CINTA SANG PEMUJA

CINTA SANG PEMUJA
BAB 28. KOMENTAR MENDUKUNG.


__ADS_3

Leo tidak bisa menyembunyikan kekagetan nya ketika mendengar kabar kalau Kei, mengundurkan diri dari cafe dimana ia bekerja. Orang yang membantunya untuk bisa mendapatkan pekerjaan, kini justru kehilangan pekerjaan. Rasanya, Leo jadi tidak enak hati.


Leo mengantar kan minuman yang dipesan oleh tamu meja nomor 5. Semula, ia tidak tahu, tamu itu siapa. Namun, ketika sadar tamu itu adalah wanita yang mencuri naskah kakaknya, Leo jadi ingin meminta karyawan lain untuk menggantikannya mengantarkan pesanan tersebut, akan tetapi apa yang ia lakukan dipergoki oleh bosnya, alhasil, mau tidak mau, Leo melakukan tugas itu sendiri.


"Hei, ganteng juga lu dengan seragam itu..!"


Gadis itu menyapa Leo, sembari mengucapkan kalimat itu. Leo hanya tersenyum tipis, sembari meletakkan pesanan gadis berambut pirang tersebut diatas meja.


"Silahkan..!"


Kata Leo, sembari memutar tubuh ingin meninggalkan meja tersebut, karena dirasa sudah menyelesaikan tugas.


"Eh, bentar dulu, main pergi aja, gue tamu lho disini. Gue mau tanya, Kei mana, beberapa hari ini gue kagak liat dia tampil...?"


Gadis yang tidak lain Kalisha itu melontarkan pertanyaan itu kepada Leo.


"Udah kagak kerja lagi disini..!"


Sahut Leo singkat.


"Kenapa...?"


"Kagak tau..!"


"Lu tau tempat tinggalnya dimana..?"


Leo menggeleng. Kalisha terlihat kesal, karena dimatanya, pemuda itu seperti sengaja tidak mau memberikan informasi Kei padanya.


"Heh, lu ngarep kalo Kei itu, bisa jadi kakak ipar lu kan..? Pengen nebeng hidup enak sama dia kan...?"


Leo, yang awalnya ogah ogahan meladeni gadis berambut pirang itu jadi terpancing mendengar ucapan itu.


"Denger ya, gue berani bertaruh kok, misal lu saingan sama kakak gue juga, pasti yang diterima itu kakak gue ..!"


"Eh, lu..!!"


Leo segera beranjak ketika melihat Kalisha ingin mendamprat nya karena tidak terima dengan apa yang sudah diucapkan oleh nya tadi. Biar saja. Leo sudah muak. Muak, karena harus melihat, kakaknya selalu direndahkan oleh orang orang seperti Kalisha itu.


***


"Kak, buruan ketik episode kakak ya, aku mau pake ponselnya, ada pertandingan ntar soalnya..!"


Leo berteriak dari arah dapur ketika melihat kakaknya keluar dari kamar setelah menunaikan shalat magrib.


"Iya, ntar kalo ada ponsel sendiri, aku juga gak bakal pinjam ponsel kamu lagi buat update episode..!"


Mikha menyahut, sembari mulai membuka aplikasi dimana ia mulai mencoba menulis online. Meski masih ragu, namun gadis itu akhirnya mencoba menepis keraguan itu untuk mencoba menulis online disalah satu platform online.

__ADS_1


"Kak, kalau abis ngetik episode gitu, langsung bisa di update nggak sih..!"


Leo muncul sembari membawa sepiring nasi, berserta lauk pauk nya dan duduk disamping kakaknya yang sedang duduk dengan ponsel ditangan.


"Makan dulu kak..!"


Leo mengajak kakaknya makan bersama. Tapi, Mikha tidak merespon. Gadis itu sepertinya sangat sibuk mencek sesuatu diponsel tersebut.


"Kak, aku tadi nanya lho..!"


Leo kembali bersuara sembari mulai menikmati makan malam nya.


"Eh, iya, ya nggak, ada sistem review yang bakal nyeleksi tulisan kita..! Makan aja duluan katanya ponsel mau kamu pake, kalau aku makan gimana aku ngetik...?"


Mikha menyahut. Matanya masih sibuk memperhatikan ponsel ditangannya, seolah olah ada sesuatu yang membuat kakaknya itu tidak mau mengalihkan perhatiannya pada hal itu.


"Aku kira abis nulis terus bisa post gitu, ternyata ada sistem review juga, fungsinya buat apa kak...?"


"Buat menyeleksi tulisan yang dikirim layak diupload nggak...!"


Mikha menyahut masih tanpa menoleh.


"Terus apa ada kriteria khusus gitu buat lolos review...?"


"Ya ada dong, kalau nggak sesuai kriteria tulisan yang kita kirim nggak bakal di ACC..!"


Leo lagi lagi bicara. Mikha melirik.


"Karna sistem online nggak seketat masuk penerbit mayor, kalau nyetak buku, keliru dikit aja nggak bakal di ACC, itu sebabnya penulis juga harus memperhatikan banyak hal, pinter nulis aja belum cukup untuk bisa jadi penulis, kudu memperhatikan bahasa yang dipakai, cara penulisan dan tanda baca juga...!"


"Ribet banget ya ternyata, masih gampang main game ah...!"


Mikha mencibir mendengar ucapan adiknya.


"Masih gampang yang baca daripada nulis...!"


Sahut Mikha masih tanpa menoleh. Leo manggut manggut, meski ia sering melihat kakaknya menulis, namun ia baru tahu kalau menulis itu tidak segampang yang terlihat.


"Kakak udah ngetik berapa kata..?"


Leo kembali bertanya. Mikha spontan menoleh mendengar pertanyaan sang adik dan menggeleng.


"Aku nggak ada ngetik satu kata pun..!"


Leo melongo mendengar apa yang diucapkan oleh kakaknya.


"Kenapa...? Kan, ntar tu ponsel mau aku pake kak...!"

__ADS_1


Wajah Mikha mengerenyit menahan sakit.


"Jariku keram..! Mataku juga perih..!"


"Eh, kenapa...? Nggak tahan ngetik lama diponsel ya..!"


Wajah Leo jadi terlihat khawatir mendengar keluhan yang diucapkan oleh kakak nya.


"Aku tahan sih, cuma kemarin emang aku forsir ini tangan update episode beberapa sekaligus..!"


"Aduh kak, nggak usah forsir, kalau kakak sakit yang rugi siapa..? Kakak sendiri, aku tahu, kakak kaya gitu karna ngeliat komen komen di kolom komentar novel kakak selalu nodong crazy up kan, kakakkan tipe orang yang selalu mikirin orang lain, sampe nggak mikir diri sendiri, ngetik di laptop sama ponsel itu lebih beresiko dibandingkan nulis dibuku tulis kak, kakak nggak usah terlalu nurutin apa kata pembaca yang ingin ini dan itu, cukup kakak ikuti aturan platform aja, kalau sakit gini emang mereka ngerasain apa yang kakak rasain...?"


"Aku cuma ingin memberikan yang terbaik untuk pembaca Leo..!"


"Dan pembaca juga harus memberikan yang terbaik untuk penulisnya, pembaca dan penulis itu sama sama saling membutuhkan, platform tanpa penulis juga kagak ada artinya, penulis tanpa pembaca juga kagak ada artinya, begitu juga pembaca, kagak ada penulis apa yang mau dibaca, jadi antara pembaca, penulis dan platform itu sama sama saling membutuhkan, jangan sampe ada salah satu yang terzalimi, kalau Kei tau kakak kayak gini, dia pasti ngomel tau..!!"


Mikha terdiam, adiknya benar. Apa yang dikatakan adiknya itu benar. Antara pembaca, penulis dan platform itu sama sama saling membutuhkan. Memang seharusnya, tidak ada yang harus merasa terzalimi. Mikha memang tidak bisa abai dengan respon pembaca, buatnya pembaca itu penting. Hanya saja, terkadang memang ada pembaca yang berfikir penulis pasti berlimpah bayaran jika sudah update naskah. Padahal, semua itu perlu proses, ada juga yang sudah banyak menulis pun masih tidak mendapatkan apa apa karena belum sesuai ketentuan.


Seperti yang ia baca dikolom komentar episode novelnya yang ia update kemarin. Ada beberapa pembaca yang mengeluh, episode kurang panjang. Padahal standar yang diterapkan itu minimal 1000 kata lebih. Rata rata diatas seribu kata lebih. Sedangkan dia...? Semua episode yang di-update rata rata 2000 kata perepisod, namun masih saja banyak yang demo kalau episode yang di-update nya kurang panjang.


Padahal novel novel lain justru banyak lebih pendek saat update cerita. Sebenarnya, Mikha suka jika ada pembaca yang merasa selalu ingin dan ingin membaca setiap episode yang ia upload, artinya cerita yang ia buat dinanti dan selalu membuat penasaran.


Namun jika setiap komentar berbunyi pedas seperti yang ia baca sekarang, rasanya ia seperti tidak dihargai.


"Thor update nya dikit amat nanggung sekalian gitu crazy up, yang panjang, biar puas yang baca, niat gak sih nulis cerita..?


Membaca komentar seperti itu rasanya Mikha sebagai penulis tidak merasa didukung. Tapi tertekan.


Apa kalian tahu, 1 jam yang aku pakai untuk menulis, kalian habiskan hanya dengan waktu 5 menit saat membacanya itulah perbedaan antara penulis dan pembaca, seharusnya kalian bisa memilih kata kata yang lebih baik seperti: " Thor, saking serunya baca cerita mu, episode mu terasa singkat, seru ini lanjut...! mungkin rasa sakit dijari dan mata ku ini nggak bakal terasa baca komentar kalian yang bersifat mendukung seperti itu. Justru jadi obat penyemangat...


Mikha bicara seperti itu didalam hati, tidak ingin mengatakannya pada Leo, takut adiknya itu bakal ceramah lebih kencang lagi kalau tahu ada reader yang memberikan komentar pedas seperti itu padanya, karena sepertinya adiknya itu belum melihat komentar pedas beberapa readernya itu hari ini...


Note: Budidayakan mengucapkan kata dengan kalimat yang baik, karena kita tidak pernah sadar, ucapan kita berdampak seperti apa pada orang yang menerima ucapan tersebut. Apa yang kita ucapkan cerminan dari kepribadian kita sahabat.


👉 Jangan lupa like vote n rate 5 jika suka ya 💗


👉 baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul SANG PELAKOR dilapak ini juga.


👉 dan 3 novel online saya diplatform kuning NOV*LME :


- FACE ( fiksi roman , tamat)


- DOKTER ITU KAKAKKU ( non-fiksi)


- MAHKOTA DEWA ( fiksi fantasi)


berikan dukungan kalian untuk karya saya tersebut jika suka, agar saya terus bisa berkarya 💗 dan terima kasih untuk kalian yang selalu stay disemua karya milik saya 😘

__ADS_1


bersambung


__ADS_2