
"Kakak, kapan dong kita ketemu Kei lagi, aku mau nebeng ponsel nya lagi nih...!"
Leo merengek seperti itu, pada suatu malam. Semenjak pulang dari cafe, untuk menyaksikan performa Kei, Leo sang adik memang kerap merengek seperti itu. Ponsel Kei, ponsel idaman Leo. Baginya. Seperti itulah kelak ponsel yang ia beli nantinya.
Dipakai bermain game lancar, layarnya lebar, ponsel dengan bentuk laptop katanya. Mikha melirik sesaat,sebelum fokus kembali mengetik dengan laptop yang ia pinjam tempo hari.
"Dia lagi sibuk kerja sekarang. Terus atas dasar apa kita bisa ketemu terus dengan dia..!"
"Atas dasar kangen lah,"
"Ngaco..!"
"Kak, menurut aku itu, Kei itu suka sama kakak..!"
Mikha mencibir mendengar ucapan adiknya, meskipun ia tetap fokus dengan layar laptop dihadapan nya, namun telinganya sangat jelas mendengar apa yang diucapkan oleh adiknya itu.
"Kak..?"
Leo memanggil sang kakak, merasa sang kakak mengabaikan nya.
"Hem..!"
"Kalo Keitaro itu suka kakak, gimana..?"
"Nggak mungkin..!"
"Kenapa nggak mungkin...? Kakak cantik, pekerja keras, lebih cantik dari cewek berambut pirang yang di cafe itu lagi..!"
"Kenapa, kamu membandingkan aku dengan Kalisha..?"
"Karena tu cewek naksir dengan Kei..!"
Hebat juga ini anak, dia bahkan tahu, kalau Kalisha suka dengan Kei, jangan jangan...
Tiba tiba saja, pintu didepan diketuk dari luar.
"Biar aku aja..!"
Leo segera bangkit berdiri, dan beranjak untuk membuka pintu. Mikha melanjutkan mengetik tulisannya dilaptop. Ia harus segera menyelesaikan naskah novel yang ingin ia kirim, agar laptop segera bisa dikembalikan.
Tidak enak rasanya, meminjam barang mahal terlalu lama.
Saat Leo membuka pintu, Mikha mendengar sebuah suara yang tidak asing ditelinga nya. Saat ia menoleh, Mikha tidak bisa menyembunyikan kekagetan nya saat melihat siapa yang baru saja datang.
"Kei. Kenapa kamu bisa ada disini..? Nggak kerja..?"
Mikha bertanya dengan nada suara heran.
"Baru aja pulang, aku tadi masuk pagi...!"
Sahut Kei, sembari duduk begitu saja diatas lantai berkarpet rumah Mikha. Mikha berusaha untuk mengingat ingat, apakah ia pernah memberitahukan alamat rumah nya pada pria ini..? Rasanya tidak.
Mikha melirik kearah Leo. Leo melempar pandangan nya kearah lain. Pura pura buta. Mikha seperti mencium ada yang tidak beres, yang mana peran utamanya adalah sang adik.
"Maaf ya Kei, rumahku nggak ada sofanya, kamu hanya bisa duduk begitu saja dilantai, tapi aku bisa jamin kok, lantai rumah ku bersih..!"
Kei tersenyum, mendengar ucapan Mikha.
"Waktu ngamen, aku malah tidur diatas tanah, santai aja. Aku nggak masalah kok, yang penting yang punya rumah bisa menyambut kedatangan ku dengan baik..!"
__ADS_1
Kini, ganti Mikha yang tersenyum mendengar kata kata yang diucapkan oleh Kei.
"Kalau maksud kedatangan kamu baik, insya Allah, akan disambut baik disini, asal..."
Mikha menggantung ucapan nya, karena merasa tidak nyaman.
"Asal...?"
Kei meminta Mikha, untuk melanjutkan ucapannya yang tadi menggantung.
"Asal nggak melanggar jam malam, disini tetangganya rese, ntar kak Mikha di gosipin macam macam, sama tetangga kurang kerjaan..!"
Yang menyahut Leo.
"Kasih aja kerjaan, biar mereka berhenti bergosip..!"
Kei mencoba bercanda. Leo tertawa garing.
"Bawa ponsel nggak..?"
Leo menanyakan hal itu, namun Mikha melotot langsung kearah sang adik. Tapi, Leo tidak perduli, dan Kei tertawa mendengar nya. Pemuda itu mengeluarkan ponselnya dari saku celana nya. Lalu menyerahkan ponsel itu kepada Leo. Dengan wajah semringah, Leo menerima benda yang sangat diidamkan nya itu dari tangan Kei.
"Cakep dah, thanks ya..!"
Leo melangkah menuju sudut rumah, mulai memencet mencet benda mahal tersebut. Tidak sadar, kalau sang kakak menatap nya. Dari tatapan nya itu, Mikha ingin adiknya itu tahu, kalau ia keberatan dengan tingkah adiknya tersebut.
"Udah, nggak papa. Santai aja, aku ikhlas kok..!"
Seakan tahu apa yang ada dalam fikiran Mikha, Kei segera mengucapkan kalimat tersebut.
"Maafin dia ya, dia emang suka gitu kalo liat ponsel, suka langsung ijo itu mata..!"
"Eh, serius nih..!"
Leo langsung mengucapkan kalimat tersebut seakan tidak percaya.
"Iya, tapi dengan satu syarat, main game buat mengejar mimpi lu. Bukan buat iseng doang..!"
Kei, menyahut. Dan Leo bersorak kegirangan. Mikha hanya geleng-geleng kepala.
"Kamu itu. Barang itukan mahal, kamu pasti mendapat kan benda itu dengan penuh perjuangan, jangan seenaknya gitu dilepaskan..!"
"Ya, aku juga liat orangnya Mikha, aku lihat adik kamu itu serius mau menjajal kemampuan, buat menjadi seorang gamers, jadi biarkan dia untuk berjuang..!"
Mikha menghela nafas.
"Eh, kamu lagi ngapain...? Nulis..?"
Mikha seketika ingin menutup laptopnya, saat Kei ingin melihat apa yang ia tulis.
"Aku mau lihat, nggak boleh..?"
Kei menatap Mikha dengan tatapan serius.
"Em, aku nggak pede..!"
"Hei, kemarin bukannya kita udah bahas ini..? Nggak boleh merasa nggak pede untuk sebuah karya yang kamu buat..!"
"Iya, tapi..!"
__ADS_1
"Aku mau lihat..!"
Tanpa meminta persetujuan Mikha, Kei meraih laptop yang ada dihadapan Mikha, dan membuka nya.
Matanya menelusuri tulisan tulisan yang dibuat Mikha, Mikha menutup mata. Rasanya malu jika apa yang ditulis nya, dibaca seperti itu didepan matanya
"Bagus lho. Ini non-fiksi, cerita kamu sendiri..?"
Mikha mengangguk, ada rasa malu menyelinap dihatinya, saat mengakui itu semua.
"Keren deh, jadi mau baca, ohya, tapi aku bisa ngasi masukan nggak sama kamu..?"
Kei, berpaling menatap Mikha dengan tatapan penuh arti.
"Silahkan. Asal itu membangun, kenapa nggak...?"
"Tulisan kamu udah bagus, cerita nya juga mengalir, enak dipahami, tapi.."
"Tapi apa..?"
"Ada kesalahan dikit dari cara ngetik kamu..!"
"Eh, masa ..?"
"Sini deh aku kasih tahu,"
Kei, menggeser duduknya lebih dekat dengan Mikha, hingga Mikha bisa mencium aroma parfum dari tubuh pria tersebut. Tiba tiba saja jantung nya berdebar..
"Coba lihat ini. Kalimat dialog sesudah tanda petik itu harus huruf besar, lalu, usahakan, jangan kebanyakan memakai titik titik ditengah kalimat, kalau bukan karena kalimat itu memang sedang menggantung..!"
"Kalimat menggantung, misalnya, seseorang yang berkata, tapi penuh rasa ragu ragu, hingga kalimat nya itu nggak bisa ia tuntaskan, gitu..?"
"Iya, gitu maksudnya. Mungkin, ini kelihatannya sepele, tapi kalau kita kirim tulisan itu kepenerbit, biasanya banyaknya kesalahan begini, bikin mereka malas memperbaiki nya, waktu kamu kirim cerpen kamu, kamu ngetiknya gini..?"
"Aku bayar orang dirental pengetikan..!"
"Eh, kenapa nggak ngetik sendiri..?"
"Pake apa..?"
"Ini..?"
"Itu pinjam, Leo tuh yang cari pinjaman biar aku bisa ngetik sendiri naskahku..!"
"Terus waktu kamu lihat hasil ketikannya gimana..?"
"Kurang lebih nya begini, akukan cuma menuruti apa yang aku lihat, karena hasilnya begini, ya aku ikut aja..!"
"Itu sebabnya, cerpen kamu nggak dimuat di majalah, sedang waktu Kalisha yang mengirim cerpen kamu malah dimuat, aku yakin deh, kesalahan nya disitu. Cara pengetikan nya, karena cerita kamu itu keren..!"
Begitu ya, masuk akal juga ya..? Jadi ini jawaban, dari pertanyaan ku beberapa hari terakhir ini, tulisanku dimuat saat Kalisha yang mengirim nya, mungkin dia mengetiknya sendiri, aku yakin anak kuliahan kaya dia, pinter tehnik mengetik, sementara aku sekolah aja enggak, jadi pake jasa rental pengetikan, mereka nggak memperhatikan hal beginian lagi, astaga. Ternyata untuk jadi seorang penulis, memang ada banyak hal yang harus dipelajari, nggak hanya pintar membuat cerita saja...
Note : Yang terlihat mudah, terkadang tidak mudah saat di kerjakan, namun jika kita tahu, setiap hal pasti punya tingkat kesulitannya sendiri sendiri, maka ia tidak akan kaget, jika dihadapkan tantangan yang sangat sulit sekalipun.
👉 Jangan lupa like vote klik favorit, rate 5 jika suka ya 💗
👉 baca novel non-fiksi karya saya berjudul DOKTER ITU KAKAKKU yang terbit di platform kuning NOV*LME,
👉 Baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul SANG PELAKOR klik profil saya untuk tahu karya saya.
__ADS_1
bersambung