
"Kak, maaf ya, aku nggak bisa bantu bayar uang sewa kita bulan ini. Uangku dirampok sama tetangga pengangguran itu tadi, ntar di gang depan aku gebukin deh, biar tau rasa...!!"
"Nggak usah, jangan berantem lagi. Ntar kita diusir warga sini karena dinilai buat keributan terus. Anggap aja bukan rezeki kita..!"
"Eh, enak aja. Itu rezeki ku kali kak. Aku nggak istirahat lho, demi dapatin itu duit, pinggang mau patah, kaki kurapan, eh duitnya di rampok..!"
"Jangan membiasakan diri nggak rehat di jam rehat, nggak baik. Ntar sakit susah lho..! Iya, itu tadinya uang kamu, tapi belum rezeki kamu, makanya dirampok, lain kali lebih hati hati. Orang orang sekarang itu kalau udah liat uang, lupa segalanya."
"Aku kesel sih, pemilik kontrakan ini nggak ada hati bener, nunggak dikit ngomel aja. Kita juga kalau ada uang nggak mungkin nunggak kali...!"
"Mau gimana, kita nunggak udah lama wajar beliau ngamuk..!"
"Iya, wajar, tapi nagihnya kurang ajar. Tunggu aja, kalo aku sukses nanti, bakal aku bangun apartemen tingkat tinggi didepan hidung nya...!"
"Belum sukses aja niatnya gitu amat, gimana mau dikabulin ..?"
"Ya, abis kesel kak. Miskin diinjak terus...!!"
Yah, benar. Mikha juga sebenarnya merasa kan apa yang dirasakan oleh adiknya. Merasa tidak dianggap oleh orang disekitar mereka. Seperti nya, sikap baik mereka terpatok pada berapa banyak uang yang dimiliki. Miris. Menilai seseorang, hanya berdasarkan apa yang dimiliki orang tersebut saja, masalah hati, belakangan.
"Kak, buku tulis kakak udah banyak numpuk gitu. Nggak bosen apa nulis terus...!"
Lama saling diam, tiba tiba saja suara Leo terdengar. Matanya mengawasi buku tulis yang menumpuk di samping pembaringan. Karna kamar hanya ada satu, Leo mengalah tidur diluar kamar, Mikha didalam, namun jika kakaknya belum pulang dari kerja, Leo juga sering tiduran di kamar sang kakak.
"Nggak, emang kenapa..?"
" Aku yang bosan liat kakak, nulis tanpa mau ngirim itu tulisan...!"
"Mana laku...!"
Bohong Mikha, padahal tanpa sepengetahuan Leo, ia sudah berusaha untuk mengirim tulisan nya tersebut, hanya saja selalu ditolak redaksi. Entah lah. Mungkin kurang menarik.
"Padahal satu puisi aja, laku 30 ribu, apalagi novel, kalau kakak kirim itu tulisan kakak, kita bakal kaya kak..!"
Tidak semudah itu Leo, awalnya, aku juga berfikir seperti kamu, asal bisa menulis, cerita kita pasti akan diterima, tapi ternyata tidak sesimple itu, buktinya semua tulisan yang aku kirim, nggak ada satu pun yang diterima.
Mikha membathin. Sesak rasanya jika sudah memikirkan hal itu. Tapi ia harus kuat. Karena menulis buatnya sama seperti nyawa. Jadi dimuat atau tidak, ia akan terus menulis.
"Lain kali coba dikirim kak, percuma kakak nulis terus dibuku tulis begitu, dibaca gratis emak emak sebelah, dikomen terus di tuntut lagi buat, simple aja deh kakak mikirnya, emang nulis nggak butuh energi...? Emang nulis kalo perut lapar bisa...? Emang nulis nggak butuh tinta...? Semua ada biaya, jadi harus difikir untung ruginya...!"
"Tapi, karena menulis aku masih ada disamping kamu sekarang Leo, masih bisa berusaha kuat disini, kalau dulu aku nggak nulis, waktu di bully, aku bakal bunuh diri..!"
"Ah, serem. Ya bener sih. Jujur, dulu aku juga berfikir begitu lho. Waktu mama papa kita sibuk dengan pertengkaran mereka aja, rasanya aku juga pengen hilang dari dunia. Tapi itu dulu. Sekarang aku punya alasan untuk hidup, selain mau jaga kakak. Aku juga pengen jadi sultan...!"
__ADS_1
"Amiiin, sekarang kamu nggak boleh punya fikiran begitu. Seberat apapun ujian, kita pasti bisa melewati nya bersama..!"
"Heeem, tapi ntar kalo kakak nikah, kakak pasti ninggalin aku kan..!"
"Kata siapa...?"
"Kata aku. Mana mungkin aku satu rumah sama kalian, ganggu kalian dong...!"
"Enggak kalau kamu nggak selalu buat rusuh..!"
"Eh, serius boleh satu rumah...?"
Mikha mengangguk.
"Tapi, emang kakak punya pacar sekarang...?",
Mikha menggeleng. Leo mencibir.
"Cari model pria kayak apa sih...? Perasaan yang naksir kakak ada, tapi kakak jomblo terus...?"
Karena rata rata, pria yang aku temui, menganggap hobi menulis itu membosankan Leo...
Pertanyaan Leo hanya dijawab Mikha dalam hati. Gadis itu pamit untuk istirahat. Tubuh nya sangat penat. Leo mengiyakan. Karena ia juga merasa ingin tidur saja. Besok, perjuangan nya akan dimulai lagi. Perjuangan untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah, agar ponsel incarannya bisa segera ia miliki....
Teman Rida menatapi Mikha dari ujung rambut sampai ujung kaki. Rida mengajak Mikha untuk berkenalan dengan temannya yang juga hobi menulis seperti Mikha. Tujuan Rida cuma satu, membuat Mikha sadar, bahwa impian gadis itu hanya membuang waktu. Menulis bukan profesi yang bisa ditekuni oleh seseorang yang tidak pernah sekolah. Mikha hanya bisa larut dalam mimpi jika tidak disadarkan.
"Kalisha..!"
Teman Rida menyebut nama, dan Mikha juga melakukan hal yang sama. Setelah itu mereka duduk berhadapan, 3 gelas es kelapa tersaji dihadapan mereka bertiga. Sangat pas dengan situasi terik sekarang yang seolah olah membuat tenggorokan kering.
"Udah buat buku berapa...?"
"Maksudnya, cerita...?"
Mikha bertanya tidak mengerti. Kalisha mengangguk.
"Iya, itu yang gue maksud cerita, udah buat berapa banyak...?"
"Nggak terhitung.."
"Genre...?"
"Semua genre..!"
__ADS_1
"Adult romance juga...?"
Mikha mengangguk. Wajah Kalisha semringah.
"Hebat,"
"Hebat...? Maksudnya...?"
Mikha tidak mengerti, kata "hebat" yang diucapkan oleh wanita berambut pirang dihadapan nya ini apa maksudnya. Dia hebat...? Leo saja mengatakan, ia payah karena tulisannya tidak ada yang laku sama sekali.
"Menurut gue hebat. Karena butuh banyak waktu membuat sebuah karya aja ..!"
Benar. Mikha setuju dengan hal itu. Hanya saja, karena hobi, ia tidak tahu berapa lama waktu yang sudah ia habiskan untuk menulis cerita cerita yang ia tulis dibuku tulis tersebut. Yang ia tahu, sehari tidak menulis sama seperti tidak makan nasi.
"Gue juga banyak punya cerita, tapi semua cuma jadi sampah. Sekarang mulai beralih suka hal lain, nge-game, prospek kedepannya jauh lebih baik, daripada menulis yang jarang dihargai, bahkan di cap hanya membuang waktu..!"
"Alasan kamu menulis apa..? Kalau boleh tahu...?"
"Pengen kaya dari hasil menulis. Karena awalnya, gue fikir orang pasti membatin, wah ini orang cerdas bisa nulis, jadi perlu diapresiasi. Ternyata, kenyataan nya kagak seindah yang gue harapkan ..!"
Aku juga tidak munafik, ingin punya penghasilan dari kosakata yang aku rangkai, tapi buat berhenti menulis. Rasanya, aku nggak bisa, menulis bisa membuat hatiku lega, apalagi ada yang baca lalu suka, itu kebahagiaan tersendiri buat aku...
Mikha membathin, dan suara Kalisha membuyar kan lamunan nya.
"Jangan berharap, bisa kaya dengan hasil nulis Mik, kalau lu tau, untuk menuju impian yang lu mau, kagak semudah yang lu kira, lu pasti malas untuk melanjutkan hobi lu itu...!"
"Tapi tujuan menulis kita beda Kalisha. Dan itu hak masing masing, aku nggak mau bilang, penulis itu nggak butuh duit dari hasil dia menulis, tapi sebenarnya, ketika karya kita dibaca orang lain aja, rasanya sangat bahagia,"
"Gue bahagia kalau tulisan gue itu menghasilkan banyak pundi rupiah, itu aja..!"
"Itu sebab nya, kamu sekarang stop menulis...?"
"Kecuali, ada penerbit yang mau bayar mahal tulisan gue..!"
Wah matok harga, jadi mau baca karya dia ini aku...
Mikha membathin. Dalam fikiran nya, karya gadis bernama Kalisha itu pasti sangat luar biasa, hingga gadis itu berani mematok harga di awal begitu. Mikha tidak sabar untuk membacanya...!
Note: Tidak tabu mengharapkan imbalan, ketika kita memiliki sebuah karya, karena ide berkarya itu sangat mahal. Hanya saja ketika manusia selalu mengatas namakan imbalan untuk sesuatu yang ia lakukan, maka secara otomatis, karya yang dihasilkan juga kurang menyatu dengan hati dan jiwa kita...
👉 Jangan lupa, like, vote, klik favo, & rate 5 ya jika suka❤️
👉 jangan lupa baca juga novel nonfiksi karya saya berjudul SANG PELAKOR di Mangatoon ini, dan berikan dukungan kalian jika suka ya 💝
__ADS_1
bersambung