CINTA SANG PEMUJA

CINTA SANG PEMUJA
BAB 14. LEO DIGODA LAGI.


__ADS_3

Mikha dan Leo duduk di tempat duduk yang sudah disediakan oleh Kei. Pengunjung cafe sudah menanti pertunjukan Kei.


Kei, naik keatas panggung, lalu memperkenalkan diri..


"Assalamualaikum, Hallo selamat malam untuk semua yang ada disini, saya Keitaro Prawira mencoba untuk menghibur kalian yang ada disini dengan lagu yang saya akustik kan, agar kalian merasakan syahdunya sebuah musik, semoga kalian terhibur ya...!"


Kei, segera duduk diatas tempat duduk yang sudah disediakan. Memangku gitarnya, lalu tidak lama kemudian, sebuah lagu mengalun dibawakan nya dengan versi akustik.


"Kak, namanya kayak orang Jepang, emangnya dia keturunan Jepang ya..?"


Leo berbisik sembari terus menatap kedepan, dimana Kei, masih serius dengan permainan dan suaranya saat melantun kan lagu yang ia bawakan.


"Nggak tahu, aku nggak nanya dia suku apa..? Nggak penting jugakan. Mau ras, suku, agama apapun, yang penting dia baik...!"


Mikha merespon ucapan adiknya sembari terus mengabadikan momen Kei diatas panggung, dengan ponsel milik Kei, yang ada ditangan nya.


"Pacar kakak ya..?"


"Bukan..!"


Leo mencibir. Jelas-jelas, ia melihat pria dipanggung itu, terlihat cemburu ketika melihat ia tadi menggandeng tangan kakaknya.


"Calon pacar..?"


"Ngaco..!"


Leo tertawa kecil. Dari nada suara kakaknya, ia bisa menebak, kakaknya itu merasa salah tingkah jika membahas tentang pria diatas panggung itu. Pasti ada apa apanya...


Mungkin aku ntar memisahkan diri dulu, biar ngasi kesempatan mereka berdua buat bicara..


Leo berkata dalam hati. Di raihnya gelas minuman yang ada diatas meja didepan mereka. Meminumnya. Lalu..


"Kak, aku mau pipis...!"


Sebuah alasan bodoh meluncur dari mulut Leo.


"Baru minum sedikit, udah mau pipis. Kamu mau ninggalin aku sendirian disini...?"


Mikha melancarkan aksi protes. Leo cengengesan, tanpa memperdulikan reaksi kakaknya, pemuda itu bangkit, pamit untuk ketoilet.


"Jangan lama lama Leo..!"


Mikha mengingat kan, dan Leo hanya membentuk tangan nya dengan kata "ok" sebelum akhirnya pemuda itu benar benar beranjak dari sisi kakak nya.


Usai membawa kan beberapa lagu, Kei turun panggung, tepuk tangan riuh mewarnai usainya penampilan Kei. Kei segera duduk disamping Mikha, dan Mikha menyerah kan ponsel ditangan nya pada pemuda itu.

__ADS_1


"Gimana menurut kamu...?"


Tanyanya pada Mikha, sambil memperhatikan hasil rekaman video yang di ambil Mikha tadi lewat ponsel.


"Bagus. Sangat bagus...!"


"Serius...?"


Mikha mengangguk mantap.


"Makasih ya. Tadinya, aku sedikit khawatir, penampilan ku tadi buruk, karena ini pengalaman pertama ku tampil didepan umum secara resmi begini,"


"Bagus kok, kamu berbakat, penilaian aku tetap sama. Oke. Kalau ditekuni kayaknya ini jauh lebih menjanjikan daripada kamu jadi pengamen lho, tapi tadi, Leo pengen tahu, harga ponsel kamu itu berapa, biasalah, dia dari dulu pengen beli ponsel, masih nabung duitnya...!"


"Leo, pacar kamu itu...?"


"Pacar..?"


Mikha mengulang ucapan Kei, dengan tampang bingung.


"Ia, pria yang tadi bareng kamu, mana dia, nggak suka dengan penampilan aku ya, makanya pamit...?"


Mikha tertawa kecil mendengar ucapan Kei, membuat Kei jadi bengong.


"Dia itu bukan pacarku, dia adikku. Aku ngajak dia kesini, karena buat dia kesempatan lah masuk cafe sekali kali, mumpung ada yang ngundang..!"


"Oh, gitu. Kukira tadi, dia itu pacar kamu, abis mesra banget, dia nempel kamu bener kan..!"


Katanya sembari tersenyum senyum.


"Harga ponsel ya, Leo emang pengen punya ponsel tipe begini..?"


Lanjut Kei.


"Apa aja, yang penting bisa dipake buat nge-game katanya,"


"Gamers ya, pasti pintar memecahkan sebuah masalah..!"


Iya sih, benar Leo itu gampang memecah kan permasalahan, tapi juga suka buat masalah ...


Mikha menyahut ucapan Kei untuk Leo, hanya didalam hati.


"Ohya, kamu ngamen bisa beli ponsel segini keren, kira kira, kalau Leo ngumpulin duit dengan cara nyuci motor, butuh waktu berapa lama ya...!"


Mikha bisa santai bicara seperti itu, karena yang ia tahu, Kei, sama dengan dirinya, yang hidup sederhana.

__ADS_1


"Kalau buat nge-game, nggak perlu ponsel kayak gini juga nggak papa. Yang penting ram nya gedde, udah cukup...! Aku beli ponsel kayak begini, buat menunjang hobi bermusik aku, biasanya aku record sendiri lagu lagu yang aku ciptakan, dan abis itu, aku dengerin sendiri, mau tau bagus nggak..!"


Mikha manggut-manggut mendengar penjelasan Kei, rasa heran karena Kei punya ponsel canggih, padahal pria itu hanya pengamen, jadi sirna. Berganti perasaan salut, karena seperti nya Kei, benar benar memperjuangkan sesuatu dari bawah.


"Aku nggak paham sih, soal itu. Ntar mending kamu yang ngasi saran kedia, dia galau terus soal itu...!"


"Boleh sih, tapi kayaknya adik kamu itu betah banget di WC ya, udah lama kan, belum balik balik..!"


"Heeem, dia mungkin rada alergi ruangan ber-AC jadi perlu waktu untuk menetralisir semua nya..!"


"Kalau nggak, emang ngasi kesempatan buat kita buat ngobrol berdua..."


"Blush...!"


Spontan wajah Mikha merah mendengar ucapan Kei.


Masa iya Leo melakukan hal itu...? Atas dasar apa...? Aku sama Kei, kan nggak ada hubungan khusus...


Diwaktu yang bersamaan, tepatnya di area menuju toilet, Leo, sedang menguping pembicaraan, dua orang gadis di dekat jalan masuk menuju toilet pria.


"Gue kesel deh sama Kei, masa abis tampil langsung nyamperin meja Mikha,"


Ucap gadis berambut pirang kepada gadis berambut sebahu.


"Gue juga heran, kok bisa cewek seperti Mikha itu kenal cowok kayak Kei..? Pake pelet kali ya..?"


Kedua tangan Leo mengepal mendengar dua gadis yang sedang membicarakan kakaknya itu. Leo tidak tahu, apakah gadis itu teman kakaknya, atau memang haters kakak nya, yang pasti Leo tidak bisa diam saja mendengar dua gadis yang seperti nya fans pria bernama Kei itu membicarakan sang kakak buruk seperti itu.


"Hei, kalian. Udah cukup gibah nya..? Kalian suka sama pria yang tampil dipanggung tadi..? Asal kalian tahu saja ya, kakakku itu tamu spesial cowok yang bernama Kei itu. Kalian bukan seseorang yang diundang khusus, terima nasip aja dong,"


Kedua gadis itu menatap serempak kearah Leo. Bukannya merespon kata kata kesal yang dilontarkan Leo tadi, keduanya justru senyum senyum melihat Leo.


"Lu, adik Mikha ya...? Wah, nggak nyangka ya, Mikha punya adik ganteng begini. Ucapan gue tadi anggap angin lalu aja, kenalan yuk, kita temen kakak lu nih..!"


Dua gadis berpakaian sexy itu segera mendekati Leo. Mengerling nakal kearah Leo, bahkan yang salah satu dari mereka, memperhatikan Leo dari ujung kaki hingga ujung rambut.


Ditatap seperti santapan daging seperti itu, Leo jadi merinding. Catet, ini pengalaman pertama Leo digoda nakal oleh wanita. Ditambah lagi dua gadis itu berpakaian sexy. Yang satu mempertontonkan bagian dada karena dress yang dipakai nya berbelahan dada rendah, yang satu mempertontonkan paha, karena dress yang dipakai nya mempunyai belahan yang memanjang.


Ya, Allah, mata gue, ngapain juga nggak bisa berkedip kayak gini. Mau diabaikan kok makin nagih, ditatap terus kok malaikat kayak mau mencongkel mata ini...


Leo bicara didalam hati, sembari mundur sedikit demi sedikit karena dua gadis sexy itu terus mendekati dirinya dengan tatapan mata nakal..


Note: Terkadang hal yang indah dipandang mata tidak selalu indah sampai kedasarnya, karena yang indah itu, sesuatu yang bisa dinikmati saat telah halal untuk dinikmati.


๐Ÿ‘‰Jangan lupa like vote n rate 5 jika suka ya ๐Ÿ’—

__ADS_1


๐Ÿ‘‰ Baca juga novel saya yang lain berjudul SANG PELAKOR, yang juga update setiap hari.


Bersambung


__ADS_2