
Kei mengucapkan kata maaf berulang kali, karena ucapan nya membuat Leo seperti nya sangat terkejut, hingga terbatuk batuk seperti itu. Sedang Leo, segera mengusap kedua mata nya yang berair, dengan tissue meski bibirnya mencibir kearah Kei.
"Emang kenapa, lu mau gue beri penilaian segala..!" Semprot Leo.
Kei, nyengir.
"Ya, nanya aja kan kagak papa, kagak boleh..?"
Kei, kukuh tidak mau berterus terang, kenapa ia bisa mempertanyakan hal itu pada Leo. Sesaat, Leo memperhatikan pemuda gondrong dihadapan nya.
"Lu itu baik, awalnya gue fikir songong sih, tapi ternyata lu kagak seperti itu, ya menurut gue lu pria yang lumayan perfect buat cewek...!"
Wajah Kei, semringah mendengar ucapan Leo. Senang rasanya ia mendapat tanggapan positif dari Leo. Walaupun, untuk mendapatkan tanggapan positif dari Mikha, itu belum tentu, namun Kei merasa, dari respon Leo, Kei bisa menyimpulkan, pemuda ini nyaman berinteraksi dengan nya.
***
Leo mengucapkan salam ketika masuk kedalam rumah. Dilihat nya, sang kakak tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka. Leo mengintip, makanan apa yang dimasak oleh kakaknya. Tapi, Mikha buru buru meminta nya untuk segera mandi. Karena sedang sangat lelah, Leo justru menjatuhkan dirinya dilantai, duduk menyandar kan punggung, sembari menunggu makanan siap.
"Kak, aku mandinya ntar aja ya, mau makan dulu, lapar nih...!"
Leo memegang perutnya, dengan ekspresi memelas. Mikha geleng geleng kepala.
"Jorok deh, kan badan kamu kotor gitu, masa nggak mau mandi dulu baru makan, sana mandi dulu, aku kelarin masak dulu, ntar kamu habis mandi, bisa langsung makan deh bareng bareng...!"
Leo mencibir. Selalu saja tidak bisa mendebat, jika sudah sang kakak yang bicara. Sial. Setengah hati, Leo akhirnya bangkit kembali, mengambil handuk, lalu masuk ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Leo sudah selesai mandi. Rambutnya yang basah masih menetes neteskan air dihelai rambut nya. Sedang Mikha, sudah menunggu nya untuk makan malam bersama.
Setelah berpakaian, Leo segera duduk menghadapi hidangan yang sudah disediakan oleh kakaknya. Tumis pare pedas beserta ikan asin asam manis membuat Leo meneteskan air liur. Meski sederhana, Leo selalu suka makanan yang dimasak kakaknya. Rasanya, sesuai selera.
"Tumben, malam ini daun singkong lenyap...!"
Leo mengucapkan kalimat itu, sembari mengambil sayur dengan sangat bersemangat.
"Lagi belum keluar pucuk nya, lagian ini juga sayur dari tetangga kok, biasa abis baca satu episode, suka ngasi sayur..!"
"Lumayan ya kak, mengirit pengeluaran, kalau aja, pembaca kakak semuanya tau diri gitu enak, kebanyakan kagak tau diri haha, pinjam buku boro boro ngasi hadiah, dibalikin aja syukur...!"
Leo benar, terkadang saat tanggal tua, apa yang dilakukan tetangga nya itu benar benar sangat membantu. Meski pun terlihat sepele, namun Mikha sudah bersyukur bisa mendapatkan hal itu dengan ikhlas.
"Kak, hari ini pencucian motor lagi sepi, cuma dapat 5 aja dari pagi sampe sore...!"
"Kirain lagi rame, karena keliatannya semrawut bener kamu tadi...!"
"Ah, aku tuh semrawut kalau hari ini sepi, aku bakal semangat kalo hari itu banyak yang nyuci motor...!"
"Ya udah, sabar, bukan rezeki namanya...!"
__ADS_1
"Tapikan, kalo kaya gitu terus, gimana aku bisa nyicil ponselku sama Kei coba..!"
Mikha terdiam. Fikirannya teringat akan ucapan Kei beberapa waktu yang lalu, tentang Leo. Tentang keinginan Kei, yang ingin Leo bekerja ditempat yang sama seperti dirinya.
"Leo, sebenarnya, aku udah tau tentang Kei, yang pengen kamu kerja disana, ditempat yang sama dengan dia, tapi aku masih ragu, apakah kamu bisa bener bener kerja ditempat seperti itu...?"
"Bisa lah kak. Masa kerja jadi waiters aja nggak bisa, aku bisa kok...!"
"Bukan itu maksud ku...!"
"Terus...?"
"Kamu tau kan, cafe itu rawan dengan hal hal yang kamu temui di toilet waktu itu...!"
"Digoda..?"
Mikha mengangguk, dan Leo tertawa.
"Astaga kak, masih nggak percaya juga sama aku, aku bisa kok menghadapi hal hal gituan...!"
Mikha mencibir.
"Buktinya, digoda sama penjaga counter aja, yang ada hasil kerja kamu abis...!"
"Oh, soal dada itu, ya itukan khilaf, minimal, aku punya pengalaman digoda seperti itu kan, nggak mungkin lah ,itu terulang lagi, kakak percaya aja sama aku...!"
"Ya, aku juga kak. Aku juga serius, kalau kakak ngizinin aku kerja disana, aku punya harapan ada gaji, beda sama nyuci motor, nggak nentu, bisa banyak, bisa dikit, sementara aku juga udah punya ponsel, yang harus aku lunasi kan, jadi kerja disana menurutku jalan keluar nya...!"
"Kamu janji, bakal jaga diri...!"
"Yakin..!"
"Terus, kamu juga janji, nggak bakalan suka usil sama hubungan ku dengan Kei...? Aku sama dia itu cuma temenan, jangan suka tebar gosip deh...!"
Leo tertawa kecil mendengar ucapan kakaknya. Ingin sekali ia membocorkan soal kejadian siang tadi, diwarung bakso yang mangkal tidak jauh dari tempat kerja Leo. Soal Kei, yang seperti nya memang sedang mendekati kakaknya.
Tapi, sudah lah. Leo sudah berjanji tidak akan ikut campur dengan masalah itu. Cukup mengawasi perkembangan, jika ternyata Kei ingin mempermainkan kakaknya, pria itu akan berurusan dengan nya.
"Iya, aku janji deh. Tapi, kak Mikha sebenarnya punya rasa seperti apa sih soal dia...!"
Leo mencoba memancing. Kerja tambahan dari Kei, dengan imbalan, 50 k satu info. Lumayan kata Leo, buat pemasukan tambahan.
"Dia, baik."
Mikha menjawab singkat.
"Cuma itu...?"
__ADS_1
"Ya, baik secara menyeluruh, itu maksud ku..!"
"Kalo soal muka dan penampilan..!"
"Sama, masuk kategori baik tadi..!"
"Jadi, dari ujung kaki sampai rambut, dia itu baik menurut kakak...?"
Mikha mengangguk.
"Yang bikin berat kakak sama dia itu apa...?"
"Status dia...!"
"Lajang atau duda...?"
Mikha mencibir mendengar ucapan Leo.
"Abisnya, pake status aja, masih mikirin dia itu anak orang kaya ya, kagak usah dibuat pusing, jalani aja, kakak itu nggak usah parno...!"
"Bukan itu, aku nggak suka aja dibohongi..
!"
"Emang dia sengaja ngomong kalo dia miskin dihadapan kakak...? Enggak kan..? Kakak sendiri yang menyimpulkan hal itu seenaknya, jadi menurut aku, bukan salah Kei...!"
"Salah aku gitu...?"
"Emang..!"
Lagi, Mikha mencibir. Tapi memang benar. Benar apa yang dikatakan adiknya tadi. Dari awal, yang mengklaim sendiri kalau Kei itu orang miskin itu dia. Pemuda itu tidak pernah mengatakan hal itu dihadapan Mikha.
Tapi, yang jadi fikiran itu, kenapa dia mengamen. Kalau memang dia orang berada, masa iya, keluarga besar nya tidak mempermasalahkan hal itu..?
Mikha merasa, belakangan ini, Kei seperti penuh misteri.
"Ya udah, aku restuin kamu buat kerja di cafe itu, yang penting kamu bisa jaga diri yang baik, dan kendali kan emosi, karena takut nya kamu disana malah bikin masalah...!"
Dasar Kak Mikha, malah mengalihkan pembicaraan. Tapi, sudah lah, yang penting dia bisa bantu aku dapat kerjaan baru, kagak sabar rasanya kerja make seragam....
Leo bicara dalam hati,
Note: Meminta izin pada orang terdekat, sama halnya mencari keberkahan untuk apa yang ingin kita lakukan. Karena, restu orang terdekat akan memperlancar segala nya..
π Jangan lupa like vote n rate 5 jika suka ya π baca juga novel non fiksi saya berjudul SANG PELAKOR dilapak iniπ
Bersambung
__ADS_1