
"Masa kamu tidak kenal? Dia itu salah satu cucunya Alvonso Taylor namanya Marcellino Alionso Taylor dan nama panggilannya Tuan Marcell.'' Ucap temannya menjelaskan.
"Oh," Jawab Dewi Arumi.
"Siapa yang membuat laporan keuangan?" Tanya salah satu teman Dewi Arumi.
"Alena saja,'' Jawab mereka bersamaan.
"Aku yang buat?" tanya Dewi Arumi yang di kiranya Alena.
'Aku saja tidak tahu cara buatnya, masa pakai sihir?" Tanya Dewi Arumi dalam hati.
"Di antara kita kamu yang paling teliti membuat laporan keuangan." Jawab salah satu temannya.
"Betul sekali." jawab mereka bersamaan.
Dewi Arumi menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap ke arah teman - temannya satu persatu.
"Baiklah, sekarang aku minta datanya." Pinta Dewi Arumi dengan wajah pasrah.
Salah satu temannya mengambil data milik manager keuangan yang sudah di pecat kemudian diberikan ke Dewi Arumi.
"Ini datanya." Ucap temannya.
"Terima kasih." Jawab Dewi Arumi sambil menerima dokumen tersebut kemudian melihat dokumen tersebut.
'Astoge semua angka yang tidak aku mengerti , haruskah aku menggunakan sihir ku lagi? Apalagi aku tidak tahu dokumen ini benar atau salah.' ucap Dewi Arumi dalam hati.
'Sudahlah gunakan sihir saja, bisa kurus badanku dan di tambah kepalaku semakin pusing melihat angka - angka ini.' Sambung Dewi Arumi.
Dewi Arumi menjentikkan jarinya sambil berpura-pura berpikir dan ajaib angka-angka tersebut berubah dan tidak ada yang salah.
"Siapa yang memberikan laporan keuangan?" tanya Dewi Arumi.
__ADS_1
"Kamulah, sudah kamu cek?" tanya temannya.
"Sudah, benar semua." Jawab Dewi Arumi.
'Sebenarnya banyak yang salah tapi karena pakai sihir ku jadi benar semua.' sambung Dewi Arumi dalam hati.
"Tumben, biasanya Ibu Manager kalau bikin laporan selalu salah dan di suruh balik lagi untuk di revisi." Ucap salah satu temannya.
"Betul dan ujung - ujungnya kamu di suruh ngerjain." Sambung temannya.
"Betul." Jawab mereka bersamaan.
"Mungkin sudah tambah pintar." Ucap Dewi asal.
"Mungkin," jawab mereka bersamaan.
"Aku sangat senang jika Ibu manager sudah di pecat dari perusahaan." Ucap temannya.
"Sama, aku juga sangat senang." ucap yang lainnya.
"Ok." Jawab mereka bersamaan.
"Hati-hati Alena, Tuan Marcell sangat galak.'' celetuk salah satu temannya.
"Sttttt.. Kalau ketahuan nanti kamu di pecat." Ucap temannya.
Dewi Arumi hanya tersenyum kemudian berjalan menuju ke arah lift namun ketika sampai di depan lift dirinya kembali lagi ke ruangannya membuat teman-temannya menatap ke arah dirinya.
"Ada apa Alena?" tanya teman - temannya bersamaan dengan wajah bingung 😕.
"Hehehehe ... Tuan Marcell di lantai berapa dan nama ruangannya apa ya?" tanya Dewi Arumi sambil tertawa terkekeh-kekeh sambil mengingat apa yang barusan terjadi.
xxxxxxxx Flash Back On xxxxxxx
__ADS_1
Ketika Dewi Arumi sampai di depan pintu lift Dewi Arumi bingung bagaimana cara menggunakan lift membuat Dewi Arumi memutar tangannya agar mengetahui bagaimana cara menggunakan lift setelah tahu Dewi Arumi masuk ke dalam kotak persegi empat tersebut.
"Tekan tombol nomor nanti lift ini akan menuju ke lantai di mana nanti langsung ke ruangan Tuan Marcell." Ucap Dewi Arumi.
"Tapi lantai berapa ya?" Tanya Dewi Arumi.
Dewi Arumi memutar jarinya namun ilmu sihirnya tidak bisa digunakan membuat Dewi Arumi bingung dan mencoba lagi dan lagi.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Dewi Arumi.
"Dewi Arumi, kamu sudah banyak menggunakan ilmu sihirmu jadi kamu tidak bisa menggunakan sihirmu lagi." Ucap Tuan Boneka.
"Tuan, satu lagi deh ilmu sihirnya pintu lift ini sudah tertutup rapat dan aku tidak tahu menekan tombol lantai berapa untuk mengetahui di mana Tuan Marcell berada." Ucap Dewi Arumi berusaha bernegosiasi.
"Tidak bisa kembali ke ruangan Alena dan tanya nomer berapa." Ucap Tuan Boneka.
"Baiklah." Jawab Dewi Arumi sambil menekan tombol keluar dengan wajah cemberut.
xxxxxxxx Flash Back Off xxxxxxxx
Mereka serempak menepuk keningnya satu-satu membuat Dewi Arumi mengangkat jari telunjuk dan jari tengah sambil tersenyum manis.
"Tuan Marcell di lantai dua puluh lima dan Tuan Marcell tinggal di ruangan itu bersama sekretaris nya." Jawab salah satu temannya Alena.
"Ok, terima kasih." Jawab Dewi Arumi sambil membalikkan badannya dan berjalan ke arah lift.
Teman-temannya hanya menggelengkan kepalanya kemudian kembali berkerja sedangkan Dewi Arumi masih berjalan ke arah pintu lift.
Sampai di depan pintu lift, Dewi Arumi menekan tombol dan tidak berapa lama pintu lift terbuka dan Dewi Arumi pun masuk ke dalam kotak persegi empat tersebut.
"Tunggu." Ucap seorang pria sambil melangkahkan kakinya dengan cepat.
Dewi Arumi menekan tombol lift agar pintu lift terbuka kemudian pria tersebut masuk ke dalam lift tersebut.
__ADS_1
'Gadis ini kerja di sini dan aku akan pikirkan bagaimana caranya agar gadis ini mau berkerja di perusahaan milikku. Setelah berkerja denganku maka akan aku jadikan kaki tanganku untuk menguasai dunia." ucap pria tersebut dalam hati.