
"Kei..."
Mikha, tidak bisa menyembunyikan kekagetan nya ketika baru saja memasuki pekarangan rumah kontrakannya, ada Kei diberanda rumah, bersama dengan Leo. Saat ia muncul, Kei, yang asyik bercanda dengan Leo menghentikan candaannya, dan tersenyum kearah Mikha.
Mikha balas tersenyum, meskipun agak kikuk. Awalnya, Mikha mengira, setelah ditolak, Kei, tidak akan menemuinya lagi, akan tetapi dugaannya ternyata salah. Kei, tetap mau menemuinya bahkan, sikap pria itu tetap hangat seperti tidak sedang terjadi apa apa.
"Lama amat sih kak, Kei nunggu nih dari tadi!"
Leo menyapa kakaknya, tanpa mengalihkan perhatian nya pada ponsel ditangannya. Biasa, asyik sekali dia bermain game rupanya.
"Maaf, tadi banyak kerjaan, jadi agak telat pulang!"
Mikha berkata sembari ikut duduk diberanda tidak jauh dari Kei. Leo pamit kedalam karena tidak mau berada diantara dua orang yang menurut Leo sedang dilanda kasmaran tersebut.
"Maaf, kalau kamu kaget melihat aku datang."
"Ah, enggak kok, aku senang kalau ternyata setelah kejadian itu, persahabatan kita tetap seperti dulu!"
Kei, tertawa kecil mendengar ucapan Mikha.
"Aku bukan tipe cowok, yang langsung musuhin cewek yang aku sukai setelah ditolak, akukan bisa membuat cewek itu jadi suka sama aku suatu saat nanti, aku kesini mau ngomong sesuatu sama kamu, tentang editor itu!"
"Kenapa kamu tau?"
Mikha, tidak bisa menyembunyikan kekagetan nya mendengar apa yang diucapkan oleh Kei. Apakah Kalisha menceritakan tentang rencana ia bertemu dengan editor kenalan Kalisha itu? Mungkin.
"Aku harap, kamu jangan terlalu percaya dengan apa yang dikatakan Kalisha, dia itu nggak pernah tulus sama kamu, bisa aja kan dia buat rencana buruk untuk membuat kamu tersakiti?"
Mikha menghela nafas, mendengar ucapan Kei.
"Aku yakin, kali ini dia serius Kei!"
"Tau darimana dia serius?"
Karna aku menolakmu Kei, itu yang diinginkan oleh dia, dan aku yakin kali ini, dia nggak sedang menipu ku...
__ADS_1
Hati Mikha yang menjawab, bukan dibibir, karena Mikha memutuskan untuk tidak banyak bicara mengenai hal itu, takut keyakinan yang ia kumpulkan setengah mati, akan hancur seketika.
***
Mikha, turun dari angkot ketika angkot sudah berhenti didepan cafe yang disebut Kalisha cafe dimana Prabu Wijaya menunggunya. Sebuah cafe yang cukup mewah, sebanding dengan cafe tempat dimana Leo adiknya bekerja saat Kei, merekomendasikannya.
Sedikit ragu, Mikha melangkah masuk. Hawa sejuk cafe menyambut tubuh Mikha saat gadis itu masuk kedalam ruangan full AC tersebut.
Kalisha melambaikan tangan, saat melihat Mikha masuk sembari celingukan mencari cari dirinya. Mikha menarik nafas lega, orang yang ia cari sudah ditemukannya.
Mikha segera menghampiri meja dimana Kalisha duduk bersama seorang pria yang sedari tadi terus saja menatapnya, seolah olah ia setumpuk daging segar, yang sangat menggiurkan.
Entah kenapa, Mikha gelisah ditatap seperti itu. Kalisha segera memperkenalkan Mikha dengan pria yang duduk dihadapan mereka.
"Ini Mas, Prabu yang gue ceritain itu lho, Mas Prabu, ini Mikha yang Mas Prabu cari itu lho!"
Pria itu mengulurkan telapak tangannya kehadapan Mikha, ragu, Mikha menjabatnya, dan telapak tangan Mikha digenggam dengan erat.
"Senang bertemu dengan penulis berbakat seperti mu!"
Disebut penulis, entah kenapa rasanya Mikha masih tidak percaya. Karyanya saja belum terlalu banyak peminat, dan Mikha merasa dia belum pantas disebut penulis seperti itu, namun tidak bisa dipungkiri, Mikha bahagia mendengarnya. Rasanya seperti mimpi..
"Aduh, jangan manggil aku bapak dong, memangnya, aku terlihat sangat tua dimatamu?"
Pria itu melancarkan aksi protes.
"Jadi?"
"Mas, panggil saya Mas, Prabu!"
Aduh, ngelunjak ni orang lama lama,
Spontan, suara hati Mikha mengucapkan kalimat tersebut.
"Iya, Mikha, kagak usah pake kata "pak" kali, terlalu formal, anggap aja kaya temen, biar santai!"
Mikha berusaha tersenyum, sembari mengangguk.
"Begini, aku cukup tertarik dengan tulisan kamu diplatform online itu, terutama bagian romantis nya, seperti merasuk saat dibaca, mungkin ada beberapa kelemahan lain, misal kamu kurang mau menuruti apa kata pembaca, saat menulis, itu seharusnya kamu buang, karena dalam dunia tulis menulis, pembaca itu raja, kita harus menuruti apapun yang mereka mau, asal tulisan kita laku!"
__ADS_1
"Tunggu, maksud bapak, eh, Mas, pembaca yang suka minta crazy up, tapi malas vote dan like atau yang suka maksa jalan cerita harus seperti apa yang dia mau?"
"Semua nya, semuanya. Apapun yang pembaca mau, penulis itu harus menuruti, karena pembaca itu segalanya, jadi sebagai pemula apapun itu kesampingkan ciri khas, karena mencari pembaca itu lebih penting!"
"Saya, tidak sependapat dengan Anda, Mas!"
"What...!"
"Iya, karena menurut saya, pembaca juga harus menghargai penulis, dan penulis juga harus menghargai pembaca, baru tercipta sebuah hubungan yang sehat, tidak ada pembaca maka tidak ada penulis, tidak ada penulis maka tidak ada pembaca, jadi Mas Prabu salah, kalau dalam dunia kepenulisan, pembaca itu bisa berkuasa dalam hal apapun!"
"Mikha, ini yang ngomong editor lho, lu harus menurut kalo lu mau jadi penulis sukses!"
"Tapi, aku nggak bisa seperti itu, karena aku juga punya prinsip. Aku berusaha untuk menghargai pembaca, dan aku juga mau pembaca juga menghargai aku, untuk jalan cerita, mungkin bagi sebagian orang, diatur pembaca itu membanggakan, tapi bagi seorang penulis asli, biasanya sebelum menulis, konsep itu dibuat dahulu, sebelum tulisan itu ditulis dan dipublikasikan, jika ada campur tangan lain, tentu aja bikin konsep yang disusun itu juga berantakan, dan sipenulis itu kehilangan ruh, dalam tulisan yang ia buat, dia tidak bisa merasuki tokoh apapun yang dia buat, narasi datar dan menulis baginya bagai ingin ditembak mati seperti tersangka narkoba!"
"Aku paham dengan penjelasan kamu Mikha, tapi pemikiran seperti ini, diera persaingan sesama penulis, hal yang kamu bicarakan itu, tidak akan membuat penulis mendapatkan pembaca, dan tulisan tidak akan diminati, selain hal yang aku sebutkan tadi, cobalah untuk membuat cerita yang sedang booming. Seperti diplatform dimana kamu menulis, yang sedang booming itu seperti apa temanya, tema perjodohan, paksa memaksa, itu akan membuat penulis baru seperti itu, akan mudah mendapatkan pembaca, kesampingkan dulu ciri khas kamu, tugas penulis baru itu cari pembaca sebanyak banyaknya, itu penting, jangan memaksakan diri untuk membuat cerita yang berbeda dengan tema yang sedang booming, itu akan membuat cerita yang kita buat akan sepi, jadi..."
Prabu Wijaya menghentikan ucapannya, ketika Mikha tiba tiba saja bangkit dari tempat duduknya.
"Aku belum selesai bicara Mikha, ini baru permulaan!"
Pria itu melancarkan aksi protes.
"Sepertinya, kita tidak satu pemikiran, Pak jadi mungkin Bapak cari penulis lain saja yang bisa menuruti semua yang Bapak katakan tadi, karena saya punya prinsip sendiri, saya ingin antara penulis, dan pembaca sama sama saling menghargai karena sebenarnya mereka itu saling membutuhkan, saya juga menulis apa yang ingin saya tulis bukan apa yang berdasarkan tema yang sedang booming, saya tidak peduli penulis lain mungkin melakukan hal seperti itu, itu hak masing masing, tapi saya juga punya hak untuk menjadi diri saya sendiri, tanpa mengabaikan tujuan utama penulis itu seperti apa!"
Habis berkata begitu, Mikha meninggalkan meja itu tanpa menoleh lagi. Ah, kesal rasanya, kenapa selalu menemukan orang yang punya fikiran seperti itu, setiap kali membahas tentang dunia kepenulisan? Apakah penulis memang benar benar tidak ada hak untuk menjadi dirinya sendiri, saat terjun dalam dunia kepenulisan?
Note: Jadilah diri kita sendiri, tidak perlu menjadi diri orang lain, hanya untuk mendapatkan perhatian. Karena sebenarnya, setiap tulisan mempunyai pasarnya sendiri sendiri, asalkan penulis itu menulis dari hati, dan menciptakan ide yang orisinil tanpa menjiplak karya tulis orang lain.
👉 Jangan lupa like vote, rate 5, klik favorit jika suka ya 💗
👉 Baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul SANG PELAKOR dilapak ini
👉 Dan novel saya diplatform kuning NOV*LME berjudul:
MAHKOTA DEWA : FANTASI
DOKTER ITU KAKAKKU: NON-FIKSI ROMAN
FACE: FIKSI ROMAN
__ADS_1
Bersambung