
Leo menselonjorkan kakinya. Wajahnya bermandikan keringat. Tubuh nya terasa kotor sekali. Bajunya...? Tentu tidak berbentuk lagi warnanya.
10 motor ia kerjakan sendiri di jam istirahat, hasil nya...? Lumayan. Hari ini ia bisa menyisihkan uang sedikit banyak untuk menabung. Ponsel incarannya masih menggoda iman dalam benaknya.
"Yo, pulang ntar kemana..?"
Jody menyapa, sembari duduk disebelah Leo.
"Ya, kerumah lah. Masa kekuburan..!"
Sahut Leo cuek.
"Ah, lu. Maksud gue tuh, ntar lu ada acara kagak. Habis dari sini, kemana gitu..!"
"Kagak. Gue mau balik aja, kerumah. Capek..!"
"Ah, kagak seru lu Yo, masih muda gaya hidup lu kayak bapak bapak. Kagak pernah happy happy, lu hari ini dapat banyak tip kan, lu nyuci motor banyak banding gue..!"
"Maksudnya, lu ngintai duit gue...?"
"Seneng seneng gitu, cari cewek...!"
"Ogah...!!"
Leo bangkit berdiri, dan bersiap untuk pulang. Jody ikut bangkit.
"Sekali kali Yo, masa muda kudu dinikmati, kita ini udah ngabisin waktu buat cari duit, masa menikmati duit aja kagak bisa...!"
"Ya, lu nikmati duit lu sendiri aja, ngapain neropong duit gue...!"
"Segitunya lu pengen beli ponsel, paling juga ntar lu kagak bisa beli kuota..!"
"Selagi gue bisa kerja, kagak ada yang kagak mungkin buat gue...!"
"Gue suka sikap optimis lu, tapi jangan lupa, terlalu optimis kagak baik juga Yo, lu kagak akan siap misal ntar lu terjatuh ..!"
"Kalo terjatuh ya bangun lagi kali. Susah amat..!"
"Yo, tungguin gue dong, ayolah kemana gitu, cari cewek, ke karaoke, ke bilyar, kemana aja deh, pulang kita makan lesehan ditepian enak lho..!"
"Pake duit lu..!"
"Ya, kan lu yang lagi banyak duit..!"
"Sarap lu...!"
"Temen kagak mutu lu, demi ponsel aja lu zalim sama temen, buat apa sih orang kayak kita punya ponsel, bukan orang penting juga...!!"
__ADS_1
Leo menghentikan langkahnya, lalu membalikkan tubuhnya, dan menatap kearah wajah Jody.
"Yang kagak penting diladeni itu elo. Temen kagak mutu. Deketin gue kalo ada maunya doang, kemarin kemarin kemana aja lu..?"
"Ada, tapi lagi rehat..!"
"Rehat aja sana kekuburan...!!"
Leo memaki, lalu kembali melangkah kan kakinya, tanpa memperdulikan reaksi Jody mendarat kecaman yang ia lontarkan tadi.
Gue sebenarnya, pengen juga konkow konkow bareng lu Jod, tapi sekarang ada yang gue prioritas kan, jadi gue kagak bisa buat melakukan itu. Gue capek miskin terus, pengen berusaha, dan usaha gue itu perlu modal...
Leo berkata dalam hati, sembari mempercepat langkahnya, ia segera ingin pulang, mandi, makan lalu istirahat. Rasanya hari ini tubuh nya terasa remuk. Seharian tidak istirahat, cukup membuat Leo merasa luar biasa lelah juga.
Tiba dirumah, ia heran pemilik kontrakan sudah berdiri di ambang pintu kontrakan mereka. Perasaan Leo jadi was was. Sementara itu, saat melihat Leo, pemilik kontrakan bagai menemukan harta karun. Matanya berbinar. Pohon uangnya muncul.
"Mana kakak kamu..?"
"Kerja Bu...!"
"Heem, berarti saya nagihnya sama kamu saja, mana uang kontrakan kalian yang menunggak itu...?"
Tuh, benerkan, mau nagih...
Leo membathin.
"Tidak bisa. Ini sudah sebulan lebih, kalau kalian tidak bisa membayar, lebih baik pergi saja dari sini. Masih banyak yang mau menyewa kontrakan ini,"
"Tapi kami belum punya uang Bu..!"
"Separo bayar, separo...!"
Pemilik kontrakan menadahkan tangan kearah Leo.
"Kagak ada. Duit darimana..?"
Si pemilik kontrakan tidak percaya dengan ucapan Leo, ia maju dan segera menggeledah saku celana dan baju kotor Leo, dan...
"Ini apa...? Bisa buat bayar separo kontrakan ini, bohong kamu ya ..!"
"Itu buat makan hari ini Bu, jangan diambil...!"
Gila. Setengah mati, dia mendapat kan uang itu, tidak makan, tidak istirahat, kini uang itu seenaknya ingin diambil oleh pemilik kontrakan mereka. Tidak. Leo tidak rela. Ia ingin merebut kembali uang yang ada ditangan pemilik kontrakan tersebut, tapi sial. Ia justru membuat sang pemilik kontrakan jatuh terjengkang, hingga dasternya robek.
Leo hanya bisa terbelalak. Bingung, antara menolong atau memungut uang yang berserak di lantai teras kontrakannya.
Pemilik kontrakan, yang tidak terima dengan perlakuan Leo, murka. Lalu...
__ADS_1
"Dasar penyewa tidak tahu diuntung. Keluar kalian sekarang juga, pindah secepatnya, atau saya lapor kan kalian kepolisi, atas tindakan penipuan dan penganiayaan...!!"
Teriakan sang pemilik kontrakan, mengundang perhatian tetangga yang lain. Mereka segera berkerumun. Beberapa pemuda pengangguran, berlagak seolah olah ingin menolong sang pemilik kontrakan. Akan tetapi, pandangan Leo memergoki pemuda itu justru memungut uang miliknya yang berserak di lantai teras.
Hal ini membuat emosi Leo tersulut. Ia meraih baju sang pemuda pengangguran. Dan...
"BUKK...!!"
Bogem mentah dihadiahkan Leo pada pemuda itu. Semua yang ada disitu histeris. Sang pemilik kontrakan menjerit, segera bangkit dan berlari menjauh. Melupakan lembar demi lembar uang yang semrawut dilantai teras kontrakan milik nya, yang disewa oleh Leo dan Mikha.
Sementara, sang pemuda pengangguran, tidak terima di hajar oleh Leo, ia balik menghajar. Dan perkelahian sengit pun terjadi. Perkelahian itu terhenti, ketika seorang warga berteriak ada polisi.
Kerumunan, bubar. Ternyata, bunyi sirine yang dimaksud warga tadi bukanlah mobil patroli polisi. Melainkan mobil ambulans yang melaju entah membawa pasien kritis, atau sedang menjemput pasien kritis.
Yang jelas, ketika semua telah hening, Leo memungut uang yang berserak dilantai yang tersisa. Wajahnya kesal bercampur letih. Uang itu sudah hilang 70 persen dari jumlah awal.
Lemaslah seluruh tubuh Leo sekarang. Harapannya untuk menabung untuk ponsel idamannya sirna sudah.
Hanya tersisa 30 persen, mana bisa disisihkan untuk menabung. Membeli beras pun hanya bisa satu kilo. Baru beras nya saja. Lauknya...? Entahlah, Leo jadi tidak berdaya dibuat nya.
Malam menjelang, sekitar jam 8 malam, Mikha baru pulang kerumah. Ia heran melihat adiknya duduk termenung didepan teras, dengan wajah dan penampilan yang luar biasa kusut masai.
"Astaga, kebiasaan deh. Santai belum mandi..! Jorok tahu..!"
Mikha melancarkan aksi protes. Leo mengangkat wajahnya. Menatap kosong kearah sang kakak.
"Aku ini payah kak. Melindungi uang yang setengah mati aku dapat aja, aku nggak bisa, eh sok sok kan mau jadi pelindung kakak segala. Aku ini pecundang...!!"
Leo bicara seperti itu, sembari mengepalkan kedua tangannya. Mikha menatap wajah sang adik, lalu menghela nafas.
"Kamu nggak payah, cuma sudah berusaha tapi kalah, dan itu bukan pecundang, aku nggak tau apa yang tadi kamu alami, tapi melihat betapa semrawut nya penampilan dan wajah kamu sekarang, aku bisa menarik kesimpulan, kamu baru aja mendapat masalah yang bikin kamu merasa lelah. Istirahat lah dulu, baru kamu bangkit lagi..!"
Mikha bicara seperti itu sambil menepuk pundak adiknya. Leo menekap kepalanya dengan kedua tangan nya.
"Kenapa coba kita miskin terus. Sampai kapan kita sudah terus kayak gini kak...!!"
Pemuda ABG itu berteriak tertahan dihadapan kakaknya. Mikha Tercekat untuk sesaat. Leo terlihat benar benar terguncang sekarang. Jika ia salah bicara, maka yang ada emosi pemuda itu akan semakin tersulut.
"Ujian ini akan berakhir, ketika Tuhan tahu, kita layak untuk mendapatkan pengakuan dari Tuhan, bahwa kita ikhlas menerima ini semua..."
Hanya itu yang bisa Mikha ucapkan dihadapan sang adik. Sepasang matanya juga mulai menghangat. Dan ia segera bangkit berdiri, lalu segera masuk kedalam rumah, sebelum air mata itu diketahui oleh adiknya ..
Note: Tuhan tidak akan pernah memberikan ujian, diluar batas kemampuan hambanya. Jadi percaya lah, sepahit apapun itu ujian, kita pasti bisa melewati nya..
👉 Jangan lupa like vote klik favo rate 5 jika suka ya 💖
**TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA, JANGAN LUPA BACA NOVEL SAYA YANG LAIN, YANG BERJUDUL " SANG PELAKOR" DILAPAK INI JUGA❤️
__ADS_1
BERSAMBUNG**