CINTA SANG PEMUJA

CINTA SANG PEMUJA
BAB 31. TIDAK SESIMPLE ITU..!


__ADS_3

"Wah siapa ini yang datang, tambah kece aja lu...!"


Jody merasa surprise ketika melihat Leo menunggunya saat ia sudah ingin pulang. Pendapatan hari ini dari upah mencuci motor tidak seberapa, tadinya, Jody berniat ingin kekampung sebelah untuk sabung ayam. Mencari pemasukan tambahan, namun, niatnya diurungkan ketika melihat Leo muncul.


"Rame kagak hari ini...?"


Leo bertanya ketika Jody sudah mendekatinya.


"Kagak terlalu ramai, paling bisa buat beli beras dua hari sama tempe tahu..!"


"Makin lama, makin merosot aja ya pelanggan...!"


"Entahlah, pengen cari kerjaan kayak lu, kece tapi kagak ada lowongan, ditempat lu emang kagak ada lowongan apa...?"


Leo menggeleng. Jika ada pun, tanpa diminta, Leo pasti merekomendasikan Jody untuk ikut bekerja dengannya dicafe. Karena ia tahu, temannya ini lumayan rajin dan ulet saat bekerja. Tapi, apa mau dikata, lowongan itu belum ada.


"Gimana kerja disana, enak kagak ..? Banyak cewek cakep dong ya, udah punya gebetan dong lu...!"


Mereka melangkah beriringan sembari terus bercakap cakap.


"Ada enak kagak enaknya sih, sama aja, bedanya disana gajinya jelas kagak macam nyuci motor terpatok sama jumlahnya pelanggan, tapi ya itu godaan banyak...!"


"Godaan sih kagak masalah, asal gaji jalan...!"


Benar juga. Dimanapun itu, yang utama adalah gaji yang seimbang dengan kerja keras, bukan sebaliknya. Tapi terkadang memang situasi tidak selalu sesuai yang diharapkan, kebanyakan kerja begitu keras, pendapatan tidak sesuai.


"Jod, gue datang kesini itu mau ngasi tau lu, gimana kalo lu jadi salah satu personel band nya Kei, kan lu dulu punya impian itu, daripada ngambang gitu aja...!"


"Eh, serius, Kei yang...., pacar kakak lu itu...?"


"Bener. Gimana...?"


"Tapi, gue kagak ada modal Yo, ntar gue diminta bayar uang pendaftaran...!"


"Hallah katro lu, mana ada gabung diband pake bayar, kagaklah, lu cukup diuji, bisa kagak lu main musik...!"


"Boleh tuh, siapa tau gue emang bakat jadi artis kan ya...!"


"Kalo udah jadi artis jangan lupa diri...!!'


"Beres...!!"


Akhirnya, bisa juga Leo meyakinkan Jody untuk bermain musik bersama Kei, lumayan dapat upah 100k, xixixi...

__ADS_1


***


Mikha tergesa membuka pintu saat diluar ia mendengar suara salam diucapkan. Baru saja ia selesai mandi. Leo juga belum pulang dari bekerja, masuk siang, tadinya, ia mengira ketukan pintu itu karna Leo telah pulang, tapi ternyata, dugaannya salah.


Saat Mikha membuka pintu, gadis itu melongo melihat beberapa tetangganya berdiri didepan pintu rumahnya dengan senyum mencurigakan.


"Eh, silahkan masuk..!"


Mikha mempersilahkan mereka semua masuk. Meskipun bingung, kenapa semuanya pada muncul kerumahnya seperti itu...? Sebuah hal yang langka terjadi selama Mikha tinggal dikampung ini.


Setelah dipersilahkan duduk para tetangga Mikha yang terdiri dari ibu ibu dan beberapa remaja putri itu duduk, namun mereka sibuk menatapi ruang tamu rumah Mikha yang sempit tanpa dilengkapi kursi dan meja. Mereka hanya duduk lesehan begitu saja diatas karpet yang digelar Mikha untuk menutupi lantai rumahnya.


"Mikh, kamukan udah jadi penulis online nih, karya kamu banyak diminati lho, masa rumah masih polos gini..?"


Salah satu remaja putri tetangga Mikha mengucapkan kalimat tersebut.


"Kan baru aja, terus apa hubungannya dengan keadaan rumahku yang kosong barang...?"


Mikha tidak mengerti arah pembicaraan tetangganya tersebut.


"Aduh, ya pasti uangnya banyak dong ya, setahu aku sih, kalau udah nulis online banyak yang baca, pasti duitnya banyak, masa rumah kamu masih polos gini..?Beli kulkas kek, sofa kek, home teather kek, kalo perlu pasang AC Mikh, ntar biar kita nebeng belajar disini, sekalian pasang WiFi juga, kan enak...!"


Mikha melongo mendengar kalimat kedua yang keluar dari mulut tetangganya yang lain.


Mikha bertanya sekedar memperjelas. Semua tamu tidak diundangnya itu mengangguk.


"Duh, amiiin deh aku anggap itu dia dari kalian ya, tapi nggak sesimple itu, kalau update episode cerita, terus langsung dibayar aku sih udah beli rumah sendiri kali, tapi nggak sesimple itu, meski ceritaku banyak yang suka, tapi jujur aku belum ngerasain jerih payahnya aku nulis dicerita itu...!"


"Ah, masa sih, kamu bohong Mikh, bilang aja kalau kamu nggak mau bagi rezeki sama kita kita...!"


"Buat apa aku bohong, kalau emang aku mandi uang, ngapain aku rebutan ponsel buat update cerita aku sama Leo...? Mending aku beli ponsel dulu, buat modal, kalian lihat, emangnya aku punya ponsel...?"


"Tapi, ceritamu itu banyak yang suka lho Mikh, banyak yang minta update double kan artinya kamu itu digemari, kamunya aja nggak mau update double, pelit kamu ih, aku penasaran tau sama cerita nya...!"


"Oh, kamu baca juga cerita aku...?"


"Iyalah, coba kaya yang lain crazy up, biar kita yang baca itu enak, nggak penasaran...!"


"Tapi, aku nggak pernah lihat kamu komentar atau beri vote ...?"


Mikha membantah, karena biasanya pembaca setianya itu selalu memberi support, lewat like, komentar atau vote. Atau mungkin tetangganya ini yang termasuk like, karena pembaca yang like satu episode tidak terdeteksi siapa siapa namanya, berbeda dengan sosmed yang lain yang biasa mendeteksi nama.


"Aku baca aja sih, nggak komen, nggak like nggak vote juga emang...!"

__ADS_1


"Terus gitu minta crazy up...?"


"Iya dong, aku penasaran kok ..!"


"Ya, enakan dikamu dong daripada aku...!"


"Kok gitu...? Kamukan dapat duit dari platform yang nampung cerita kamu...!"


"Andai ia, aku pasti semangat, tapi faktanya aku nggak dapat apa apa dari cerita yang aku buat itu, karna aku nggak kontrakan cerita itu keplatform, ada sih dapat, tapi cukup buat beli garam aja satu pak..!"


"Becanda kamu Mikh, susah sih penulis kalo udah pelit, udah ogah crazy up, sama diri sendiri aja zalim liat aja rumahnya kosong begitu...!"


"Aku bilang, cerita yang aku buat itu nggak aku kontrakan, karena apa...? Adegan dewasa yang banyak kalian suka itu harus dihapus, dan aku bukan tipe penulis yang kalo udah nulis harus diubah lagi ini dan itunya, ya udah aku ambil resiko, nggak tanda tangan kontrak, nggak dapat bayaran, dapat bayaran diluar kontrak cukup buat beli garam satu pak aja, itu juga nggak bisa ditarik, nihil, terus apa hak kalian mengata -ngatain aku pelit...? Nggak mau crazy up...? Kamu pikir nulis tanpa dapat apa apa itu enak...? Oke, aku bukan penulis yang mengatasnamakan duit dalam setiap tulisan aku, jujur, dibaca kalian aja aku udah suka, tapi masalahnya nggak ada yang gratis didunia ini, aku perlu kuota buat update cerita, waktu istirahatku berkurang karna aku nulis disela sela kesibukan kerjaanku aja yang membabi buta begitu, terus kalau aku crazy up, untuk membuat hati kalian senang, yang ada aku yang tepar, kerjaanku terbengkalai, kuotaku habis, tubuh juga sakit karna nulis itu diambil dari jam istirahat aku, aku nggak pernah nuntut apa apa sama kalian, karena aku emang hobi nulis, tapi kalau kalian suka pada nuntut tanpa mikir kesulitan aku, aku juga nggak bakal bisa, gini aja deh, aku bakal crazy up sehari 10 kali, demi kalian, tapi kalian bayar aku sekian setiap episode, gimana...?"


"Sombong kamu Mikh, baru disukai aja tulisan kamu matok harga, udah ah pulang capek debat sama penulis yang pelit...!"


Beberapa orang tetangga Mikha segera bangkit dari tempat duduk mereka, dan terburu buru ingin pulang. Mikha terduduk lemas ditempat nya. Ada ya manusia seperti itu...? Mikha baru tahu dunia tulis online sekejam ini. Menuntut tapi tidak mau dituntut.


Apa salah berharap karyanya dihargai...? Memangnya kata terima kasih bisa membuat perut seseorang kenyang...? Jika memang tidak bisa memberi kenapa harus menuntut...? Hal yang paling menyesakkan bagi Mikha adalah, divonis pelit, padahal mereka tidak tahu detail seluk beluk menulis online, mereka berfikir, asal update dapat bayaran, dan platform juga punya sejumlah peraturan.


Mereka fikir, ide itu gratis...? Mereka fikir, menulis itu tidak lelah ..? Tanpa mereka sadari, penulisnya saja menderita sindrom mual berlebih yang diakibatkan terlalu banyak melihat lcd ponsel saat mengetik cerita. Mikha bahkan pernah muntah muntah tiada henti karena menderita sindrom tersebut, saat terlalu lama menatap layar ponsel.


Mungkin penulis lain memakai laptop untuk mengetik cerita, tidak bagi Mikha yang memakai ponsel. Nebeng pula. Seandainya semua sesimple yang mereka kira, indahnya dunia, tapi faktanya, itu semua tidak semudah yang mereka kira.


Tidak Like, komen dan vote tapi minta crazy up, diminta bayar pasti kabur, kalian fikir aku ini apa, penulis yang cari nama aja...? Aku tidak mencari nama tenar, aku mencari penghasilan, apa itu salah...? Apa itu tabu, berharap karya yang dihasilkan menjadi sumber penghasilan, karena banyak hal yang harus aku korbankan dalam menuangkan semua kedalam sebuah cerita lalu dipublikasikan...? Andai aku kaya, nggak butuh penghasilan tambahan, dibaca gratis saja aku suka, tapi faktanya, semua itu perlu biaya, apa seorang penulis salah ingin mendapatkan penghasilan dari setiap kata yang ia rangkai...?


Mikha membathin dengan sepasang mata mulai dibanjiri airmata...


NOTE: Jangan meremehkan profesi orang lain, sesepele apapun itu yang terlihat mata, karena anda tidak tahu, perjuangan apa yang mereka lakukan dibalik hal yang anda anggap sepele tersebut.


👉 Jangan lupa like vote klik favo rate 5 jika suka ya 💖


👉 baca juga novel nonfiksi karya saya berjudul SANG PELAKOR.


👉 Dan 3 novel online saya diplatform kuning NOVE*ME


- FACE : roman fiksi


- DOKTER ITU KAKAKKU : non-fiksi


- MAHKOTA DEWA : fantasi fiksi


bersambung

__ADS_1


__ADS_2