
Beberapa tahun kemudian....
Mikha dan Leo sudah tumbuh dewasa. Namun tidak ada perubahan berarti yang mereka terima dalam hidup, kecuali perubahan tubuh dan emosi dalam diri mereka masing masing.
Mikha tumbuh menjadi gadis pendiam yang sangat tertutup. Sedang Leo tumbuh menjadi pemuda yang keras dan tidak mau di tindas. Terkadang karena sikapnya itu, Leo bahkan menyebabkan keributan. Namun, pemuda itu tetap menjaga nasehat sang kakak untuk tetap berada dalam jalur yang benar. Leo akan ribut, jika berhadapan dengan orang zalim. Banding terbalik dengan sang kakak, yang terkesan terlalu mengalah dan diam.
Semenjak kedua orang tua mereka telah meninggal, pasca bercerai Leo dan Mikha hidup saling menguatkan. Jika dulu, Mikha yang selalu melindungi sang adik dari tindakan jahat teman teman sekolahnya, kali ini Leo yang jadi super Hero setiap kali sang kakak diganggu oleh orang yang sengaja ingin menjatuhkan sang kakak.
"Kak, lain kali jangan diem aja kalo di kata katain, tabok. Buat mereka merasa kapok udah macam macam sama kakak...!"
Leo bicara ketika mereka sedang makan malam bersama. Daun singkong rebus plus sambel terasi ditambah ikan asin goreng sudah menjadi menu yang nikmat untuk mereka berdua, apalagi daun singkong itu dipetik dari hasil menanam sendiri. Lebih terasa nikmat nya. Mikha sangat telaten. Meski disibukkan dengan pekerjaan nya disebuah mini market, gadis itu tetap meluangkan waktu merawat tumbuhan yang ia tanam dibelakang rumah kontrakan mereka yang lahannya juga tidak seberapa.
"Ntar bikin masalah, terus dipecat, aku jadi pengangguran, sebaiknya kamu tu yang jangan keterlaluan berantem, ntar bos kamu kesel terus kamu diberhentikan...!"
Leo cengengesan. Hari ini, ia memang sudah bertengkar dengan rekan satu kerjanya dua kali. Belum lagi hari hari sebelumnya, Leo tidak tahan jika ia dihina atau diperlakukan tidak adil. Jika benar, harus dilawan itu prinsipnya.
"Kita emang miskin kak. Tapi kita nggak boleh diem aja kalo diinjak..!"
"Terus kalo dipecat..!"
"Cari kerja lagi..!"
"Kalo nama baik kita rusak, cari kerja juga makin sulit, kita udah nggak sekolah, terus kalo suka cari masalah juga, mau kerja apa kita..!"
"Mulung juga bisa..!"
"Kamu pikir, jadi pemulung itu gampang...? Kamu ingat nggak sama tetangga kita yang dulu suka mulung itu, dia sampe tiap hari digebuki karena dimusuhi sesama pemulung lain karena hasil dia lebih banyak. Duit hasil mulung abis buat beli obat doang..!"
"Heem, hidup ini keras ya kak, makanya kakak juga jangan lembek jadi orang, aku nggak suka liat kakak di remehkan gitu, walo nggak harus nabok, debat juga boleh kak..!"
"Aku sebenarnya juga bisa ngomel kok..!"
"Dihadapan mereka..?"
"Dibuku diary..!"
Leo mencibir.
"Dibuku diary, kapan bisa buat mereka sadar kak. Percuma."
Mikha ganti mencibir.
"Setidaknya, hati ku lega kalau abis nulis diary..!"
__ADS_1
"Sekalian ditekuni hobi kakak tuh, biar ntar jadi penulis sekalian,"
Mikha terdiam.
Sebenarnya, tanpa sepengetahuan kamu, aku udah berusaha nyoba Leo. Tapi sampai sekarang perjuangan ku itu gagal terus, mungkin karena aku ini bodoh...
Mikha bicara didalam hati.
"Kak. Sebenarnya, aku masih nggak ngerti, kenapa bisa kita terlahir kalo cuma nerima ujian ujian melulu..!"
Mikha menarik nafas mendengar suara adiknya.
"Nggak selamanya kita berada dalam situasi begini,"
"Nggak selama nya ..? Udah belasan tahun lho kak. Kita diuji begini, coba deh ingat, ada nggak di memori kakak, kita hidup dengan bahagia..? Nggak ada kan...? Kalo airmata kita bisa ditampung, mungkin udah penuh satu drum itu karena hidup kita kebanyakan nangisnya daripada senyum dan ketawa nya..!"
"Terus kalo gitu kenapa kamu jadi malu menangis sekarang..?"
Leo garuk garuk kepala meskipun kepala nya tidak gatal sama sekali.
"Karena sekarang udah sunat lah, malu mewek, udah gedde juga...!"
"Tapi menangis itu nggak harus terpatok umur kok. Airmata itu milik siapa aja, bukan untuk anak kecil aja, karena dengan menangis, kita bisa membuat hati kita lega...!"
"Tapi menangis juga bikin hati kita buta kak. Kita jadi lemah, gampang ditindas dan selalu disepelekan...!!"
Leo mendesah.
"Kak, emang kakak mau, kita hidup gini gini terus...?"
"Miskin maksud nya..?"
"Ya seperangkat. Miskin, ditindas, disepelekan, di zalimi..!"
"Aku yakin kok hidup itu berputar Leo, yang penting jangan sampai karena hal itu, kita jadi merusak hidup kita sendiri..!"
"Kakak punya cita cita kan..? Kenapa kakak nggak coba merealisasikan nya, daripada nulis dibuku diary terus..!"
"Nggak semudah itu, aku punya banyak keterbatasan, banyak hal yang harus kupelajari dulu, dan aku aja bingung mau mulai darimana...!"
"Kak, ntar kalo aku kredit ponsel, kakak ngizinin nggak..?"
Mikha spontan berpaling menatap adiknya mendengar ucapan sang adik.
__ADS_1
"Emang kamu bisa bayar cicilan nya..?"
Bukan menyepelekan, Mikha hanya mengingatkan, bahwa cicilan ponsel tidak murah. Apalagi pekerjaan sang adik yang hanya jadi tukang cuci motor, tentu itu bukan hal yang mudah mengumpulkan uang untuk mencicil sebuah barang setiap bulan.
"Makanya, aku mau cari kerjaan lain kak, nggak mau cuci motor terus, biar bisa beli barang juga..!"
"Ngebet bener mau punya ponsel, punya gebetan...?"
Leo mencibir, mendengar pertanyaan sang kakak.
"Apaan, aku nggak pernah naksir cewek kok, aku mau punya ponsel, karna aku pengen serius main game..!!"
Pikiran Mikha teringat pada kejadian beberapa tahun yang lalu saat mereka masih kecil. Leo kepergok sedang bermain game di sebuah warnet tidak jauh dari rumah, oleh sang ayah, hingga sang ayah murka dan menghukum Leo, tidak boleh mendapatkan jatah makan malam, Mikha tahu, adiknya ini maniak bermain game, tapi ia baru tahu kalau sang adik sampai punya fikiran untuk membeli ponsel untuk mempermudah ia bermain game.
"Cuma buat main game, kupikir buat bisnis apa gitu...!"
Leo mendelik mendengar cibiran sang kakak.
"Game juga punya prospek kedepan yang bagus kak. Akukan bisa jadi gamers itu bisa menghasilkan uang lho..!"
"Dengan cara taruhan...?"
"Aduh, otak penulis emang nggak bakal nyambung dengan otak gamers...!"
Leo bersungut-sungut sambil membawa piring kotor kebelakang dan segera mencucinya.
"Aku emang nggak paham soal game, tapi aku tau, beberapa gamers emang bisa cari duit lewat situ, yang aku ragukan tuh keseriusan kamu, gimana kalo kamu habisin waktu main game sampe lupa segalanya..?"
"Kan ada kakak ngingetin...!"
Leo menyahut santai. Mikha terdiam.
"Leo, aku nggak ngelarang kamu untuk bercita cita jadi apa, asal kamu serius menekuni, dan jadikan itu prioritas hidup kamu, untuk sekedar hobi pun itu juga nggak dilarang, asal kamu nggak merusak hidup kamu karena kecanduan, bagaimana pun situasi kita terlahir, kita terlahir pasti punya tujuan, Tuhan percaya pada kita, bahwa kita bisa membuktikan pada anak anak yang sama nasipnya dengan kita, untuk tetap berjuang, bukan merusak hidup kita...!"
Leo membalik kan tubuh nya mendengar ucapan sang kakak.
"Aku paham kak. tapi manusiawi dong kalau aku pernah bertanya, kenapa kita terlahir, kalau cuma harus menderita begini..? Aku bukan mau menyerah, hanya mengucapkan kalimat yang selama ini nggak bisa aku ucapkan secara gamblang. Tenang aja kak. Selagi aku punya kakak, kurasa aku udah nggak perlu menuntut macam macam sama Tuhan kok, aku pengen sukses supaya bisa membuat kakak bahagia aja, gantian. Dulu kakak selalu melindungi aku, sekarang aku yang wajib melakukan itu, karena apa...? Kita terlahir beda, kakak cewek, aku cowok. Cowok harus bisa jadi pelindung, bukan dilindungi...!"
Mikha terenyuh mendengar ucapan yang diucapkan oleh sang adik. Tidak menyangka, adiknya yang dulu kerap menjerit ketakutan karena diganggu lalu berlindung dibalik tubuh kecilnya kini justru tumbuh menjadi pria pemberani...
Note: Tidak ada ikatan yang paling kuat secara batin, selain ikatan pertalian darah. Jika saat dewasa anda berselisih paham dengan orang yang jadi saudara anda, jagalah hati untuk tidak membenci. Karena kebersamaan saudara mengukir pahit manis kehidupan kita, baik dimasa lalu, dimasa sekarang juga dimasa depan.
👉 Jangan lupa like, vote klik favo rate 5 jika suka ya❤️
__ADS_1
👉 Baca juga novel nonfiksi saya berjudul SANG PELAKOR yang juga ada dilapak ini❤️
Bersambung