
...Happy Reading🥰...
...----------------...
2FG (Fiki, Fajri, Gilang) belum keluar kelas dan masih merapikan buku-buku mereka. Setelah bel pulang sekolah mereka tidak langsung pulang ke rumah, karena ada jadwal ekstra yang harus mereka lakukan. Fiki dan Fajri ada ekskul vocal, sedangkan Gilang ada ekskul karate.
"Gue duluan ya! Ada latihan soalnya," pamit Gilang sambil mengajak tos kedua temannya itu.
"Oke oke, semangat bro!!" Fiki mengepalkan tangannya dan menunjukkan deretan giginya. "Btw Lo bakal tampil di acara dies natalis nanti?" tanya Fiki.
"Yoii, pertunjukkan kecil-kecilan," Gilang mengangkat alisnya.
Yap beberapa hari ini hampir semua ekskul akan disibukkan dengan latihan dan persiapan untuk menyambut dies natalis SMA PELITA BANGSA. Mereka akan menampilkan bakat-bakat mereka di acara pensinya nanti. Termasuk ekskul vocal dan karate yang diikuti oleh 2FG.
Setelah berpamitan, Gilang langsung pergi ke lapangan untuk berlatih karate bersama rekan-rekannya.
"Eh Jri! Lo duluan aja ke studio musiknya. Ntar gue nyusul," ujar Fiki tergesa-gesa.
"Emang Lo mau ke mana?"
"Gue ada urusan bentar," Fiki menepuk pundak Fajri dan langsung berjalan keluar.
"Lo tau tempatnya?" tanya Fajri sedikit teriak.
"Tahuuu," jawab Fiki yang hanya terdengar suaranya saja.
Fajri mengangkat bahunya melihat tingkah si Fiki.
"Oh iya, Gue harus buru-buru ke studio musik nih. Mumpung koridor belum terlalu rame," Fajri bermonolog.
Benar apa yang dikatakan Fajri. Jika koridor sekolah sudah mulai ramai dengan siswa-siswa yang berlalu lalang. Maka akan banyak hambatan dan rintangan untuknya menuju studio musik.
Bagaimana tidak? Pasti para fans-nya itu akan mengerubungi dirinya seperti semut yang menemukan gula.
***
Fiki berlari menuju parkiran. Matanya menelisik pesekitaran. Dia seperti sedang mencari seseorang. Siapa lagi kalau bukan si Cantik.
Napasnya tersengal-sengal. "Yahhh, kayaknya Cantik udah pulang, arghhh!" gusar Fiki sambil mengacak-acak rambutnya.
Modusnya bertanya soal matematika tadi belum terselesaikan. Bagaimana caranya melanjutkan modusnya itu?
Fiki yang badmood dan melihat botol kosong di depannya, reflex menendang botol itu sekuat tenaga untuk melampiaskan kekecewaannya.
Plakkk
Botol itu jatuh menimpuk kepala seseorang di seberang sana. Fiki membelalakkan matanya, dia benar-benar tidak sengaja.
"Waduhh kena kepala orang lagi. Fiki... Fiki... Apes banget sih Lo!!" umpatnya pada diri sendiri.
Orang yang terkena tendangan botol maut Fiki langsung menghampiri Fiki dengan gaya sangar. Sepertinya dia marah.
__ADS_1
"Woyy! Maksud Lo apaan nimpuk kepala gue?!" dengan sarkasnya dia mendorong Fiki.
"Eh sans dong!" Fiki tak terima. "Gue nggak sengaja kalii," Fiki mengalihkan pandangannya malas.
"Alahh alesan!! Mana ada maling ngaku?!" cowok berbadan tegap dengan memakai dogi itu tetap tidak terima dengan pengakuan Fiki.
"Siapa Maling?!!" Fiki tersulut emosi.
"Perumpamaan ogeb!" cowok itu semakin ngegas.
"Intinya gue NGGAK SENGAJA! Kalau Lo nggak percaya terserah!" tegas Fiki.
"Nih anak baru songong ya?" ledeknya sambil tersenyum smirk dan langsung bersiap meninju wajah gemoy Fiki. Untungnya sesorang berhasil menahan serangannya.
"Woy woy woy, apa apaan nih?" seloroh suara mencekal tangan cowok itu.
"Gilang??" lirih Fiki.
"Ngapain Lo ngalangin gue Lang?! Asal Lo tau nih anak udah nimpuk kepala gue pakai botol!" tunjuk cowok itu pada botol yang ia pegang dan langsung membuangnya.
"Heh! Gue kan udah bilang nggak sengaja!" Fiki membela diri.
"Alah nggak sengaja apaan?!" cowok itu tersenyum miring.
"Emang bener kok!"
"Stop!!! Bisa diem nggak?! Masalah kecil aja digede-gedein," lerai Gilang.
"Udah! sekarang kalian berdua maaf-maaf an gih!" titah Gilang.
Fiki dan Fenly saling beradu pandang, sepertinya mereka masih belum terima jika harus meminta maaf. Tetapi ego Fiki memudar, ucapan Gilang ada benarnya. Dia memang salah meski tidak sengaja.
"Gue minta maaf," legowo Fiki sambil mengulurkan tangannya.
Fenly menatap tajam Fiki, melihat apakah anak itu tulus meminta maaf padanya atau tidak. Karena terlalu lama berpikir, Gilang langsung menyenggol lengan Fenly untuk segera menjabat tangan Fiki.
"Iya, sama-sama. Gue juga minta maaf."
"Nah gitu dong! Kelar kan. Nggak perlu ribut-ribut," bangga Gilang.
"Iya-iya," kompak Fiki dan Fenly.
"Ciee yang baru baikan langsung sehati," ledek Gilang sambil tertawa terbahak-bahak.
"Apaan sih Lo Lang! Udah ah ayok ke lapangan!" ajak Fenly pada Gilang.
"Aishh bang Fenly salting nih, wkwkwk," ngakak Gilang.
Baru saja bersikap arif dan bijaksana, udah kocak lagi aja tuh anak. Dasar Gilang, receh banget.
"Fikk duluan!" Gilang mengangkat tangannya.
__ADS_1
"Yoiii," seru Fiki.
Setelah itu Fiki langsung kembali menuju studio musik, pasti Fajri dan kawan-kawan sudah menunggu.
"Lo kenal Lang sama tuh anak?" tanya Fenly.
"Yoi. Namanya Fiki. Teman baru di kelas gue." Lalu dibalas anggukan oleh Fenly.
***
Brook
Fajri menutup pintu ruang studio itu dengan keras membuat Zweitson terkejut.
"Kenapa Lo Jri?" tanya Zweitson heran.
"Biasalah," jawab Fajri singkat sambil melepas tasnya.
"Hadughh dasar sang kapten basket," Zweitson tersenyum miring.
Benar saja, tidak berapa lama segerombolan cewek-cewek yang sepertinya fans Fajri langsung berjajar di depan jendela demi melihat idolanya itu. Harap maklum, selain jago basket si Fajri juga dikenal punya suara yang merdu. Membuat siapapun yang mendengarnya terutama ciwi-ciwi langsung mleyot.
"FAJRI!!!" sorak para fans Fajri.
"MASYAALLAH, FAJRI-NYA AKU!!" tambah yang lain.
"Eits, bagi dua," ucap cewek lainnya.
"FAJRII! GO FAJRI GO FAJRI GO!!" riuh mereka.
"Harap tenang!! Ini bukan stadion! Ini studio!" Zweitson mencoba menenangkan kegaduhan itu. Sedangkan Fajri hanya menghembuskan napas lelah.
Hanya ada satu kata yang bisa menggambarkan usaha Zweitson untuk menenangkan keadaan, yaitu percuma. Yap sekencang apapun dia berteriak tidak akan digubris oleh fans garis keras kapten tim basket itu.
Namun tiba-tiba mereka semua terdiam melihat seorang di depan pintu yang kemudian mengetuk pintu itu.
Tok tok tok
"Siapa tuh?" tanya Zweitson.
"Biar gue bukain," Fajri berdiri bersiap membuka pintu yang tadi ia tutup sendiri.
"Hati-hati Jri!" was-was Zweitson yang hanya dibalas senyum terpaksa dari Fajri. Memangnya dibalik pintu itu zombie apa? Sampai dia harus berhati-hati.
Ceklek
...🥀🥀🥀...
...Makasih buat yang udah baca🥰...
...Jangan lupa buat like dan vote ya.....
__ADS_1
...Kritik dan saran ditunggu...