
"Mikh, gue mau ngomong...!"
Saat jam istirahat, Rida bicara seperti itu kepada Mikha.
"Soal apa..?"
Mikha bertanya, dengan nada malas. Jika tidak mengingat, jasa dan kebaikan Rida, saat membantu nya mendapatkan pekerjaannya sekarang, tentu ia tidak mau terlalu banyak berbasa basi. Semakin hari, semakin nyata dimata Mikha, sikap Rida, yang tidak bisa memperlihatkan kalau ia adalah teman yang baik.
"Ini tentang Kei, lu bisa kenal Kei dimana sih...? Lu kagak mungkin sering nongkrong di cafe, tempat dimana Kei, kerja kan...?"
Ternyata soal cowok itu lagi, kupikir soal buku, siapa tau aja, Kalisha menitipkan buku milikku padanya...
"Aku kenal dia bukan di cafe, dijalan. Waktu dia ngamen, emang kenapa...?"
Rida tertawa kecil mendengar apa yang diucapkan Mikha.
"Dijalan...? Ngamen...? Ngaco kamu...!"
Rida melancarkan aksi protes, ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Mikha.
"Aku serius, aku kenal Kei dijalan, dia ngamen, mana mungkin aku kenal dia di cafe, aku kecafe dia itu aja baru sekali waktu itu, yang ketemu kalian godain adikku..!"
"Kita nggak goda adik lu, adik lu aja yang gampang geer, mana doyan kita sama cowok bau kencur seperti dia..!"
Mikha menatap wajah Rida dengan tatapan serius. Tidak suka, jika ada orang lain berpendapat macam macam tentang adiknya, karena ia tahu, Leo tidak mungkin seperti itu.
"Aku nggak buta Rida, aku bisa membedakan ekspresi kalian malam itu. Aku tahu karakter adikku, jangan mengingkari nya...!"
"Ah, sudahlah. Kita bukan lagi bahas itu ya, kita bahas soal Kei, dan asal lu tau aja, kalo lu suka sama dia, lebih baik lu intropeksi diri dulu, lu sama dia itu kagak cocok. Kasta kalian beda, lu kira Kei itu pria miskin...? Lu itu udah ditipu. Dan kalo Kei, kagak jujur sama lu, artinya, dia itu kagak tulus ama lu, jangan merasa terbang ke angkasa hanya karena lu diundang secara khusus oleh dia kecafe itu Mikha, bisa jadi, itu cuma cara dia menertawakan kebodohan lu, yang gampang dibodohi, Kei itu cocok dengan Kalisha, status sosial mereka sama, dan sekali lagi gue tegaskan, Kei itu, bukan orang miskin, dia putra bungsu pengusaha kaya..!!"
Habis berucap seperti itu, Rida berlalu dari hadapan Mikha, meninggalkan Mikha yang hanya terdiam mendengar kata kata yang diucapkan olehnya. Dari ekspresi wajah gadis itu, Rida bisa melihat, Mikha sangat terkejut mendengar apa yang baru saja ia ucapkan tentang Kei.
Yang benar saja, Kei pengamen, dasar Mikha...
__ADS_1
Rida mengomel didalam hati sembari meninggal kan Mikha yang tetap tidak bisa berkata apa apa lagi.
Kei, anak orang kaya...? Masa...? Sebenarnya, aku sempat curiga juga sih, karena penampilan dia itu nggak seperti orang yang nggak punya apa apa. Terlebih ponselnya itu, tapi masa iya Kei seperti itu...? Untuk apa..? Kenapa dia menutupi identitasnya itu padaku...?
Mikha bicara didalam hati, sampai tidak sadar, Rida sudah meninggalkannya jauh, dan kini ia tinggal seorang diri.
***
Mikha masih menunggu angkot untuk pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Hari ini, banyak sekali pekerjaan yang harus ia bereskan. Tubuhnya terasa lelah, namun saat dirumah nanti, ia tidak bisa langsung istirahat. Ia harus melanjutkan mengetik naskah yang sudah ia ketik beberapa hari ini.
Sebuah motor menepi di samping Mikha. Mikha mundur, karena tidak mengenal pengendara motor tersebut. Khawatir juga pengendara motor itu penjahat, yang sedang berkeliaran karena hari sudah malam. Meskipun tidak punya uang banyak, tetap saja Mikha khawatir dibegal.
Bisa saja, pengendara motor itu menganggap nya punya uang, lalu melakukan hal buruk padanya. Ah, berfikir sampai disitu, Mikha jadi was was.
Namun, saat pengendara motor itu membuka helm yang dipakai nya, wajah Mikha jadi berubah..
"Kalisha...!"
"Mau pulang..?"
Mikha mengangguk. Tidak mungkin Kalisha ingin mengantar nya. Gadis itu tidak sebaik itu, pasti ada hal lain.
Kalisha mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik yang dibawanya tadi. Sepasang mata Mikha berbinar saat melihat barang yang dikeluarkan Kalisha dari kantong plastik itu. Tanpa pikir panjang, Mikha segera mengulur kan tangan untuk mengambilnya dari tangan Kalisha.
Namun, Kalisha spontan berkelit, hingga buku itu tidak berpindah tangan.
"Buku lu, bisa lu ambil lagi, tapi dengan satu syarat, jauhi Kei...!"
Kalisha mengucapkan kalimat tersebut, dengan wajah serius.
"Aku udah dengar permintaan kamu itu lewat Rida, di cafe itu juga, kamu juga mengatakan hal yang sama. Sebenarnya, mau kamu suka atau nggak itu hak kamu, aku dan Kei nggak ada hubungan apa apa. Kami cuma teman..!"
"Teman ya, kamu ini bodoh atau polos...?Dari tatapan mata Kei aja, udah bisa kelihatan, dia suka sama lu, karena itulah beberapa hari belakangan ini, dia acuh sama gue, lu itu perusak situasi, jadi kalo lu emang sayang buku lu ini, jauhi dia, kalo nggak...!"
__ADS_1
"Kamu akan melakukan hal yang sama seperti dulu padaku...? Memplagiat tulisan yang aku buat...?"
Kalisha tertawa mendengar ucapan Mikha.
"Cerdas. Itu yang aku maksud, lumayan kan duitnya buat nongkrong di cafe,"
Kedua tangan Mikha mengepal mendengar apa yang diucapkan oleh Kalisha.
"Kalau aku memperkarakan kamu kepihak berwajib karena hal ini, kamu mau apa..?"
Mikha mencoba untuk memberikan ancaman pada gadis didepannya. Kalisha tertawa sinis.
"Kamu punya biaya untuk itu semua..?"
Lagi kedua tangan Mikha mengepal mendengar hal itu.
"Udahlah Mikha, nggak usah bergaya seperti lu ini anak orang kaya, pake cara memperkarakan segala...? Lu mau bersaing dengan gue...? Jangan ngimpi. Gue nggak level saingan sama lu, baik itu untuk urusan cinta, ataupun dengan tulisan. Lu dibawah level gue, jadi nggak usah macam macam, turuti aja apa kata gue, kalo mau hidup lu baik baik aja..! Lu, kagak ada modal buat bersaing ama gue, baik dalam tulisan atau pun cinta..!"
Kalisha bicara seperti itu, dihadapan Mikha, dan Mikha terdiam mendengar apa yang ia ucapkan.
Aku tidak mau bersaing dengan siapa siapa dalam hal apapun Kalisha, apalagi dengan plagiat seperti mu, aku hanya ingin berjuang merealisasikan apa yang kumau, tapi untuk urusan cinta, aku nggak pernah terlalu memprioritaskan itu sampai harus menekan orang lain untuk mengikuti apa yang kumau, karena menurutku, cinta itu bisa membawa seseorang kepada orang yang tepat. Nggak perlu harus dipaksa...
Mikha berucap seperti itu didalam hati. Menjauhi Kei..? Sebenarnya, bukan karena termakan ancaman Kalisha dan Rida, hanya saja, kata kata Rida tadi sore cukup membuatnya jadi kepikiran juga.
Kei, anak orang kaya ..? Kalau ia, mungkin ada baiknya aku harus memastikan nya, agar aku bisa memutuskan, untuk menjauh atau tidak, karena aku nggak mau, berurusan dengan ribetnya hidup orang kaya, yang biasanya banyak peraturan, dan kebanyakan memandang sebelah mata seseorang yang tidak sama status sosialnya, aku nggak mau hidup ku terpuruk karena hal itu...
Note : Dengarlah sesuatu dari sudut pandang yang lain, jangan menelan mentah mentah hal yang terlihat tidak baik. Karena bisa jadi, hal itu mempunyai sisi baik yang terkadang tidak diketahui secara luas.
👉 Jangan lupa like vote n rate 5 jika suka ya 💗
👉baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul SANG PELAKOR
BERSAMBUNG
__ADS_1