CINTA SANG PEMUJA

CINTA SANG PEMUJA
BAB 29. APA RENCANA MU..?


__ADS_3

"Kak, salam kenal aku penulis novel diplatform yang sama dengan kakak. Bisa saling share nggak kak..


Suatu hari, Mikha menerima chat seperti itu, diakun dimana ia menulis. Ia tahu, orang yang sedang mengiriminya chat itu adalah penulis juga, sama seperti dirinya.


"Iya, salam kenal ya.."


Mikha mengetik balasan.


"Aku kadang bingung kak, mau gimana nentuin jalan cerita, aku liat komen pembacaku pengennya tokohku begini yang itu pengen begitu, aku seneng sih mereka begitu, tapi disatu sisi aku juga bingung mau gimana, kalau aku nurutin kehendak mereka, aku jadi nulis diluar jalur kerangka yang aku buat, tapi kalau aku nggak nurutin mereka, rasanya aku takut mereka nggak mau baca ceritaku, aku bingung, menurut kakak, aku harus gimana...?"


Mikha membaca balasan chat itu lagi.


"Turuti kata hati kamu, kamu enaknya nulis gimana, sebagai penulis, emang kita harus berusaha untuk membuat orang yang membaca cerita kita itu senang, tapi jangan lupa, kita juga jangan sampai kehilangan jati diri, menulis itu perlu feel, kalau kita nulis nggak nemu feel-nya, kita sulit untuk menjiwai tulisan yang kita buat...!"


Mikha membalas curhatan salah satu penulis itu segera.


"Tapi mereka ngancem nggak mau baca karyaku lagi kak, kan aku sedih, cari pembaca itu sulit, kalau aku nggak nurutin kemauan mereka, aku bakal kehilangan mereka sebagai pembaca setiaku..!"


Hal yang sama sebenarnya, pernah dialami Mikha, hanya saja, Mikha tipe orang yang jika sudah menulis tidak akan mudah dicampuri oleh otak orang lain, dalam setiap tulisan yang ia buat. Karena tulisan itu sudah dirancang dari awal hingga akhir, jadi semua sudah terkonsep rapi diotaknya tidak bisa ada orang lain yang bisa ikut campur, apalagi cerita yang dibuat Mikha kebanyakan cerita nyata, tentu saja tidak ada satu orang pun yang bisa merubah rubah alur cerita. Namun, Mikha yakin, pembaca setia tidak akan mengatur jalan cerita, karena tugas pembaca adalah menikmati bacaan dan bisa mengkritik jika tulisan tersebut dinilai kurang sreg dibaca, tapi tidak mengatur jalan cerita.


Mikha tidak mempan diancam hal hal seperti itu, karena baginya, penting buatnya untuk menulis berdasarkan hati agar ruh dalam tulisan yang ia buat ia dapatkan, dan tentu saja pembaca tidak akan paham tentang hal itu, sementara seorang penulis selalu paham perasaan pembaca, karena penulis yang baik, berasal dari pembaca yang baik pula. Itulah perbedaan antara pembaca dan penulis..


"Jangan takut, kalau mereka pergi setelah kamu bersikeras untuk menulis sesuai hati kamu, artinya mereka bukan pembaca setia kamu, jangan sampai, tulisan yang kamu buat seolah memukuli otak kamu sendiri, karena kamu terpaksa menuliskan nya ..!"


Hanya itu yang bisa diucapkan Mikha merespon keluhan sesama penulis diplatform dimana ia sedang menulis online. Ah, memang, banyak hal yang terkadang orang tidak tahu tentang hal itu, tapi langsung menyimpulkan.

__ADS_1


"Kei, sejak kapan kamu ada disitu...?"


Terlalu asyik merespon curhat teman sesama penulisnya, Mikha sampai tidak sadar, ada Kei, yang sudah duduk disampingnya. Bau parfum pria itu yang membuat perhatian Mikha teralih kan. Kei tersenyum.


"Dari tadi, cuma aku lihat, kamu sibuk ngetik, jadi aku diem aja, nggak mau ganggu konsentrasi kamu...!"


"Maaf ya, aku jadi nggak sadar...!"


Mikha meletakan ponsel itu disampingnya, karena rasanya tidak sopan ada seseorang disamping, lalu ia sibuk dengan ponselnya.


"Nggak papa, aku baca terus kok novel online kamu, keren lho, bisa update terus tiap hari, padahal kamu sibuk gini...!"


Wajah Mikha bersemu, mendengar ucapan Kei. Entah kenapa, ia selalu malu, jika ada orang terang terangan mengatakan hal itu dihadapannya, malu tapi bahagia juga.


"Tapi, masih ada aja yang bilang kurang episode nya hehe...!"


"Sebenarnya, aku suka sih ada yang bilang nggak sabaran nunggu update, tapi jujur kalau kata katanya ngegas gitu, aku jadi badmood juga, karena rasanya bikin aku tertekan, sementara kerjaan aku juga lagi banyak dengan fisik yang nggak selalu bisa dikatakan selalu sehat..!"


"Iya, bener, ditunggu tunggu itu menyenangkan, sama kayak aku, kalau lagi perform, kalau penonton nunggu penampilan ku, aku rasanya dibutuhkan, tapi kalau pake kata kata kasar, kayaknya aku mending nggak usah ditunggu, bikin mood hilang...!"


"Kalau udah nggak mood, nulis itu susah, feel-nya nggak dapet, makanya pembaca atau penonton itu kalau emang support sebuah karya pilih cara yang baik, ntar bikin mood anjlok, yang buat karya bakal bilang semangat...!"


"Aku setuju sama kamu, tapi kamu termasuk sabar lho ngadepin pembaca seperti itu..!"


"Emang, kamu ngadepin penonton kayak gitu gimana...?"

__ADS_1


"Aku cuekin, kalau kamu tetap respon, kalau aku mereka ngajak ngomong pun aku nggak peduli ...!"


Rasanya sulit untuk Mikha mengabaikan para pembaca dikolom komentar, karena sebenarnya, komentar mereka yang bernada mendukung itu adalah salah satu penyemangat Mikha saat menulis. Bayangkan, jika tidak ada yang komentar, dan tidak ada yang like, semua penulis juga tidak merasa bersemangat jika menghadapi situasi seperti itu, meskipun dibaca seperti pembaca hantu, tidak meninggalkan jejak apa apa selain membaca, Mikha lebih suka pembaca yang meninggalkan jejak komentar dan juga like, dengan begitu ia merasa dihargai, tapi jika kolom komentar penuh dengan kata kata hujatan, tentu saja itu tidak membuat moodnya untuk menulis jadi semakin baik. Yang dihujat penulisnya. Dan yang dipermasalahkan hal hal yang tidak perlu dipermasalahkan. Ah, penuh warna...


"Terus berjuang ya, aku yakin kok kamu ntar juga bisa sukses dengan karya karyamu itu...!"


Suara Kei membuyarkan lamunan Mikha.


"Makasih ya, terus kata Leo, kamu udah nggak kerja lagi dicafe, padahal aku mau kamu tetap disana buat jagain dia...!"


"Iya, aku minta maaf, aku terpaksa berhenti dari sana karna aku nggak suka mengerjakan sesuatu kalau itu nggak sesuai kata hati aku..!"


"Aku paham sih perasaan kamu, karena aku juga seperti itu, melakukan sesuatu diluar kata hati itu nggak nyaman, kalau ada pilihan kenapa nggak memilih aja. Terus apa rencana kamu...?"


"Aku mau ngebentuk band aja, terus untuk sementara ngamen dulu buat ngumpul modal...!"


Mikha bengong mendengar apa yang diucapkan oleh Kei. Santai sekali pria itu mengucapkan hal seperti itu. Ini membuat Mikha merasa yakin kalau Kei bukan anak orang kaya. Masa anak orang kaya, cuek saja jadi pengamen....?


Note: Kata hati tidak akan keliru menuntun sang pemilik hati untuk menentukan sikap. Asalkan dibarengi dengan pikiran yang tenang pula.


๐Ÿ‘‰jangan lupa like, vote komen mendukung jika suka ya ๐Ÿ’—


๐Ÿ‘‰ baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul SANG PELAKOR yang ada dilapak ini juga.


serta novel saya diplatform kuning NOV*ELME berjudul DOKTER ITU KAKAKKU dan juga MAHKOTA DEWA + FACE.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2