CINTA SANG PEMUJA

CINTA SANG PEMUJA
BAB 19. TERNYATA MEMANG PENTING.


__ADS_3

"Kak, dapat sayur darimana...?"


Mikha tergagap saat tiba tiba saja, Leo sudah masuk kedalam rumah.


"Kebiasaan deh, nggak ucap salam. Main masuk aja kedalam rumah..!"


Omel Mikha, Leo cengengesan.


"Aku udah ucapin salam kak, kakak aja tuh, yang nggak nyaut, kayaknya kakak lagi sibuk ngelamun..!"


Mikha bengong. Benarkah...? Ah, iya. Tadi, dia memang sedang melamun, hingga mungkin tidak mendengar salam yang diucapkan oleh Leo.


"Aku dapat sayur dari tetangga, hadiah pembaca. Ohya, kamu tu ya, ngapain sih nyebar gosip soal aku dan Kei..?"


"Hadiah pembaca ya, kenapa nggak uang aja sih kak, anggap aja nyewa, kakak nih, lemah iman. Nggak bisa melihat muka melas, kalo disewakan kan lumayan duitnya kak. Satu tetangga berapa gitu, 10 tetangga udah banyak...!"


Mikha mencibir mendengar ucapan adiknya.


"Lihat sikon juga kali, kalau udah dicetak nggak papa disewa, inikan ditulis tangan, lagian dikasih sayur juga udah syukur, daripada nggak sama sekali..! Terus jawab pertanyaan aku deh, ngapain coba kamu buat gosip nggak bener antara aku sama Kei...!"


Leo ingin berlalu menuju dapur. Perutnya keroncongan, pergi keluar bersama Jody, mereka hanya nongkrong di warnet, main game, tanpa makan.


"Kak, masak apa..?"


Leo bertanya, sembari membuka tudung makanan. Seleranya terpicu dengan makanan yang ada didalam tudung makanan tersebut. Ada lalapan, sambel plus tempe dan tahu goreng. Tidak sabar, Leo segera mengisi nasi kepiring kosong yang diambil nya.


"Ini anak, aku tadi nanya kamu lho...!"


Mikha sekarang berdiri diambang pintu dapur, menatap serius kearah sang adik.


"Itu bukan gosip kak, itu beneran, bentar lagi, kakak ditembak deh, percaya sama aku..!"


"Jangan ngayal terlalu tinggi deh. Kamu pengen aku sama dia pacaran, cuma karna mau nebeng ponsel dia kan...?"


"Yeeee, dia sendiri bilang, ntar tu ponsel buat aku, dia mau beli baru,"


Leo segera duduk dilantai, meletakan piring dihadapan nya, dan membaca doa makan, lalu mulai menikmati makan malam nya. Sangat lahap. Seperti nya, pemuda itu benar benar lapar.


Mikha ikut duduk disamping adiknya. Menarik nafas, lalu...


"Jangan terlalu banyak menuntut, nanti kita dianggap matre lho, kita emang miskin, tapi kita masih punya harga diri...!"


Mikha bicara dengan tampang serius.

__ADS_1


"Kak, aku tahu, aku juga nggak bakalan pinjem barang orang, kalau aku tahu, orang itu pelit, terus perhitungan, gini gini, aku bisa menilai karakter orang kak. Jadi, kakak nggak usah khawatir, Kei itu emang suka direpotkan kok, percaya sama aku, ntar dia pasti nembak kakak..!"


Leo berkelit, ketika Mikha ingin mencubitnya, ketika ia usai mengucapkan kalimat tersebut. Meski begitu, pemuda itu tetap menikmati makan malam nya dengan nikmat.


"Kamu udah kumpul duit berapa buat beli ponsel..!"


"Kredit..!"


Leo meralat ucapan kakaknya.


"Iya, maksud nya itu,"


"Baru dikit kak, akhir akhir ini cucian motor lagi sepi, kayaknya udah pada malas nyuci motor kali orang, aku coba cari kerjaan lain, belum ketemu, sedih aku tuh...!"


Iya juga. Apalagi, kebutuhan juga banyak, tidak mungkin uang hasil kerja ditabung semua. Penghasilan pas pasan, apa yang mau sisihkan...? Sudah bisa makan dan sewa rumah saja mereka sudah bersyukur.


"Kalau ponsel Kei, jadi di kasi ke aku, ntar aku kredit kok, aku juga nggak mau gratisan gitu, diakan belum jadi suami kakak, pantang kan bagi kita untuk menadahkan tangan..!"


Mikha lagi lagi mencibir mendengar ucapan adiknya tentang kata " suami" itu.


"Udah deh, nggak usah suka berkhayal. Nggak enak didenger orangnya ...!"


"Kan, Kei juga lagi kerja kak...!"


"Kak, kenapa emang nanya soal ponsel...?"


Leo jadi ingin tahu, apa yang sedang difikirkan oleh kakaknya.


"Setelah difikir fikir, ponsel itu emang penting. Aku tadi baca berita juga di majalah warung depan, katanya, kalo kita buat blog, terus nulis disana, ntar tulisan kita dilirik penerbit..!"


"Dilirik terus di lamar, kayak Kei, sekarang, lagi ngelirik kakak, terus melamar kakak deh...!"


"Kamu tuh...!"


Leo tergelak melihat ekspresi wajah sang kakak, puas sekali dia bisa mempermainkan perasaan kakaknya ini.


"Aku serius lho...!"


Sungut Mikha. Leo masih cengengesan.


"Oke deh, kakakku sayang, aku juga serius, terus kenapa dengan blog itu, sumpah aku nggak ngerti...!"


"Iya, kalau aku punya ponsel kan, aku bisa nulis blog diponsel,"

__ADS_1


"Plus nulis online juga..!"


"Eh...?"


"Kenapa...?"


"Kok, kamu tau soal itu..?"


"Duh, aku ini sering kewarnet kak, disana tuh segala info aku dapatkan, dari yang berguna sampe yang kagak guna, pokoknya, kalo nulis online tuh, bisa dapat duit juga..!"


"Tapikan rawan diplagiat...!"


"Sebenarnya, plagiat itu bisa aja ditemukan dimana mana, novel cetak pun juga begitu, apa sih yang nggak bisa dilakukan orang orang sekarang...? Demi dikata kece, bisa nulis jiplak karya orang lain, posting, mengakui kalo itu punya dia, heeem nggak hanya diplatform aja sih menurut ku...!"


Leo benar. Yang namanya plagiat pasti bisa ditemukan dimana saja. Kejadian Kalisha saja sudah menegaskan satu hal, belum dicetak saja miliknya sudah diplagiat. Belum di tulis online saja, sudah diplagiat.


Rasanya Mikha sesak mengingat hal itu. Tapi, jujur saja, kata kata tetangga nya tadi sedikit menggoda nya. Apalagi kalau memang dari hasil menulis, ia bisa mendapatkan uang. Rasanya itu sebuah kenikmatan yang tiada tara.


Karena, selama ini. Mikha beranggapan, masih banyak oknum oknum yang tidak bisa menghargai sebuah karya tulis. Namun, ada juga penulis yang menulis tidak memprioritaskan uang dalam tulisan nya. Mereka biasanya hanya ingin menuangkan hobi saja, atau bahkan hanya ingin terkenal.


Sedang Mikha...? Sebenarnya, tidak memprioritaskan uang dalam setiap tulisannya, tapi berharap ada yang menghargai karyanya, apa itu salah...? Faktanya, menulis juga perlu energi, perlu waktu yang luang juga ada biaya. Dan yang terpenting adalah, dari tulisan itu, Mikha berharap bisa mendapatkan penghasilan, disaat ia tidak mendapatkan bayaran yang setimpal ditempat kerja, karena ia hanya lulusan SD.


Apa salah. Berharap karya nya bisa menghasilkan...? Toh, tidak ada yang dirugikan jika ia berfikir seperti itu. Ibarat bekerja disebuah perusahaan, bukankah wajar, mengharapkan bayaran...? Memangnya ada, seseorang mau bekerja tanpa dibayar...?


"Kak, ntar kita patungan aja ngumpulin nya, kalo cukup beli satu, beli satu dulu,"


Suara Leo terdengar, membuyarkan lamunan Mikha.


"Mana bisa. Ponsel kalo udah dipegang gamers, pasti jadi lupa dilepaskan...!"


Leo nyengir mendengar ucapan kakaknya.


"Ya udah, kita lomba mengumpulkan uang buat kredit ponsel...!"


Mikha tidak menyahut. Ia membiarkan Leo membawa piring kotor kebelakang. Namun, apa yang diucapkan adiknya ada benar nya juga. Seperti nya, ia juga beranggapan sama dengan Leo, bahwa ponsel adalah sesuatu yang tidak kalah penting nya, untuk diprioritaskan.


Jika remaja lain, memakai ponsel untuk memenuhi gaya hidup, berbeda dengan Mikha dan Leo. Untuk modal perjuangan mereka....


**Note : Berani mengambil resiko saat berjuang merealisasikan impian, adalah salah satu cara untuk meraih keberhasilan. Karena jika tidak dicoba, kapan kita akan bisa mampu merealisasikan apa yang kita impikan.


👉 Jangan lupa baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul SANG PELAKOR.


👉 Dan di platform kuning NOV*ELME ada yang baru terbit novel fantasi saya berjudul MAHKOTA DEWA & novel NON-FIKSI karya saya disana berjudul DOKTER ITU KAKAKKU

__ADS_1


BERSAMBUNG**


__ADS_2