Coba Cintaku

Coba Cintaku
Chapter 23


__ADS_3

...Happy Reading🥰...


...----------------...


Fiki membantu Laras berjalan menuju ke sebuah rumah yang identik dengan dinding kayu, berlapis warna coklat tua yang dominan di setiap sudutnya.


"Si Eneng teh kunaon?" tanya perempuan paruh baya yang keluar dari dalam rumah itu.


"Kaki saya ke kilir Nek," jawab Laras dengan ringisan.


"Ya Allah," miris si nenek. "Sok atuh kasep, bawa masuk!"' ucap nenek itu sambil menarik pelan bahu Fiki.


"I-iya Nek," Fiki dan Laras berjalan tertatih menuju ruang pengobatan nenek itu.


Yap, sekarang mereka sudah sampai di rumah tukang urut yang bernama Mak Tonah. Mungkin hari ini adalah hari keberuntungan Fiki dan Laras, karena tidak ada pasien yang datang. Jadi, mereka tidak perlu menunggu lama.


Padahal biasanya antrian pasien bisa sepanjang gerbong kereta dan menunggu sampai berjam-jam. Bukan lebay atau semacamnya, tapi karena urutan Mak Tonah ini sudah terkenal mujarabnya.


Laras membaringkan tubuhnya di sebuah ranjang yang telah disediakan. Sedangkan Mak Tonah mengambil beberapa botol minyak di meja yang berada di sisi lain ranjang Laras. Sepertinya untuk mengurut kaki Laras.


Fiki yang hendak keluar sebentar untuk mengecek ponselnya yang sedari tadi bergetar tiba-tiba langkahnya terhenti ketika tangannya dicekal oleh seseorang.


"Fik, Gue takut," rengek Laras yang kini sudah keringat dingin. Keringat mengalir di keningnya.


Fiki tersenyum kecil. "Udah tenang aja. Nggak sakit kok," ucap Fiki menurunkan tangan Laras yang memegang tangannya.


'Nggak sakit, tapi sakit banget,' batin Fiki ngilu.


"T-tapi pasti sakit," rintih Laras dengan mata berair.


"Udah santai aja. Palingan sakitnya cuma sebentar habis itu pasti langsung sembuh. Oke!" Fiki menepuk pelan pundak Laras.


Laras menghirup napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk menghadapi segala rasa sakit yang mungkin akan diterimanya saat diurut nanti.


Sambil menunggu Mak Tonah yang masih menyiapkan peralatan mengurutnya, Fiki berniat untuk keluar sebentar.


"Ras, gue keluar bentar ya," ucap Fiki yang langsung membalikkan badannya.


"Kemana? Jangan lama-lama!" rengek Laras.


Fiki kembali menghadap Laras. "Ngecek hp bentar. Udah ah jangan kayak anak kecil," Fiki terkekeh dan langsung melanjutkan langkahnya. Laras yang mendapat respon seperti itu dari Fiki memanyunkan bibirnya.


Fiki bersandar pada salah satu tiang penyangga yang ada di teras rumah Mak Tonah dan merogoh saku celananya. Menekan tombol power pada hp nya dan langsung terlihat notifikasi pesan dan beberapa panggilan tak terjawab di sana.


Benar saja, pesan pesan itu dikirim oleh Fajri. Begitupun miss call sebanyak 10 kali yang juga dari Fajri.


Melihat itu, Fiki menggaruk rambutnya dan meringis. Bagaimana bisa dia melupakan sahabatnya itu. Pasti sekarang Fajri sedang kebingungan mencari dia di sana.


Akhirnya, Fiki memutuskan untuk menelpon balik Fajri. Namun, belum sempat Fiki mendeal kontak Fajri, Fajri sudah duluan menelponnya.


Drtt.. Drtt..


Tanpa pikir lama, Fiki langsung mengangkat panggilan itu.


"FIK! LO DIMANA SIH?! DARI TADI DITELPON JUGA!" suara itu membuat Fiki langsung menjauhkan hp dari telinganya.


"Waallaikumussalam," balas Fiki sekenanya.


Terdengar dengusan di seberang sana, "Assalamualaikum!"


"Waallaikumussalam," jawab Fiki terkekeh.


"Woy dimana Lo Fik?! Gue muter muter nyariin Lo nggak nemu nemu!" ucap Fajri frustasi.


"Iya sorry Jri. Gue udah balik duluan, Lo balik aja sana," enteng Fiki.


"Wooo dasar temen nggak ada akhlak Lo!" umpat Fajri.


"Terus gue pulang naik apaan onta!" sambung Fajri.


"Mana saya tau kok nanya saya," jawab Fiki.


"Dih!" balas Fajri memutar bola matanya. "Emang Lo kenapa balik duluan nggak nungguin gue?!" protes Fajri.


"Jadi tadi itu..."


"AAAAA!!!!" jeritan kesakitan dari dalam rumah Mak Tonah mengejutkan Fiki. Bahkan Fajri yang ada di belahan bumi lain mendengar suara itu.


"Apaan Fik?" tanya Fajri.


"Udah dulu Jri. Gue tutup."


Tut


Fiki menutup panggilan itu sepihak dan langsung lari ke dalam rumah Mak Tonah.


"Kenapa Ras?" tanya Fiki panik.


Mak Tonah dan Laras yang mendengar suara Fiki sontak menoleh ke arah Fiki.

__ADS_1


"Ini si Eneng, belum di apa apain udah teriak-teriak," kekeh Mak Tonah.


Fiki yang mendengar penuturan itu tersenyum tabah dan melihat Laras. "Sakit," cicit Laras.


"Udah Lo tenang aja, ada gue di sini. Nggak usah dilihat Mak Tonah nya," ucap Fiki yang mendudukkan dirinya di samping Laras.


Laras mengangguk. "Bismillah ya neng," Mak Tonah mulai mengoleskan minyak urut di kaki Laras.


"Pelan-pelan Nek," pinta Laras dengan mata terpejam dan menggenggam tangan Fiki yang ada di sebelahnya.


Sebenarnya Fiki ingin melepas genggaman tangan itu. Tapi, karena melihat Laras yang ketakutan akhirnya dia membiarkannya.


Krekk


Mak Tonah melintir kaki Laras yang terkilir membuat si empunya menjerit sangat kencang.


"AAAA!!!"


Bersamaan dengan suara itu, Laras semakin mengeratkan cengkeramannya pada tangan Fiki yang membuat si empunya meringis kesakitan, "Shhh.."


Napas Laras memburu, keringat mengucur deras di pelipisnya.


"Udah selesai. Sok coba di gerakkin pelan-pelan," ucap Mak Tonah.


Laras membuka kelopak matanya yang sedari tadi terpejam. Melihat nanar telapak kakinya yang kini berada di pangkuan Mak Tonah. Perlahan Laras menggerakkannya ke kanan dan ke kiri. Ajaib, tidak ada lagi sakit yang ia rasakan. Kakinya kembali seperti semula. Mak Tonah as angel.


"Wah udah nggak sakit lagi Nek!" heboh Laras yang kini menegakkan punggungnya.


"Alhamdulillah kalau begitu mah," ucap Mak Tonah yang beranjak dari ranjang untuk merapikan obat-obatannya.


"Iya Alhamdulillah," sahut Laras.


"Fik. Kaki gue udah sembuh!" sorak Laras yang menoleh pada Fiki dengan wajah sumringah. Namun, saat melihat mimik wajah Fiki yang aneh, Laras pun menjadi bingung.


"Lo kenapa? Lo nggak seneng kaki gue sembuh?" tanya Laras.


"Seneng kok," Fiki mengangguk pelan. "Tapi tangan gue...," Fiki menatap ke bawah. Dimana tangan Laras masih setia mencengkeram tangannya.


Laras yang juga mengikuti arah pandang Fiki sontak terkejut dan langsung melepas genggamannya. Meninggalkan cap merah di sana.


"Aduh, sorry-sorry. Sakit ya?" ucap Laras iba. Fiki hanya menggeleng. Aslinya mah sakit itu pasti.


Setelah selesai dengan drama kang urut. Fiki dan Laras berniat untuk pulang. Mak Tonah mengantarkan mereka berdua ke depan.


"Makasih ya Nek udah bikin kaki saya sembuh," tulus Laras.


'Pacar?,' Laras mengulum senyum.


Fiki melambaikan tangannya. "Bukan pacar saya Nek. Kita cuma temen kok."


"Halah nggak usah malu atuh. Nenek kan dulu juga pernah muda," kekeh Mak Tonah.


"Beneran Nek kita mah cuma temen biasa," bantah Fiki yang membuat senyum Laras yang sempat terbit menjadi sirna.


"Oh gituuu," Mak Tonah manggut-manggut. "Padahal mah kalian teh cocok pisan," kekeh Mak Tonah.


Mendengar hal itu membuat Laras tersipu. Namun, lain dengan Fiki yang hanya membuang napas lelah. Dia pun merogoh saku celananya dan mengambil beberapa lembar uang. "Berapa ya Nek?" tanyanya.


"Apanya?" cengo Mak Tonah.


"Pengobatannya."


"Oalah. Udah nggak usah lah A'," Mak Tonah mengibaskan tangannya.


"Lho kok gitu? Kan nenek buka jasa urut, ya kita harus bayar," jelas Fiki.


"Iya kalau jasa urutnya buka. Nah, ini kan hari minggu, tutup."


Fiki dan Laras cengo. Mereka saling menatap, membulatkan matanya dengan mulut sedikit terbuka.


"Kalau tutup kenapa nenek mau layani saya?" bingung Laras.


"Kebetulan tadi nenek mau ke warung. Eh, ada yang dateng minta diurut. Masa' nggak nenek bantu," terang Mak Tonah.


"Pantesan sepi ya nek," Fiki meringis sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


Mak Tonah hanya tersenyum. "Maaf banget ya nek, jadi ganggu waktu libur nenek," sungkan Laras.


"Nggak pa-pa atuh Neng. Nenek mah malah seneng kalau bisa bantu orang lain." Laras tertawa kecil.


"Tapi nggak pa-pa Nek. Ini buat nenek," Fiki menyodorkan beberapa lembar rupiah.


"Udah nggak usah kasep. Bawa aja, ditabung nya'," tolak Mak Tonah. "Nenek teh ikhlas," tulusnya.


"Beneran Nek?" tanya Fiki.


"Iya. Udah sok kalian pulang, istirahat. Nenek mau ke warung dulu," tutur Mak Tonah.


"Sekali lagi makasih banyak ya Nek," ucap Laras. "Makasih ya Nek," sambung Fiki.

__ADS_1


"Iya."


"Kalau gitu, kami pamit ya Nek. Assalamualaikum," Fiki menyalimi Mak Tonah yang disusul oleh Laras.


"Waallaikumussalam."


***


Sekolah berjalan seperti biasa. Sekarang sedang jam istirahat dan sekitar 15 menit lagi bel masuk akan berbunyi. Tapi, Fiki, Fajri, dan Gilang masih duduk santai di teras kelas. Berbincang-bincang sambil melihat siswa-siswi yang lalu lalang.


Tak lupa ditemani dengan beberapa snack yang dibeli Gilang beberapa saat lalu.


"Lo kemarin di mana Fik?" tanya Fajri yang sedang membuka sebungkus snack kentang.


"Kapan?" polos Fiki.


"Yang waktu telponan sama gue terus ada suara orang teriak."


"Oalah itu. Gue lagi di rumah tukang urut," jawab Fiki.


"Lo kecetit?" ngawur Gilang yang mendapat tatapan elang dari Fiki.


"Sembarangan!" Fiki menyenggol lengan Gilang. "Gue itu nganterin Laras. Soalnya kaki dia kekilir."


"Kok bisa?" tanya Fajri dengan mulut penuh makanan.


"Jadi kemarin waktu Lo beli minuman. Gue nggak sengaja ketemu Laras yang lagi kekilir kakinya," Fiki menceritakan kejadian kemarin.


"Oh jadi itu alasan Lo ninggalin gue?!" sinis Fajri.


"Dih gelay," geli Gilang.


"Laras sendirian?" tanya Gilang.


"Enggak sih. Dia Sama Tika," Fiki menyuapkan sepotong biskuit kelapa ke dalam mulutnya.


"Oh," acuhnya. "O iya gimana hubungan Lo sama Tika?" Gilang serius mode on.


Mendapat pertanyaan seperti itu, Fiki tidak langsung menjawab. Dia hanya terdiam. Membuat kedua sahabatnya menjadi bingung.


"Tuh kan lupa!" dumel seseorang di belakang mereka.


Fiki, Fajri, dan Gilang kompak menoleh ke belakang untuk mencari tahu siapa pemilik suara itu. Ternyata itu adalah Pak Anam. Guru geografi yang kebetulan adalah mapel selanjutnya di kelas mereka.


"Asep. Tolong ambilkan lembar jawaban ujian kelas kamu di meja saya ya!" Pak Anam melihat pada mereka bertiga.


Ketiganya yang tidak merasa memiliki nama itu, saling memandang dan mengedikkan bahu mereka.


"Ehh kok malah tatap tatapan! Ayo ambilkan!" ucap Pak Anam.


"Asep siapa sih pak? Nggak ada yang namanya Asep di sini," tanya Fiki.


"Ck. Ya kamu, Asep!" tunjuk Pak Anam pada Fiki.


"Pfftt," Fajri dan Gilang menahan tawa.


"Saya Fiki pak. Bukan Asep," datar Fiki.


"Ah sama saja. Sudah tolong ambilkan ya. Saya tunggu di dalam kelas!" ucap Pak Anam sekenanya dan langsung hengkang dari tempat itu.


'Sama dari mananya?! Jauh kali!' geram Fiki. Karena tidak mau jadi murid durhaka. Dengan ogah-ogahan Fiki akhirnya beranjak dari duduknya.


"Cepetan Sep Asep!" ledek Gilang yang membuat Fajri ngakak.


Fiki menatap malas kedua temannya itu. Sambil melayangkan tinju jarak jauh. Kemudian Fiki berjalan menuju ruang guru. Baru tiga langkah Fiki berjalan. Tiba-tiba seloroh suara mencegatnya.


"Fiki!" panggil seseorang yang mencekal tangan Fiki.


Fiki membalikkan tubuhnya. "Ada apa?" acuhnya.


"Gue mau ngomong sebentar sama Lo," ucap orang itu yang ternyata adalah Cantika.


"Sorry. Gue harus ngambil lembar jawaban ujian geografi di mejanya Pak Anam. Udah ditunggu sama orangnya," ucap Fiki melepaskan cekalan tangan Cantika perlahan dan langsung melenggang pergi.


Cantika hanya terdiam di tempat. Menatap nanar punggung Fiki yang semakin hilang termakan dinding kelas.


Gilang dan Fajri yang masih duduk di sana dan menyaksikan hal itu, hanya saling melirik dan mengedikkan bahunya.


Meski tidak melihat Fajri dan Gilang secara langsung. Tapi Cantika bisa merasakan, bahwa kedua orang di belakangnya sedang mengamatinya. Daripada semakin canggung, Cantika memilih untuk kembali masuk ke kelas.


***


...🥀🥀🥀...


...Makasih buat yang udah baca🥰...


...Jangan lupa buat like dan vote ya.....


...Kritik dan saran ditunggu...

__ADS_1


__ADS_2