CINTA SANG PEMUJA

CINTA SANG PEMUJA
BAB 6. TERGODA.


__ADS_3

Mikha menyerahkan buku tulis nya kepada Rida. Akhir dari pertemuannya dengan Kalisha adalah, gadis itu ingin melihat salah satu cerita yang dibuat oleh Mikha. Dan dengan polosnya, Mikha menyetujui, berharap itu awal nya untuk bisa meraih mimpi, menemukan orang yang bisa membantu nya untuk mewujudkan hal tersebut.


"Ngapain kak, semringah gitu ..?"


Leo menyapanya ketika, Mikha masih saja sibuk berimajinasi bagaimana reaksi Kalisha jika sudah membaca salah satu karyanya.


"Lagi seneng aja, sekian lama aku nggak pernah ketemu orang yang paham kalau hobi menulis aku tuh berguna, sekarang aku menemukan nya.."


"Maksud kakak...?"


"Cerita yang aku buat, di pinjam oleh temen Rida, temen satu kerja kakak. Dia mau lihat, cerita kakak itu gimana, ntar dibantu buat jadi sebuah buku, kalau meyakinkan..."


"Kakak yakin, dia niat bantu...?"


"Kenapa enggak...?"


"Bisa aja kan, dia cuma alibi mo lihat, tapi sebenarnya mau nyuri ide kakak..!"


Mikha terdiam. Mencuri ide ya. Apa benar Rida dan temannya seperti itu..?


"Nggak mungkin lah, masa Rida bisa gitu sih. Dia aja nggak yakin ceritaku itu bagus, makanya minta temennya itu ngeliatin.."


"Kak. Sekarang aku mau tanya, menurut kakak, cerita yang kakak buat itu bagus nggak...?"


"Aku nggak tau..!"


"Kakak harus tau. Karena kakak yang membuatnya, menurut kakak bagus nggak...?"


Mikha tidak bisa mengklaim tulisan yang dia buat itu bagus. Hanya saja, setiap kali ia menulis, ia selalu menulis dengan hati. Hingga ketika selesai menulis, ada kelegaan hati saat membaca hasilnya. Apakah itu layak dikatakan bahwa, tulisan yang ia buat itu bagus...?


"Ketika kita membuat sebuah karya, terus kita puas dengan karya tersebut, artinya karya itu bagus menurut kita, pendapat orang emang berbeda beda, tapi untuk mengetahui kita emang berbakat atau kagak, kita bisa menilai nya sendiri. Kalau kakak menilai karya yang kakak buat itu memuaskan, artinya karya kakak bagus. Ngapain coba minta orang lain menilai itu segala..!"


Mikha lagi lagi terdiam. Benar juga. Apa yang dikatakan Leo benar. Setiap ia selesai menulis, lalu membaca tulisan yang ia buat, Mikha akan bisa merasa kan perbedaan. Jika tulisan itu memuaskan, hati nya akan terasa puas, jika tidak, maka ia akan merasa tidak puas, lalu mengulang tulisan tersebut. Apa yang diucapkan adiknya memang masuk akal.


Namun, haruskah mencurigai Kalisha dan juga Rida, karena hal itu....?


***


Leo menghentikan langkahnya, ketika ia tiba didepan sebuah counter ponsel yang cukup terkemuka di kotanya. Ponsel yang ia dambakan berjejer di etalase bagian depan. Menggoda iman. Langkah nya memperdekat jarak. Bergaya seolah olah, ia sedang ingin membeli ponsel. Hingga salah satu penjaga counter, menghampiri Leo, dengan senyum ramah. Berharap, Leo bukan pelanggan yang hanya nempel sekejap saja didepan counter, setelah itu pergi ..


"Beli hari ini diskon 20 persen mas, lagi promo soalnya, yuk..!"


"Yuk kemana..?"


Leo bertanya dengan tampang blo'on.

__ADS_1


"Yuk dibeli mas.."


Penjaga counter ponsel itu mengedip kan sebelah matanya, kearah Leo. Bukan hanya melakukan hal itu. Wanita itu juga sedikit membusungkan dada dihadapan Leo, membuat Leo jadi salah tingkah, karena bagian dada wanita itu sedikit menyembul seperti ingin melompat dari wadahnya.


Sial, mata gue masih suci mak, belum pernah liat hal ginian, ntar di colok Tuhan, mati gue ...


Leo menggerutu dalam hati, namun biadapnya, matanya semakin gagah memelototi bagian dada penjaga counter ponsel itu.


Seolah paham, pemuda dihadapan nya tergiur dengan apa yang ia suguhkan, wanita itu semakin berani. Diraihnya telapak tangan Leo yang tidak sengaja bersandar di etalase counter ponsel tersebut.


"Mas nya emang punya uang berapa...?"


Bisiknya manja. Seluruh bulu kuduk Leo meremang.


Woy, catat. Tidak ada satu wanita pun yang pernah melakukan hal ini pada Leo. Wajar, wajar jantung Leo seperti ingin meledak diperlakukan berani seperti itu..


"Em, aku. Aku cuma punya uang sedikit sih, seperempat harga ponsel itu juga kayaknya belum ada, belum cukup duitnya.."


Leo menjawab gelagapan. Gila. Ngapain juga dia harus jujur menjawab pertanyaan wanita itu...? Buat apa...? Ingin ditertawakan kalau ia kere...?


"Sini uang mas, biar bisa bayar cicilan ponsel itu, nunggu sampe cukup keburu ponselnya hilang lho mas, yuk mari..!"


"Mari..eh...!"


"Ponselnya mbak, di bungkus nggak pake lama..!"


Serunya sembari mengeluarkan dompet bermerk milik nya dari celana kedodoran yang ia pakai.


Leo protes. Ponsel itukan ingin diberikan padanya tadi, kenapa justru ingin diberikan pada pemuda kurus kering yang baru datang...? Jiwa perjuangan Leo berkobar.


"Mbak, itu ponselkan buat saya tadi,"


Katanya pada si penjaga counter. Sigadis tersenyum simpul.


"Diantara kalian berdua, yang punya uang cas, buat beli ponsel ini siapa, ingat ya, cas tanpa nyicil apalagi ngutang..!"


Sipemuda kurus kering, mengacungkan tangan. Sembari mengeluarkan semua isi dompet nya. Gila, ada uang cas berwarna merah, dan biru, ditambah beberapa kartu kredit plus kartu ATM, anak orang kaya kah...? Tapi kenapa tubuhnya kurus kering...? Dengan kurang ajarnya, Leo menggibah perawakan sipemuda disampingnya, sembari tidak rela saat melihat perlengkapan perang saingan nya tersebut.


Lengkap dibandingkan dirinya, yang dompet saja sudah mengelupas kiri kanan kulitnya.


"Kamu modal apa mas...?"


Tanya sigadis pada Leo.


"Kan tadi mbaknya ngomong boleh nyicil dulu ntar kekurangan nya di tambah..!"

__ADS_1


Sipemuda kurus kering tertawa mendengar ucapan Leo.


"Emangnya beli rantang pake dicicil...? Lu kalo kagak punya duit kagak usah sok beli ponsel. Ponsel ini perlu banyak duit, tampang lu itu mana ada punya duit banyak...!"


Leo tersinggung di hina seperti itu oleh sipemuda kurus kering. Bukan karna dia miskin, tapi ia merasa tampang nya lebih baik daripada tampang pria dihadapannya ini, yang lebih mirip seperti pemuda pecandu narkoba.


"Tampang lu tampang kriminal, emang lu beneran kaya..? Paling juga itu milik ortu lu, atau hasil dari ngedar narkoba, liat aja body lu cekking, gue dong six pack...!"


Leo menyingkap baju nya dibagian perut, memperlihatkan perut kotak kotak hasil kerja keras nya selama ini berjuang menaklukkan hidup hingga tanpa olahraga khusus tubuhnya terbentuk sangat atletis.


Wajah pemuda kurus kering itu merah padam. Marah...? Tentu. Siapa yang tidak marah disamakan dengan pecandu...


"Tubuh keren kagak punya duit lu kira bisa beli ponsel...? Lu cari dulu Tante Tante girang buat ngajak lu kehotel baru lu bisa beli ponsel..!"


Leo ingin menghadiahkan pria itu sebuah bogem mentah, karena muak dengan ekspresi pemuda tersebut, namun 3 orang security muncul, dan langsung menyeret Leo menjauh dari counter ponsel.


Leo tidak terima diperlakukan seperti itu, terutama uangnya masih ada pada gadis penjaga counter tadi.


"Pak. Saya mau beli ponsel pak, uang saya sama mbak penjaga counter itu, saya bukan mau buat keributan..!"


Leo berusaha menjelaskan sembari meronta ingin dilepaskan. Tapi security itu tidak mengindahkan keinginan Leo.


"Bawa dia pergi aja pak. Dia gembel yang mau ngutang di counter ini..!"


Sipemuda kurus kering, memprovokasi keadaan, sembari menatap sinis kearah Leo.


"Bohong pak, saya bukan mau ngutang saya mau nyicil ponsel...!"


"Bawa aja dia pak, dia tadi kurang ajar sama saya, masa dada saya dicolek colek terus ngasi uang beberapa ratus ribu biar saya nurut sama dia..!"


Suara gadis penjaga counter terdengar. Dan bagai geledek menyambar tubuh Leo. Mencolek dada...? Nooo...!! Dia tidak merasa melakukan itu. Yang benar mempelototi, siapa suruh memasang pose menantang begitu, tapi kenapa ia di vitnah seperti itu...? Apa ini bentuk godaan si penjaga counter untuk mencari uang tambahan...?


Leo semakin ingin meronta karena tidak rela yang hasil kerja keras nya itu di ambil begitu saja oleh si gadis penjaga counter, dan kena label memegang dada sigadis pula. Baru memelototi saja divitnah memegang, bagaimana kalau tadi ia tergoda buat menjamah..?


Leo bodoh..! Kenapa lu buang duit lu dengan sia sia hanya karena digoda tipis seperti itu ..?


Hati nurani Leo mengutuk nya, seiring tubuhnya yang didorong kasar oleh dua security itu untuk menjauh dari counter ponsel tersebut...


Note: Saat godaan datang menjerumuskan, kuatkan hati dan fikiran agar godaan tidak membuat niat awal kita berantakan.


👉 jangan lupa like, vote klik favo rate 5 jika suka ya 💖


👉 Baca juga novel nonfiksi karya saya berjudul SANG PELAKOR yang telah lebih dulu terbit dilapak ini ❤️


bersambung

__ADS_1


__ADS_2