
"Jadi penulis online sekarang lu, Mikh..?"
Mikha menghentikan langkahnya, ketika suara Rida terdengar dibelakangnya.
"Emangnya kenapa...?"
Rida tersenyum sembari melangkah menghampiri Mikha.
"Lu tau kagak, jadi penulis online itu kemungkinan diplagiatnya lebih gedde, cerpen lu dikirim Kalisha aja, lu marah marah, gimana ntar yang ini kalo diplagiat juga...!"
"Aku cuma berusaha untuk mewujudkan mimpi...!"
"Jangan terlalu tinggi bermimpi, ntar jatuh sakit...!"
"Justru hidup tanpa mimpi itu juga bikin kita nggak semangat...!"
Balas Mikha sembari berlalu dari hadapan Rida, karena tidak ingin meladeni perdebatan yang tidak ada artinya.
Mikha ingin segera mencari angkot untuk pulang, namun niatnya tertahan ketika Kei, sudah menunggunya, dan ketika melihat Mikha, pemuda itu langsung melambaikan tangannya.
"Kamu, pake motor siapa..?"
Mikha melontarkan pertanyaan tersebut, ketika sudah mendekat.
"Punya temen, aku tadi lagi ngurus ngurus sesuatu, sambil cari kerjaan baru tapi belum ketemu, kayaknya untuk sementara emang ditakdirkan jadi pengamen aja..!"
"Jadi pengamen aja udah terkenal gitu, masuk koran sana sini..!"
"Eh, kamu liat...?"
Mikha mengangguk, dan Kei tertawa.
"Jadi malu, wartawan itu seenaknya aja buat bikin berita ..!"
"Siapa tau ada produser yang ngelirik lalu dikontrak jadi penyanyi...!"
"Amiiin...! Aku antar pulang yuk..!"
Kei, memberi isyarat pada Mikha untuk naik keatas boncengan motornya. Belum lagi Mikha menuruti apa permintaan Kei, tiba tiba saja sebuah mobil mewah menepi tidak jauh dari tempat mereka berdua ngobrol.
Ketika pemilik mobil itu keluar, wajah Kei jadi berubah.
__ADS_1
"Kak, Tedi...!"
Katanya, dan pria yang disebut Kei "kak Tedi" itu langsung menghampiri Kei, dan berniat menyeret Kei untuk masuk kedalam mobilnya. Tentu saja Kei tidak membiarkan itu terjadi. Ia mundur beberapa tindak menjauhi pria berpakaian perlente tersebut.
"Pulang, jangan bikin gue ribet Kei..!!"
Kata pria itu dengan tampang serius.
"Kagak ah, gue kagak mau pulang...!"
"Bokap murka berat tau liat apa yang lu lakukan diluar, lu mempermalukan keluarga dengan jadi pengamen segala, lu gila apa..? Bokap lu kaya punya perusahaan, tapi lu, luntang lantung diluar seperti pengemis. Kagak bersyukur lu Kei...!"
Suara pria itu terdengar dingin ditelinga Mikha, dan Mikha mulai was was dengan apa yang ia lihat sekarang.
Pria kaya ini kakak Kei, kah.. ? Jadi benar, Kei ini anak orang kaya..
Mikha berucap seperti itu, didalam hati, gadis itu ingin beranjak saja dari tempat itu, karena merasa kehadirannya membuat canggung situasi. Namun, pria yang meminta Kei pulang itu segera menghampirinya..
"Hay, perkenalkan aku Tedi kakak Kei, aku tidak tahu, kamu ini siapanya Kei, tapi aku harap kamu mau membujuk Kei ini untuk segera pulang kerumah..!"
Kei benaran anak orang kaya...
"Jangan libatkan Mikha untuk hal yang nggak seharusnya dia terlibat, kak, gue udah bilang, gue pergi dari rumah untuk membuktikan sesuatu pada kalian, sekarang gue belum bisa, kalau gue nanti udah bisa, gue pasti akan pulang kok...!"
Ia bicara seperti itu dihadapan sang kakak, dan kakaknya tersenyum kecut mendengar apa yang diucapkan oleh sang adik.
"Membuktikan apa...? Mempermalukan yang ada, Kei, gue itu udah ribet ngurus perusahaan tanpa lu, sekarang lu nambahin gue tugas karna lu bertingkah kekanakan begini, lu pikir hidup ini hanya berkisah tentang impian...? Gue juga punya impian, tapi gue kagak egois kayak lu, sekarang lu pulang, kalau kagak mau, bokap melakukan hal lebih keras lagi buat maksa lu pulang..!"
"Hidup itu pilihan kak, dan ini pilihan gue, jadi tolong hargai itu, gue kagak melakukan hal yang salah diluar, jadi kagak mungkin membuat malu keluarga besar, rasa malu itu ada karena kalian terlalu berlebihan aja, jadi udahlah, percaya ama gue, gue juga kagak mau bikin malu keluarga...!"
"Jadi, lu kagak mau pulang..?"
Tedi menatap wajah Kei dengan tatapan mata tajam.
"Maaf, untuk sekarang gue kagak bisa ...!"
"Kenapa...? Karna menurut lu, diliput dikoran dengan hobi bermusik itu lu merasa keren, dibandingkan jadi anak berbakti dirumah...?!!"
"Gue kagak bilang merasa keren saat masuk koran, itu juga bukan kemauan gue, menurut gue, perasaan keren itu ada, ketika gue bisa melakukan apa yang gue mau, dan orang suka dengan hal itu...!"
"Orang suka...? Orang suka emang, tapi keluarga lu kagak suka, lu lebih mentingin orang lain ketimbang keluarga lu sendiri...!!!"
__ADS_1
Tedi menghardik adiknya dengan nada suara meninggi dan wajah yang terlihat sangat gusar.
Kei, menghela nafas.
"Main musik itu bukan mencuri kak, untuk apa malu, gue diluar juga nggak berbuat hal buruk kok, kecuali kalo gue main perempuan, main judi, ngerampok bank, baru kalian merasa malu karena ulah gue...!"
"Tapi menjadi pengamen itu mempermalukan keluarga besar kita Kei, apa kata orang nanti, kalau mereka tau lu anak pengusaha kaya, tapi lu jadi pengamen...!!"
"Ya, kalau kalian malu, nggak usah mengakui gue aja sebagai anggota keluarga kaliankan beres, gue ngamen buat bertahan hidup, harusnya kalian malu, kalau gue itu mencuri ..!"
Habis berkata begitu, Kei menggamit lengan Mikha dan meminta gadis itu untuk beranjak dari tempat itu dan naik keatas boncengan motor yang dibawanya.
Sebenarnya, Mikha tidak ingin menuruti apa yang diinginkan Kei, mendapatkan fakta kalau Kei memang anak orang kaya saja, sudah membuat hatinya terasa sesak. Apa yang ia khawatir kan ternyata menjadi kenyataan, dan perasaan was was itu tidak bisa dibantah.
Namun, jika ia tidak mengikuti Kei, Mikha juga tidak punya keberanian untuk tetap berada ditempat itu bersama pria yang ternyata adalah kakak Kei tersebut. Mikha takut, memberikan informasi yang salah, jika ditanya-tanya oleh pria itu, dan Mikha tahu, berurusan dengan orang kaya itu tidak nyaman.
Setelah Mikha naik keatas boncengan motor yang dibawanya, Kei langsung membawa motor itu melaju meninggalkan tempat itu, tidak perduli dengan teriakan sang kakak yang memintanya untuk kembali.
"Sialan lu, Kei..! Lu kagak tau apa yang bisa papi lakukan sama lu, kalau lu, bersikeras untuk tetap menekuni hobi lu, itu...!!"
Tedi bicara demikian, sembari ikut beranjak dari tempat itu dan masuk kedalam mobil nya. Pikirannya penuh. Tidak bisa membujuk adiknya itu kembali, sementara dirumah, sang ayah selalu saja menekannya untuk membuat adiknya itu bisa kembali kerumah. Tedi benar benar dibuat lelah dan tertekan menghadapi situasi tersebut.
Dikendarainya mobil dengan kecepatan tinggi, Tedi melampiaskan emosinya lewat hal itu...
Note: Hidup itu pilihan, manusia yang tidak bisa menentukan pilihan saat ia diberi pilihan, maka bukan tipe manusia yang bertanggung jawab, pilihlah keputusan yang terbaik, dan bertanggung jawablah atas keputusan tersebut.
👉 Jangan lupa like, vote rate 5 klik favorit jika suka ya 💗
👉 Baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul SANG PELAKOR
👉 Untuk diplatform kuning NOV*LME kalian bisa membaca novel karya saya berjudul:
- DOKTER ITU KAKAKKU - non-fiksi roman
- MAHKOTA DEWA -fiksi fantasi
- FACE - fiksi roman
Berikan dukungan kalian untuk karya saya tersebut, agar saya terus bisa berkarya 💗
Bersambung
__ADS_1