
Jody segera berlari menghampiri Leo, saat melihat Leo sudah menunggu diwarung tenda yang letaknya tidak jauh dari tempat pencucian motor. Tubuh Jody penuh keringat. Bajunya kotor disana sini. Sepertinya, hari ini pendapatan dari hasil mencuci motor lumayan.
"Udah lama nunggu...?"
"Iya, udah sampe abis satu porsi sop buah ini nungguin lu...!"
Sahut Leo, sembari memperlihatkan mangkok yang hanya tersisa kuah dari sop buah yang tadi ia makan, sembari menunggu Jody tadi.
"Mau dong, haus nih..!"
"Bayar sendiri hahaha...!"
"Iyaaaa, gue traktir deh punya lu..!"
Sahut Jody bangga, reflek Leo menghentikan tawanya.
"Tumben nraktir...? Biasa juga nodong minta bayarin..?"
Jody cengengesan.
"Iya dong, kan sebagai ucapan terima kasih, lu rekomendasi kan gue ke band, Kei...!"
"Oh, gitu sip lah kalo tahu diri, gimana udah latihan sama mereka..?"
Leo menatap Jody dengan wajah serius. Jody mengangguk.
"Udah, beberapa kali. Mereka baik baik, walau jarang becandaan, tapi Leo. Gue liat, Kei itu bukan pengamen seperti yang lu bilang deh...!"
"Guekan bilang, Kei itu, ngamen bukan memvonis dia pengamen yang anak jalanan itu...!"
Ralat Leo cepat. Sop buah milik Jody datang, Jody menyuruh Leo, untuk memesan lagi satu porsi, namun Leo menggeleng, karena merasa sudah kenyang dan dahaganya sudah terpenuhi.
"Oh, gue kira lu nyangka dia anak jalanan..!"
"Emang kenapa lu berfikiran Kei itu, bukan anak jalanan...?"
Tiba tiba saja, Leo tergelitik untuk mencari tahu, tanggapan orang lain tentang Kei.
"Liat aja penampilannya, kece abis gitu, terus cara bicaranya juga etikanya tinggi, saat latihan kita perlu fokus dan kagak boleh cengar-cengir, adat yang begitu itu, cuma dimiliki orang yang hidup teratur dirumah, bukan dijalanan yang macam anggota sabung ayam teman gue, saban ngomong teriak teriak, terus lebih banyak menggunakan kata sumpah serapah kalo ngomong...!"
__ADS_1
Leo, mencibir mendengar kata sabung ayam yang diucapkan oleh Jody.
"Terang aja, mana bisa Kei, dibandingkan dengan teman penyabung ayam lu itu, nyabung ayam aja udah dosa, mulutnya juga pasti serampangan...! Awas lu bikin malu gue dihadapan Kei, kalo lu masih sabung ayam...!!"
Jody cengengesan lagi mendengar ancaman Leo.
"Kemarin pada pasang harga tinggi, nyaris aja gue ikut, tapi gue ingat aturan diband, kagak boleh melakukan hal hal yang sekiranya melanggar aturan agama, terus membuat nama band rusak, ternyata kagak semua rocker itu hidup serampangan ya...!"
"Baguslah, kalo ada peraturan gitu, setidaknya lu bisa jadi orang baik sekarang..!"
"Tapi, emang boleh ya, gue tetap kerja nyuci motor walo udah ngeband, gue takut bikin malu band...!"
"Aduh, bocah ini. Ngapain malu, kerjaan lu halal. Kei, aja ngamen masa lu malu nyuci motor..!"
"Oh, iya gue lupa ya, Kei yang yahud itu aja masih ngamen emang kenapa harus malu...!"
"Malu tuh kalo lu sekarang makan sop buah ngutang...!"
Jody mencibir. Dikeluarkannya uang hasil mencuci motor nya hari ini. Diserahkannya uang seharga dua mangkok sop buah kepada Leo. Leo menyeringai. Yah, buat apa malu dengan pekerjaan kita meskipun bagi orang itu memalukan karena kotor. Toh, mengemis saat tubuh masih sehat dan kuat untuk bekerja itu yang tidak boleh dilakukan, dan tentunya tidak mencuri, pekerjaan itu halal, walau tidak menghasilkan sekaligus banyak, tapi kalau disyukuri akan membawa berkah.
***
Mikha dan Kei, sudah duduk bersama disebuah taman kota pada sore hari, saat Mikha baru saja pulang dari bekerja. Mikha yang menghubungi Kei. Agar mereka segera bertemu. Dengan senang hati, Kei menyanggupi waktu yang ditetapkan Mikha, meskipun Mikha menolak untuk dijemput oleh Kei.
Mikha mulai bicara, dengan suara lirih.
"Aku mau, kamu sudah memikirkannya baik baik..!"
Kei, menyahut. Mikha menarik nafas, sekedar untuk menata hatinya.
"Aku minta maaf Kei, aku nggak bisa membalas perasaan kamu..!"
Mendengar ucapan Mikha, spontan Kei berpaling, menatap wajah Mikha yang terlihat suram.
"Kamu menolak aku, karena kamu nggak cinta...?"
Kei, bicara seperti itu, sembari menatap Mikha dengan tatapan serius. Mikha menundukkan kepalanya. Tidak berani menentang tatapan mata pria itu yang tajam menatapnya.
"Tatap aku Mikha..!!"
__ADS_1
Kei bicara lagi, dengan nada suara dipertegas. Mikha mengangkat wajahnya, berusaha untuk menatap Kei, meskipun itu sulit untuk dilakukan. Sulit, saat menentang suara hati sendiri untuk mengucapkan kalimat berbeda dari apa kata hati.
"Pokoknya, aku minta maaf sama kamu, karena aku nggak bisa menerima perasaan kamu, itu aja..!"
Habis berkata begitu, Mikha ingin bangkit dari tempat duduknya, ingin beranjak agar ia bisa bebas meluapkan seluruh hal yang menekannya sekarang, akan tetapi, Kei menangkap lengan Mikha, untuk mencegah gadis itu beranjak dari sisinya.
"Karena aku anak orang kaya, atau karena Kalisha mengancammu...?"
Kei, mencoba mengorek keterangan, apa yang membuat Mikha memberikan keputusan itu padanya, karena ia tahu, itu bukan keputusan yang ingin diucapkan Mikha kepadanya.
"Kamu, tau sendiri jawabannya, aku nggak mau lagi mengucapkan nya..!"
Mikha menjawab, sembari berusaha melepaskan cengkraman tangan Kei, dilengannya. Namun, Kei tidak membiarkan hal itu terjadi. Pemuda itu mempererat cengkraman nya karena ia tidak ingin gadis itu beranjak sebelum pembicaraan mereka usai.
"Karna aku anak orang kaya, dan kamu nggak bisa menerima itu, artinya kamu memukul rata semua anak orang kaya itu nggak bisa membuat kamu bahagia. Kita nggak bisa memilih, terlahir dari keluarga seperti apa Mikha, begitu juga kamu. Tapi, apapun yang jadi latar belakang kita, itu nggak harus dijadikan patokan untuk memutuskan sesuatu, itu nggak adil buat aku. Tapi, kalau kamu menolakku karena Kalisha mengancammu, aku juga tidak akan menerimanya...!"
Mikha berusaha menatap wajah Kei, yang juga saat itu tengah menatapnya.
"Aku, tahu, nggak seharusnya kita memutuskan sesuatu berdasarkan latar belakang seseorang, tapi itulah kenyataannya, aku bukan anti cowok kaya, aku nggak benci kalian orang orang kaya, aku hanya nggak mau berurusan dengan kalian karena aku tahu, itu akan mempersulit semuanya. Kita, nggak cocok dari segi apapun Kei, aku memang pecundang, belum mencoba tapi sudah menyerah duluan, aku hanya ingin hidup sesuai kenyataan yang ada..!"
Habis berkata seperti itu, Mikha berusaha untuk lepas dari cengkraman Kei. Kali ini, Mikha mengerahkan kekuatan yang ia punya, dan karena Kei tidak menyangka Mikha akan melakukan hal itu, cengkraman itu terlepas.
Kesempatan itu digunakan Mikha untuk segera beranjak, namun belum lagi Mikha berhasil menjauh, tiba tiba saja, Kei sudah meraup tubuhnya dan memeluk Mikha dari belakang. Membenamkan wajahnya dibahu kecil milik Mikha, sembari berkata...
"Jangan sembunyikan diri kamu terus dizona nyaman kamu Mikh, kamu harus percaya pada dunia luar, kalau dunia luar itu tidak sepenuhnya kejam. Kau lihat aku. Sekian lama aku berusaha bertahan dizona yang aku anggap itu sudah takdirku, tapi ketika aku punya kekuatan untuk keluar dari zona itu, aku merasa aku mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Bahagia itu harus dicari, kau, tidak bisa menutup rapat semua pintu duniamu agar orang lain tidak mengganggumu. Percayalah, terkadang kita butuh kuat untuk bisa meraih kebahagiaan yang kita impikan..!"
Sepasang mata Mikha mulai digenangi air mata, apa yang diucapkan Kei, memang benar. Ia hanya tidak mau keluar dari zona yang ia rasa sudah nyaman bagi dirinya, karena masalalu terlalu membuat ia takut untuk mencoba keluar dari zona nyaman itu. Ia berlagak kuat dihadapan Leo, adiknya. Agar Leo tumbuh menjadi pria yang kuat, akan tetapi, Leo tidak pernah tahu, dirinya sang kakak sebenarnya rapuh hingga tidak membiarkan orang lain masuk kedalam dunianya sendiri, agar ia tidak lagi menerima perlakuan buruk seperti yang ia terima dimasalalunya itu...
Note: Ketika kita nyaris tidak percaya pada setiap orang yang kita temui, lantaran terlalu sering disakiti. Percayalah, tidak semua orang punya hati buruk yang datang untuk menyakiti. Ada satu dua orang yang masih sadar, bahwa kunci hidup bahagia adalah berusaha untuk menghargai dan memahami diri orang lain, agar orang lain juga bisa berlaku seperti itu pada kita.
👉 Jangan lupa like, vote, rate 5 klik favorit jika suka ya 💗
👉baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul SANG PELAKOR
👉 Dan novel saya diplatform kuning NOV*LME berjudul:
- MAHKOTA DEWA - fiksi fantasi
- DOKTER ITU KAKAKKU- non-fiksi
__ADS_1
- FACE- roman fiksi
bersambung