
Rida mengerut kan alisnya, ketika ia membuka pintu, yang sedari tadi mengetuk pintu rumah nya ternyata Mikha. Semenjak insiden naskah tempo hari, hubungan komunikasi antara Mikha dan Rida, berubah menjadi dingin. Bukan ingin mendendam, Mikha hanya perlu waktu untuk bisa bersikap biasa. Dan Rida pun, tidak perduli dengan situasi komunikasi mereka yang terasa canggung.
"Ada apa lagi. Nggak bisa kita ngomong dikerjaan aja...?"
Ucapan sinis Rida membuat Mikha menelan ludah.
"Kalisha mana...?"
"Nggak ada, mungkin dirumahnya.."
Rida menyahut cepat.
"Terakhir, kamu bilang nggak tau, tapi ternyata dia ada dirumah mu..!"
"Tapi, ini dia benar benar nggak ada."
Rida mulai terlihat kesal menanggapi obrolannya dengan Mikha.
"Ya udah, kalau gitu, aku minta buku tulis aku yang dipinjam Kalisha..!"
"Itukan yang minjem Kalisha, bukan gue, kenapa mintanya di gue...!"
"Kali aja, bukunya ditinggal disini kan Rida...!"
"Nggak ada. Kalisha yang taulah, lagian buat apa juga gue yang bawa...! Pulang gih. Gue mau rehat ..!"
"Tapi...?"
Rida tidak memperdulikan apa yang ingin disampaikan Mikha. Didorong nya Mikha untuk menjauh dari pintu. Setelah itu, ia segera menutup pintu. Mikha menarik nafas kesal. Berharap, bisa mengambil kembali buku yang dipinjam Kalisha, tempo hari. Ternyata nihil. Mikha khawatir, ada lagi karya nya yang di curi Kalisha. Berfikir sampai disana, rasanya Mikha sangat stres dibuat nya.
Dengan langkah gontai, Mikha meninggalkan rumah Rida. Kemana ia harus mencari Kalisha...? Bodoh nya ia, tidak menanyakan pada Rida, dimana gadis bernama Kalisha itu tinggal.
"Hay cewek, sendirian aja nih, yuk sama Abang yuk, kita seneng seneng..!"
Ketika asyik melangkah sembari berfikir tentang dimana Kalisha tinggal. Seorang pria brewok menghadang langkah Mikha. Semula, Mikha ingin menghindari saja pria itu dengan cara memutar arah, tapi pria itu justru mencekal pergelangan tangan nya. Mikha benar benar tidak suka hal itu.
"Tolong lepasin...!"
Pinta Mikha sembari berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan itu dilengan nya. Bukannya melepas kan, pria itu justru tertawa mendengar permintaan Mikha.
"Ntar abang lepasin, tapi temani Abang dulu dong, ya...!"
Mikha muak dengan gaya bicara pria yang sedang mencekal pergelangan tangan nya tersebut. Apalagi, pria itu memaksa Mikha untuk mengikuti langkah nya menuju tempat yang lebih sepi.
Ketakutan, mulai menguasai hati Mikha. Bagaimana, kalau pria itu berniat jahat pada nya...? Berfikir sampai disana Mikha semakin meronta. Apapun ia lakukan untuk bisa melepas kan diri dari cengkraman pria tersebut.
Karena kegigihan nya, Mikha berhasil. Ketika cengkraman tangan pria itu terlepas, kesempatan itu digunakan Mikha untuk berlari.
Mikha tidak perduli, kearah mana ia lari, yang ia fikirkan hanya satu, bisa terlepas dari cengkraman pria kurang ajar yang tadi mengganggu nya.
"Brukk....!!"
__ADS_1
Tubuh Mikha terjerambab saat gadis itu menabrak seseorang yang sedang membawa gitar. Gitar yang dibawa orang itu terlepas dari genggaman tangan nya, ketika gitar itu berbenturan dengan tubuh Mikha.
Mikha mengerenyit menahan sakit, di kedua kakinya. Ia ingin bangkit, namun kedua kakinya itu tidak bisa ia gunakan untuk bertumpu dengan baik.
"Kamu nggak bisa jalan...?"
Sebuah suara membuat Mikha menghentikan kesibukan nya menggerakkan kedua kakinya. Gadis itu mendongak. Pria yang tadi menabrak nya berjongkok dihadapan nya.
Melihat wajah pria itu, Mikha jadi teringat wajah seseorang.
"Kamu. Kamu yang ngamen waktu itu...?"
Mikha akhirnya ingat, siapa pria yang ditabraknya ini.
"Wah, masih ingat. Iya, itu aku. Kita ketemu lagi, tapi situasi nya kurang baik. Sini, aku bantu...!"
Mikha tidak bisa mencegah, pria itu untuk membantu nya berdiri. Kedua kakinya benar benar seperti sudah terkilir. Pria itu mendudukkan Mikha diatas kursi yang ada ditepi jalan.
Tanpa diminta, pemuda itu segera berjongkok diujung kaki Mikha, memeriksa pergelangan kaki gadis itu, dan mencoba untuk mengurut pergelangan kaki Mikha yang terkilir.
Wajah Mikha memanas diperlakukan seperti itu, oleh seorang pria. Baru ia kenal pula. Ingin menolak, namun apa yang dilakukan pemuda itu benar benar mampu mengurangi rasa sakit di pergelangan kaki Mikha.
"Gimana, masih sakit nggak...?"
Tanya pemuda gondrong itu sembari meminta Mikha untuk menggerakkan kedua kakinya. Mikha menurut. Digerakkan nya kakinya, dan ajaib kedua pergelangan kaki nya tidak begitu sakit lagi walau bukan berarti sembuh.
"Makasih ya. Pintar pijit tradisional juga rupanya. Aku minta maaf, udah nabrak kamu, tadi itu aku dikejar preman, dia mau bertindak kurang ajar sama aku. Gitar kamu rusak ya..? Maaf ya ..!"
"Nggak papa kok, paling posisi senarnya rada berubah karena terkena tubrukan tadi, tapi itu bisa diperbaiki..!"
"Duuh, maaf banget lho ya, aku nggak tau dihadapan ku tadi kamu, aku benar benar minta maaf untuk masalah ini...!"
Kei tersenyum.
"Coba aku tes dulu ya...!"
Kei segera memetik gitar yang dibawanya perlahan. Memainkan satu buah lagu. Dan suara nya mulai terdengar menyanyikan lagu tersebut.
Lagu milik Naff with akhirnya ku menemukanmu, terlantun sempurna dihadapan Mikha. Membuat Mikha jadi terbawa suasana.
Indah dan tidak ada minus sama sekali. Hingga saat lagu itu usai, Mikha bertepuk tangan untuk mengapplaus apa yang tadi dilakukan Kei. Kei tersenyum puas mendengarnya.
"Keren tau. Mirip aslinya...!"
"Sayangnya ini palsu hehe...!"
"Bisa aja. Kamu ngamen didaerah sini kah...?"
Mikha tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Eem, bisa dibilang begitu,"
__ADS_1
"Terus tadi kamu nyanyi satu lagu, ntar kamu suruh bayar aku. Tapi,
aku coba periksa tasku ada recehan nggak buat bayar kamu...?"
Mikha memeriksa tas kecil yang dibawanya, mencari cari siapa tahu ada uang buat membayar pengamen disamping nya, dan. ...
"Ini..! Aku cuma bisa bayar kamu segini..!"
Kei, tidak menerima uang yang disodorkan Mikha kehadapan nya.
"Boleh ganti jasa aja nggak...?"
Mikha mengerut kan alisnya mendengar permintaan pemuda disampingnya.
"Maksudnya...?"
"Kamu kapan Free, malam...?"
Mikha berfikir sejenak.
"Besok malam...!"
"Nah, besok malam aku undang kamu ke tempat kerjaku, aku mau kamu menilai ku saat aku bertugas disana..!"
Mikha bengong mendengar ucapan Kei.
"Kamu, kerja..? Terus sekarang kok ngamen..?"
Kei tersenyum mendengar pertanyaan Mikha.
"Nggak papa dong. Biar cepat kaya hehe...!"
Mikha ikut tertawa mendengar kata kata Kei.
"Gimana...? Mau kan...? Kamu boleh ajak teman kamu kok buat datang, pacar juga boleh...!"
Wajah Mikha bersemu mendengar ucapan Kei. Pacar...? Mikha tidak punya pacar. Tidak pernah punya waktu untuk memikirkan itu. Tapi jika memang ia harus pergi besok malam. Seperti nya, mengajak Leo adiknya boleh juga.
"Kamu kerja dimana...?"
"Cafe merak."
"Wah, nggak nyangka ya, selamat dong udah dapat kerja, emang orang seperti kita ini, harus punya semangat hidup yang besar, kalau enggak orang orang kaya itu, pasti seenaknya untuk merampas senyum senyum orang nggak punya seperti kita ini dengan seenaknya...!"
Kei, tersenyum penuh arti mendengar ucapan yang baru saja diucapkan oleh Mikha. Tidak sabar rasanya untuk tampil malam ini dihadapan teman barunya tersebut...
Note: Sikap tulus yang kita berikan pada orang lain, akan membuat orang juga berusaha bersikap yang sama terhadap kita. Jika pun ada yang membalas ketulusan itu dengan kebohongan, maka orang itu belum tahu caranya berterima kasih.
👉 jangan lupa like vote klik favo rate 5 jika suka ya 💖 Yuk baca novel saya berjudul SANG PELAKOR yang terbit lebih dulu.
bersambung
__ADS_1