
Mikha keluar dari cafe itu dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Gadis itu melangkah ke bahu jalan untuk mencari angkot. Rasanya, ia sudah membuang waktu yang sia-sia untuk bertemu dengan seseorang, yang ternyata tidak sesuai perkiraannya.
"Prabu Wijaya, aku pikir, dia sebijak yang ditulis dimedia ternyata sifat aslinya begitu, aku benar benar, nggak nyangka..."
Mikha mengucapkan kalimat tersebut didalam hati sembari terus melangkah. Belum lagi Mikha menemukan angkot, suara Kalisha membuat Mikha mau tidak mau berbalik.
Kalisha menyusul nya, dengan langkah yang tergesa-gesa.
"Mikh, kenapa main pulang aja sih? Nggak mau sabar dikit buat ngobrol, Mas Prabu itu beneran tertarik dengan tulisan lu, lho, jangan sia-sia kan kesempatan dong!"
"Aku kayaknya, nggak bakal cocok ngobrol dengan dia, ntar malah berantem, karena cara mikir dia sama cara mikir aku tuh beda!"
"Tapikan, itu cara lu buat meraih mimpi lu, Mikha, kalo lu kagak berusaha ngalah dikit, kapan lu bisa sukses menjadi penulis?"
"Sukses jadi penulis, tapi aku nggak bisa menjadi diriku sendiri buat apa? Udahlah, makasih ya udah berusaha bantu aku.."
Sebuah angkot melintas didepan Mikha. Gadis itu segera menyetopnya. Ketika angkot berhenti. Mikha segera naik keatas angkot untuk segera pulang.
Sebenarnya, ia kecewa, kecewa karena harapannya untuk membicarakan tentang impiannya dalam tulisan menulis musnah, karena prinsip sang editor tidak sejalan dengan prinsip nya. Tapi, Mikha berusaha untuk sabar. Mungkin, Tuhan memang belum memberikan jalan buatnya.
Sementara itu, ketika Mikha sudah naik keatas angkot, Kalisha kembali masuk kedalam cafe. Melihat Kalisha kembali tanpa Mikha, wajah Prabu Wijaya terlihat kecewa.
"Maaf, Mas, gue kagak bisa ngebujuk dia balik lagi buat ngobrol sama Mas, lagian Mikha itu emang gitu rada sombong. Lewati aja deh, buat apa ngejar penulis yang kagak mau diajak maju, dia punya sikap kayak gitu, makanya kagak pernah jadi penulis benaran!"
"Tapi, aku terlanjur penasaran dengan dia, sikap dia yang seperti itu bikin aku pengen buat sesuatu kedia, agar dia tau sedang berurusan dengan siapa, apa kamu tau alamat rumah, dan tempat kerjanya?"
Kalisha mengangguk. Pria itu menyeringai.
"Berikan padaku, aku akan membuat rencana dengan tanganku sendiri!"
"Masih mau ngajakin dia kerja sama?"
"Pengen ngetes dia juga, apa dia emang seromantis tulisan dia itu..."
Kalisha tersenyum penuh arti, ia tahu maksud pria ini, dan tentu saja ia suka mendengar bahwa Prabu Wijaya, menjadikan Mikha target, paling tidak, dia bisa membuat Kei, jadi semakin jauh dengan gadis itu.
***
"Kak, daritadi ngelamun terus, nggak mau pinjem ponsel? Nulis novel kakak?"
Suara Leo, membuyarkan lamunan Mikha. Seharusnya, ia menulis. Novel online nya belum ia update hari ini, tapi entah kenapa sejak berdebat dengan Prabu Wijaya, mood Mikha jadi selalu buruk.
Kata-kata editor itu cukup membuat pikiran dia terpengaruh. Apa benar, dalam dunia kepenulisan, wajib hukumnya untuk membuat tema yang sama? Tidak boleh tema berbeda? Untuk menjadi diri sendiri?
"Aku lagi nggak mood.."
__ADS_1
Leo menyipitkan matanya, merasa tidak percaya kalau kata-kata itu keluar dari mulut kakaknya.
"Tumben, kakak yang kukenal, selalu bisa mengatasi badmood, kenapa sekarang nggak bisa?"
Mikha menghembus nafas.
"Menurut kamu, novel online aku gimana?"
Leo, garuk-garuk kepala nya yang tidak gatal, mendengar pertanyaan sang kakak.
"Bagus, romantis, dan gokil juga.."
"Tapi, pembacaku dikit, menurut kamu, apa yang salah satu tulisan yang aku buat?"
"Kagak ada yang salah. Tulisan kakak udah bagus, cuma anak-anak sekarang suka cerita yang rada rada 21+ gitu, liat deh, asal pasang cerita buka bukaan pasti rame dibaca, padahal tulisannya semrawut, tanda baca berantakan, kapital aja tumpang tindih, gue yang malas baca, makin malas baca liatnya.."
"Bukannya, yang suka gitu biasa pembaca dewasa juga?"
"Buktinya, 99 persen temenku, yang masih ingusan dicafe, pada nyari tulisan yang mengandung konten dewasa.."
"Terus, aku bubuhin konten dewasa terus gitu ditiap episode?"
"Kalo mau rame pembaca.."
"Ogah. Aku nggak mau buat cerita, yang cuma nonjolin adegan gituan doang, terus tamat.."
Leo mengaduh, ketika lengannya dicubit sang kakak keras.
"Terus ngalir lah dosa jariyah yang nggak ada abisnya, selama tulisan itu dibaca.."
Mikha dan Leo sama sama menoleh kearah pintu rumah mereka yang terbuka, ketika mendengar suara tersebut.
"Kei..."
Mikha nyaris berbisik menyebut nama pria yang baru datang itu, sementara Leo langsung menyonsong Kei dan menyeret pria itu untuk masuk.
"Gue setuju tuh, kata lu soal dosa jariyah, kebanyakan penulis juga kagak memperhatikan itu tuh, main nulis aja, terus kagak peduli itu punya efek positif kagak buat yang baca.."
"Terus, kenapa lu ngajarin kakak lu buat bikin novel gituan?"
Leo cengengesan...
"Becanda aja kok, cuma ngerjain kakak gue doang, tapi udah kena cubit tadi tau..."
"Tulisan kakak lu itu, udah bagus, masalah pembaca sepi atau nggak, nulis itu sama kaya jualan, ada rame ada sepinya, tapi kalo kita selalu memberikan kepuasan untuk pelanggan, insya Allah akan terus setia itu pelanggan, dan pelanggan baru juga berdatangan!"
__ADS_1
"Memberikan kepuasan untuk pelanggan, apakah kita harus menjadi orang lain?"
Kali ini, Mikha yang menimpali obrolan antara Kei dan adiknya.
"Mikha, kalau ada orang bilang, untuk disukai kita harus jadi diri orang lain dulu, itu salah, kamu udah bener bikin novel, tema berbeda, yang biasa pelakor itu ujung- ujungnya menang, tapi novel yang lu buat, justru itu pelakor tobat. Itu realita, terkadang ada juga kok orang jahat jadi orang baik, tugas penulis, menuliskan hal itu, agar otak pembaca paham, kagak selalu orang jahat itu jahat, tapi kalau dia mau berubah, ntar juga bisa baik..."
"Dengerin kata Kei itu kak! Jadi nggak usah galau, kayak bukan kakak aja, kakak kan selalu punya prinsip selama ini, ngapain coba kepengaruh dengan pendapat pendapat yang kebenarannya aja kagak bisa dipertanggungjawabkan!"
Mikha menghela nafas..
"Kalau orang awam yang ngomong, mungkin aku nggak begitu mikir serius, tapi ini yang ngomong editor ternama, apa industri kepenulisan diperusahaan dia tema juga harus sama?"
"Jadi, kamu udah ketemu dengan dia?"
Mikha mengangguk, dan hal itu membuat Kei seketika terdiam.
"Kamu percaya aku atau dia?"
"Tapikan, dia itu editor, nggak mungkin ngomong sembarangan kan..."
"Kagak janji, mau editor, atau apa, kalo punya pendapat ngasal gitu sih aku rasa nggak cocok jadi editor, andai warna pelangi itu sama, apa menurut kamu pelangi itu indah..."
"Kagak lah, item semua.."
Yang menyahut Leo, walaupun matanya masih fokus dengan ponsel ditangannya. Kei, tersenyum mendengar jawaban Leo.
"Justru karena pelangi itu bermacam macam warna makanya terlihat indah, begitu juga dunia platform, justru cerita yang berbeda-beda itu membuat warna indah untuk sebuah platform, jadi kamu nggak usah mikirin soal itu terlalu serius, fokus nulis aja, dan satu lagi.."
Kei, tidak langsung melanjutkan apa yang tadi ingin ia ucapkan, hingga membuat Mikha penasaran...
"Apa?"
"Tolong, jangan ketemu dengan Prabu Wijaya itu lagi, masalah apapun itu, tolong jangan sampe ada yang kedua kalinya, kamu dan dia bertemu...."
Note: Orang yang peduli dengan kita, tidak akan segan segan untuk menegur kita saat kita salah, dan menghargai kita saat kita berbuat hal yang baginya menyenangkan. Karena buatnya, rasa sayang dan peduli tidak hanya diungkapkan lewat kata kata, tapi juga lewat tindakan dan nasehat yang baik.
π Apakah Mikha tidak akan bertemu dengan editor itu lagi? stay terus disini untuk tahu kelanjutan ceritanya ya, baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul SANG PELAKOR yang sudah tamat
π Dan 3 novel saya diplatform kuning NOV*LME
- FACE: FIKSI ROMAN
-DOKTER ITU KAKAKKU: NON-FIKSI
- MAHKOTA DEWA: FIKSI FANTASI.
__ADS_1
πjangan lupa like vote rate 5 klik favorit jika suka ya π
Bersambung