CINTA SANG PEMUJA

CINTA SANG PEMUJA
BAB 9. APA AKU TAK BERBAKAT..?


__ADS_3

Mikha berjalan gontai meninggalkan rumah Rida. Rasanya perasaan nya sekarang hancur sekali. Berbagai pertanyaan menyeruak dibenak gadis itu, dan pertanyaan paling sering berulang di kepalanya adalah, apakah aku tidak berbakat untuk menjadi seorang penulis...?


Mungkin orang orang itu benar. Aku emang terlalu tinggi bermimpi. Sampai nggak sadar, kalau mimpiku itu mustahil untuk dicapai, tapi apa benar, aku tidak boleh bermimpi...? Bukankah karena mimpi itulah, aku sekarang masih kuat dan tetap hidup...?


Mikha duduk termenung, di bangku yang ada ditepi jalan. Rasanya ia tidak punya daya untuk berjalan pulang. Saat fikirannya sedang dilanda kekalutan akibat perbuatan Rida dan juga Kalisha, tiba tiba saja, suara petikan gitar terdengar. Disusul suara pria yang menyanyikan lagu milik Naff berjudul "kenanglah". Awalnya, Mikha tidak perduli dengan suara gitar dan suara pria itu.


Namun ketika pria itu menghampiri nya, dan bernyanyi didepannya, hatinya yang kalut perlahan lahan mulai terasa sejuk. Hingga tidak terasa satu lagu telah berlalu, dan pria itu mengulurkan tangannya kearah Mikha.


"Maksudnya...?"


Mikha bertanya dengan tampang bodoh.


"Anda begitu menikmati lagu yang saya bawakan, boleh dong minta imbalan seikhlasnya...!"


Oh, pengamen. Tapi penampilan nya rapi dan trendy gini, masa iya pengamen...?


Hati Mikha berkata. Gadis itu merogoh tas kecil yang dibawanya, mencari cari uang recehan, hingga kemudian, selembar uang 5 ribuan disodorkan Mikha pada pria berambut gondrong tersebut.


"Terima kasih..!"


"Sama sama.."


Mikha menyahut, sembari bangkit, dan bersiap untuk beranjak. Bisa habis uangnya jika 10 pengamen datang, saat ia duduk disitu.


"Tunggu. Apa boleh saya bertanya sesuatu...?"


"Soal apa...?"


Mikha menghentikan langkahnya, lalu menatap wajah pria berambut gondrong itu dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Sebelum nya, perkenalkan nama saya Kei.."


Pria itu mengulurkan tangannya kearah Mikha. Ragu Mikha menyambut nya.


"Mikha.."


Pria bernama Kei, itu tersenyum setelah mendengar nama gadis didepannya.


"Sekarang kita udah jadi teman, boleh bersikap santai..?"


Mikha hanya mengangguk mengiyakan.


"Terima kasih. Aku cuma mau nanya, tadikan kamu dengerin aku dari awal sampai akhir, menurut kamu, aku punya bakat tidak sih...?"


"Bakat...? Nyanyi atau main gitar...?"


Mikha sedikit tidak percaya dia diberi pertanyaan semacam itu.

__ADS_1


"Dua duanya..!"


Mikha terdiam sesaat, lalu...


"Lumayan. Kurasa kamu punya bakat..!"


"Bakat apa...?"


"Kedua duanya...!"


"Benarkah...?"


"Emangnya kenapa...?"


Mikha heran karena terlihat sekali pria didepan nya itu, seperti benar benar tidak percaya dengan apa yang ia ucapkan tadi.


"Karena nggak ada satu orang pun yang mengatakan hal yang tadi kamu katakan..!"


Katanya dengan nada datar.


"Masa...? Tapi, aku tadi ngomong jujur lho..!"


"Iya, aku tau kok. Aku bisa membedakan, mana pendapat jujur mana yang tidak..!"


"Ya udah, buat apa diambil pusing, kalau ada orang yang mengatakan kamu nggak berbakat padahal menurut kamu, kamu cukup berbakat artinya, mereka nggak mendukung apa yang kamu lakukan...!"


Ah, munafik sekali aku. Bisa mengucapkan kalimat tersebut dihadapan pria ini sementara, aku sendiri tidak percaya diri, apakah aku berbakat atau tidak.


Mikha hanya balas melambaikan tangan, ketika pria itu pamit dan melambaikan tangan kearah nya. Sepeninggal pria tersebut, Mikha ikut beranjak dari tempat itu, untuk segera pulang kerumahnya, meskipun perasaan nya masih sedikit kalut.


***


Saat Mikha sampai dirumah, ia melihat adiknya Leo sudah ada dirumah sibuk didapur. Aroma nasi goreng tercium memenuhi ruangan. Dari penampilan nya, adiknya itu sepertinya sudah mandi. Sudah memakai baju bersih, bukan baju kotor seperti biasa saat ia pulang kerja.


"Kakak kemana aja sih. Berasnya mana..? Aku kelaparan nih. Untung ada sisa nasi, aku buat nasi goreng aja, kakak mau...?"


Mikha mengangguk, sambil duduk begitu saja dilantai. Wajahnya muram.


Leo melanjutkan aktivitas nya didapur, lalu beberapa menit kemudian, dua piring nasi goreng tersaji nikmat dihadapan Mikha. Tanpa telor ceplok. Namun, aroma nasi goreng itu cukup menggugah selera.


"Aku lupa berasnya masih ketinggalan diwarung depan, nanti aku ambil deh..!"


Leo menatap wajah kakak nya saat mendengar ucapan sang kakak.


"Kakak lupa..? Tumben. Kakak kan suka nulis cerita nonfiksi, ingatan kakak tajam, kenapa sampe lupa,"


Mikha menarik nafas panjang mendengar pertanyaan adiknya.

__ADS_1


"Menurut kamu aku ini berbakat nggak sih jadi penulis...?"


Leo menghentikan suapannya saat mendengar pertanyaan kakaknya.


"Astaga, kenapa mendadak pesimis begini sih. Ya jelas berbakat lah, emang ada orang nulis dibuku bertumpuk tumpuk begitu, kalau bukan nggak berbakat..?"


Mikha terdiam. Sebenarnya ia tahu kalimat itu yang akan ia dengar jika ia menanyakan hal itu. Namun, entah kenapa ia perlu beribu ribu orang untuk mengatakan hal tersebut, agar ia merasa yakin.


"Kakak kenapa sih..?"


Leo mencoba menyelediki apa yang sebenarnya bergolak didalam fikiran kakaknya. Lagi, Mikha menghela nafas.


"Ada orang yang mencuri karya kakak, lalu mengklaim tulisan kakak itu, tulisan dia..!"


Akhirnya, Mikha bercerita juga dihadapan adiknya. Sepasang mata Leo melotot mendengar kata kata kakaknya.


"Gila. Harus di beri pelajaran itu kak..!"


"Contoh nya..?"


"Ya, laporin kepolisi atas tindakan pencurian..!"


"Tapi, aku juga bodoh, aku yang terlalu percaya pada mereka, hingga akhirnya aku nggak bisa melindungi karyaku sendiri,"


Keluh Mikha sarat luka.


"Maksudnya...?"


"Aku yang minjamin mereka buku koleksi cerpen kakak yang, kakak tulis dibuku buku tulis,"


"Buat...?"


"Agar mereka bisa memberikan penilaian apakah aku ini berbakat atau tidak..!"


Leo berdecak kesal mendengar penuturan kakaknya.


"Astaga kak. Ini nih, yang aku nggak suka dari kakak, kakak itu berbakat, tapi selalu aja nggak percaya diri, sampai minta penilaian orang lain, kenapa juga harus punya penilaian orang lain...? Mereka bukan penerbit, yang bisa mengkritik kakak dengan hati lapang...!"


"Aku melakukan itu, agar aku tahu kualitas tulisanku aja, nggak lebih...!"


"Tetap aja itu nggak seharusnya kakak lakukan, buat apa memperdulikan pendapat orang lain, emang nggak cukup pendapat ku aja...? Ya emang, aku bukan penulis, tapi aku tahu tulisan berkualitas atau yang kurang memenuhi standar. Tulisan kakak itu menarik, artinya kakak itu berbakat..!"


Tapi ditangan Kalisha, tanpa dicampuri ide Kalisha, karya aku dimuat Leo. Padahal tanpa sepengetahuan mu, aku selalu mengirim tulisan tulisanku, dan tidak ada satu karya pun yang berhasil masuk seleksi, tapi Kalisha bisa membuat salah satu karyaku mejeng dihalaman satu majalah. Ini yang sedang aku fikirkan Leo ..


Note: Berkarya lah. Jika karyamu mendapatkan apresiasi dan dukungan dari segelintir orang yang dekat dengan mu, artinya anda sudah mempunyai bakat, tidak perlu mendengar kan selentingan pendapat orang lain, yang kebanyakan hanya mempersulit, kemajuan kita.


👉 jangan lupa like vote klik favo rate 5 jika suka ya 💖

__ADS_1


👉Baca juga novel nonfiksi karya saya berjudul CINTA SANG PENULIS ya sahabat..


bersambung


__ADS_2