
Kei, mulai memetik gitar setelah duduk diatas kursi yang ada ditengah taman. Mulai memainkan musik dan melantunkan lagu milik ELEMENT berjudul RAHASIA HATI, taman yang awalnya tidak dipenuhi oleh orang, berangsur angsur dipenuhi oleh orang, mereka menyimak permainan gitar dan suara dari Kei. Hanyut dalam suara dan nada yang dihasilkan dari pria tersebut. Hingga...
"Prokk....!! Prokk...!! Prokk..!!"
Suara tepuk tangan bergemuruh ketika Kei usai membawakan lagu tersebut. Beberapa wartawan harian kota mengabadikan gambar milik Kei, dalam sekejap, Kei dikerubungi oleh wanita. Ada yang meminta foto bersama, ada pula yang memberikan sejumlah uang. Hari ini, Kei dapat uang dari hasil menyanyi tanpa berkeliling seperti biasanya. Hanya duduk di kursi taman, para penonton sudah bersedia memberikannya sejumlah uang.
"Hay, gue tadi ngeliat permainan gitar lu, gue juga kebetulan suka main musik, gimana kalo kita bentuk band aja...? Lu vocalis gue bassit, kita cari beberapa personil lagi buat bikin band kita sempurna...!"
Seorang pria seumuran Kei, menyapa Kei, ketika wanita wanita yang mengerumuni Kei sudah berlalu. Saat itu, Kei baru saja ingin beranjak dari tempat duduknya, dan niat itu tertahan ketika Kei mendengar suara tersebut.
"Kenalkan, nama gue Boy, gue tadi udah melihat permainan lu tadi ..!"
Pria itu mengulurkan tangannya kearah Kei. Kei segera menyambut telapak tangan itu, dan menyebutkan namanya pula.
"Kita bicara dicafe itu..!"
Tawar pria itu kemudian. Kei setuju. Keduanya langsung melangkah menuju cafe yang tidak jauh dari taman dimana Kei tadi tampil.
"Gue sebenarnya emang tertarik mau buat band, lagi hunting personel juga, kalau lu serius gue terima tawaran lu, dan beberapa personel udah gue dapatkan sih tinggal ngebentuk aja lagi...!"
Boy, semringah mendengar ucapan yang keluar dari mulut Kei. Dua cangkir es cappucino tersaji dihadapan mereka, dan Boy mengucapkan terima kasih pada pelayan yang membawakan minuman pesanan mereka.
"Alhamdulillah, kalau gitu, kita tukar nomor kontak aja yang aktiv ini kartu nama gue, soal studio gue punya temen yang bisa nyewa kan studio buat latihan, lu konfirmasi personel yang mau bergabung, ntar kalo udah deal semua kita ketemu lagi buat ngomong ini, gimana...?"
Kei setuju, ia bisa menilai, pria bernama Boy ini sepertinya memang serius saat mengucapkan kalimat tersebut. Apakah, ini jalannya untuk bisa memulai memperjuangkan mimpinya...? Mungkin saja. Yang jelas, Kei merasa sangat gembira.
***
"Apa apaan ini Tedi...!!"
Tedi, yang sedang sibuk mengerjakan tugas kantor yang ia bawa pulang terkejut, ketika tiba tiba saja, ayahnya datang lalu membanting koran harian kota kehadapan nya. Diambilnya koran tersebut, dan dibaca nya. Sekarang ia sadar, kenapa sang ayah murka. Ada wajah Kei disana sedang duduk diatas kursi memetik gitar. Judul koran itu adalah "Seorang pengamen ganteng menggegerkan taman kota"
"Adikmu itu. Semakin lama semakin buat malu keluarga saja, apa apaan dia itu, mengamen ditaman seperti gelandangan buat cari uang...!!"
"Sepertinya, aku tahu taman ini dimana Pi..!"
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan...?"
"Aku tahu Pi...!!"
"Buat dia merangkak pulang, jangan biarkan dia mendapatkan kehidupan diluar...!!"
"Aku mengerti Pi...!"
__ADS_1
"Kau tahu, perusahaan ini harus dipegang oleh kalian berdua, aku tidak mau ada anakku yang menjadi musisi segala...!!"
Tedi terdiam. Bisa ia rasakan, saat ini sang ayah benar benar merasa murka dengan kabar baru yang tertulis dikoran harian itu. Sebenarnya ia lelah. Lelah harus menghandle perusahaan sekaligus mengurus adiknya juga. Tapi, apa mau dikata, itu harus ia lakukan karena sang adik Kei, memang sangat sulit untuk diajak kompromi.
***
"Kak, sini deh...!!"
Leo, menarik lengan kakaknya ketika sang kakak keluar dari kamar mandi. Saat itu, Mikha baru saja pulang dari bekerja, dan Leo sang adik juga sama halnya baru pulang dari bekerja. Ditangan Leo ada koran yang langsung diserahkan oleh sang adik kearah Mikha, Mikha menerima koran tersebut, lalu membaca isinya.
"Ada Kei...!"
"Gila, dia ini udah punya aura artis lho kak. Aku sering liat permainan dia dicafe, yang ngefans dia banyak, rata rata cewek, belum jadi artis aja dia udah banyak fans, gimana kalo udah jadi artis...!"
"Dia ngamen aja banyak yang minta foto kan...!"
Sahut Mikha sambil meletakkan koran itu diatas meja.
"Gue rasa, sebentar lagi dia bakal ngebentuk grup band rock alternatif kesukaan dia deh, kalo Jody gue suruh jadi salah satu personel nya dia, mau kagak ya...?"
"Jody teman kamu yang suka sabung ayam itu...?"
Leo mengangguk.
"Emangnya, dia bisa main musik...?"
"Ya udah, coba kamu rekomendasi aja sama Kei, sekalian kamu deh ikut nge-band daripada nge-game aja...!"
Leo mencibir.
"Gue beda hobi kak, guekan pengen jadi gamers, bukan pemain musik...!"
"Tapi kamu nge-game, berisik tau, aku sampe kaget kalo kamu lagi perang gitu mulut kamu ikut ikutan, emang nge-game harus gitu ya..!"
"Maaf deh, hahaha, abis lagi seru, tapi kak, kakak yakin kagak kalo Jody itu bisa konsisten...!"
Mikha mengedikan kedua bahunya.
"Daripada dia sabung ayam terus, mending main band sana...!"
Leo manggut manggut. Benar juga. Jody pernah bercerita kalau dia punya cita cita ingin jadi penyanyi atau personel sebuah grup band, sepertinya jika ia membawa temannya itu kepada Kei, Kei bakal memikirkan posisi temannya itu, karena ia pernah melihat permainan musik Jody itu lumayan bagus.
Menjadi tukang cuci motor, disituasi sulit seperti sekarang membuat perekonomian tidak semakin baik.
__ADS_1
"Kak, kalo ntar kakak ditembak Kei gimana...?"
Mikha yang sedang meminum teh hangat yang ia buat sebelum mandi tersedak mendengar pertanyaan adiknya.
Matanya melotot kearah Leo.
"Masih suka juga ngejodohin aku sama dia..!"
"Kalian cocok soalnya...!"
"Nggak ah...!"
"Kok, nggak..? Tau kagak, kemarin Kalisha datang kecafe cariin Kei sampe ngamuk ngamuk keaku, kayaknya, dia cinta mati sama Kei...!"
"Ya udah, kasih tau aja sama Kei, kalo Kalisha suka sama dia...!"
"Ogah, buat apa...? Mending aku comblangin aja Kei sama kakak. Banding cewek plagiat itu...!"
"Jangan bikin malu deh Leo. Ntar Kei ngira, aku ngejar ngejar dia...!"
"Kei suka kali dikejar kakak..!"
"Aku yang nggak suka...!!"
"Kenapa...?"
Mikha tidak menjawab. Gadis itu beranjak meninggalkan sang adik untuk kembali masuk kedalam kamar.
Menyukai Kei...? Mikha malas jika memikirkan hal yang satu itu. Kebanyakan pria yang mendekatinya selalu mempermasalahkan hobi menulisnya, meskipun Kei memang sepertinya sangat mendukungnya, tetap saja, Mikha tidak pernah berfikir hubungan mereka menjadi berubah lebih dari seorang sahabat...
Note: Ada banyak hal yang membuat kita ragu dalam memulai sesuatu. Yakinkan pada hati, bahwa apa yang kita mulai adalah jalan kita untuk berusaha. Karena jika tidak pernah berani memulai, bagaimana kita tahu kita bisa...?
π Baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul SANG PELAKOR dilapak ini juga ya π
π Jangan lupa like, vote, rate 5 klik favorit jika suka novel iniπ
π Dan buat yang mau baca novel nonfiksi karya saya diplatform kuning NOV*LME disana ada 3 karya saya berjudul:
- FACE : roman fiksi
- DOKTER ITU KAKAKKU : non-fiksi
- MAHKOTA DEWA : Fiksi fantasi
__ADS_1
beri dukungan kalian untuk karya saya tersebut yaπ
bersambung