Coba Cintaku

Coba Cintaku
Chapter 25


__ADS_3

...Happy Reading 🥰...


...----------------...


22.30


Hari mulai larut. Kebanyakan orang telah hanyut dalam buaian mimpi mereka. Namun, berbeda dengan Pak Ananta yang masih terjaga. Menunggu kepulangan kedua anak laki-lakinya yang sampai kini belum terlihat batang hidungnya.


Duduk di sofa ruang tamu tanpa diterangi nyala lampu. Kedua tangannya saling bertaut di depan dada, matanya memerah melihat jam dinding yang terus berputar.


Sebenarnya malam ini, tepatnya jam delapan malam beliau baru saja pulang dari dinas nya. Namun, hanya ada sang istri yang menyambut kedatangannya, sedangkan kedua anaknya entah berada di mana.


Istrinya bilang, bahwa anak sulungnya sedang di rumah temannya untuk menyelesaikan skripsi dan mungkin akan pulang larut. Sedangkan si bungsu sedang pergi bersama temannya entah kemana dan mengatakan akan pulang terlambat.


Mendengar alasan anak bungsunya, Pak Ananta semakin terbakar amarah. Terlebih setelah apa yang dia temukan di kamar anaknya itu. Ditambah lagi, sebelumnya Fiki belum pernah main bersama temannya sampai larut malam.


Menunggu dan terus menunggu, itulah yang Pak Ananta lakukan.


Ceklek


Pintu terbuka. Dengan sigap Pak Ananta menyalakan lampu ruang tamu. Sontak membuat seseorang yang baru masuk terkejut.


"Papa? Papa udah pulang," sambutnya dengan senyuman dan langsung menyalimi Pak Ananta.


"Maaf ya pa, tadi Shandy habis ngerjain skripsi sama temen. Jadinya agak telat pulangnya," Shandy menunduk.


"Iya bang. Nggak pa-pa, tapi jangan lupa istirahat dan jaga kesehatan," nasihat Pak Ananta.


"Siap Pa!" Shandy tersenyum.


"Ya udah, kamu beres beres habis itu makan."


"Shandy udah makan kok Pa," tutur Shandy.


"Kalau gitu langsung tidur aja," Pak Ananta menepuk pundak Shandy.


Shandy mengangguk. "Kalau gitu Shandy ke kamar dulu Pa."


"Iya."


Tiga langkah Shandy berjalan, ia kembali menoleh ke belakang. "Papa nggak tidur?"


"Papa masih nungguin adik kamu itu!" ucap Pak Ananta penuh penekanan.


"Si Fiki? Emang belum balik dia?" Shandy kembali menghampiri sang Papa.


"Belum. Dari papa pulang dia nggak ada di rumah," acuh Pak Ananta.


"Lha tumben? Nggak biasanya" monolog Shandy.


"Udah mulai berani adik kamu itu! Main nggak inget waktu!" cecar Pak Ananta.


"Tapi Shandy yakin, pasti ada alasannya Fiki kayak gini Pa. Shandy harap papa jangan langsung marahin Fiki ya," was-was Shandy.


"Kamu ngajarin papa?!" Pak Ananta menatap tajam Shandy, membuat si Shandy langsung menunduk.


"Udah kamu masuk ke kamar aja! Biar papa yang nungguin dia di sini!" final Pak Ananta.


Jika sudah seperti itu, Shandy hanya bisa menurut dari pada emosi sang Papa semakin tersulut. Shandy mulai menaiki anak tangga, sesekali ia menoleh ke arah sang Papa yang kembali duduk di sofa. Tak lupa lampu ruangan kembali beliau matikan.


'Fik cepetan pulang!' batin Shandy.


***


"Ini bayaran buat kalian berdua!" seseorang menyodorkan beberapa lembar rupiah kepada Fajri.


"Makasih om!" ucap Fajri.


"Makasih om!" ucap Fiki juga.


"Sama-sama. Saya akui penampilan kalian tadi sangat luar biasa. Keren!" ucap pria itu sambil mengacungkan dua jempolnya.


"Dan saya rasa, para pengunjung juga menyukainya. Good job!" pria itu menepuk pundak Fajri dan Fiki. Keduanya saling tersenyum.


"O iya. Siapa tadi nama temen kamu?" tanya pria itu pada Fajri.


"Fiki."

__ADS_1


"Ahh iya Fiki," tunjuknya pada Fiki. "Kamu itu sangat berbakat, suara kamu bagus dan kamu jago main alat musik. Bagaimana kalau kamu ikut kerja part time terus sama Fajri?" tawarnya.


"Ehm maksud saya. Nggak cuma gantiin Zweitson doang. Tapi nanti kalian bertiga bisa perform bareng," ucap pria itu dengan menampakkan deretan giginya.


"Terima kasih sebelumnya om. Tapi saya belum izin sama ortu saya. Nanti akan saya tanyakan dulu, hehe," Fiki mengusap tengkuknya.


"Ouh gitu. Iya nggak papa. Tapi inget, kalau kamu butuh pekerjaan ini kamu langsung datang saja. Nggak usah sungkan. Oke?"


"Siap om," balas Fiki dengan tersenyum.


"Ya udah kalau gitu om pergi dulu. Kalian berdua hati-hati!" ucapnya pada kedua remaja itu.


"Siap om!" kompak 2F.


Fajri mulai menghitung upah mereka dan membagi dua sama rata. Sebagian ia bawa, sebagian lagi ia berikan pada Fiki.


"Ini Fik bagian Lo," Fajri menyodorkan uang pada Fiki.


"Serius ini duit gue?" ucap Fiki saat menerima uang itu.


"Serius lah," kekeh Fajri. "Seneng kan bisa menghasilkan uang sendiri?" Fajri menaik turunkan alisnya.


Fiki mengangguk mantap. Jujur saja baru kali ini dia mempunyai uang hasil jerih payahnya sendiri. Rasanya memang berbeda. Ada rasa bangga tersendiri.


'Papa sama Mama pasti bangga sama aku. Karena aku udah bisa dapetin uang sendiri,' Fiki tersenyum membayangkan kedua orang tuanya yang nanti akan memeluknya erat karena anak mereka bisa mandiri seperti ini sekarang.


"Ya udah yok balik. Udah malem juga. Nanti Lo dicariin lagi sama bokap Lo," kekeh Fajri.


"Ngeledek gue lo?!" sewot Fiki.


"Enggak enggak canda kali ngab," Fajri menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mereka berdua pun melajukan motornya dan berpisah di persimpangan jalan. Sesampainya di depan rumah, Fiki merasa bahwa semua penghuni rumah telah tertidur. Karena dari luar, rumah terlihat gelap tidak ada lagi lampu yang menyala. Lagipula ini juga sudah larut malam.


Setelah memarkirkan motornya. Fiki berjalan menuju pintu rumah dan membukanya. Betapa terkejutnya ia saat lampu tiba-tiba menyala dan suara tepukan tangan menyambut dirinya.


Prok


Prok


Prok


"Papa? Papa udah pulang?" Fiki sama sekali tidak menunjukkan rasa takut, justru ia malah terlihat bahagia. Karena Papa nya yang sudah berhari hari tidak pulang karena pekerjaan. Kini sudah ada dihadapannya.


Terlebih dia juga ingin menunjukkan hasil kerja kerasnya dari hobi yang selama ini selalu Papanya anggap sebagai hal yang tidak berguna.


"Jam berapa papa pulang? Maafin Fiki ya nggak bisa sambut Papa. Soalnya tadi Fiki...."


BRAK


Fiki tersentak kaget mendengar suara gebrakan meja yang terdengar sangat nyaring.


"Darimana kamu?! Jam segini baru pulang?! Kelayapan terus!" suara Pak Ananta meninggi membuat Fiki hanya melongo.


"F-Fiki bantuin temen buat...."


"Alahh kalau main ngomong aja main! Siapa yang ngajarin kamu bohong?!". Lagi lagi ucapan Fiki di potong oleh Papa nya.


"Fiki nggak bohong Pa. Fiki tadi."


"Udah diem kamu!" sentak Pak Ananta dengan mata memerah.


"Apa-apaan ini?! Ha!!" Pak Ananta menaruh selembar kertas ke dada Fiki. Fiki langsung melihat kertas apa itu. Betapa terkejutnya ia, ternyata kertas itu adalah kertas ulangan geografi yang belum sempat ia sembunyikan tadi sore.


"Kenapa nilai kamu bisa turun derastis seperti itu?!" Pak Ananta melihat Fiki dengan tatapan elang.


"Papa nggak minta macem-macem sama kamu Fiki. Papa cuma mau kamu harus fokus sama sekolah kamu! Nilai kamu harus bagus! Kalau seperti ini mau jadi apa kamu?!" kali ini Pak Ananta benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi.


"Maaf," ucap Fiki bergetar dengan mata yang memanas.


"F-Fiki janji, Fiki bakal belajar lebih giat lagi."


"Alahh! Gimana kamu mau belajar? Orang kamu kerjaannya cuma genjrang genjreng nggak jelas!" sinis Pak Ananta.


"Denger ya Fiki! Kamu udah nggak bisa jadi apa yang papa mau. Setidaknya kamu harus bisa banggain papa! Kalau nilai kamu jelek kayak gini, mau jadi apa kamu nanti?!" cecar Pak Ananta membuat hati Fiki semakin teriris.


"Papa mau kamu jadi pengusaha besar. Meneruskan perusahaan keluarga kita!" ucap Pak Ananta.

__ADS_1


Fiki mendongakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk. Memberanikan diri untuk menatap sang Papa. "Tapi Fiki punya mimpi sendiri," lirihnya.


"Mimpi apa?! Apa mimpi kamu itu bisa banggain papa dan mama?" Pak Ananta menatap Fiki tak kalah tajam.


"Fiki suka musik dan Fiki ingin menjadi musisi Pa," Fiki mencoba meyakinkan orang tuanya itu.


Pak Ananta tersenyum miring. "Jadi itu mimpi kamu?! Mimpi yang nggak guna itu?!"


Percuma saja Fiki mengatakan mimpinya itu pada Papa nya. Sampai kapan pun pemikirannya tidak akan pernah berubah. Kapan ia akan mendukung Fiki?


"Sekarang lihat! Gara-gara ini kan nilai kamu jadi jelek?!" Pak Ananta menyambar gitar yang di gendong Fiki.


Fiki yang melihat hal itu berusaha untuk merebutnya kembali. Namun, "Diem kamu!". Pak Ananta menunjuk Fiki, lalu membuka tas gitar itu dan mengeluarkan benda bersenar dari dalamnya.


"Papa cuma nggak mau masa depan kamu hancur hanya karena hal-hal nggak guna kayak gini!"


"Bukan itu yang bikin Fiki kayak gini Pa! Fiki mohon balikin gitar Fiki!" pinta Fiki dengan wajah memelas.


"Kalau bukan ini terus apa?!" tanya Pak Ananta dengan nada yang semakin meninggi.


Fiki tidak bisa menjawab hal itu. Dia hanya bisa terdiam dengan mata yang semakin memanas. Cairan bening terus memaksa untuk ke luar dari sana.


Mendengar suara keributan itu, Shandy dan Bu Ani keluar dari kamar. Melihat pertikaian kedua orang di ruang tamu.


"Nggak bisa jawab kan?!" Pak Ananta menggoyang-nggoyangkan tubuh Fiki.


"Pokoknya Papa mau kamu harus rajin belajar dan jadi juara satu tanpa ada gangguan apapun!" final Pak Ananta.


Prak


Prak


Prak


"PAPA JANGAN!!!" teriak Fiki ketika Pak Ananta memukul-mukulkan gitar milik Fiki ke meja.


"Papa!" teriak Bu Ani dan Shandy yang langsung menghampiri Pak Ananta dan Fiki.


"Papa udah pa!" pinta Bu Ani pada sang suami.


"Papa!" teriak Shandy.


Setelah gitar itu hancur, dengan sarkas Pak Ananta membuangnya tepat di hadapan Fiki. Membuat Fiki tidak bisa lagi menahan air matanya. Buliran bening itu jatuh begitu saja tanpa aba-aba.


"Jangan lemah kamu! Laki-laki apaan kamu?! Gitu aja nangis!" sentak Pak Ananta pada Fiki yang kini bersimpuh melihat bagian-bagian gitarnya yang berserakan.


"Sudah Pa," Bu Ani menahan pundak suaminya.


"Kok papa tega banget sih sama Fiki," protes Shandy yang membantu Fiki berdiri.


"Ini akibat kalau kamu main-main sama pendidikan kamu," tajam Pak Ananta pada Fiki.


"Ingat ya Fiki! Kalau kamu macem-macem lagi, papa nggak akan segan-segan untuk melakukan hal yang lebih daripada ini!" tukas Pak Ananta yang langsung hengkang dari sana menuju kamarnya.


Fiki melihat nanar punggung Papanya yang semakin menjauh. Mendengar ucapan Papa nya itu, ia hanya bisa membatin. Bagaimana bisa Papa nya setega itu pada dirinya.


"Fik," panggil Shandy tidak tega pada adiknya itu.


Setelah melihat sang Papa masuk ke dalam kamar. Tanpa pamit pada Mama dan kakaknya, Fiki langsung berjalan dengan cepat menuju kamar miliknya.


"Fiki tunggu!" teriak Shandy yang tidak digubris oleh Fiki.


"Shandy susul Fiki dulu ya Ma," pamit Shandy.


"Iya bang. Tolong buat Fiki ngerti ya," Bu Ani mengelus lengan Shandy.


"Iya Ma."


Shandy langsung menyusul Fiki ke kamarnya. Sedangkan Bu Ani mulai membersihkan kekacauan yang baru saja ditimbulkan oleh suaminya itu.


...*TBC*...


...🥀🥀🥀...


...Makasih buat yang udah baca🥰...


...Jangan lupa buat like dan vote ya.....

__ADS_1


...Kritik dan saran ditunggu...


__ADS_2