
Mikha memeriksa chat yang masuk setelah meng-upload satu episode cerita yang ia buat disalah satu platform menulis online. Ada beberapa chat, pembaca yang membaca karyanya, ada pula dari sesama penulis.
Ada salah satu chat penulis yang lebih dulu terjun menulis diplatform yang sekarang ia geluti. Mikha merasa heran, penulis itu chat padanya. Dibacanya chat tersebut.
"Hay salam kenal, udah mampir kekaryaku belum...? Kalau belum, mampir yuk, dijamin seru..!"
Mikha membaca chat pertama penulis tersebut, awalnya masih biasa saja, lama lama menjadi chat yang sedikit menyebalkan. Mikha katakan menyebalkan, karena penulis itu mulai mengatur atur Mikha dalam menulis.
"Kalau mau rame pembaca, ikut cerita yang lagi booming, jangan buat yang beda, ntar pembaca nggak bakal melirik, sekarang tuh lagi booming cerita yang dipaksa paksa, ikutin deh buat cerita gitu, dipaksa jongkok kek, dipaksa mewek kek, dipaksa makan kek, pokoknya yang bertema dipaksa pasti booming dijamin...!"
Mikha, tahu tema seperti itu sudah menjamur, tema paksa memaksa, akan tetapi dia tidak punya niat untuk melakukan hal yang sama. Setiap penulis berhak menentukan cerita apa yang ia buat. Mikha bukan tipe penulis yang latah mengikuti hal hal yang sedang booming, karena ide itu bisa ia dapat darimana saja, jikapun ada yang latah ikut ikutan seperti itu, itu hak mereka, Mikha tidak termasuk, namun, ia paling tidak suka ada seseorang yang memaksanya untuk melakukan sesuatu.
Sesuatu yang dilakukan dengan cara terpaksa itu tidak akan pernah baik pada akhirnya. Sejak Mikha berniat menulis online, Mikha tidak tertarik menulis sesuatu yang sudah banyak dipakai. Meskipun itu ladang uang bagi para penulis, tapi penting bagi Mikha menjadi diri sendiri. Karena ia menulis dari hati, bukan dari apa yang ia dengar dan apa yang ia lihat untuk sebuah konsep cerita.
Ladang uang...? Tidak juga. Menulis online tidak selalu langsung bermandikan uang, hanya saja anggapan orang orang memang seperti itu, padahal ada ujian yang harus dilewati para penulis, dan ujian itu tidak mudah. Syukur syukur menemukan platform yang menghargai sebuah karya, bagi yang tidak...? Penulis bagai sapi yang hanya diperah air susu nya, tapi tidak diperhatikan asupan gizi yang diberikan untuk sisapi tersebut, namun itulah dunia kepenulisan. Banyak suka dan dukanya. Pembaca masih terlalu banyak tidak tahu hal itu, karena memang, tidak semua pembaca tahu semua aturan sebuah platform.
"Maaf, untuk ide cerita, aku udah mengkonsep nya sendiri sebelum menuliskannya, jadi aku menulis memang benar benar itulah ide yang aku tulis, jika diharuskan menulis hal yang sudah marak terjadi, aku mungkin kurang berminat, tapi untuk mereka yang melakukan itu, itu hak mereka, aku tidak mau bilang karya seperti itu buruk, karna buatku, karya yang buruk itu adalah yang plagiat, sebaik apapun karya, jika itu hasil curian maka ia tidak pantas disebut penulis, tapi pencuri, jadi terima kasih untuk sarannya, hanya aja aku tidak tertarik untuk melakukan hal yang sudah banyak terlihat...!"
"Kamukan penulis baru diplatform ini, nggak takut karya kamu ngga laku ..? Udah capek capek nulis, nggak ada yang baca, apalagi like dan vote, gimana dapat penghasilan kalau cerita yang kamu buat sepi...?
__ADS_1
Penulis itu masih saja mencecari Mikha dengan chatnya. Memang, Mikha masih tergolong baru, like untuk setiap episode nya saja tidak sebanyak penulis yang sekarang chat dia seperti itu, akan tetapi beberapa yang membaca, yang like, yang memberikan komentar mendukung, yang vote, meski tidak banyak, tetap dihargai Mikha. Karna ia yakin, dari satu orang pembaca setia, akan berubah menjadi seribu orang pembaca setia, jika sipenulis fokus menulis dan meningkatkan kualitas tulisannya.
Tidak usah menjadi diri orang lain, hanya untuk disukai, justru buatlah orang lain menyukai kita apa adanya, itu prinsip Mikha, dan itu tetap diterapkannya sampai sekarang.
Pada akhirnya, penulis itu menyerah membuat down mental Mikha, belakangan, Mikha baru tahu, penulis itu sengaja melakukan hal itu untuk membuat mentalnya jatuh. Beruntung, Mikha bukan tipe orang yang gampang terbawa ucapan orang lain.
Hingga kata kata apapun yang ia terima, tidak membuat ia down karena ia lebih suka menjadi dirinya sendiri, tidak mau menjadi diri orang lain, hanya untuk disukai, karena Mikha yakin, setiap cerita pasti punya pembaca setianya, jadi tidak usah memaksakan diri, untuk menjadi seperti orang lain, hanya ingin disukai.
"Kak, makasih ya udah buat cerita yang lain dari yang lain, kita pembaca jadi punya pilihan, ketika banyak hal yang sama hingga membuat kita bingung untuk memilih...!"
Ada chat yang lain, masuk dichat setelah penulis yang ingin menjatuhkan Mikha tersebut. Chat dari pembaca, dan Mikha seolah menenggak obat penyemangat, saat membaca chat tersebut.
Mikha mengucapkan kalimat terima kasih pada pembaca setianya tersebut, tidak hanya komentar, orang itu juga mengirimkan dia chat, Alhamdulillah diberi dukungan yang sangat luar biasa..
Lagi, Mikha membaca chat. Ada sebuah chat yang cukup ekstrim masuk kedalam chat pembaca yang mem-follow akunnya tersebut.
"Bisa bikin adegan romantis begitu, apa penulisnya emang udah berpengalaman..
Deg. Jantung Mikha seolah berhenti. Berpengalaman...? Yang ada, Mikha belum pernah pacaran, bagaimana disebut pengalaman...? Mikha mampu menuliskan adegan romantis seorang pasangan didalam karyanya itu, karena setiap menulis ia pasti menghayati. Jadi tidak sulit untuk nya menulis adegan romantis, meskipun ia minim pengalaman.
__ADS_1
Tiba tiba saja bayangan Kei berkelebat dibenaknya, berikut ungkapan perasaan pria tersebut. Ah, jika mengingat hal itu, Mikha merasa berdebar. Namun, untuk berfikir hubungan mereka bisa jadi lebih dari seorang sahabat, rasanya Mikha belum berani.
Aura kakak Kei, sangat jelas tidak nyaman, apa jadinya jika ia berhubungan dengan adik pria itu, sementara ia seorang gadis biasa saja, yang tinggal disebuah gang sempit, bayar uang kontrak saja masih suka menunggak karena penghasilan tidak sebanding dengan pengeluaran, meskipun hidup mereka sudah berhemat luar biasa, namun itulah faktanya.
Mikha yakin, hidupnya akan semakin rumit nantinya jika ia menanggapi perasaan pria tersebut.
Kalau belum ngerasain adegan romantis sungguhan, aku bisa kok ngajarin kamu gimana rasa aslinya, kita ketemuan yuk..
Mikha merinding mendengar apa yang diucapkan oleh pria yang mengaku pembaca setianya tersebut. Mengajari katanya...? Apa yang perlu dipelajari...? Dasar gila...! Mikha hanya bisa mengumpat dalam hati, karena ia memilih untuk mengabaikan chat itu, daripada diladeni yang ada membuat mood menulisnya jadi semakin buruk...!
Note: Jadilah diri kita sendiri, dengan begitu kita mengajarkan orang lain untuk bisa menerima kita apa adanya, bukan ada apanya..!
👉 Jangan lupa like vote n rate 5 jika suka ya 💗 komen mendukung nya juga jangan lupa.
👉baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul SANG PELAKOR.
👉Bagi kalian yang ingin membaca novel non-fiksi karya saya berjudul DOKTER ITU KAKAKKU, DAN FACE, ada diplatform kuning NOV*LME.
...bersambung...
__ADS_1