
Mikha buru buru membuka pintu, ketika sedari tadi pintu rumah nya diketuk dari luar berkali kali. Ia baru saja pulang dari tempat kerjanya, Leo baru pamit keluar sebentar bersama temannya Jody, dan memang hanya ia sendiri dirumah.
Semula, Mikha mengira orang yang mengetuk pintu itu Leo adiknya, namun pintu tidak ia kunci, jika itu Leo, pasti tidak akan mengetuk pintu seperti itu, karena pintu tidak ia kunci.
"Ibu...?"
Ketika Mikha membuka pintu, wajahnya sedikit terkejut melihat tetangga nya sudah berdiri dihadapannya, sembari menadah tangan.
Tetangga yang suka sekali membaca tulisan nya, meskipun hanya ditulis dibuku tulis.
"Aduh, mana nih bukunya, ibu mau baca lagi penasaran lho ibu, gimana kelanjutannya. Udah ada kelanjutannya kan..? Sini dong...?"
Mikha bengong mendengar apa yang diucapkan oleh ibu ibu tersebut.
"Tumben malam malam minta buku, biasa juga siang...!"
"Kamu kan kerja, terus jam kerja kamu tu bingung tau. Tiap ibu kesini, kamu nggak ada dirumah, paling juga ketemu dengan adik kamu tuh, dia nodong suruh nyewa setiap kali aku pinjam buku kamu buat dibaca...!"
...Leo emang seperti itu, sama aku aja, dia suka ngomong, kak itu buku jangan dipinjam gratis dong, disewakan aja, lumayan ada pemasukan.....
Begitu kata Leo. Namun, Mikha tidak melakukan hal itu karena menurut nya, untuk disewa kan, masih kurang layak. Mengingat itu hanya tulisannya diatas buku tulis, tidak dicetak seperti buku yang layak disewa.
"Maafin adik saya ya Bu. Sebentar saya ambil bukunya, udah saya tulis kelanjutan nya, tapi ibu jangan lama lama bacanya, kalau saya mau lanjut nulis gimana..!"
Si ibu tersenyum girang. Ia mengangguk. Lalu tanpa sepengetahuan Mikha yang masuk kedalam mengambil buku, ia melesat kembali kerumahnya, yang bersebelahan dengan rumah kontrakan Mikha dan Leo. Beberapa saat kemudian, kembali dengan dua ikat sayur daun singkong plus satu bungkus tahu putih ditangan nya. Untuk Mikha, niatnya.
Mikha kembali, saat ibu itu sudah kembali lebih dulu didepan pintu rumah Mikha. Gadis itu menyerahkan buku tulis yang sedikit kumal karena sering berpindah tangan pada siibu.
Sang ibu menerima dengan wajah semringah. Lalu menyerahkan dua ikat daun singkong, dan satu bungkus tahu putih kepada Mikha. Mikha melongo.
__ADS_1
"Buat saya...?"
"Iya dong. Mumpung ibu lagi penasaran ini. Semangat mau baca, eh tapi kalau kelanjutan nya itu bikin kecewa aku kurangin jatah sayur kamu ya..!"
Mikha tersenyum mendengar ucapan si ibu.
"Nggak usah ngerepotin Bu. Bukunya dijaga aja, terus tulisannya nggak dijiplak aja saya udah ucapin makasih banget."
"Eh, nggak bisa gitu. Nulis itu perlu energi, nggak ada yang gratis didunia ini. Lagian, ibu juga mau berterima kasih sama kamu, disaat televisi ibu meledak kesambar petir, ibu nggak punya hiburan, cerita yang kamu buat ini bikin ibu jadi terhibur...!"
"Wah, Alhamdulillah kalau gitu Bu ya, seneng saya denger nya. Makasih lho Bu, udah jadi pembaca setia saya, padahal saya masih amatir gini. Malu saya kadang, kalo tulisan saya dibaca orang lain. Makasih juga sayurnya ya, saya suka..!"
"Ibu tahu, kamu hantunya daun singkong rebus kan..? Tanaman singkong kamu aja, sampai tidak ada pucuk nya sama sekali seperti itu, pokoknya, kalo ibu puas dengan kelanjutan nya, ibu bakal kasih banyak sayur buat kamu...!!"
Wanita itu mengucapkan janji itu untuk yang kedua kali.
"Ohya, kenapa kamu tidak menulis online saja Mikha..? Kan, bisa dapat duit dari platform yang menyediakan hal itu...? Lumayan kan..! Ibu juga tinggal baca diponsel, nggak perlu ketok rumah kamu, tenang aja, ibu pasti beli koin buat bayar satu episode cerita kamu..!"
Ah,jika mengingat kata plagiat. Hati Mikha masih terasa sakit. Perbuatan Kalisha, masih membuat ia merasa trauma.
"Saya nggak punya ponsel Bu, kalau nulis online kan, wajib punya ponsel, dan saya nggak punya sarananya..!"
"Gitu ya, padahal kalian berdua kerja ya, masa buat beli ponsel aja nggak bisa, duh Mikha, zaman sekarang, ponsel itu udah sama pentingnya seperti beras lho, ibu aja tanpa ponsel rasanya seperti sayur tanpa garam...!"
Benar, Mikha setuju dengan ucapan ibu tetangga nya ini, bahwa ponsel adalah barang yang penting untuk hidup dizaman ini, rata rata semua punya benda itu. Hanya Mikha dan Leo yang tidak punya. Mikha berfikir, meskipun ponsel memang sebuah benda yang penting untuk di miliki, namun tanpa ponsel mereka tetap bisa hidup, walau tidak semudah saat mempunyai benda tersebut.
Jika tidak punya beras...? Tentu saja mereka tidak akan hidup. Mereka bisa mati kelaparan. Dan benar juga, terkadang Mikha juga gemas sendiri, sudah bekerja keras pun, tetap saja hasilnya tidak sekeras saat dia berusaha.
Hasil yang didapat, hanya cukup untuk kebutuhan hidup. Bagaimana bisa ia menabung segala untuk membeli ponsel...?
__ADS_1
"Lain kali difikirkan Mikha. Ibu senang kalau kamu mau menulis online, ibu tinggal buka ponsel, terus baca sambil angkat kaki, santai...!"
"Iya Bu, nanti saya fikirkan. Ohya, boleh saya tanya, kenapa ibu suka karya saya...?"
Mikha penasaran, kenapa ibu ini suka dengan cerita yang ia buat, padahal cerita itu ia tulis dibuku tulis dengan tulisan tangan pula.
"Karena ibu suka, ibu suka cerita yang kamu buat, kata kata kamu itu ringan, tidak berat diotak, aduh ibu ini udah banyak fikiran, kebutuhan naik, sembako naik, garam juga naik, belum lagi suami ibu abis rokok ngeluh ini itu, datang lagi anak ibu, minta uang jajan sedang uang didompet sisa seribu, pusing ibu Mikha, jadi ibu tidak suka baca tulisan yang berat diotak. Ibu suka tulisan kamu, semoga nanti kamu jadi penulis terkenal ya, banyak melahirkan anak dan juga karya hehe..!"
Mikha terharu dengan ungkapan perasaan ibu tetangga nya ini. Jadi seperti itu..? Rasanya, ia bahagia sudah membuat orang lain suka dengan karyanya. Didoakan pula. Selama ini yang ia temukan, kebanyakan pembaca yang hanya bisa menuntut, tapi tidak bisa menghargai karya yang ditulis nya. Jika tidak suka dengan alur cerita, spontan ia dimaki celaka 7 turunan, itukan sangat gila.
"Makasih doanya Bu, Amiiin, makasih juga untuk pendapat ibu tentang karya saya. Tapi, untuk banyak anak, rasanya nggak bisa deh hehe.. !"
"Kenapa...? Banyak anak banyak rezeki lho, sana cepat menikah saja, biar ada yang cari uang, kamu dirumah aja menulis, biar banyak melahirkan anak, juga karya ...!"
Otak mesum ibu tetangga mulai berulah.
"Menikah dengan siapa..? Ibu ada ada aja ..!"
"Duuh, segitunya, adik kamu sendiri yang bilang pria gondrong tempo hari itu pacar kamu. Ganteng lho. Seperti musisi ya..!"
Dasar Leo, diam diam gibah juga diluar tentang aku dan Kei, kalau didengar Kei, kan nggak enak....
Mikha mengeluh dalam hati, mendengar info yang diucapkan oleh ibu tetangga nya. Sementara si ibu tetangga nya senyum senyum sembari pamit Dengan wajah semringah...
Note: Pembaca yang baik pasti bisa paham perasaan penulis nya, dan penulis yang baik pasti paham dengan perasaan pembacanya, karena antara pembaca dan penulis, sama sama punya peran penting dalam membesarkan sebuah karya tulis.
👉 jangan lupa like, vote, komen mendukung, like, rate 5 jika suka ya 💗
👉 baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul SANG PELAKOR.
__ADS_1
👉 Dan novel karya saya juga terbit diplatform kuning ya NOV*LME judulnya, ada FACE (tamat) DOKTER ITU KAKAKKU ( on going) dan yang baru saja terbit MAHKOTA DEWA ( on going)
bersambung