CINTA SANG PEMUJA

CINTA SANG PEMUJA
BAB 7. TEGANYA...!


__ADS_3

Leo berjalan gontai menuju rumah nya. Lemas sekali persendian tubuhnya mengingat kini uang hasil jerih payahnya, mencuci motor lenyap begitu saja. Gara gara tergoda rayuan penjaga counter dengan dada menantang itu. Bah..


"Masuk rumah ucap salam dong, biar sekalian doa gitu..!"


Mikha memberikan kritiknya pada sang adik, melihat Leo masuk kedalam rumah, tanpa mengucapkan salam seperti biasa, Leo hanya nyengir, bukannya minta maaf, pemuda itu justru duduk melosoh begitu saja, didepan pintu.


"Kamu kenapa...?"


Tanya Mikha sambil menatap Leo dengan tatapan serius.


"Aku lagi apes kak...!"


"Kurang banyak dapat hasil hari ini..?"


Mikha mencoba menebak. Leo menggeleng. Lalu mengalirlah cerita pemuda itu dihadapan kakak nya.


Mikha bengong mendengar cerita adiknya.


"Ya, ampun. Seenaknya banget sih. Itu kan hasil kerja kamu seharian, bisa bisanya itu cewek ngerampok uang kamu...!"


Mikha tidak bisa menahan rasa kesalnya, gadis itu bergegas melangkah menuju pintu. Leo bingung dengan respon kakaknya.


"Mau kemana kak...?"


"Ke counter depan yang ngerampok uang kamu..!"


Leo terhenyak. Ditangkap nya tangan sang kakak, berusaha mencegah kakaknya untuk membuka pintu.


"Nggak usah kak, duuh nanti malah jadi keributan disana, nggak usah deh, aku udah sumpahi tu cewek jadi perawan tua karena berani nipu aku...!"


Cegah Leo cepat. Ia tetap mempererat pegangan tangan nya dilengan sang kakak. Mendengar ucapan sang adik, Mikha mengurung kan niatnya untuk membuka pintu. Gadis itu menghela nafas.


"Tapi gadis itu harus diberi pelajaran Leo, kamu sendiri bilang, kalau kita benar kita harus lawan kan...?"


"Ia sih kak. Tapi tadi kayaknya aku salah juga sih, tergoda juga, mau gimana dia berani bener sih tadi, nyaris aja mataku ternoda..!"


"Emang udah ternoda kan..!"


Potong Mikha sewot. Leo nyengir. Ah, tubuh perempuan memang godaan yang paling hebat buat kaum lelaki. Ukh...


"Maaf ya kak. Imanku ini belum terlalu tebal seperti nya, kayaknya harus membiasakan diri melihat hal hal yang gituan, klik situs porno mungkin..!"


Leo mengaduh saat Mikha mencubit nya, saat ia usai mengucapkan kalimat tersebut.

__ADS_1


"Awas aja kalau kamu suka klik situs porno..!"


Ancam Mikha sembari memelototkan matanya. Leo cengengesan.


"Buat belajar kak, belajar anatomi tubuh manusia dewasa, lagian kakak juga nggak pernah memperlihatkan tubuh kakak sama aku .!"


"P****letak..!!"


Leo lagi lagi mengaduh, saat sang kakaknya menjitak nya. Mikha tidak pernah seperti itu sebelumnya, jika ia sudah melakukan itu, artinya gadis itu benar benar tidak suka dengan apa yang diucapkan oleh adiknya.


"Iya, iya deh. Aku nurut kok sama kakak. Mataku ini suci kok, baru tadi ngeliat barang kayak gitu...!"


Leo mencoba membujuk kakaknya. Mikha menghela nafas.


"Muka kamu jadi suram kalo ke banyakan lihat hal gituan, terus rezeki juga dipersulit, kalau suka klik klik situs kaya gitu...!"


"Aku nggak pernah lho liat hal porno, kok rezekiku juga dipersulit kak...!"


Sebuah debat yang terdengar sakars, dan memang tidak mudah untuk menjawabnya.


"Karena Tuhan lagi menguji kita..."


"Sampai kapan...? Aku capek kak, kayak gini terus. Jadi orang miskin itu selalu dipandang sebelah mata...!"


Habis berkata begitu, Leo beranjak bangkit. Melangkah menuju kamar mandi, lalu segera masuk kedalam kamar mandi, untuk membersihkan tubuh nya yang sangat kotor dan bau keringat.


Mikha mengucapkan kalimat itu didalam hati...


***


Mikha melangkah menuju warung yang berada tidak jauh dari rumah nya. Ingin membeli beras. Persediaan beras mereka sudah habis, dan Mikha hanya punya sedikit uang, hingga ia hanya bisa membeli beras dengan cara perkilo, tidak per karung seperti orang orang kebanyakan.


"Majalah baru ya pak,"


Mikha bertanya pada sang pemilik warung, ketika melihat ada majalah remaja baru di sana terpajang untuk dijual, warung itu memang merangkap menjual koran dan majalah selain sembako, letak warung yang strategis membuat warung itu sangat diminati oleh warga. Termasuk Mikha, biasanya, Mikha mencari informasi tentang dimuatnya tulisan tulisan yang ia kirim diwarung ini.


Meskipun tidak membeli, sang pemilik warung tidak keberatan membiarkan Mikha membuka buka contoh majalah yang tidak disegel.


"Iya neng. Baru tadi diantar, mau beli atau cari informasi neng.."


Sahut pemilik warung itu sembari menakarkan beras yang diminta Mikha.


"Biasa pak, maaf ya ..".

__ADS_1


Mikha jadi malu, karena selalu cari informasi tanpa membeli. Bukan tidak mau, ia hanya harus berfikir berkali kali, jika membeli hal yang sekira kira bisa ditunda.


Kebutuhan makan, listrik, air dan rumah tidak bisa ditunda pembayaran nya, karena itulah Mikha harus tahan menahan diri untuk tidak membeli. Meskipun ingin


"Ini neng, buka yang nggak disegel aja, silahkan..."


Si pemilik warung menyerah kan majalah yang tidak disegel, kepada Mikha, seperti biasa. Mikha menyambut nya, mengucapkan kalimat terima kasih, lalu segera membuka halaman demi halaman majalah tersebut.


Tiba dibagian cerpen. Mata Mikha Nanar melihat salah satu judul cerpen yang masuk kedalam majalah tersebut.


Ada judul cerpen miliknya disana, tapi penulisnya bukan dia. Orang lain. Sedang kan cerpen cerpen yang ia kirim tidak ada dimuat satupun di majalah tersebut.


Tapi kenapa ada judul cerpen miliknya di majalah itu...? Mendadak bayangan Kalisha berkelebat di benaknya.


Benar Kalisha. Inisial penulis cerpen tersebut K.L, pasti Kalisha, lagian siapa lagi yang bisa membaca cerpen koleksi miliknya selain Kalisha, yang memang meminta tulisan tulisan yang ia buat untuk diperiksa. Katanya.


Jangan terlalu percaya sama orang kak, kakak yakin dia emang mau periksa karya kakak...? Bukan mau curi ide kakak ..


Ucapan adiknya tiba tiba terngiang di telinga nya. Astaga, jadi prediksi Leo benar...? Karyanya dicuri...? Salah satu cerpen miliknya dicuri...? Seluruh tubuh Mikha seperti lemas tanpa tulang. Terbayang wajah Rida dan Kalisha yang seolah olah tanpa dosa.


"Rida, Kalisha, apa benar kalian orang orang seperti itu...? Kalian mencuri ide milikku. Kenapa kalian lakukan hal Setega ini padaku. Apakah kalian sadar, buatku dibaca gratis itu tidak menyakiti ku, namun jika dicuri, itu sangat menyakitiku...


Mikha bergumam sendiri. Matanya masih menatapi cerpen yang terpajang disalah satu halaman majalah tersebut.


Berani bener kamu mengklaim cerpen ini milik kamu Kalisha ..! Apakah kamu dan Rida sengaja bersekongkol melakukan hal ini....?


Hati Mikha bicara, tanpa sadar menggenggam erat majalah yang ia pegang. Hingga hal ini membuat pemilik warung heran.


"Neng, neng tidak apa apa...?"


Suara pemilik warung terdengar menyadarkan rasa terpuruk Mikha mendapatkan kenyataan pahit tersebut. Mikha tergagap...


"Eh, pak, aku titip beras ini dulu ya, nanti aku ambil, ada yang mau aku urus...!"


Mikha mengucapkan hal itu kepada pemilik warung, yang hanya diiyakan oleh pria setengah baya tersebut.


Rida, Kalisha, aku harus menemui kalian saat ini juga...!


Geram Mikha dalam hati sembari menyetop angkot jurusan rumah Rida.


Note: Terkadang, sikap baik seseorang tidak bisa dijadikan tolak ukur hatinya menjamin baik. Karena banyak orang bersikap baik hanya untuk pencitraan.


👉 jangan lupa like,vote klik favo rate 5 jika suka ya 💖

__ADS_1


👉 baca juga novel nonfiksi karya saya dilapak ini berjudul ", SANG PELAKOR"


bersambung


__ADS_2