Coba Cintaku

Coba Cintaku
Chapter 35


__ADS_3

...Happy Reading ๐Ÿฅฐ...


...----------------...


***


"Fiki!" panggil Bu Ani dari arah dapur.


"Iya Ma?"


"Coba ke sini! Tolongin mama."


Fiki menuruni satu persatu anak tangga. Ketika sampai di lantai bawah ia merasa ada yang berbeda hari ini. Terlihat beberapa meja dan kursi telah tertata rapi di ruang tengah. Selain itu, beberapa toples makanan ringan juga siap tersaji di atas meja.


"Ada acara ya ma?" tanya Fiki memperhatikan sekitar.


"Iya nih. Ada acara arisan di rumah. Kamu tolongin mama ya," ucap Bu Ani sembari mengelap gelas-gelas kaca.


"Tolongin bayar arisan?" tanya Fiki polos.


"Ih kamu!" Bu Ani mencubit perut Fiki membuat si empunya meringis menahan nyeri.


"Ya enggak dong Fiki."


"Terus apa dong?"


"Tolongin Mama ambil pesenan catering di alamat ini," Bu Ani memberikan secarik kertas pada Fiki.


Dengan seksama Fiki membaca alamat itu. Nampak tak asing, sepertinya dia tahu di mana tempat itu.


"Oh, ini mah rumah temen Fiki Ma," jawab Fiki nyengir lebar.


"Oh ya? Mama nggak tahu lho beneran. Soalnya mama tahu itu dari temen mama. Katanya catering di tempat itu dijamin enak deh," terang Bu Ani panjang lebar.


"Emang teman kamu yang mana?" sambung Bu Ani.


"Itu lho ma yang pernah ke sini jengukin Fiki. Laras namanya."


"Oalah itu. Iya iya Mama inget," Bu Ani manggut-manggut.


"Yaudah ini diambil sekarang?" tanya Fiki sambil melipat kertas itu dan memasukannya ke dalam saku celana.


"Besok," singkat Bu Ani membuat Fiki melongo.


"Ya sekarang lah Fikii! Haduh, punya anak gini amat yaa," gemas Bu Ani.


Fiki tertawa karena melihat mamanya yang gemas akan kelakuan dirinya. "Yaudah Fiki jalan sekarang," pamit Fiki mengulurkan tangan.


"Nggak naik motor?"


"I-iya_ maksud Fiki jalannya naik motor," Fiki menggaruk tengkuknya.


"Emang bisa?" tanya Bu Ani lagi, sebenarnya dia hanya ingin menggoda anak bungsunya saja.


"Ihh Mama, maksudnya tuh__"


"Iya iya. Mama bercanda doang kali Fik. Yaudah sana berangkat. Hati-hati ya," Bu Ani menjabat tangan Fiki dan membiarkan anaknya itu mencium telapak tangannya.


"Assalamualaikum," ucap Fiki.


"Waallaikumussalam.


***


Setelah pulang sekolah tadi, Laras langsung membantu ibunya mempersiapkan pesanan yang lumayan banyak. Untungnya tidak ada kegiatan setelah pulang sekolah. Jadi, dia bisa langsung pulang ke rumah.


"Banyak banget Bu, buat acara apa?" tanya Laras yang sibuk menutup satu persatu kotak nasi dari kardus itu.


"Alhamdulillah, nak. Ibu nggak tahu sih, nggak nanya juga." Mendengar jawaban dari ibunya, Laras hanya mengangguk paham.


"Mungkin sebentar lagi diambil sama yang pesan," sambung ibu Laras.


Tak lama setelah itu terdengar suara ketukan pintu. "Assalamualaikum, permisi!"


Laras dan ibunya kompak menoleh ke arah pintu.


"Waallaikumussalam, iya sebentar!" sahut Laras sembari melangkahkan kaki untuk membukakan pintu.


Ketika daun pintu terbuka, seorag laki-laki berperawakan tinggi nan tampan berdiri di depan Laras.


"Fiki?" Laras terkejut tak menyangka jika yang datang itu adalah seorang Fiki.


"Hai," sapa Fiki dengan seulas senyum.


"Hai," Laras melambaikan tangannya. "Tumben ke sini. Ada apa?"


"Ehm itu, gue disuruh nyokap buat ngambil pesenan catering."


"Oh itu Mama Lo yang pesen?" Fiki mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Laras.


"Siapa Ras?" tanya ibu Laras dari dalam rumah.


"Itu Bu, orang yang mau ambil pesanan." jawab Laras dengan suara keras. Takutnya sang ibu tidak mendengar karena ada di dapur belakang.


"Oh suruh duduk dulu ya!"


"Dengerkan?" tanya Laras pada Fiki yang dibalas dengan anggukan.


"Yaudah yuk masuk," Laras menepi. Memberikan ruang agar Fiki bisa masuk ke dalam.


"Bentar ya, gue ambilin dulu," pungkas Laras.


***


Setelah menyelesaikan kelas di kampus, Shandy berniat untuk mampir ke bengkel Ricky sebelum pulang ke rumah. Dia ingin memastikan jadwal mereka membelikan gitar untuk Fiki.


Rencananya, Shandy akan memberikan gitar itu saat hari dimana adiknya telah lahir 18 tahun yang lalu. Hari yang sangat spesial bagi adiknya, dan dia pasti akan sangat bahagia jika mendapatkan benda favoritnya. Shandy pikir ini akan menjadi hadiah terindah bagi Fiki. Sempurna.


"Jadi kapan kalian bisa temenin gue?" tanya Shandy ketika sudah duduk santai bersama dua rekannya. Tak lupa ditemani tiga cangkir kopi di tengah mereka.


"Emang rencananya mau Lo kasih kapan Shan?" ujar Farhan.


"Rencananya sih waktu ultahnya si Piki," jawab Shandy santai.


"Oh iya ya bentar lagi dia ultah," Ricky mengangguk sambil mengelus dagu. "Ehm gimana kalau hari Minggu? Gue nunggu tutup bengkel soalnya."


"Iya, minggu aja Shan. Gimana?" ucap Farhan sependapat dengan Ricky.


"Oke deal!" seru Shandy.


Setelah selesai dengan urusannya dan berbincang, Shandy memutuskan untuk pamit pulang. Selain karena dia sudah lelah setelah aktivitas di kampus, dia juga sudah merasakan kantuk yang amat sangat. Ingin rasanya ia segera merebahkan diri di pulau kapuk miliknya dan terlelap ke alam mimpi bersamanya.


Saat tiba di rumah, aroma harum dari adonan tepung bercampur coklat yang dipanggang telah menyambutnya. Membuat perutnya tiba-tiba saja berbunyi.

__ADS_1


"Hmmm," Shandy mengendus aroma lezat itu dan berjalan untuk mencari sumber aroma itu.


Kini tibalah ia di dapur rumahnya. Di depannya ada Bu Ani yang dengan hati-hati mengangkat loyang berisi kue dari dalam oven.


Uap panas mengepul memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas itu. Membuat siapa saja yang mencium aromanya mendadak menjadi orang yang kelaparan.


"Harum banget aromanya. Shandy mau dong Ma," pinta Shandy dengan tatapan yang tak putus dari kue-kue itu.


Bu Ani tersenyum lebar. "Iya, tapi nanti ya. Kamu nggak lihat ini masih panas banget," ucap Bu Ani membuat Shandy melengkungkan bibirnya ke bawah.


"Mandi dulu sana, nanti baru makan," ujar Bu Ani lembut. Selembut kue coklat itu, hihi.


Bukanya menuruti ucapan sang Mama, Shandy justru berjalan ke arah meja yang penuh dengan toples berisi makanan ringan. Dia pun menduduki salah satu kursi di sana.


"Wihh banyak banget makanannya. Apa ada tamu Ma?" tanya Shandy sambil menggeser-geser satu per satu toples itu untuk melihat kue jenis apa saja yang ada di dalamnya.


"Iya, nanti malam ada arisan di rumah. Jadi mama siapin ini semua," jawab Bu Ani yang masih sibuk berkutat dengan kue-kue buatannya.


Shandy mengangguk paham. Ia membuka salah satu toples itu lalu memakan isinya. Ternyata itu adalah jajan kesukaannya, stik bawang.


Dengan santai dia terus melahap makanan itu. Padahal itu kan disiapkan untuk teman-teman mamanya nanti. Tapi Shandy tidak peduli, toh stok di dapur juga pasti masih banyak.


"Gimana kuliahnya?" tanya Bu Ani membuat Shandy menghentikan aksi mengunyahnya.


"Alhamdulillah lancar," jawabnya lalu kembali melanjutkan memakan stik bawang itu.


"Skripsi kamu udah selesai?"


"Tinggal sedikit lagi juga pasti selesai kok. Mama tenang aja. Sama Shandy semua dijamin aman!" Shandy mengangkat jempolnya dan tersenyum menampakkan deretan giginya.


"Alhamdulillah kalau gitu. Mama doain semoga semuanya lancar," ucap Bu Ani sambil menatap lekat anak sulungnya itu.


"Aamiin," balas Shandy tersenyum.


Melihat banyaknya makanan di meja, namun tak melihat adiknya di sana membuat Shandy merasa aneh. Sebab, tak biasanya hal ini terjadi. Jika ada makanan di situ pasti ada Fiki. Apa dia tidak tahu? Pikir Shandy.


"Fiki! Sini turun! Ada banyak makanan nih di bawah," teriak Shandy yang mengira bahwa Fiki ada di kamarnya.


Tak mendapat jawaban, Shandy kembali berucap, "Kalau Lo nggak turun, gue habisin nih makanannya!"


Bu Ani yang melihat itu hanya bisa tersenyum. "Fiki nggak di rumah bang."


"Lho belum pulang? Bukannya jam pulang sekolah udah dari tadi ya?" Shandy melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Udah. Tapi tadi Mama suruh dia buat ambil pesanan," jawab Bu Ani sambil melepas appron yang dikenakannya. Lalu berjalan ke arah Shandy.


"Udah mama mau mandi dulu. Kamu juga mandi sana! Belum apa-apa udah makan aja," Bu Ani menatap Shandy tak habis pikir.


Shandy hanya cengengesan, "Iya ma."


***


"Hubungan kalian itu toxic Fik. Akan banyak luka yang bakal Lo hadepin kalau Lo tetep mau bertahan."


"Nggak ada untungnya buat Lo kalau nerusin hubungan ini."


"Lo sadar nggak sih, kalau Lo itu kayak jadi orang ketiga dalam hubungan mereka?"


"Lo yakin dia bakal mutusin cowoknya dan lebih milih Lo? Kalau nggak gimana?"


"Jangan salahin siapapun kalau Lo dinomorduakan. Karena Lo bukan yang pertama."


Fiki mencengkeram kuat setir motornya. Ucapan-ucapan itu terus berputar di kepala Fiki. Perdebatannya dengan Laras beberapa saat lalu, berhasil menimbulkan banyak tanya dalam benak Fiki.


Perkataan Laras semakin membuat Fiki dilema. Di satu sisi dia sangat yakin bahwa cintanya sama besar dengan cinta Cantika padanya. Maka dari itu, dia mau untuk menjalani hubungan seperti ini. Cantika juga mengatakan bahwa sebenarnya dia lebih bahagia dengannya dibanding dengan Fenly.


Tapi di sisi lain dia juga tidak yakin sepenuhnya jika Cantika akan meninggalkan Fenly dan pergi bersamanya. Karena buktinya, saat ada dia dan Fenly dia selalu memilih Fenly, mengutamakan Fenly, dan dia harus melihat itu, bertahan dan terluka. Entahlah...


Apa dia sejahat itu, hingga berharap jika hubungan Cantika dan Fenly berakhir?


Tapi perasaanya juga tidak salah bukan? Dia tidak bisa memilih kepada siapa dia menjatuhkan hati. Jika ingin berhenti, itu juga sudah terlambat. Karena perasaannya telah terlanjur dalam.


Sepanjang perjalanan pulang, Fiki terus terpikir akan itu semua. Untungnya dia tetap bisa fokus untuk menyetir. Kalau tidak, jika terjadi suatu hal yang buruk, maka pesanan catering Mamanya juga akan kena imbasnya nanti, haha.


***


Sementara itu, Cantika tengah gelisah. Hati dan pikirannya tidak bisa tenang. Dia takut jika saja Fiki marah karena dia lebih memilih pulang bersama Fenly bukan dengannya.


Tapi dia juga tidak mungkin menolak ajakan Fenly, karena hal itu bisa saja membuat Fenly curiga akan hubungannya yang sebenarnya dengan Fiki. Aish kenapa semuanya menjadi rumit. Kenapa cinta harus serumit ini??


Cantika melepas handphone miliknya yang sedari tadi dicharger. Dibawanya benda itu bersamanya, Cantika duduk di tepi ranjang. Tanpa pikir panjang dia mencari kontak Fiki dan mendeal nomer itu.


Suara nada dering ponsel terdengar begitu keras dari dalam kamar Fiki. Kebetulan pintunya sedikit terbuka, jadi Shandy bisa mendengar suara itu ketika melaluinya.


Suara itu terus terdengar, membuat Shandy tergerak untuk masuk dan mengecek siapa yang melakukan panggilan telepon pada adiknya.


Benar saja, di atas meja belajar, ponsel Fiki menyala. Dengan cepat Shandy mengambil ponsel itu dan berniat mengangkatnya, namun matanya membola ketika melihat username pemanggil.


"My screet love?" monolog Shandy dengan satu alis terangkat.


Baru saja Shandy ingin menggeser tombol berwarna hijau namun tiba-tiba sambungan telepon itu terputus.


Di tempat lain, Cantika mendengus sebal. Bagaimana bisa Fiki tidak mengangkat panggilan telepon darinya. Padahal panggilannya tersambung.


"Apa dia marah ya?" Cantika menggigit jarinya.


Sementara itu, Shandy terlihat sedang berpikir. Tentang siapa sebenarnya penelpon itu? Kenapa Fiki menamai kontaknya seperti itu?


Karena sambungan telepon itu terputus Shandy menaruh kembali hp Fiki ke tempat sebelumnya, lalu dia memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Toh dia tidak selancang itu untuk mencari tahu masalah pribadi adiknya. Dia masih bisa menghargai yang namanya privasi. Shandy yakin, jika Fiki mau dia pasti akan menceritakan hal itu padanya. Tapi jika tidak, ya Shandy akan menghargai hal itu dan tidak akan memaksa Fiki untuk menceritakannya.


Baru saja Shandy membalikkan tubuhnya, tiba-tiba ponsel Fiki kembali berdering. Membuat Shandy mau tidak mau harus mengangkatnya. Siapa tahu penting.


Ketika benda pipih itu menempel di telinga Shandy, dia baru akan mengatakan kata sapaan. Namun terpotong dengan ucapan seseorang di seberang sana.


"Fiki aku minta maaf ya. Aku mohon kamu jangan marah, please!" ucap penelpon itu tiba-tiba. Membuat Shandy kebingungan.


"Emm sa-"


"Iya aku tahu kamu pasti nggak suka kan lihat aku sama dia, tapi aku mohon kamu ngertiin aku. Aku kayak gini juga demi kebaikan hubungan kita," jelas Cantika dengan nada memburu.


Shandy menjauhkan ponsel dari telinganya. "What?? Hubungan kita??" tanya Shandy berbisik.


"A-aku mohon maafin aku ya! Jangan marah," suara itu terdengar benar benar tulus.


Shandy yang sudah bingung dengan semua ini dengan sarkasnya langsung mengatakan, "Maaf Fikinya lagi keluar. Ini gue Shandy abangnya. Ini siapa ya?"


Mendengar jawaban itu membuat Cantika langsung menutup mulut dengan telapak tangannya. Matanya mebulat sempurna. Dia tidak menyangka jika yang dia ajak bicara dari tadi bukanlah Fiki. Takut bercampur malu kini menyelimuti hatinya.


"Bang!" dengan cepat Fiki mengambil handphone miliknya dan langsung mematikan sambungan telepon itu.


Tutt


Sambungan terputus, membuat Cantika semakin kalang kabut. Dia benar-benar malu. Dilemparnya ponsel itu di atas kasur ke sembarang arah. Lalu Cantika menenggelamkan wajahnya dalam bantal.

__ADS_1


"Aarghhh malu bangetttt!!" jeritnya.


Shandy terkejut dengan kedatangan Fiki yang tiba-tiba dan langsung menarik paksa ponsel itu dari genggamannya. Terlihat raut tidak suka di wajah adiknya itu.


"Nggak sopan banget sih masuk kamar orang terus ngangkat telepon orang!" sentak Fiki.


"Kok Lo ngegas?! Biasa aja dong!" balas Shandy tak terima jika adiknya bertindak tidak sopan seperti itu padanya.


Fiki mendengus sebal. "Ya Lo duluan yang mulai. Nggak sopan banget sih?!"


"Ya Lo yang sopan dong kalau ngomong sama orang yang lebih tua!"


Sekali lagi Fiki menghembuskan napasnya kasar, "Ya. Maap."


"Tapi bang Shan nggak seharusnya dong masuk kamar Fiki terus ngangkat telpon tanpa izin. Nggak sopan kan itu namanya??" sewot Fiki.


"Heh! Tadi gue itu nggak sengaja waktu lewat kamar Lo terus denger ada yang telpon. Takutnya kan penting makanya gue angkat. Bukannya terima kasih malah marah-marah," heran Shandy sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Alah ngeles aja lu bang," Fiki tersenyum smirk.


"Terserah Lo! Dahlah gue mau mandi," Shandy langsung berbalik melangkah ke luar kamar.


Fiki yang melihat kelakuan abangnya itu memasang wajah meledek sambil melihat abangnya yang semakin manjauh.


Saat sampai di ambang pintu, Shandy mengehentikan langkahnya dan berbalik. Membuat Fiki kembali memasang wajah datar.


"Siapa tuh My Screet Love?" tanya Shandy mengangkat kedua jarinya membentuk V dan menekuk-nekukkannya. Seolah bermakna misteri.


"Alay banget," cibir Shandy sebelum kembali melangkahkan kakinya.


"Terserah gue lah!! Huuu," geram Fiki yang langsung menutup pintu kamarnya dengan kasar.


"Hihhh nyebelin banget jadi Abang!" Fiki mendengus kesal sambil mengacak-acak rambutnya.


Kini matanya kembali fokus pada benda persegi ditangannya itu. Dilihatnya riwayat panggilan beberapa menit yang lalu. Ternyata benar, yang menelpon tadi adalah Cantika.


Apa yang sudah Cantika bicarakan dengan abangnya tadi? Apa dia mengatakan hal yang tidak-tidak?


Pertanyaan itu bermunculan dalam benak Fiki. Daripada mati penasaran, akhirnya Fiki memutuskan untuk menghubungi Cantika lagi.


Drttt Drttt


Cantika mengangkat wajahnya, menatap ponsel miliknya yang kini posisinya terbalik karena ulahnya tadi.


Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang, tak beraturan. Tangannya dingin gemetaran. Dia takut jika saja itu adalah telepon dari Shandy.


"Hufft. Bismillah," perlahan Cantika membalikkan layar ponselnya.


Cantika menjerit. "Hah?! Fiki!"


Cantika tidak langsung mengangkatnya, dia malah menatap layar ponsel itu dengan lekat.


"Ini Fiki atau Kak Shandy?"


"Gimana kalau kak Shandy telpon balik? Terus nanya yang enggak-enggak? Gimana gue jawabnya???" cerocos Cantika sambil membiarkan telepon itu terus berdering.


Hingga akhirnya sambungan itu terputus. Dan sebuah pesan masuk ke nomor Cantika.


Fikiiiii


Ini aku Fiki


Singkat, padat, dan jelas namun berhasil membuat jantung Cantika kembali berdetak dengan normal.


"Huhh Fiki. Untung aja bukan Kak Shandy lagi," Cantika tersenyum lega.


Jarak setengah menit, ponsel Cantika kembali berdering. Ternyata itu adalah panggilan dari Fiki, dengan cepat Cantika langsung mengangkat telepon itu. Kemudian mereka berdua pun membicarakan hal yang ingin mereka bicarakan.


***


Setelah melakukan sholat Isya' Fiki berniat untuk belajar materi-materi untuk besok. Kini, dia sudah duduk manis di meja belajarnya.


Baru saja dia membaca satu paragraf materi tentang Kependudukan. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya.


Tok tok tok


"Masuk," jawab Fiki singkat.


Bunyi dari engsel pintu yang berputar itu terdemgar. Shandy masuk dan menghampiri Fiki.


"Lagi belajar ya?"


"Yaudah deh nggak jadi. Yang pinter ya," Shandy menepuk-nepuk pundak Fiki lalu berniat pergi.


"Lah kenapa bang?" Fiki menoleh ke belakang. "Ada yang mau diomongin?"


"Hehe iya nih. Tapi nggak penting. Lo kan lagi belajar. Yaudah kapan kapan aja," santai Shandy.


"Ini nih kebiasaan bikin orang keppo!"


"Santai aja kali. Mau ngomong apaan sih??" desak Fiki pada Shandy. Membuat Shandy mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Jadi gini," Shandy duduk di tepi ranjang Fiki. "Gue mau tahu aja sih. Siapa sih cewek yang tadi telponnya gue angkat? Pacar Lo?"


Fiki yang tadinya antusias dengan topik Shandy langsung berubah pikiran. Dia kembali membenarkan posisinya ke arah meja belajar.


"Kayaknya gue harus belajar sekarang deh bang," jawab Fiki sok sibuk.


"Yeeee dasar bocah prik! Tadi yang nanya siapa? Giliran ditanya malah ngalihin topik," Shandy beranjak dari duduknya dan berjalan keluar.


"Dahlah. Belajar sono yang bener. Nggak usah mikirin cewek dulu," kata Shandy sebelum menutup pintu.


Lagi-lagi Fiki hanya bisa menarik napas panjang. Seolah ada beban besar yang mengganjal hatinya. Kenapa dia merasa bahwa orang-orang disekitarnya menyuruh dia untuk mundur.


Sesaat dia berpikir bahwa apa yang orang-orang katakan itu benar. Benar, bahwa dia hanya akan terluka setiap saatnya. Jika ada bahagia itu tidak akan bertahan lama.


Tapi di lain sisi, hatinya mengatakan untuk terus bertahan. Karena dia ingin memperjuangkan cintanya. Katanya cinta itu harus diperjuangkan? Jadi inilah yang sedang dia lakukan.


Kini siapa yang harus diikuti olehnya. Hati atau logika?


***


...๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€...


...Makasih buat yang udah baca๐Ÿฅฐ...


...Kalau suka sama ceritanya jangan lupa buat vote dan komen ya.....


.......


...Kritik dan saran ditunggu...


.......

__ADS_1


...Happy Weekend ๐Ÿ™Œ...


__ADS_2