan meladeni ocehan sampah mulut temannya itu.


Awas aja lu kalo ngutang duit kegue, kagak bakal gue kasi...


Gerutu Leo, sembari terus membersihkan motor dihadapan nya dengan penuh teliti, seolah olah ia sedang memandikan anak kecil yang benar benar harus teliti cara memandikan nya.


"Hei, lu ngincer barang apaan emang sampe forsir kerja begini...?"


Jody berbisik disamping Leo, dan Leo spontan menghentikan gerakannya yang sedang menyikat ban sepeda motor didepannya. Hilang satu pengganggu, yang lain muncul mengganggu.


"Ponsel..!!"


Sahut Leo singkat tanpa menoleh. Jody tertawa mendengar jawaban Leo.


"Kagak usah forsir nyuci motor, nyabung ayam aja dikampung sebelah, kalo menang dapat duit sejuta, lu punya ayam kagak..?"


Leo berpaling menatap kearah wajah Jody.


"Punya..!"


"Nah, ayo kita go..! Abis sini kita kekampung sebelah, ada sabung ayam malam ini seru, ntar duitnya kita bagi dua, kita pake ayam lu aja..!"

__ADS_1


Leo berpaling dan menatap wajah Jody sembari tersenyum penuh arti.


"Iya, ntar malam lu yang gue sabung, lu jadi ayamnya duitnya buat gue..!!"


"Kampret lu Leo..!!"


Leo tidak perduli, dengan kemarahan Jody, dilanjutkan nya pekerjaan nya yang sempat tertunda.


Sabung ayam. Mau mati gue digantung kak Mikha..


Leo menggerutu dalam hati.


***


"Nulis apaan lu Mik..?"


Mikha tergagap ketika tiba tiba saja, suara Rida teman satu kerjanya terdengar melontarkan ucapan seperti itu. Disembunyikan nya buku yang ia tulis sejak tadi. Tidak menulis apa apa, Mikha hanya melanjutkan cerita yang ia buat setiap kali ia istirahat. Itu cukup untuk membuat Mikha merasa lepas dari penat otak yang menderanya dari berbagai masalah hidup yang menderanya selama ini.


"Nggak lagi nulis apa apa kok,"


"Astaga, lu nulis cerita..?"


Mikha tidak bergeming dengan isi pertanyaan Rida. Bayangan kejadian beberapa tahun yang lalu saat teman kecilnya melihat tulisan tulisan yang ia buat, lalu serta merta merobek nya terbayang satu persatu dibenak Mikha. Hatinya kembali diselimuti was was. Sungguh, ia tidak rela buku milik nya dirobek seenaknya seperti kejadian yang sering ia terima beberapa tahun yang lalu.


Menghina dengan kalimat, mungkin bisa di tahan Mikha, untuk tidak marah. Tapi jika dirusak, Mikha sangat merasa terluka meskipun itu hanya buku tulis biasa dengan tulisan tangan nya yang juga tidak bisa dikatakan tulisan yang sangat bagus untuk dibaca. Tapi ia menulis dari hati.


"Lu pengen jadi penulis...?"


"Emang salah...?"


Mikha balik bertanya. Rida tertawa.


"Jangan ngimpi say, jadi penulis itu nggak semudah yang lu kira, lu bilang lu cuma lulusan SD, duh modal segitu sih nggak bakal bisa jadi penulis, penulis itu kudu cerdas, mereka main otak, kudu jenius, nggak cuma pinter nulis merangkai kata doang..!"

__ADS_1


Kata kata kesekian kalinya, yang diterima Mikha, yang kalau boleh jujur, cukup membuat rasa optimis nya luntur setiap kali mendengar nya. Mikha menggigit bibir.


"Iya, aku tahu. Aku melakukan ini karena suka, terus ada keinginan untuk jadi penulis nggak salah dong..!"


"Nggak salah sih. Mimpi itu milik semua orang, hanya aja, lu harus berhati hati dengan mimpi yang lu punya, jangan sampe ntar lu jatuh karna mimpi lu itu, sakit ntar yang ada, liat kenyataan aja deh say, orang miskin kayak kita ini. Bisa makan setiap hari dengan nasi dan lauk aja udah cukup lho..!"


Benar. Mikha sebenarnya setuju dengan ucapan temannya ini. Namun, apakah orang miskin, tidak boleh bermimpi...? Tidak pantas untuk bermimpi, atau memiliki impian..? Apakah mimpi itu hanya milik mereka yang kaya..? Yang bisa dengan mudah merealisasikan apa yang mereka inginkan dengan uang yang mereka punya..?


Jika memang seperti itu kenyataan nya, tentu itu tidak adil untuk Mikha. Namun wajar, wajar temannya punya pendapat seperti itu. Faktanya, Mikha tidak pernah berhasil merealisasikan apa yang selama ini dia impikan.


Tulisan tulisan yang ia kirim selalu ditolak. Padahal untuk mengetik tulisan tersebut, Mikha harus rela menyisihkan uang dari gajinya yang kecil untuk kewarnet. Belum lagi Mikha harus rela, mengambil jatah mengetik, di jam istirahat nya, karena jam kerja Mikha full, tidak seperti teman temannya yang punya sif, karena mereka bekerja berdasarkan dengan pendidikan yang mereka punya.


Sedang Mikha...? Untuk mendapatkan pekerjaan ini saja, ia mengandalkan orang dalam. Rida yang membantu nya, hingga ia bisa masuk diterima ditempat ini. Entah, memakai alasan apa, temannya itu bisa meyakinkan pemilik mini market untuk bisa menerima nya.


Padahal, yang ia tahu, syarat untuk bekerja ditempat mereka sekarang adalah wajib lulusan SMU, sedang Mikha..? Hanya bermodalkan ijazah SD. Hal yang mempersulit Mikha untuk mencari pekerjaan. Dan ia bersyukur, Rida bisa membuat ia diterima ditempat mereka sekarang, walau jam kerja dibedakan. Tidak memakai sif dan tidak mendapatkan uang lembur jika harus lembur.


"Iya, aku mengerti. Makasih untuk nasehat nya..!"


"Ya, hak lu sih, mau punya cita cita, tapi menurut gue, cita cita lu itu mustahil Mikh, gue punya temen, kuliahan, suka nulis juga, tapi nyata nya sampe sekarang, dia belum bisa meraih mimpinya itu, sampe depresi segala, lu mau kaya gitu, kan bikin runyam hidup sendiri..!"


"Depresi...?"


"Iya, karena orang orang terdekat nya bilang, hobi dia itu nggak ada gunanya, cuma buang waktu, nggak perlu untuk ditekuni, tapi temen gue tetep berusaha untuk meraih cita cita nya itu, tetep aja nggak kesampaian, ntar deh kapan kapan gue kenalin lu kedia, biar lu bisa kontrol keinginan lu itu, intinya kendalikan mimpi lu, karena terjatuh saat bermimpi itu sakit..!"


Habis berkata begitu, Rida bangkit. Ia meninggal kan Mikha yang hanya termangu mendengar ocehan nya.


"Aku sudah nggak ngerti lagi rasa sakit itu seperti apa Rida...!"


Mikha menggumam seorang diri..


Note: bermimpi lah, karena hidup berawal dari mimpi, namun imbangi mimpi dengan usaha yang keras serta berdoa, insya Allah Tuhan akan menunjukkan kuasa- Nya


👉 Jangan lupa like, vote, klik favo, dan rate 5 jika suka ya❤️ dan jangan lupa baca juga novel nonfiksi karya saya berjudul SANG PELAKOR klik profil saya untuk cek karya saya❤️

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2