
...Happy Reading😍...
...----------------...
Remaja laki-laki berseragam abu-abu putih berkulit putih dengan tinggi 182 cm itu menggendong tas sembari memanaskan motornya. Dia adalah Fiki Dwi Ananta atau orang biasa memanggilnya Fiki.
"Widihh udah keren aja nih adik gue," puji Shandy sambil berkacak pinggang.
"Bisa aja Lo bang,'" balas Fiki.
"Iya lah keren, kan mau masuk sekolah baru. Ya harus tampil keren lah biar cewek-cewek di sekolah Lo pada terpesona. Ya nggak?" ledek Shandy sambil menyenggol lengan Fiki.
"Ihh apaan sih bang!! Biasa aja kali!" Geram Fiki.
Fiki memang baru pindah sekolah, tepatnya di SMA PELITA BANGSA. Salah satu SMA di Jakarta. Tidak hanya pindah sekolah Fiki dan keluarganya juga harus pindah rumah. Sebelumnya mereka tinggal di Palembang. Namun, karena ayahnya yang seorang TNI ada dinas di sini maka Fiki dan keluarga harus ikut pindah. Kecuali bang Shan (kakak Fiki) begitu panggilannya, dia memang sudah lama di Jakarta karena urusan kuliah.
Hari ini adalah hari pertama Fiki masuk di SMA PELITA BANGSA. Gugup? Dikit, kan Fiki juga manusia.
"Lo nggak mau dianterin Fik?" tanya Shandy.
"Emang gue anak kecil apa?! Kan gue ada motor sendiri bang."
"Ya siapa tau ntar Lo nyasar lagi."
"Nggak akan!, kan kemarin waktu pendaftaran gue udah kesono bang," balas Fiki sewot.
"O iya deng," balas Shandy sambil cengengesan. Fiki hanya memutarkan bola matanya.
Shandy memang tipe orang yang jahil plus tengil. Tak jarang Fiki jadi korban keisengannya.
"Fik, nggak berangkat?" tanya Pak Ananta, ayah Fiki yang baru keluar dari dalam rumah.
"Iya Pa ini baru mau berangkat," ucap Fiki sambil tersenyum.
"Lho berangkat sendiri? Nggak dianterin Abang mu?"
Baru saja Fiki membuka mulutnya dan belum sempat mengeluarkan sepatah kata, Shandy tiba-tiba nyaut kayak listrik.
"Tau tuh! Katanya udah gede Pa. Jadi nggak mau dianterin," ucap Shandy dengan wajah tengilnya.
Pak Ananta hanya tersenyum sambil menatap Fiki seolah-olah sedang mempertanyakan kebenaran ucapan putra sulungnya itu.
Fiki yang gugup langsung menjawab, "Enggak gitu maksudnya Pa. Kan Fiki punya motor sendiri jadi nggak usah dianterin, ntar malah ngrepotin."
"Alah ngeles aja lu," goda Shandy pada adiknya itu. Fiki hanya menatap tajam abangnya sambil menggeget gigi-giginya.
"Sudah-sudah, lagian kamu kan emang udah gede Fik. Udah kelas 11 SMA," ucap Pak Ananta yang disambut anggukan kepala oleh Shandy.
"Eh Papa, udah gede dari mana? Orang anak kita masih kecil gini kok," seloroh Bu Ani (mama Fiki) yang tiba-tiba ikut nimbrung.
"Fiki jangan lupa nanti istirahat makan ya! Biar nggak sakit," sambungnya.
Fiki tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan berkata, " Iya Mama sayang."
"Mau anak kita udah bapak-bapak nanti, pasti Mama bakal tetep bilang kalau masih kecil," ucap Pak Ananta pasrah.
"Ih papa kok tau sih?!," girang Bu Ananta sambil mencubit gemas perut suaminya itu. " Ya namanya juga anak Pa, mau dia udah besar kek udah tua kek tetep aja buat Mama mereka tuh masih anak-anak."
"Iya deh iya," pasrah Pak Ananta sambil mengelus-elus bekas cubitan istrinya itu.
__ADS_1
Fiki dan Shandy saling melirik dan menahan ketawa melihat keharmonisan orang tuanya itu.
"Ya udah kalau gitu, Fiki berangkat dulu ya Ma, Pa, Bang. Assalamualaikum!" pamit Fiki sambil mencium tangan Mama, Papa, Dan Abangnya.
"Waallaikumussalam, hati-hati," jawab mereka kompak.
Sembari menyalakan starter motornya, tak lupa Fiki melambaikan tangan lalu melaju membelah jalanan ibu kota.
***
Tinggal beberapa meter lagi Fiki akan sampai ke sekolah barunya. Perjalanan kali ini terasa sangat menyenangkan. Gedung gedung pencakar langit dan birunya langit menemani perjalanannya kali ini. Tapi ada satu hal yang membuatnya sedikit kesal yaitu kemacetan ibu kota. Tapi ya sudah lah ya jalanin aja namanya juga hidup. Eh kok nggak nyambung? Gpp biar nggak boring. Tapi garing thorr!!! Ya udah lah skip aja. Tapi udah terlanjur kebaca!! Syukurin aja kalau gitu.
Eits kembali ke perjalan si Fiki.
DUARR!!!
Seketika motor yang dikendarai Fiki oleng dan hampir jatuh, untung saja dia segera menahan dengan kakinya.
"Eh eh eh kenapa nih? Woylah meletus lagi nih bannya. Astaghfirullah..... Sabar.... Sabar.....," ucap Fiki sambil menghirup napas dalam dalam.
Fiki pun segera turun dari motornya dan memeriksa penyebab bannya meletus. Ternyata ada paku yang tertancap di ban depan motornya.
"Hadughhh!!!! Siapa lagi ni yang naruh paku di tengah jalan?!!!" umpat Fiki sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Mana udah jam segini lagi! Gimana nih? Ada bengkel nggak sih deket sini???!" tanyanya pada diri sendiri. Untungnya jalanan kala itu tidak terlalu ramai jadi tidak akan ada orang yang menyangkanya gila karena bicara sendiri.
Tak lama kemudian ada satu sepeda motor yang melintas didekatnya.
Mungkin karena melihat ada orang yang sedang ada masalah dan sepertinya butuh bantuan, pengendara motor itu berhenti dan bertanya, "Kenapa bro?"
"Eh ini ban gue meletus kena paku." jawab Fiki dengan wajah gusar.
"Iya nih, mana udah jam segini."
"Anak sekolah mana?"
"SMA PELITA BANGSA."
"Lho gue juga ana Pelita Bangsa, tapi kok nggak pernah liat Lo ya?"
"Iya kebetulan gue anak baru. Ini hari pertama gue masuk."
"Kalau gitu bareng gue aja," tawar si pengendara motor tadi.
Fiki hanya terdiam seperti ada yang mengganjal di hatinya.
"Tenang, gratisss," ucap pengendara itu lagi.
"Eh nggak gitu maksud gue. Maksud gue, kalau gue bareng Lo ntar motor gue gimana?"
"Oh tenang, bentar!" pengendara motor itu merogoh saku celananya dan mengambil hp lalu mendeal salah satu kontak.
"Assalamualaikum, Bang. Bang Lo bisa tolongin gue?" ucapnya pada seseorang di seberang sana.
"..."
"Motor temen gue bannya bocor, ntar tolong Lo beresin ya!"
"..."
__ADS_1
"Nanti gue share lock."
"..."
"Oke. Makasih bang!"
"..."
Setelah mengakhiri panggilan teleponnya, pengendara motor itu mengetikkan sesuatu pada layar persegi itu, lalu kembali memasukkannya ke dalam saku celana.
"Siapa?" tanya Fiki.
"Abang gue. Kebetulan dia punya bengkel kecil-kecilan deket sini. Jadi gue minta tolong dia buat beresin motor Lo."
"Aduh sorry banget ngrepotin," ucap Fiki sungkan.
"Alah santai aja."
"Makasih bro!"
"Sama sama."
Tak berselang lama dua orang berpakaian seragam bengkel menghampiri mereka.
"Bang Rick, ini motornya!" tunjuk pengendara motor itu pada motor Fiki.
"Oke gampang. Udah kalian berdua berangkat duluan nanti keburu telat lagi. Motor ini biar gue yang ngurus." ucap Ricky.
"Makasih ya bang!" ucap Fiki.
"Sama sama. Motor Lo gue bawa ke bengkel ya. Ntar Lo ambil ke sana. Siapa nama Lo?"
"Fiki. Kalau Abang?"
"Gue, Ricky. Panggil aja bang Rick."
"Oke. Siap bang."
Kemudian Fiki naik motor adik Ricky itu.
"Ya udah kalau gitu kita jalan dulu ya bang, Makasih!!" ucap pengendara motor itu, lalu melajukan motornya menuju SMA PELITA BANGSA.
......................
...Cast Pemain...
~As Shandy~
~As Ricky~
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Holap para readers!!! Makasih buat yang udah mampir dan baca. Jangan lupa tinggalkan jejak ya🤗. Biar Author semangat nulisnya....
...Ou iya tolong baca blurb novel ini, karena ada info menarik di akhir kalimat😁...
__ADS_1