CINTA SANG PEMUJA

CINTA SANG PEMUJA
BAB 10. NASIP.


__ADS_3

"Kak, ada sesuatu yang mau aku tunjukkan sama kakak..!"


Mikha melongo ketika ia baru pulang kerja, Leo sudah berdiri dibelakang nya dengan senyum penuh arti.


"Apaan...?"


"Buka aja ini..!"


Leo menyerahkan bungkusan mirip tas karyawan yang ingin kekantor. Dari tampilan nya, Mikha seperti tahu isi tas itu. Tapi mana mungkin...? Darimana Leo bisa mendapatkan barang mahal itu.


Rasa penasaran mendorong Mikha untuk segera membuka barang yang diberikan oleh adiknya. Dan....


"Laptop...? Ini beneran..?"


Mikha menatap wajah adiknya, dengan tatapan tidak percaya.


"Iyalah kak. Masa itu replikanya, tapi ini pinjem kak, buat modal kakak untuk mewujudkan impian kakak..!"


"Tapikan, ini mahal Leo. Darimana kamu dapat uang...?"


"Kan pinjam kak bukan beli, aku mau buktikan kekakak kalo kakak itu berbakat, jadi wujudkan ya,"


Sepasang mata Mikha tiba tiba dibanjiri air mata. Rasanya ia sangat terenyuh dengan apa yang sudah dilakukan oleh adiknya.


"Lho, kok mewek sih...?"


"Aku cuma terharu, kamu dukung aku banget, padahal aku sendiri nggak yakin apa aku bisa..!"


"Kakak harus buktikan kalo kakak bisa, sekarang kakak berjuang ya, tinggal aku ini yang masih berusaha untuk ngumpul uang buat beli ponsel..!"


"Kamu pinjam sama siapa...?"


"Sama temen kak. Kebetulan banyak laptop nganggur dia haha, aku rampok aja..!"


"Kamu yakin orang nya ikhlas...?"


"Nggak ikhlas tabok..!"


"Jangan gitu dong. Nggak boleh lho minjam memaksa gitu...!"


"Tenang aja kak, ikhlas kok dia,"


Mikha menatap kembali barang yang selama ini ia idam idamkan itu. Ah, seperti mimpi. Barang itu kini berada didepan mata, lalu siap untuk ia pakai, rasanya perasaan letih Mikha karna habis pulang kerja langsung terobati. Berganti semangat yang membara. Diucapkan nya kata terima kasih kepada sang adik. Sebelum akhirnya, ia melangkah masuk kedalam kamar sembari membawa barang tersebut.


***

__ADS_1


Kei menghentikan langkahnya, ketika mendengar suara ibunya yang memintanya untuk berhenti. Wanita itu menatap sang anak sambil geleng-geleng kepala. Terutama dibagian rambut. Rambut gondrong sang anak membuat wanita itu tidak bisa menahan diri untuk tidak mengkritisi.


"Berapa kali sih mami bilang potong rambut kamu itu Kei, mami nggak suka, terus itu kamu mau kemana bawa bawa tas...? Mau minggat..?"


"Aku manjangin rambut ini setengah mati mi, nggak mungkin lah aku potong, aku mau hidup diluar dulu, sambil merenung, kali aja aku bisa dapat petunjuk...!"


"Ayah kamu akan murka melihat kamu seperti sekarang Kei, mana ada sih direktur gondrong begitu, nggak rapi...!"


"Yang mau jadi direktur, siapa Mi, aku nggak bilang mau lho..!"


"Terus yang jadi penerus ayahmu siapa kalo bukan kamu..?"


"Ada bang Tedi kan. Ngapain ngarepin aku, aku cuma mau fokus bermusik...!"


"Kei..!"


"Aku pamit dulu Mi, jaga kesehatan ya, jangan suka ngomel ntar darah tinggi nya kumat..!"


"Dasar anak kurang ajar...!!"


Ibu Kei, mengomel panjang pendek. Wanita itu tidak bisa mencegah kepergian putra bungsu nya yang melangkah tanpa menoleh lagi. Hatinya sesak. Tidak menyangka, teguran keras dari suaminya pada si anak membuat putra bungsunya itu justru memutuskan untuk pergi dari rumah.


"Kenapa lagi si Kei, mi..!"


Tiba tiba saja putra sulung nya muncul dari arah samping, dan langsung melontar kan pertanyaan itu.


Tedi, kakak sulung Kei, hanya menghela nafas panjang mendengar ucapan ibunya.


"Biarin aja mi, ntar juga kalo kesulitan diluar dia bakal balik lagi, dia fikir hidup diluar itu enak mungkin...!"


"Tapi dia itu adikmu Tedi, dia nggak punya pengalaman hidup sendiri, bagaimana mungkin dia memutuskan untuk hidup sendiri..!"


"Justru itu mi, biarin aja, ntar juga dia sadar hidup diluar itu nggak gampang...!!"


Tedi berlalu dari hadapan ibunya, naik kelantai atas menuju kamarnya, karena ia sangat lelah bekerja seharian dikantor, sedang ia punya adik yang sama sekali tidak bisa diandalkan untuk membantu nya mengelola perusahaan, semenjak ayahnya mengundurkan diri, untuk tidak terlalu aktiv diperusahaan, mengingat kesehatan pria itu belakangan semakin memburuk.


"Anak manja itu. Paling juga sebentar lagi bakal balik lagi...!"


Gumamnya sembari melepaskan dasi yang ia pakai.


***


Kei, masuk kedalam angkot menuju rumah kost yang di informasikan temannya, masih mempunyai satu kamar kosong. Keputusan nya untuk keluar dari rumah bukan tanpa alasan. Bukan bermaksud durhaka, namun ada hal yang selama ini ingin ia perjuangkan.


Sebuah impian. Kei, punya keinginan untuk serius dalam bermusik. Namun keinginan nya itu di tentang keluarga besarnya. Mereka beranggapan, impian Kei itu hanya sebuah hal yang sia sia. Mereka beranggapan, Kei, tidak berbakat di bidang musik sama sekali.

__ADS_1


Namun kejadian beberapa waktu yang lalu, saat ia nekat untuk terjun kejalanan untuk menjadi pengamen, membuktikan satu hal, bahwa ia cukup berbakat untuk menekuni hobinya itu. Ditambah lagi ucapan gadis yang ia temui beberapa hari yang lalu tersebut.


Mikha. Mikha sudah membuat ia mendapat kan kekuatan untuk bergerak meraih impian besar nya. Ucapan tulus gadis itu membuat rasa percaya diri Kei, jadi bertambah.


Ia ingin merubah nasip yang sudah ditentukan keluarga besar nya. Ingin bertaruh bahwa, hobi tidak selamanya sebuah hal yang sia sia.


Kei, ingin membuktikan, dengan hobinya, ia juga bisa sukses. Tidak harus berlindung dikursi kebesaran keluarga besar nya.


Biarlah, Tedi sang abang, yang melanjutkan kiprah ayahnya. Abangnya itu lebih cerdas dan berpengalaman di bidang itu. Tidak seperti dia, kuliah pun tidak. Bukan tidak mampu, namun Kei memang tidak punya keinginan untuk sekolah tinggi. Ini yang membuat ia semakin membuat ayah dan ibu serta kakaknya kesal. Hingga berujung ultimatum, dan Kei memilih untuk pergi dari rumah.


Aku akan membuktikan pada kalian semua kalau hobiku ini bukan sampah...


Kata Kei dalam hati.


Tiba di lokasi, Kei segera melompat turun dari angkot, dua orang temannya sudah menunggunya diteras. Melihat Kei keduanya saling pandang merasa tidak yakin Kei datang untuk pindah.


"Ngapain lu bawa koper..?"


"Mau ngekost disini kan...?"


Kedua temannya saling pandang.


"Lu serius...?"


"Serius lah. Masa hal ginian dibuat canda...!"


"Wah, salut kita, tuan muda keluar dari rumah untuk mengejar impian yang tertunda...!"


"Udah kagak usah banyak omong, tunjukkan kamar buat gue...!"


"Yakin lu ...?"


"Ya, iyalah. Lu pikir gue tipe orang yang plin plan..?"


"Tapi, kamar ini kagak sebesar kamar lu dirumah lho, Kei...!"


"Kagak mungkin juga, sekecil toilet kan...?"


Kedua temannya terkekeh lalu akhirnya mengantar kan Kei, menemui pemilik kost, sebelum akhirnya, mereka mengantar Kei untuk kekamar yang akan disewa oleh Kei.


Note: Mewujudkan impian, memang perlu perjuangan, dan juga pengorbanan, karena sebuah impian tidak akan terealisasi jika dua hal itu tidak dimiliki.


👉 jangan lupa like vote klik favo rate 5 jika suka ya 💖 yang selalu stay disini kalian terbaik 😇


👉 baca juga novel nonfiksi karya saya berjudul SANG PELAKOR

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2